Archive for the ‘> Seputar PERJALANAN UDARA’ Category

Merapi Juga Tak Pernah Ingkar Janji

28 November 2010

Tepat jam 6:05 WIB, sesuai janjinya, pesawat Merpati MZ 708 lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar (mungkin karena Jogja adalah titik awal penerbangan panjangnya hari ini sehingga bisa tepat waktu). Ada suguhan mie goreng di pesawat, walau agak-agak gosong tapi lumayan buat ganjal karena tadi terlambat bangun sehingga buru-buru.

Merpati tak pernah ingkar janji… Tapi justru khawatir kalau Merapi yang (konon) juga tak pernah ingkar janji…

Makassar, 26 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Berangkat Lebih Cepat

9 Oktober 2010

Seprana-seprene naik pesawat, yang sering terjadi adalah terlambat berangkat dari jadwalnya. Kalau bisa on-schedule, itu prestasi. Tapi Batavia Air jurusan Balikpapan – Jogja pagi ini tumben rada “nekat”, berangkat 15 menit lebih cepat. Pesawat yang harusnya berangkat jam 07:15 WITA itu belum jam 7 sudah nutup pintu dan bergerak meninggalkan tempat parkir. Rasanya ini bukan prestasi tapi “mencuri start” untuk menyelesaikan etape awal hari ini.

Yogyakarta, 6 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Dagelan Di Atas Ketinggian

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan kemarin, sambil masih terkantuk-kantuk, sayup-sayup terdengar pemberitahuan: “Awak kabin segera akan membersihkan sisa makanan dan minuman di kursi Anda..”. Terang saja saya jadi terjaga, karena setahu saya tadi tidak ada pembagian konsumsi di pesawat, atau jangan-jangan karena saya tertidur lalu tidak diberi suguhan.

Setelah tolah-toleh, ya memang tidak ada pembagian konsumsi. Ah, dasar.., dagelan di atas ketinggian lebih 30000 kaki, ala Lion Air.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Di Antara Qur’an Dan Koran

9 Oktober 2010

Ketika sang burung Singa tinggal landas meninggalkan bandara Adisutjipto. Penumpang di sebelah kanan membuka kedua tangannya berdoa melafal ayat Qur’an. Penumpang di sebelah kiri membuka kedua tangannya membaca koran. Saya yang di tengah jadi merasa tenang, sambil membaca tulisan “Fasten seat belt while seated”.

Balikpapan, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menembus Angkasa Berharap Keberkahan

9 Oktober 2010

Pagi berawan…. Tuhan, perkenankan hambamu menembus angkasa Jogja menuju Balikpapan (tapi numpang pesawat Lion Air). Berharap meraih keberkahan. Sebab Engkaulah sebaik-baik Yang Maha Mendaratkan… (anta khoiru munzilin).

Yogyakarta, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pesawat Tanpa Nomor Kursi 13 Dan 14

29 September 2010

Penerbangan siang Surabaya-Jogja dengan Lion Air dilayani dengan pesawat baling-baling ATR 72-500 kapasitas 72 penumpang. Uniknya, moda angkutan AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) yang mengambil trayek Surabaya-Jogja-Bandung pp. yang masih terlihat baru ini tidak memiliki no kursi 13 dan 14, setelah no 12 langsng 15. Seolah mengisyaratkan tidak ingin sial (perlambang dari 13) dan tidak mau mati (perlambang dari 14). Aneh tapi nyata.., lha ini di Indonesia.

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Banyak Porlap Di Juanda

29 September 2010

Banyak Porlap di Juanda… Sepanjang ingatan saya, di bandara atau tempat lain, tukang angkut barang ini disebut porter. Tapi di bandara Juanda Surabaya disebut Porlap, bahkan ditulis besar-besar di punggung baju seragam hijaunya. Saya tidak tahu pasti kata ini berasal dari bahasa apa, sekedar menduga-duga sepertinya warisan dari bahasa londo Belanda yang dilidah-jawakan. Yang saya tahu ada ungkapan bahasa londo Inggris ‘no taim por lap…”.

(Seorang teman memberi komentar bahwa katanya Porlap itu singkatan dari Porter Lapangan. Barangkali dimaksudkan untuk membedakan antara porter stasiun, porter terminal, porter koplak (pangkalan andong), dan harry porter….hehe. Suwun).

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Berbuka Di Terminal 3

25 Agustus 2010

Alhamdulillah, tiba kembali ke Jogja setelah melewatkan waktu 6 jam di Jakarta. Saat berbuka di Terminal 3 Cengkareng, masuk ke Executive Lounge. Bayar Rp 50 ribu, lalu all you can eat, sak mblengere…(sekenyangnya).

Seperti orang kalap bin kemaruk (doyan makan seperti baru sembuh dari sakit), semua ingin dimakan.., buah, salad, mie ayam, tempe goreng, kopi susu, jus lemon, sup jagung dan… nyaris tak terbendung seperti air waduk Situ Gintung.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Mati Listrik Di Pesawat

16 Juni 2010

Burung ‘Singo’ Boeing 737-400 baru mendarat di Cengkareng, penumpang siap-siap turun. Tapi tiba-tiba ada Mati Listrik (ML) di pesawat. Mesin, lampu, AC, semua mati. Rupanya “bisnis” ML bukan monopoli PLN, penerbangan juga.

Ketika turun, kutanya mbak pramugari: “Kenapa tadi tiba-tiba mati, mbak?”.
Jawabnya sambil cengengesan tapi manis: “Baru coba-coba kok pak”.

Walah, blaiiik..! Lha, ML di pesawat kok coba-coba. Kalau mau coba-coba ML mbok cari yang “mirip” pesawat.

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tiket Murah

16 Juni 2010

Di Terminal 1 Cengkareng, seseorang mendekati: “Tiket murah, pak”. Di musim tiket mahal seperti sekarang kok ada yang menawari tiket murah?

Kok bisa jual murah?”, tanyaku.
“Kita beli harga awal pak”, jawabnya.
“Berarti atas nama orang lain, dong?”.
“Tidak pak”, jawabnya.
“Pasti hanya orang-orang tertentu yang dapat”, kataku.
“Tidak juga”.

– Dialog tidak perlu saya lanjutkan, karena kesimpulannya jelas, bahwa “Masih ada calo yang akan lewat…” (bermain bersama orang dalam).

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Kenapa Pesawat Tidak Bisa Mundur?

11 Juni 2010

Sambil becanda seorang teman bertanya : “Kenapa pesawat tidak bisa mundur ya?”.

Jawabku asal-asalan : “Agar sopirnya tidak ugal-ugalan”. Maka setiap gerakan majunya harus selalu tepat dan akurat karena tidak ada kesempatan mundur selangkah pun kecuali saat menjelang terbang, itupun dimundurkan…

(Barangkali, seperti itulah ketika seseorang memutuskan untuk banting setir berwirausaha. Maju terus pantang mundur, dengan gerakan dan resiko yang terukur).

Yogyakarta, 2 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Menyenangi Dan Menikmati

3 Maret 2010

Ndilalah, di Terminal 3 Cengkareng ketemu teman yang sedang dalam perjalanan pulang dari kebun. Sekian hektar kebun sawit dan karetnya ada di Jambi, sehingga kalau pergi ke kebun lalu pulang ke rumahnya di Jogja harus naik pesawat. Katanya: “Saya sudah telanjur menyenangi dan menikmati ngurus kebun…”. Ya, bisa menyenangi dan menikmati, memang itulah kata kuncinya, sehingga ijazah sarjana tambangnya pun ikhlas dimuseumkan sekedar sebagai memorabilia.

(Salam hormat dan apresiasi untuk rekan Suharyono, alumni Tambang UPN “Veteran” Yogyakarta)

Jakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Di Ketinggian

3 Maret 2010

Lho kok tumben check-in maskapai Singo pagi ini di Adisutjipto lancar. Padahal biasanya klelat-klelet (lelet) seperti anakku kalau disuruh mandi sore (ya…kadang-kadang saya juga). Mudah-mudahan rejeki yang nyanthol di ketinggian 32.000 kaki juga mudah dipetik…(fissamaa-i fa anzilhu..)

Yogyakarta, 1 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Di Terminal 3 Bandara Cengkareng

18 Februari 2010

Di Terminal 3 Cengkareng yang tata suaranya ‘gak main’ seperti halnya bandara Hasanuddin, ada acara lepas sepatu ketika melewati security check kedua dan berbunyi “nguiiing”. Sepatu pun menjadi pihak pertama yang pantas dicurigai, setelah pemilik dan tentengannya…

***

Di Terminal 3 Cengkareng, ada sebuah ruangan di pojokan bertulisan huruf besar warna merah, berbunyi : “smoking kills”. Kedengaran lebih sensual sebagai penghalus (atau malah pengkasar?) untuk kata : “smoking room”.

(Meski sudah beberapa kali menggunakan jasa Terminal 3 Cengkareng, tapi selama ini hanya untuk datang. Malam itu adalah pertama kali saya berangkat dari Terminal 3 yang adalah Terminal Haji. Selama ini Terminal 3 baru dimanfaatkan oleh maskapai Air Asia dan Mandala Air. Terasa ada nuansa lain di Terminal ini, antara lain ya adanya ruang kaca “smoking kills” itu tadi…)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Pak Satpam Bandara

18 Februari 2010

Boarding belakangn, rada sepi. Seorang Satpam tiba-tiba mendekat dan berkata pelan: “Rokoknya pak”.
Karena saya rasa kata-kata ini aneh, sy balik tanya memastikan: “Apa pak?”.
Pak Satpam menjawab: “HP-nya tidak ketinggalan pak?”.
Spontan saya jawab: “Oo tidak pak”.

Sambil berjalan menuju pesawat saya berpikir: “Kok sepertinya aneh!”. Sesaat kemudian baru saya ‘ngeh’. …”Eee… alah, pak Satpam, pak Satpam…, caramu kurang manis utk mengharap kebaikan org lain…”.

(Peristiwa ini terjadi di bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Gate 1, sewaktu boarding Lion Air menuju Jakarta)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Bocah Penyemir Bandara Cengkareng

11 Desember 2009

Siang tadi ketemu lagi dengan bocah penyemir sepatu (Muslim, 11th, kls 5, ortunya pemulung) yang setahun yll pernah saya ajak sarapan di KFC bandara Cengkareng. Cita-citanya ingin menjadi pilot. Setelah cerita-cerita sambil makan siang, lalu saya pegang bahunya sambil saya yakinkn dia: “Saya doakan insya Allah cita-citamu akan terwujud” (dasar tukang kompor…!), tapi saya serius…

(Pengalaman sarapan pagi bersama Muslim pernah saya lakukan tepat setahun yll. Lihat catatan : “Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat”)

Jakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

“Kunanti Doamu Selalu…”

11 Desember 2009

Sambil ngopi di bandara Jogja, siap mbonceng burung Garuda ke Jakarta, kirim SMS kira-kira seperti tulisan di bak belakang truk : “Kunanti doamu selalu…”

Yogyakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras

28 Oktober 2009

Cuaca seminggu teIMG_2696_rrakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini naga-naganya sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau…..

Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat njumbul-njumbul naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang.

Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. “Waduh, ada apa ini”, pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan…… Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya…. mak jedug, menyentuh landasan bandara Cengkareng. Alhamdulillah, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban.

Saya menguping percakapannya. “Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi”, kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : “Saya juga sudah sport jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja”. Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka aja. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil.

Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : “Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya…”, begitu kira-kira katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan kok ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : “Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa kan masih bisa ditemukan. Lha kalau naik pesawat, hilang entah kemana”. Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?.

***

Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : “Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?”.

Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : “Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak”.

Ooo, begitu to…… Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat.

Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan…. Lho, apanya?

Yogyakarta, 26 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Kisah Kecil Tentang Pesawat Salah Parkir

4 Juli 2009

IMG_2919_rMinggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara Selaparang, Mataram, NTB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Berita di berbagai media menyebutkan pesawat tergelincir, ada juga yang menulis keliru belok dan ada yang melaporkan salah parkir. Apapun kejadian yang sebenarnya, yang pasti telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal.

Media menceritakan bahwa pesawat jenis MD 90 yang seharusnya berputar di ujung landasan ternyata sudah memutar duluan sebelum mencapai ujung landasan. Sepertinya sang pilot tidak sabar menunggu mencapai ujung landasan yang berarti harus menambah jarak tempuh 500 meter lagi. Atau pilotnya “lupa” bahwa badan pesawat MD 90 tergolong langsing tapi bongsor memanjang, sehingga ketika memutar tidak bisa dipaksa untuk sekali “jadi”. Kalau mobil bisa atret maju-mundur, lha kalau pesawat perlu dibantu kendaraan pendorong.

Tulisan ini bukan bermaksud membahas apa yang terjadi, melainkan : “Kok bisa sih kesalahan yang tidak seharusnya itu terjadi?”. Jangan-jangan karena sikap keteledoran atau kesembronoan menganggap remeh masalah kecil dalam bisnis penerbangan. Untung masih di darat, lha kalau terjadinya di awang-awang, njuk piye (lalu bagaimana)?

***

Insiden di bandara Selaparang itu mengingatkan saya pada peristiwa kecil yang pernah saya alami di bandara Supadio, Pontianak, sekitar setahun yang lalu. Peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan nyaris tidak ada yang memperdulikan. Tapi bagi saya dan seorang teman, kejadian ini menjadi bahan guyonan meski rada getir.

Menjelang tengah hari, pesawat Batavia Air yang saya tumpangi dari Yogyakarta mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan baik-baik saja, meski keberangkatannya sempat terlambat dua jam. Ketika pesawat bergerak menuju apron area parkirnya, dari dalam pesawat saya lihat ada petugas darat yang kedua tangannya mengayun-ayunkan piranti pemberi tanda agar pesawat terus bergerak.

Petugas parkir itu (saya sebut saja begitu) berada di ujung slot parkir No. 7 (tulisan angka 7 berwarna putih sangat jelas tertulis buesar-buesar di aspal bandara). Ketika pesawat mendekat, tinggal satu tangan petugas parkir yang berayun yang berarti pesawat harus belok mengikuti garis slot parkir yang dimaksud. Eh,  lha kok ternyata pesawatnya bablas saja melewati slot No. 7 menuju ke slot No. 6. Melihat hal itu saya berpikir barangkali memang bukan di situ lokasi parkir pesawat yang saya tumpangi. Seandainya saya duduk di dekat sopir pesawatnya, mungkin pundak sopirnya saya seblak (tepuk) dan saya ingatkan : “Parkirnya kebablasan, mas…”.

Ternyata benar. Beberapa detik kemudian pesawat berputar 180 derajat, kembali menuju ke slot parkir No. 7. Untung area parkiran di slot No. 6 sedang kosong sehingga pesawat bisa bermanuver bebas untuk berbalik arah. Seandainya di situ ada pesawat lain yang parkir, pasti akan butuh kendaraan pendorong untuk mundur lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya salah parkir. Sebab sebelum pesawat menuju apron kawasan parkir tentunya sudah diberitahu oleh petugas darat dimana dia harus parkir dan petugas parkir pun sudah memberi tanda dengan eblek-eblek (piranti berwarna oranye yang diayun-ayunkan) di kedua tangannya.

Ketika akhirnya turun dari pesawat, teman seperjalanan saya bertanya menyindir kepada pramugarinya sambil guyon : “Pilotnya baru ya, mbak?”. Si mbak pramugari rupanya juga tidak menyadari apa yang terjadi dan menjawab serius : “Oh, tidak pak”.

***

Maka kalau kini saya mencatat ada dua kejadian pilot salah parkir atau salah belok atau kekeliruan apapun yang nampaknya kecil dan sederhana, itu terjadi di darat. Bagaimana kalau kekeliruan kecil semacam ini terjadinya di awang-awang langit? Jangan-jangan insiden atau malah tragedi kecelakaan pesawat yang akhir-akhir ini sering terjadi juga bermula dari kekeliruan kecil yang dilakukan entah oleh siapapun?

Hal-hal besar, baik atau buruk, sukses atau gagal, jatuh atau bangun, seringkali bermula dari hal-hal kecil yang nampaknya sederhana dan tidak apa-apa. Kisah tragis, kisah sukses, dan kisah-kisah tak terduga lainnya, seringkali berawal dari hal-hal kecil yang nampaknya tidak ada apa-apanya. Karena itu sebaiknya siapapun (baik mereka yang sedang sukses maupun yang sedang terpuruk) agar bisa belajar untuk memaknai setiap hal sebagai sebuah awal dari sesuatu yang (bisa menjadi) besar.

Para pendahulu kita (pendahulu dalam negeri maupun pendahulu luar negeri) telah membuktikannya tanpa mereka menyadari hasilnya. Maka kita para pewaris, pengikut dan penggembira mestinya bersyukur bisa belajar dari pendahulu kita itu.  Ungkapan “Small is Beautiful” hanya bermakna bagi mereka yang paham artinya besar itu apa, baik dalam hal yang positif maupun negatif, bencana maupun anugerah.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.