Arsip untuk ‘> Seputar KALIMANTAN BARAT’ Kategori

Di Dermaga Tayan, Sanggau, Kalbar

6 September 2008

Perahu-perahu motor cepat (speed boat) tertambat di dermaga Tayan, siap mengantar penumpang yang hendak menyeberang ke pulau Tayan menyeberangi sungai Tayan yang cukup lebar. Dermaga sungai Tayan terletak sekitar 100 km di sebelah timur kota Pontianak, termasuk dalam wilayah kecamatan Tayan Hilir, kabupaten Sanggau, provinsi Kalimantan Barat.

Belum ada jembatan yang menghubungkan wilayah Tayan dengan wilayah di seberangnya. Selain penumpang, kendaraan pun bisa diseberangkan menggunakan kapal penyeberangan menuju jalan lanjutan di sisi timurnya. Kelak kalau jembatan penyeberangan sudah dibangun, maka lintasan ini akan menjadi bagian penting dari jalur tengah Lintas Kalimantan yang akan menghubungkan kota Pontianak (Kalbar) dengan Palangkaraya (Kalteng), melalui wilayah Ketapang dan Nanga Tayap.

Kini, kegiatan penyeberangan di dermaga Tayan menjadi urat nadi aktifitas kegiatan ekonomi masyarakat setempat, baik antara wilayah di sebelah barat sungai dengan di sebelah timur sungai, maupun dengan pasar pulau Tayan yang ada di tengah sungai Tayan.  

Yogyakarta, 6 September 2008
Yusuf Iskandar

Perahu motor tempel menunggu penumpang di dermaga Tayan

Kawasan pemukiman Pulau Tayan yang berada di tengah sungai Tayan

Rumah kayu di tepian dermaga Tayan

Sebuah masjid di seberang dermaga Tayan

Dermaga penyeberangan Tayan

Kawasan terminal, pasar dan jalan utama Tayan

Tugu Khatulistiwa (Equator Monument)

30 Agustus 2008

Tugu Khatulistiwa (Equator Monument) terletak di sekitar 5 km sebelah utara Pontianak, menuju ke arah kota Singkawang. Dibangun pertama kali tahun 1928, direnovasi tahun 1990 dan diresmikan pada tanhggal 21 September 1991. Tugu yang dibangun tepat di atas garis Lintang 0o (Garis Katulistiwa) yang membelah bumi menjadi dua bagian utara dan selatan, pada garis Bujur Timur 109o 20′ 00”.

Bagian atas tugu ini kini “dilengkapi” dengan sarang burung sriti….. (siapa tahu sebentar lagi burung walet pun singgah dan menyedekahkan sarangnya…..).

Setiap tahun dikunjungi oleh sekitar 3000 wisatawan mancanegara dan sekitar 30.000 wisatawan domestik. Menilik nilai historis dan kekhasan tugu ini, mestinya layak memiliki “nilai jual” tinggi, lebih dari yang ada sekarang, dan menjadi unggulan tujuan pariwisata pemerintah provinsi Kalbar. Namun nampaknya sejauh ini masih terkesan dikelola ala kadarnya….

Yogyakarta, 30 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Tugu Di Bagian Dalam Bangunan

Tugu Di Bagian Dalam Bangunan

Tugu Di Bagian Luar Monumen

Tugu Di Bagian Luar Monumen

Garis Lintang Nol Derajad (Equator) Berdasarkan Satelit

Pelangi Di Istana Kadriah, Pontianak

29 Agustus 2008

Sore di istana Kadriah, sepenggal pelangi melintas di langit utara yang sedang cerah. Istana kesultanan Kadriah yang konstruksi bangunannya seperti rumah panggung, berbahan kayu ulin, beratap sirap, berdiri sejak tanggal 23 Oktober 1771. Sultan pertamanya adalah Abdurrahman Habib Husain. Berdirinya kesultanan Kadriah sekaligus mengawali sejarah terbentuknya kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Istana Kadriah yang terletak di desa Dalam Bugis, kecamatan Pontianak Timur, kota Pontianak itu kini masih berdiri kokoh. Tapi sayang, nampaknya kurang memperoleh perhatian serius dari pemerintah setempat, sedang sebenarnya sangat potensial untuk “dijual” sebagai salah satu obyek wisata unggulan propinsi Kalimantan Barat, baik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Istana ini, nampak berdiri merana dan jauh dari kesan kebanggaan yang mestinya terpancar dari setiap aspek keberadaannya, baik bagi ahli waris atau kerabat kesultanan, pemerintah maupun lebih-lebih masyarakat. Tidak sebagaimana sepenggal berkas pelangi memamerkan pesona warna-warninya…..

Pontianak, 29 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Endapan Pasir Kwarsa

28 Agustus 2008

Ini bukan salju di pegunungan Eropa, melainkan endapan pasir kwarsa yang berwarna putih, di sebuah lokasi bekas tambang di Tayan Hilir, kabupaten Sanggau, sekitar 100 km sebelah timur Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Lokasi yang merupakan bekas tambang emas PETI (pertambangan tanpa ijin) yang telah lama ditinggalkan ini memberikan bentang alam yang sangat menawan, padahal semestinya kawasan ini dapat dikelola dan dimanfaatkan secara lebih produktif.

Endapan pasir kwarsa, baik yang merupakan hasil proses alami maupun sebagai timbunan limbah bekas tambang, banyak dijumpai di berbagai kawasan di Indonesia. Sebagian telah dikelola sebagai komoditas bahan tambang untuk memenuhi kebutuhan industri. Pasir kwarsa antara lain dimanfaatkan sebagai bahan pembuat keramik dan bahan pelapis (coating).

Pontianak, 28 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Delapan Jam Di Perbatasan Entikong – Tebedu

19 Maret 2008

Sekali waktu di terminal keberangkatan luar negeri bandara Soekarno-Hatta. Selesai tas jinjing disinar-X, rupanya petugas imigrasi tahu kalau di dalamnya ada tumpukan uang lima-puluh ribuan. Tanpa basa-basi, dengan senyum cengengesan di depan orang lain, pak petugas nembung (minta ijin) : “Boleh ditinggal satu lembarannya, Pak?” (maksudnya lembaran uang lima puluh ribuan tentu). Terkejut juga saya di-dadak permintaan pak petugas imigrasi ini. Sama sekali tidak menduga bakal ditanya seperti itu. Dengan cepat saya jawab (maksudnya berkelit) : “Wah, maaf pak. Itu uang titipan”, sambil saya ngeloyor pergi. Maksudnya, titipan dari istri untuk beli oleh-oleh.

Sekali yang lain di terminal keberangkatan luar negeri bandara Ngurah Rai. Saya siapkan uang tiga juta rupiah untuk membayar fiskal 3 orang, yaitu saya, istri dan anak pertama yang umurnya sudah diatas 12 tahun. Rupanya petugas imigrasi penjual fiskal cukup berbaik hati memberi saran. “Kalau bapak mau, anak bapak cukup bayar lima ratus ribu saja, nanti anaknya saya anggap masih di bawah 12 tahun. Lumayan hemat, pak”. Kata-kata “lumayan” ini cukup menggoyahkan pikiran lurus saya. Dengan cepat saya lakukan mencongak (menghitung di pikiran), lima ratus ribu rupiah (IDR) adalah sekitar seratus dollar Australia (AUD). Celakanya kok ya saya ikuti juga pikiran bengkok dengan menerima tawarannya. Ya, gara-gara faktor “lumayan” itu tadi…. Setelah itu baru saya menyesal setengah mampus telah turut ambil bagian dalam tindak tak terpuji.

***

Hari masih pagi ketika saya tiba di perbatasan Entikong – Tebedu, Kalimantan Barat, setelah menempuh perjalanan lebih 6 jam dari Pontianak dengan bis eksekutif. Menjelang jam 7 pagi, gerbang perbatasan sudah mulai ramai oleh para pelintas batas yang berurusan dengan petugas imigrasi. Masing-masing orang sudah siap dengan paspor di tangan. Juga saya. Giliran paspor saya diperiksa, agak lama pak petugas membolak-balik paspor. Spontan saya menduga, pasti ada yang tidak beres. Inilah pertama kali saya menggunakan paspor sejak terakhir kali pulang dari mancanegara empat tahun yang lalu melalui bandara Ngurah Rai. Ada apa gerangan?

Entah kenapa, dan saya sendiri juga baru ngeh….. Rupanya ketika masuk ke Denpasar empat tahun yang lalu, petugas imigrasi di sana waktu itu tidak mengambil kartu kedatangan yang di-steples di paspor dan lupa tidak memberi cap stempel kedatangan. Dengan kata lain, selama empat tahun ini status kependudukan saya, menurut hukum keimigrasian, saya dianggap masih bergentayangan di luar Indonesia. Maka petugas imigrasi Entikong pun bingung. Lha, wong “masih berada” di luar negeri kok ujuk-ujuk minta ijin menyeberang ke luar negeri.

Saya lalu dipertemukan dengan seorang atasan di kantor imigrasi Entikong. Mulanya saya pikir ini hanya soal fulus bin duit. Rupanya, kasus saya dinilai tergolong pelik. Pihak imigrasi Entikong dengan tegas mengatakan tidak bisa membantu, karena resikonya tergolong berat. Kalau saja waktu itu saya masuk kembali ke Indonesia melalui Entikong, kemungkinan besar masih bisa diakalin. Akan tetapi karena saya masuknya melalui Denpasar, maka harus ada stempel kedatangan dari imigrasi Ngurah Rai, baru paspor saya bisa digunakan kembali. Intinya, saya tidak bisa meninggalkan Indonesia. Sementara teman seperjalanan saya dari Yogya bisa langsung melanjutkan perjalanan ke kota Kuching, ibukota negara bagian Serawak, Malaysia.

Weleh-weleh….. dheleg-dheleg saya……. Masak harus ke Denpasar dulu….. Sambil duduk termangu dan pesan kopi di kantin Indonesia (maksudnya kantin yang berada di wilayah Indonesia, sebab nanti ada kantin yang berada di wilayah Malaysia), saya mencoba merenungkan kejadian yang saya alami pagi itu. Seprana-seprene…., ya baru kali inilah saya paham arti pentingnya stempel keimigrasian yang dicapkan di paspor.

Mencoba tidak menyerah. Setelah menghubungi relasi yang berada di Kuching, yang mengundang untuk ketemu di sana siang itu, saya ceritakan apa yang terjadi. Pendek cerita, entah bagaimana hubungan-hubungannya saya tidak tahu, kemudian saya diminta menemui seorang petinggi imigresyen Malaysia di Tebedu (seberangnya Entikong). Saya pun melenggang melintasi gerbang perbatasan, karena seorang Bapak bertubuh gemuk dan memakai baju batik (begitu ciri-ciri orang yang harus saya temui) sudah menunggu di wilayah Malaysia. Sekali lagi saya ceritakan apa yang terjadi.

Bapak pejabat imigrasi Malaysia itu pun berjanji akan mencarikan penyelesaian atas masalah paspor saya. Katanya, Malaysia welcome terhadap kedatangan saya, tapi masalahnya ada di imigrasi Indonesia. Beliau berjanji akan segera membicarakannya dengan pihak imigrasi Indonesia. Dengan ramah saya diminta menunggu di kantin Malaysia, dan tidak lupa saya disangoni (dibekali) uang 20 ringgit. Sungguh surprise…. Bukannya dimintai uang malah diberi uang saku. Agaknya beliau tahu bahwa tidak ada gunanya saya berada di kantin Malaysia kalau saya tidak pegang uang Malaysia, wong di sana mbayar-nya pakai ringgit.

Sejam, dua jam, saya masih sabar menanti pejabat imigrasi Indonesia yang katanya mau menemui saya. Tiga jam, empat jam, saya mulai pesimis. Lima jam, enam jam, saya mulai ngantuk dan baiknya saya lupakan saja untuk memperoleh ijin keluar dari Indonesia (meskipun faktanya saya sudah nongkrong di kantin Malaysia) karena saya mulai yakin bahwa upaya Bapak pejabat imigrasi Malaysia itu tidak berhasil.

Soal lama menunggu tanpa kepastian rasanya saya cukup berpengalaman, kesalnya. Tapi menunggu dengan tanpa bisa berkomunikasi sungguh membuat geram. Pasalnya, ponsel saya (yang tidak ada kameranya) ternyata habis baterei, charger tidak terbawa, orang di kantin sekitarnya tidak ada yang punya charger. Alamak….! Mau saya tinggal pergi, iya kalau relasi saya datang bagaimana? Mau menunggu terus, sampai jam berapa? Mencoba mengisi waktu dengan membuka laptop, lha kok ndilalah batereinya juga habis. Mau dicolokkan ke listrik kantin ternyata kabel charger kurang poanjang. Ugh….!

Kebetulan ada seorang penjual jasa penukaran uang yang lagi makan di kantin, kebetulan juga punya HP yang mereknya sama dengan HP saya. Sejurus kemudian saya memberanikan diri meminjam ponselnya dan saya jelaskan bahwa saya akan menggunakan kartu chip ponsel saya sendiri, dengan cara memindahkannya. Setidak-tidaknya dia tidak rugi pulsa. Maka berkat jasa baik pedagang valas liar itulah akhirnya saya bisa menghubungi relasi di Kuching.

Akhirnya teman dan relasi saya datang bermaksud menjemput. Sekali lagi akan diupayakan untuk deal dengan pihak imigrasi Indonesia di Entikong. Relasi saya masih yakin bahwa ini hanya soal fulus bin duit. Tapi rupanya keputusan memang sudah final, bahwa masalah paspor saya tergolong masalah rumit yang tak seorangpun petugas imigrasi Indonesia di sana berani membuat “terobosan”.

Ya sudah. Teman dan relasi saya melanjutkan perjalanan sesuai rencana, saya pun segera mengejar bis terakhir yang kembali menuju ke Pontianak.

Delapan jam di perbatasan Entikong – Tebedu yang sangat membosankan, seperti orang hilang. Padahal ya tidak ngapa-ngapain, kecuali menunggu, makan, minum, udut, sambil ngantuk-ngantuk… Tapi seorang bapak gemuk berbaju batik petinggi imigresyen Malaysia tadi telah mengajarkan saya tentang bagaimana kita perduli pada kesulitan yang sedang dihadapi orang lain, dan orang lain itu bukan siapa-siapanya…..      

Yogyakarta, 28 Oktober 2007.
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.