Archive for the ‘> Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau BINTAN’ Category

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya mengunjungi kota Tanjung Pinang dan sekitarnya di Pulau Bintan, pada tanggal 10 – 15 April 2006. Perjalanan dari Yogyakarta ditempuh melalui Pulau Batam.

(1).  Menuju Kota Gurindam
(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
(3).  Pulau Penghasil Bauksit
(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”
(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong
(6).  Purnama Di Tanjung Pinang
(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang
(8).  Semalam Di Batam

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(1).  Menuju Kota Gurindam

Kebiasaan lama. Begitu masuk hotel langsung nggeblak di tempat tidur, ngolet ngiwo-nengen (menggeliat ke kiri ke kanan), meregang otot. Setelah agak enakan sedikit, baru bangun lagi. Seharusnya acara nggeblak itu berlangsung sekitar jam 12 siang, sehingga setelah itu punya waktu longgar setengah hari untuk melakukan aktifitas lain yang sudah direncanakan. Namun apa daya, Pak Adam telat lagi (Adam Air, maksudnya) sehingga baru sekitar jam 5 sore saya bisa melampiaskan kebiasaan nggeblak di hotel.

Menurut jadwalnya, Pak Adam  berangkat dari Jogja jam 6:30 pagi menuju Jakarta. Kemudian akan disambung Pak Adam lainnya menuju Batam. Karena terlambat take-off di Yogya, lalu terlambat lagi di Jakarta, walhasil terlambat pula mendarat di bandara Hang Nadim, Batam.

Keluar dari bandara Hang Nadim langsung nyingklak taksi menuju pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Taksi bandara Batam lumayan bagus-bagus. Beroperasi tanpa argo-argoan, tanpa tawar-menawar, pokoknya dari bandara ke Telaga Punggur ongkosnya sekitar Rp 60.000,- atau Rp 65.000,-  untuk waktu tempuh sekitar setengah jam. Wong cuma melalui dua belokan saja. Dari bandara belok kiri lalu ke kiri lagi dan belok kanan lalu ke kanan lagi sudah sampai. Jalannya pun bagus dan lancar.

Dari pelabuhan Punggur (begitu orang menyebut singkatnya), lalu menyeberang naik feri ke pulau Bintan. Tepatnya menuju kota Tanjung Pinang, yang sementara ini disebut sebagai ibukota propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Saya baca di koran lokal Kepri Pos, DPRD tingkat I propinsi Kepri telah memilih kota Dompak Darat menjadi calon ibukota propinsi Kepri, melalui proses pemilihan yang katanya kontroversial.

Sarana angkutan penyeberangan Punggur – Tanjung Pinang pp. ini beroperasi setiap setengah jam dari jam 7:30 pagi hingga jam 8 malam bolak-balik. Jadi memang agak fleksibel pilihan jadwalnya. Tinggal pilih menggunakan feri yang berukuran agak besar atau sejenis speed boat yang berukuran agak kecil. Kami memilih feri besar “Baruna” dengan pertimbangan jalannya lebih mantap dan tidak banyak goyangan saat jalan cepat diterpa gelombang, tidak seperti halnya kalau naik speed boat yang berukuran lebih kecil. Beli tiket ferinya juga fleksibel, bisa milih sekali jalan Rp 35.000,- per orang atau sekaligus tiket pergi-pulang Rp 60.000,- berlaku untuk jam dan hari kapan saja dalam periode satu bulan.

Begitu memasuki pelataran di depan loket-loket penjual tiket di Punggur, langsung disambut dengan teriakan para penjual tiket, bukan calo. Mereka berteriak-teriak dari dalam loket sambil menawarkan tiket masing-masing jasa angkutan penyeberangan. Ramai dan berisik sekali, seperti ramainya Tempat Pelelangan Ikan. Lucunya, mereka berteriak-teriak sambil menyebutkan harganya, sambil melambai-lambaikan tangannya, sambil kepala-kepalanya (karena banyak) menyembul keluar dari lubang tiket. Seperti jam dinding yang ada burungnya lalu kepalanya nongol keluar kalau pas loncengnya berbunyi.

Karena sejak semula sudah diberitahu sebaiknya menggunakan jasa penyeberangan yang mana dan beli tiket di loket yang sebelah mana, maka ya teriakan-teriakan itu tidak perlu dihiraukan. Langsung saja menuju loket feri “Baruna” dan membeli tiket untuk perjalanan pergi-pulang sekaligus.

Akhirnya tiba di Tanjung Pinang setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan laut. Perjalanan laut ini menyusuri selat-selat kecil di antara ratusan pulau-pulau kecil yang tersebar menjadi satu gugusan kepulauan dalam wilayah administratif propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tampak sebuah papan nama besar bertuliskan “Welcome to Port of Sri Bintan Pura” terpampang di dermaga penyeberangan penumpang Tanjung Pinang. Agaknya pulau ini memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata turis mancanegara, sebagai tujuan tambahan bagi mereka yang ke Singapura yang memang tidak terlalu jauh jaraknya.

Para wisatawan asing itu umumnya melancong ke pulau Bintan untuk bersantai, beristirahat di kawasan pantai tropis. Maka bukan kota Tanjung Pinang yang terletak di sisi selatan pulau Bintan yang menjadi tujuan mereka, melainkan beberapa kawasan pantai utara yang terkenal dengan keindahan pantainya yang masih alami seperti kawasan pantai Trikora dan pantai Lagoi, juga yang terkenal dengan kawasan Bintan Resort dimana banyak berdiri hotel-hotel mewah dan lapangan golf bertaraf internasional.

***

Hari sudah sore saat saya menginjakkan kaki di daratan pulau Bintan, dengan Tanjung Pinang sebagai kota terbesarnya yang dihuni oleh kurang dari 200 ribuan jiwa. Masyarakat Tanjung Pinang bangga menyebut kotanya sebagai Kota Gurindam, merujuk pada sejarah seorang tokoh sastra abad 18, Raja Ali Haji yang kesohor dengan karya sastranya Gurindam Duabelas. Terakhir pak Raja Ali Haji ini telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Kota Tanjung Pinang ini agak unik. Bukan karena kecantikan kotanya, melainkan karena membuat saya kesulitan untuk melakukan orientasi medan dengan cepat. Kotanya berbukit-bukit, jalan-jalan kotanya mlungker-mlungker (tidak lurus), persimpangan jalannya miring-miring, sehingga saya selalu kehilangan arah untuk menunjuk dengan tepat arah mata angin. Hanya pada belahan kota yang berada di dekat-dekat laut mengesankan sebagai sebuah kota kuno Melayu, yang sesungguhnya sangat menarik seandainya ditata dengan baik, mumpung belum padat penduduknya. Namun sayang pertumbuhan dan perkembangan kawasan kota selebihnya terkesan semrawut dan dikhawatirkan cenderung menuju kekumuhan.

Keunikan lainnya, di mana-mana banyak dibangun ruko dan kompleks pertokoan, yang kini banyak terhenti karena menunggu suplai listrik yang memang angat terbatas. Sementara populasi Tanjung Pinang ini tidak terlalu padat. Lha, njuk siapa yang mau beli aneka properti bisnis itu. Rasanya pas kalau kota ini juga dijuluki “Kota Ruko”, sangking banyaknya ruko bertebaran dibangun di mana-mana dan semuanya sekarang dalam keadaan kosong atau tidak ada aktifitas. Seorang kawan yang warga Tanjung Pinang pun merasakan keheranannya dengan perilaku pebisnis properti ini. 

Setelah turun dari feri langsung saja meninggalkan pelabuhan dan bahkan keluar meninggalkan kota Tanjung Pinang menuju ke pinggiran kota arah timur. Akhirnya berhenti mencari penginapan di sebuah hotel di kawasan Batu 9 (istilah lain untuk kilometer 9), tidak jauh dari kawasan bisnis Bintan Center. Ya lalu nggeblak di tempat tidur hotel itu tadi…..

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar 

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik

Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan malam belum masuk. Tapi karena perut sudah meronta minta diisi, ya lupakan dulu soal waktu makan. Tidak jauh dari hotel, ke arah timur sedikit, tepatnya di Batu 10 (Km 10), ada kawasan pengembangan kota yang bernama Bintan Center. Kesanalah kemudian kami menuju. Di salah satu sudut kompleks perukoan ada kedai (sebutan umum untuk warung) yang jual nasi goreng. Atas inisiatif seorang rekan yang kebetulan penduduk asli Bintan, kemudian kami masuk ke kedai “Bopet Pak Haji”.

Nasi goreng di kedai ini cukup disukai masyarakat, katanya. Terbukti “Bopet Pak Haji” yang di Bintan Center itu merupakah cabang dari kedai yang sama yang ada di kota Tanjung Pinang. Tidak ada salahnya dicoba. Sebab prinsip saya kalau berada di tempat baru adalah mencoba sesuatu yang beda dan khas, tidak perduli enak atau tidak. Rule of thumb-nya adalah bahwa makanan itu hanya ada dua jenis : uenak dan huenak sekali.

Satu piring nasi goreng pun tandas. Sangking laparnya sampai tadi lupa merasakan sebenarnya nasi goreng ini cukup uenak saja apa huenak sekali sih…. Paling tidak, ya lumayan uenak-lah, meki taste-nya tentu beda dengan nasi goreng jawa.     

***

Sore serasa belum lengkap kalau belum nyruput kopi panas. Saya pesan kopi di hotel untuk dikirim ke kamar. Petugas hotel bertanya : “Kopi O, pak?”. Saya pun melongo dengan mulut membentuk seperti huruf “O”, mendengar pertanyaan itu. Lalu kata petugas hotel : “Ya, kopi biase tak pakai ape-ape….”, dengan logat Melayunya. Saya baru ngeh : “Ooo…. , itu to maksudnya kopi O…..”, barulah saya bisa mengkonfirmasi : “Iya, kopi O satu!”.

Menangkap ada sesuatu yang baru, saya lalu mencoba mengeksplorasi lebih jauh. “Kalau teh O ada, tak?”, tanya saya. Lalu dijawabnya : “Ada, pak. Teh obeng juga ada….”. Hah!. Teh apa lagi ini? Setahu saya di “Madurejo Swalayan” saya jual teh cap Tjatoet dan cap Tang. Lha ini ada lagi teh obeng….. Rupanya yang disebut teh obeng adalah es teh. 

Saya tersenyum sendiri. Selain karena merasa lucu mendengar sebutan jenis minuman kopi dan teh itu, juga karena berhasil memperoleh pengalaman baru di hari pertama kunjungan saya ke kota Gurindam, Tanjung Pinang. Mulai saat itu saya merasa perlu untuk mulai waspada. Waspada terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan saya temui selanjutnya. Dan inilah bagian yang paling saya sukai setiap kali mengunjungi tempat baru.

Secangkir kopi pun akhirnya saya nikmati di kamar hotel. Yang selalu khas dalam setiap kali kopi disajikan, juga kemudian saya temui di kedai-kedai kopi di tempat lain, adalah secangkir kopi itu selalu disajikan dalam keadaan mbludak, ada tumpahan di cawannya. Terkesan kurang professional dan kurang rapi. Tapi yang demikian ini justru menambah selera ngopi bagi penggemar kopi. Barangkali saja SOP-nya memang demikian.

Sama seperti saya juga tidak tahu kenapa disebut kopi O atau teh obeng. Orang-orang setempat pun tidak ada yang bisa memberi jawaban meyakinkan. Kecuali sekedar clue, barangkali sebutan itu adalah turunan dari bahasa Tionghoa yang memang sejak jaman dahulu kala banyak masyarakat etnis Cina yang tinggal dan hidup di kawasan Kepulauan Riau.

***

Mengingat tadi makan siangnya kesorean, maka acara makan malam pun sengaja dijadwal agak kemalaman. Tapi tidak perlu khawatir tidak kebagian restoran atau kedai yang masih buka. Banyak tempat-tempat makan atau kedai-kedai makan buka sampai larut malam. Salah satunya yang kami tuju adalah kawasan “Melayu Square” yang berlokasi di pinggir laut dekat dengan pelabuhan penyeberangan.

Yang disebut “Melayu Square” ini adalah semacam Pujasera, open air, ada puluhan set meja-kursi tersebar di lapangan terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kedai makan dan minum serta jenis makanan lainnya. Ada juga disedikan fasilitas lesehan di atas ruang panggung yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini buka sampai larut malam dan nyaris selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya, kata teman yang asli Bintan. Tidak ada jam buka dan tutup yang pasti. Namun biasanya buka sore hari dan baru tutup kalau pengunjung sudah sepi atau pada ngantuk, atau penjualnya yang ngantuk duluan.

Ada sederet menu makan aneka ragam yang kebanyakan berbasis ikan-ikanan, maklum wong dekat laut. Namun pandangan mata saya tertuju pada satu menu khas Melayu yang dahulu saya pernah menikmatinya saat disuguh oleh salah satu keluarga seorang teman di Yogya yang berasal dari Riau, yaitu laksa (dibaca la’se). Kalau tidak salah ini makanan yang berbentuk seperti mie tapi terbuat dari bahan tepung beras. Dimakan dengan kuah ikan seperti kari kental. Disajikan dengan berbagai variasi campuran, diantaranya tauge mentah. Biasanya pedas, dan yang pasti membuat nek (cepat enyang) karena mengandung banyak santan. Karena itu sangat cocok dimakan pada saat perut lagi lapar.

Berbekal semangat ingin mencoba yang beda dan khas, maka meski perut sesungguhnya belum lapar-lapar amat, tetap saja saya pesan sepiring laksa. Dan ternyata tandas juga, meski megap-megap kepedasan. Habis enak sih…..!

Bagaimana dengan minumnya? Mata saya tertuju pada menu kopi tarik. Apanya yang ditarik, atau apanya yang menarik? Kopi dan juga teh tarik adalah campuran kopi atau teh dengan susu yang penyajiannya dengan terlebih dahulu dicampur dalam cangkir alumunium berukuran agak besar. Kalau di Jawa ini cangkir mirip seperti yang biasa digunakan tukang martabak untuk mencampur adonan.

Campuran kopi atau teh susu itu kemudian dituang berkali-kali dan berpindah-pindah dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Cangkir pertama yang berisi campuran kopi atau teh susu diangkat agak tinggi lalu dituang ke bawah dan diterima oleh cangkir kedua yang dipegang berada agak ke bawah, lalu bergantian. Prosedur tuang-menuang ini dilakukan sebanyak enam kali (saya tahu karena beberapa kali saya amati dan saya hitung, sekedar analisis statistik cepat), sampai kemudian menimbulkan busa di permukaannya. Barulah dipindah ke gelas sebelum disajikan.

Aroma dan rasanya luar biasa (makudnya di luar biasanya campuran kopi atau teh dengan susu). Nilai akhirnya : huenak dan mantab (diakhiri huruf “b”) sekali….. Pesan sponsor yang hendak disampikan berbunyi : Jangan lewatkan mencicipi kopi atau teh tarik selagi berada di Tanjung Pinang.

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(3).  Pulau Penghasil Bauksit

Sejak jaman Sekolah Dasar dulu, pelajaran Ilmu Bumi adalah salah satu pelajaran yang saya sukai. Hingga saya sangat hafal bahwa bauksit sebagai salah satu hasil tambang di Indonesia dihasilkan di pulau Bintan. Lokasinya di sebelah mana pun dengan mudah dapat saya cari. Bauksit mengandung mineral bahan penghasil alumunium, antara lain untuk membuat pesawat terbang. Selalu begitu yang diajarkan oleh guru saya. Saya tidak tahu kenapa tidak pernah disebut sebagai bahan pembuat panci, sendok atau cething (wadah nasi) misalnya, melainkan selalu dihubungkan dengan pesawat terbang. Baru kali inilah saya benar-benar menginjakkan kaki saya di pulau Bintan.

Herannya, kedua anak saya tidak tahu ada pulau yang namanya Bintan yang luasnya dua kali luas pulau Batam. Apalagi menemukan letaknya dan mengetahui hasil utamanya. Terpaksa saya membuka buku atlas Indonesia untuk sekedar menunjukkan kemana bapaknya hendak pergi selama beberapa hari. Menuju ke sebuah pulau dimana ibukota propinsi baru Kepuluan Riau (Kepri) berada. Kepri adalah propinsi ke-32 yang baru diresmikan berdirinya pada tanggal 1 Juli 2004. Diam-diam terbersit kekhawatiran dalam hati, jangan-jangan masih banyak anak-anak Indonesia lainnya yang juga tidak tahu pulau Bintan dan hasil utamanya, belum lagi pulau-pulau yang lebih kecil.

Barangkali karena letaknya yang berdekatan dengan Batam, Singapura dan Johor Bahru, Malaysia, maka keberadaan Bintan nyaris tidak banyak dipromosikan kepada wisatawan dalam negeri. Padahal konon, pantai utaranya yang masih asri dan alami menjanjikan nilai jual tinggi untuk industri pariwisata. Saya ingat ketika di tahun 2002 sempat jalan-jalan ke Singapura dan menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia, di sana banyak saya peroleh brosur-brosur promosi wisata tentang pulau Bintan. Sesuatu yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Yang paling populer adalah kawasan Bintan Resort, dan salah satu hotel mewahnya adalah Mayang Sari Beach Resort (jelas nama hotel ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bambang Trihatmojo……, ya memang tidak ada hubungannya……).  

***

Bauksit yang banyak dijumpai di pulau Bintan dan pulau-pulau di seputarannya dijumpai dalam bentuk endapan laterit. Berada bersama-sama dengan lapisan tanah penutupnya yang kesemuanya menampakkan perwujudan berupa endapan tanah merah. Maka dengan mengupas sedikit tanah penutupnya saja sudah diperoleh endapan laterit mineral bauksit. Dan itu ada di mana-mana. Memandang ke arah mana pun di pulau Bintan ini akan tampak tanah merah yang mengandung bauksit. Oleh karena itu tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pulau Bintan ini adalah pulau bauksit. Di mana pun kita berdiri, maka sesungguhnya kita sedang berdiri di atas endapan bauksit. Demikian halnya dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sungguh sebuah “Maha Karya” yang luar biasa dari Si Empunya jagat raya.

Tidak heran kalau bangsa Belanda yang “lebih dahulu” pandai, sudah sejak lama mengeksploitasi bauksit di pulau Bintan ini, yang hingga sekarang masih berlanjut di bawah manajemen PT Aneka Tambang. Lokasi-lokasi bekas penambangan itu sekarang masih tampak. Sebagian diantaranya kini sudah berdiri bangunan perumahan, perkantoran dan pertokoan di atasnya. Sebagian lainnya ada yang menjadi kolam dan cerukan. Salah satunya, kolam di tengah kota Kijang yang malah menambah asri suasana kota.

Sedangkan area bekas penimbunan tailing (limbah hasil penambangan) maupun area bekas tambang lainnya, kini sudah mulai menghijau ditumbuhi aneka tanaman, baik yang direncana melalui program reklamasi maupun yang dibiarkan sak thukule (asal tumbuh dengan sendirinya). Sebagian dari endapan tailing ini ada juga yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bata, dicetak seperti batako. Katanya mutu batanya lebih bagus, dan sudah banyak juga masyarakat yang memanfaatkannya. Tailing ini pun tidak mengandung B3 (bahan beracun dan berbahaya), sehingga tidak terlalu “merepotkan”. Malah bagi masyarakat yang mempunyai jiwa seni bercocok-tanam, kawasan tailing ini dapat diolah menjadi lahan pertanian yang menghasilkan sayur-sayuran.

*** 

Seharian ini cuaca rada murung, mendung bergelantungan di mana-mana dan hujan. Sebelum kami bekendaraan ke arah barat dari Tanjung Pinang, kami mampir dulu ke Bintan Center untuk sarapan pagi. Cari model sarapan yang berbeda. Ketemulah sarapan roti prata plus tentu saja kopi atau teh O.

Konon roti prata ini jenis masakaan peninggalan orang India yang dulu-dulunya banyak ada di pulau Bintan. Bentuk, rasa dan bahannya seperti martabak, dan dimakan bersama kuah kari atau pokoknya yang mirip-mirip itulah, wong saya juga enggak tahu. Satu-satunya yang saya tahu adalah rasanya enak dan mak sek, bikin kenyang…… Roti prata ini memang biasa dipilih oleh masyarakat Bintan sebagai salah satu jenis makanan untuk sarapan pagi.  

Segera kami melaju ke arah barat mengikuti jalan yang menuju kota kecamatan Tanjung Uban yang terletak sekitar 90 km arah barat dari Tanjung Pinang dan berada di pantai barat pulau Bintan. Jalannya termasuk beraspal bagus tapi sepi. Sekira di km 60-an kami berbelok masuk ke selatan, ke desa Penaga (baca : Penage). Jauh meninggalkan jalan raya ke arah pedalaman mendekati pantai selatan. Niatnya ingin menuju ke tepian dan muara sungai Ekang Anculai. Namun malah menemui jalan buntu dimana terlihat petani-petani Cina bercelana kolor pendek dan ote-ote (tidak pakai baju) yang lagi pada nongkrong di rumahnya. Di sepanjang jalan tanah merah ini banyak dijumpai pohon karet, durian dan duku. Sayangnya saat ini bukan sedang musim durian berbuah.

Karena jalan tanah sudah mentok dan tidak ketemu sungai, maka kami kembali lagi ke jalan raya dan mencoba jalur lain. Upaya kedua inipun tidak membuahkan hasil. Jalan tanah mentok lagi di perkampungan petani lokal. Malah hujan turun agak lebat sehingga terpaksa numpang berteduh di salah satu rumah penduduk di sana. Namun dari ceritanya, lokasi sungai sebenarnya sudah dekat, hanya saja terlalu sulit untuk dicapai dengan berjalan kaki, apalagi naik mobil, karena banyak kawasan rawa berhutan bakau atau mangrove yang tebalnya berkisar 20-200 m dari bibir sungai.

Upaya mencari muara sungai lewat darat hari ini dibatalkan untuk rencananya besok dicoba lagi dengan mencapainya lewat laut. Meski demikian, semua tempat yang kami kunjungi tetap kami petakan menggunakan alat GPS agar dapat diketahui lebih pasti dimana posisi kami ketika kesasar dan mentok di jalan buntu, kalau diplotkan di peta. Segera kami kembali ke Tanjung Pinang, untuk selanjutnya menuju kota kecamatan Kijang yang letaknya di sudut tenggara pulau Bintan. Jarak dari Tanjung Pinang ke Kijang sekitar 28 km.

Namun sebelum kami melaju jauh, kami menyempatkan untuk melihat dermaga sungai milik perusahaan penambangan batu granit yang lokasi tambangnya tidak jauh dari jalan raya. Batu granit hasil penambangannya dimuat ke dalam tongkang melalui dermaga sungai yang juga berada di sungai Anculai, tetapi lebih ke arah hulu dari lokasi yang rencananya hendak kami datangi. Setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju kota Kijang. Kali ini kami mengambil jalur memutar melalui sisi utara pulau Bintan agar dapat melihat pemandangan alam berbeda.

***

Sebenarnya bukan kota Kijang yang menjadi tujuan utama kami, melainkan melihat lokasi dan operasi tambang bauksit. Diantaranya yang saat ini dikelola oleh PT Aneka Tambang. Ya, sekedar melihat saja. Wong namanya juga orang tambang, ya lumrah kalau kepingin melihat tambang (siapa tahu ada peluang membuka cabang “Madurejo Swalayan” ……). Setidak-tidaknya, dengan melihat, maka informasi yang dapat diserap akan lebih banyak dibandingkan dengan hanya mendengar dan membaca saja. Setidak-tidaknya lagi, kalau terpaksanya ngomong soal tambang bauksit maka tidak akan pathing pecothot karena memang sudah melihat sendiri kenyataannya di lapangan.

Sebelum memasuki kota Kijang kami menyimpang ke selatan, menuju lokasi penambangan bauksit, lalu melihat lokasi pencuciananya. Dilanjutkan melihat dermaga sungai dimana selanjutnya bauksit akan diangkut dengan tongkang menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan inilah bauksit dipindahkan ke kapal yang akan membawanya ke pembeli bijih bauksit di luar negeri.

Dengan proses penambangan, pencucian dan pengangkutan yang seperti itulah aktifitas penambangan bauksit di pulau Bintan ini terus berjalan. Bukan saja oleh PT Aneka Tambang, melainkan juga oleh pihak swasta lainnya. Sepanjang pengelolaan areal penambangan dan lingkungannya dikerjakan secara professional, rasanya pemerintah daerah kabupaten Bintan atau propinsi Kepri layak bangga memiliki potensi kekayaan alam yang jarang dijumpai di kawasan lain di negeri ini. Daerah lain yang memiliki potensi cadangan bauksit adalah Kalimantan Barat.

Tinggal pandai-pandai saja pihak pemerintah setempat mengawasi dan mengelola dengan segenap perencanaan yang matang. Tidak asal memperoleh Pendapatan Asli Daerah, melainkan optimasi pendayagunaan sumber daya alam yang diikuti dengan perencanaan yang komprehensif terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah kota dan kawasan penyangganya. Kalau sudah demikian, maka kegiatan ekonomi dan bisnis pun akan tumbuh menyertainya. Peluang untuk memajukan Bintan melalui sektor industri pertambangan masih sangat terbuka. Bauksit hanyalah satu di antara sekian banyak jenis bahan galian lainnya yang ada, seperti granit, andesit, basalt, pasir kwarsa, kaolin, dsb. 

Pengalaman yang terjadi di pulau Singkep (masih tetangga Bintan di Kepri), dimana kini meninggalkan bentang alam bopeng dan kota Dabo yang kini menjadi kota hantu, hendaknya menjadi pelajaran berharga. Letak geografis Bintan yang dekat dengan Batam dan Singapura tentunya menjadi nilai tambah tersendiri, dimana aktifitas perdagangan lintas pulau lintas negara sudah lebih dahulu terbangun sejak lama. Berbeda halnya dengan Singkep yang adoh lor adoh kidul. Semoga pemerintah Bintan dan Kepri lebih cerdas menyikapinya demi kemajuan masyarakatnya.

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”

Masyarakat Bintan ini mempunyai kebiasaan unik, yaitu minum kopi. Bukan di rumah, di kantor, di hotel, atau di resto, melainkan di kedai-kedai kopi yang banyak betebaran di setiap sudut kota. Apakah dia orang biasa atau pejabat atau pengusaha, mereka pada pergi ke kedai-kedai kopi kalau dirasa-rasa sudah tiba waktunya kepingin ngopi. Acara ngopi atau coffee break ini bisa terjadi kapan saja. Tidak perduli pagi hujan, siang bolong panas terik, sore mendung atau malam dingin semribit, pokoknya kalau kepingin ngopi ya pergi nongkrong di kedai kopi. Tapi ya jangan lalu dibayangkan semua penduduk Bintan tumplek-blek di kedai kopi. Itu demo namanya!. Njuk nanti siapa yang tunggu rumah atau kantor……

Maka kedai kopi menjadi tempat paling strategis untuk bertemu membicarakan ihwal apa saja. Lobi-lobi politik, transaksi bisnis, silaturahmi, sekedar membuang waktu, nglaras, diskusi serius, ngumpul-ngumpul penuh canda, semua bisa berlangsung setiap saat setiap hari di kedai kopi, tanpa mengenal hari libur atau jam istirahat. Pokoknya kapan saja.

Salah satu kedai kopi favorit di kota Kijang adalah kedai kopi “Hawaii” yang berlokasi di depan pasar Berdikari. Mudah ditemukan lokasinya karena memang kota ini tidak terlalu ramai. Aroma dan rasa kopi di kedai kopi “Hawaii” ini sangat khas dan kuat sehingga membuat setiap penggemar kopi pasti kepincut untuk kepingin kembali ngopi lagi di tempat ini. Maka ada seloroh bagi pendatang baru di kota ini, yaitu dianggap belum sah datang ke Kijang kalau belum pernah singgah ngopi di kedai kopi “Hawaii”.

Sang pemilik kedai adalah seorang Cina tua yang biasa dipanggil A-Eng. Di usianya yang sudah 79 tahun ternyata engkoh A-Eng ini masih terlihat bregas (gagah), gesit, dan tidak menampakkan kelelahan fisiknya. A-Eng suka diajak ngobrol, apalagi kalau menyangkut kedai kopinya. Engkoh ini pun dengan berapi-api akan bercerita panjang-lebar dengan logat Melayu-Cina yang mulai rada susah dipahami karena giginya yang sudah pada hilang dan diganti gigi emas. Konon, air Riau memang terkenal keras dalam mempercepat kerusakan gigi.

Dulunya A-Eng tinggal di pulau Koyang, yaitu sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Bintan. Katanya semasa muda dulu suka berburu menangkapi monyet dan menyucrup otaknya, hingga puluhan ekor jumlahnya. Hmmmmm…….. Itulah selalu jawabnya kalau ditanya apa resep awet mudanya. Tentu saja ini formula yang tidak layak ditiru. Tapi begitulah pengalaman hidup A-Eng hingga di usianya yang sekarang.

Pada tahun 1969 A-Eng pindah ke Kijang. Dia lalu membuka usaha kedai kopi di depan pasar Berdikari yang pada waktu yang sama juga sedang mulai buka. Tentu saja waktu itu kota Kijang masih sangat sepi. Tapi relatif lebih ramai karena kota ini adalah bekas pusat kegiatan penambangan bauksit ketika Belanda masih jaya. Sejak itulah hingga kini A-Eng tidak pernah pindah. Kedainya pun tidak pernah direnovasi, diperbaiki atau sekedar dirapikan, sejak 37 tahun yang lalu. Maka wajarlah kedai kopi “Hawaii” milik engkoh A-Eng yang ada sekarang ini tampak sangat sederhana dan tradisional, meski tidak dipungkiri munculnya kesan kurang bersih.

Perihal nama “Hawaii” untuk kedainya itu, menurut penuturan A-Eng adalah pemberian pak Camat Kijang pada masa itu. Karena A-Eng yang wong ndeso Cina-Melayu ini bingung kedainya mesti dijuduli apa, maka dia pun minta pak Camat Kijang untuk memberinya nama, dan lalu dipilihlah nama “Hawaii” yang bertahan hingga sekarang menjadi trade mark kopinya engkoh A-Eng.

Dulu pernah tersiar rumor, katanya kopinya A-Eng bercampur ramuan daun ganja, makanya setiap sruputan pertama dari kopinya selalu menimbulkan efek thengngng….. di kepala peminumnya, apalagi bagi mereka yang tidak biasa minum kopi. Namun A-Eng membantahnya, diapun tidak merahasiakan resepnya.

Pulau Bintan memang bukan penghasil kopi, makanya A-Eng membeli kopi Sumatra biasa. Menurut A-Tet, satu dari empat orang anaknya yang sekarang tekun membantu usaha babahnya, kopi mentahnya berasal dari kopi Jambi, digoreng sendiri dengan sedikit tambahan minyak wijen dan lalu digilingnya sendiri. Begitu saja, katanya. Kalau kemudian tercipta taste kopi yang khas dan numani (membuat tuman atau ketagihan), itu karena penyajiannya.

Sebelum disajikan, kopi kental itu direndam atau diseduh dalam air panas mendidih agak lama, lalu disaring. Setelah itu tinggal menyajikan dalam cangkir kecil, dan lagi-lagi agak mbludak…… Mau kopi O atau dicampur susu, tinggal pesan saja. Susunya pun tidak sembarang susu, mesti merk “Double Dice” dari negeri seberang. Suatu ketika susunya pernah diganti, ternyata dikomplain penggemarnya. Katanya susunya kurang enak dan akibatnya seringkali kopi dalam cangkir pembelinya tidak dihabiskan. Akhirnya kembali lagi dia menggunakan susu cap “Double Dice” itu hingga sekarang.

Harga secangkir kopinya A-Eng terbilang murah. Cukup Rp 2.500,-. Itu sebabnya kedai kopi “Hawaii” ini laris manis tanjung kimpul. Sehari A-Eng bisa menghabiskan sampai 40 kg kopi, terkadang lebih. Hanya penggemar berat kopi hitam saja yang akan sanggup nenggak kopinya A-Eng lebih dari secangkir, mengingat kental dan aromanya yang kuat, serta sensasi thengngng… di kepala itu.

Iseng-iseng saya tawarkan kepada koh A-Eng untuk buka cabang di Jogja. Waralaba juga bolehlah. Dalam hati saya berkhayal, kalau dijual Rp 5.000,- sampai Rp 15.000,- per cangkir bagi penggemar kopi rasanya masih sepadan dengan sensasi thengngng… yang diberikan, tergantung lokasi dan tampilan kedainya. Mbah A-Eng ini hanya tertawa. Katanya, dia tidak bisa menjamin rasa dan aromanya tidak berubah. Wah…….

Sebagai penggemar kopi yang sudah terbiasa ngopi pagi dan sore, bagaimanapun juga tidak saya lewatkan kesempatan untuk membeli satu kilogram kopi ramuannya A-Eng ini sebagai oleh-oleh untuk saya sendiri. Harganya Rp 25.000,- per kilogram. Tentu dengan harapan agar di Jogja nanti saya akan memperoleh sensasi thengngng….. yang sama seperti ketika ngopi di kedai “Hawaii”.

Pendeknya, sruputan pertama begitu thengngng….., selebihnya terserah Anda…… Mau secangir, dua cangkir atau tiga cangkir mbludak……

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong

Hari ini kami berencana hendak menyusuri sungai Anculai dari hilir ke hulu dengan masuk melalui muaranya, mengingat kemarin tidak berhasil mencapai sungai lewat jalan darat. Untuk itu kami harus mencari pelabuhan nelayan untuk menyewa perahu motor yang biasa disebut pompong. Langsung saja kami melaju menuju pelabuhan nelayan Senggarang yang berada di arah barat laut dan berjarak sekitar 28 km dari Tanjung Pinang. Jalan untuk mencapainya tidak terlalu lebar tapi beraspal bagus dan melompati bukit yang cukup tinggi. Dari tempat tinggi ini nampak pemandangan indah pantai dan laut luas dengan pulau-pulau kecilnya menghampar di arah selatan.

Rupanya di Senggarang ini tidak ada perahu motor sewaan, kendati di tempat ini ada perkampungan nelayan. Kepalang sudah tiba di sana, sekalian saja berhenti di kedai terdekat untuk mencari sarapan pagi. Tidak banyak menu pilihan di tempat ini. Cukup sarapan pagi dengan lontong sayur dan teh O (teh manis biasa), agar cepat selesai karena memburu waktu.

Di penghujung jalan menuju pantai Senggarang saya jumpai sebuah kompleks tempat peribadatan Cina yang cukup luas dengan tampilan bangunan yang sangat bagus. Letaknya tepat berada di garis pantai. Menilik sejarah panjang kepulauan Riau memang tidak lepas dari keberadaan masyarakat etnis Tionghoa, sehingga di mana-mana banyak ditemui warga Cina-Melayu hidup berdampingan dengan warga Melayu aslinya, ditambah pula warga pendatang. Maka tidak mengherankan kalau berbagai tempat peribadatan seperti gereja, masjid, kelenteng dan kuil, banyak betebaran di Bintan. Bahkan banyak pula kelenteng dan kuil yang berada di pedesaan yang jauh dari pusat kota.

Pulau Bintan memang memiliki potensi wisata yang cukup besar dan sangat menarik, terutama untuk wisata alam dan sejarah. Sayangnya akses untuk mencapai kawasan ini masih sering menjadi kendala, sehingga memang tidak mudah bagi wisatawan dalam negeri jika ingin berkunjung ke tempat ini. Selain memerlukan alokasi waktu yang lebih banyak, juga tentunya biaya yang tidak murah. Untuk mencapai pulau Bintan, selain dapat ditempuh dengan kapal penyeberangan, sebenarnya Bintan juga memiliki pelabuhan udara Kijang, yang terletak di kilometer 11 jalan raya Tanjung Pinang – Kijang. Tetapi frekwensi penerbangannya hanya dua kali seminggu dengan biaya yang tentunya masih tergolong bertarif mahal sehingga belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.  

Lain halnya dengan wisatawan mancanegara, ibaratnya tinggal loncat saja dari Singapura atau Malaysia, sudah mendarat ke kawasan pantai Bintan. Selama ini wisatawan yang paling banyak masuk ke Bintan memang berasal dari Singapura dan Malaysia. Sejak obyek wisata Bintan dibuka pertama kali pada tahun 1995, jumlah kunjungannya terus meningkat. Sehingga Bintan pernah mendapat penghargaan terbaik sebagai “The Best New Destination Award” untuk kategori Asia. Penghargaan bergengsi lainnya yang telah didapat adalah “Best Destination Marketing Award”. Hanya sayangnya, media setempat menengarai bisnis pariwisata ini nyerempet-nyerempet ke bisnis “esek-esek”, nyaris tidak beda jauh dengan apa yang terjadi di pulau Batam dan pulau Karimun yang terletak di sebelah baratnya lagi.

***

Dari Senggarang kami kemudian berbalik dan menuju agak ke arah barat lagi ke pelabuhan nelayan Tembeling. Melalui rute jalan yang berbukit, berkelok dan beraspal halus. Agak mengherankan, di pulau yang luasnya sekitar 1.800 km2, dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 728 km dengan jumlah penduduk kurang dari 300.000 jiwa ini ternyata sarana jalannya sangat bagus. Sampai ke jalan-jalan kecil ke pelosok desa yang sepi pun sudah banyak jalan yang beraspal mulus kendati tidak terlalu lebar. Sampai-sampai saya baca di koran lokal ada warga yang mengungkapkan unek-uneknya yang kira-kira intinya mengeluh bahwa pembangunan sarana jalan saja yang dimana-mana dibuat mulus sedangkan pembangunan fasilitas listrik yang lebih dibutuhkan malah ditunda-tunda.

Akhirnya kami memperoleh perahu motor atau pompong sewaan setelah menunggu agak lama berembug dengan seorang pemilik pompong. Menjelang tengah hari, pompong kami baru bisa berangkat meninggalkan pelabuhan nelayan Tembeling. Perahu kecil tanpa atap itu muat diisi oleh enam orang plus dua orang awaknya. Kami pun segera siap dengan topi atau penutup kepala masing-masing mengingat siang itu cahaya matahari cukup menyengat langsung menerpa kepala. Pompong pun mulai bergerak tidak terlalu cepat masuk ke laut teluk Bintan

Setelah menempuh perjalanan laut menyeberangi teluk Bintan selama kira-kira satu jam, kami sampai di muara sungai yang menjadi pertemuan antara sungai Ikang dan Anculai dengan teluk Bintan. Perjalanan kami lanjutkan memasuki alur hulu sungai Anculai. Namun tiba-tiba langit cepat berubah menjadi berawan gelap, juga kilat menyala dan menyambar di latar depan. Tidak ada pilihan, kami pun sudah menyiapkan diri untuk kehujanan di atas pompong setiap saat.

Lebar sungai di dekat-dekat muara ini sekitar 150 meteran, kurangnya sedikit atau lebihnya banyak. Di sepanjang kanan dan kiri sungai dibatasi oleh hutan bakau atau mangrove dengan ketebalan bervariasi antara 20 hingga 200 m. Hutan bakau memang banyak mendominasi kawasan garis pantai pulau Bintan. Di latar utara dan timur nampak gunung Bintan, sehingga perjalanan laut dan sungai ini seakan-akan mengitari gunung Bintan. Tepatnya disebut gunung Bintan Besar (karena ada yang Kecil, di sebelah utaranya lagi) yang ketinggiannya tidak lebih dari 225 meter di atas permukaan laut dan menjadi titik tertinggi di pulau Bintan.

Ketika perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu mencapai kira-kira 2,5 km, hujan mulai turun dan semakin deras. Beruntung, di sisi barat sungai kami jumpai satu-satunya rumah panggung kayu yang tepat berada di tepian sungai. Pompong kami pun merapat dan meminta ijin untuk numpang berteduh sambil beristirahat. Beruntung lagi, bukan hanya dipersilakan numpang melainkan kami pun disuguh dengan teh O kosongan, yang maksudnya hanya ada teh panas manis tanpa asesori camilan. Lumayan sebagai penghangat di saat kehujanan.

Ketika hujan mulai reda, perjalanan kami lanjutkan semakin ke arah hulu. Lebar sungai memang semakin agak menyempit tapi tetap saja masih sekitar 70-100 meteran dan berkelok-kelok. Lebar dan kedalaman sungai ini nampaknya cukup aman bagi kapal-kapal tongkang untuk melaluinya dalam keadaan kosong maupun membawa muatan batu granit atau bauksit. Dan hutan bakau pun masih melingkupi sisi kanan dan kiri sungai. Setelah mencapai jarak sekitar 5 km dari muara, dimana kami temui sebuah dermaga sungai milik salah satu perusahaan penambangan batu granit, kemudian kami memutuskan untuk kembali. Observasi lapangan di seputaran sungai kami anggap cukup dan posisi beberapa lokasi pun sudah kami petakan.

Segera pompong berputar haluan dan kembali ke arah muara sungai. Dalam perjalanan kembali ke muara ini sempat terlihat seekor buaya kecil sedang main-main di tepian sungai yang berbatasan dengan hutan bakau. Menurut cerita orang-orang, katanya di daerah dekat-dekat muara sungai memang masih suka ada kenampakan buaya (maksudnya, buaya beneran yang nampak). Hari tidak lagi hujan, bahkan langit semakin cerah dan matahari pun kembali memancarkan panasnya saat kami tiba di muara untuk kembali menyeberangi teluk Bintan, dan kembali ke Tembeling.

Waktu sekitar empat setengah jam telah kami lewatkan untuk menyeberangi teluk Bintan dan menyusuri hilir sungai Anculai dengan menaiki pompong. Saat tiba di Tembeling ternyata muka air laut sudah surut lebih satu meter. Sehingga kami tidak bisa mendarat di lokasi yang sama seperti saat berangkatnya. Terpaksa merapat agak jauh lalu disambung dengan jalan kaki kembali ke lokasi pemberangkatan dimana kendaraan kami diparkir di sana.

Lega rasanya rencana kegiatan hari ini dapat terselesaikan dengan baik, meski sempat terlambat karena mencari pompong sewaan. Juga sempat was-was kehujanan di tengah perjalanan berpompong karena dikhawatirkan alat GPS kami tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Tanjung Pinang, Kepri – 12 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(6).  Purnama Di Tanjung Pinang

Malam ini langit bersih dan cerah sekali. Menurut kalender Jawa atau Arab, ini hari sudah dekat-dekat pertengahan bulan alias saatnya purnama datang menjelang. Semakin malam, sang rembulan pun semakin tinggi dan nyaris bunder-ser… Kami memutuskan untuk keluar mencari makan malam agak larut malam sekalian, wong tadi makan siangnya sudah sore. Perut belum terburu-buru untuk diisi lagi.

Jam sembilan malam lewat barulah kami jalan keluar. Kami menuju ke kawasan kota untuk makan malam di “Potong Lembu” rame-rame…… Rame-rame karena memang kebetulan ada kawan dan relasi lain yang menyusul ikut bergabung sambil bercengkerama, ya soal ha-ha-hi-hi, ya soal bisnis.

“Potong Lembu” adalah nama sebuah arena terbuka dimana berkumpul banyak pedagang makanan, minuman dan pokoknya macam-macam urusan perut, sehingga pengunjung tinggal memilih hendak memesan menu apa. Kebanyakan tentu saja menu ikan-ikanan khas Melayu punya dengan aneka cara memasaknya. Termasuk siput gonggong yang sempat saya coba pada malam sebelumnya, yaitu jenis siput laut yang banyak dijumpai di daerah Riau pada umumnya. Siput ini direbus dan disajikan bersama rumah siputnya sekalian. Kalau daging siputnya susah dikeluarkan dari rumahnya, cukup ditusuk pakai tusuk gigi, lalu dicocolkan ke sambal seperti makan kerang rebus. Rasanya lumayan enak, namun bagusnya kalau dimakan saat perut sedang benar-benar lapar. Soalnya bagi saya taste-nya terasa membuat nek….. Namun ada juga tersedia menu jawatimuran, seperti pecel lele dan ayam penyet.

Kawasan ini berada di seputaran ujung persimpangan jalan yang dikelilingi oleh kompleks pertokoan lama, umumnya berstruktur bangunan tingkat dan berkonstruksi kayu. Khas rumah atau ruko masyarakat Cina-Melayu atau Melayu-Cina. Konon menurut sohibul-cerita, dulu-dulunya kawasan tempat makan serbaneka ini merupakan tempat pemotongan hewan. Kebanyakan dari hewan yang dipotong adalah jenis lembu-lembuan. Makanya jalan dimana kegiatan pemotongan hewan itu berada disebut jalan Potong Lembu, dan arena tempat makan itu pun lalu disebut “Potong Lembu”. Kalau di Jawa bisa disamakan dengan riwayat Jalan Pejagalan, yang berarti tempat menjagal atau menyembelih hewan.

Setiap malam kawasan makan-memakan ini nyaris selalu penuh didatangi pengunjung. Kebetulan saja malam ini bulan purnama dan pengunjung masih ramai saja hingga larut malam. Bukan karena purnamanya kalau pengunjung masih ramai, melainkan karena hari tidak hujan. Sebab arena makan ini adalah gelanggang terbuka. Akhirnya baru menjelang tengah malam kami kembali ke penginapan.

***

Tiba di hotel bukannya langsung masuk kamar, melainkan ngobrol dulu di lobi. Lalu muncul ide ingin menikmati suasana malam purnamanya kota Tanjung Pinang. Kalau ada orang keluar malam, kemungkinannya hanya ada dua, yaitu orang yang kerja malam (night shift) atau orang kurang kerjaan. Mempertimbangkan saya termasuk kategori kedua, maka ya cari-cari kerjaan.

Mempertimbangkan lagi kalau di hotel satu-satunya kerjaan yang saya lakukan adalah nggeblak di tempat tidur, maka dipilihlah option keluar hotel. Dengan semangat menemukan sesuatu yang beda dan khas di tempat yang baru, maka kami pun meluncur membelah malam menyusuri jalan-jalan kota Tanjung Pinang. Ya tentu saja sudah banyak toko tutup dan masyarakat terlelap di peraduan (peraduan adalah bahasa puitis yang di kampung saya sebutannya nglekerrr……).

Menurut hemat kami (sak jane iki mung alasan……), dengan berada di luar hotel lalu duduk-duduk di suatu tempat, sambil menikmati bulan purnama, sambil berha-ha-hi-hi, sambil mengobrolkan hasil pekerjaan seharian tadi dan sambil merencana apa yang perlu dilakukan di sisa waktu setengah hari besok, sebelum siangnya meninggalkan Tanjung Pinang. Kenapa tidak di hotel saja? Ya, itu tadi. Di hotel kok diskusi, ya lebih baik nglekerrr……..

Tanjung Pinang terasa sepi dan tenang, sangat bertolak belakang dengan saat siangnya yang lalu lintasnya cenderung semrawut. Di salah satu perempatan jalan besar yang berlampu lalu lintas dimana biasanya pengendara kendaraan cenderung ngebut, saya lihat sudah dipasang lampu hitung mundur (count down). Lampu ini akan menunjukkan berapa sisa detik yang masih ada sebelum lampu hijau berganti menjadi merah. Harapannya tentu agar pengendara dari jarak agak jauh sudah ancang-ancang untuk berhenti jika sekiranya sisa waktu menyalanya lampu hijau tinggal sedikit. Tapi biasanya yang terjadi sebaliknya, sisa detik itu menjadi golden seconds untuk tuancap gas setancap-tancapnya agar lolos dari lampu merah…… Huh! 

Sampailah kami di “Melayu Square” yang masih buka tapi sudah mulai sepi pengunjung. Di dekat tempat ini ada café, biasa disebut “Sunset Café”. Barangkali karena di café ini ada balkon terbuka di lantai atasnya yang posisinya menghadap pantai sehingga pada saat matahari tenggelam akan tampak pemandangan indah ke arah pantai dan laut. Sedangkan di bagian bawahnya juga ada café-nya, tapi dilengkapi dengan pentas musik yang genjrang-genjreng suaranya.

Kami memilih duduk-duduk di balkon atas saja, agar tidak terlalu bising ketika ngobol melewatkan malam purnama. Baru sedetik meletakkan pantat, seorang gadis berpenampilan seronok seksi dengan warna bajunya didominasi hijau menghampiri sambil menawarkan menyebut beberapa merek minuman bir. Berhubung saya tidak suka minum jenis bir-biran maka saya minta menu lainnya. Terpilihlah es jus jagung, yang saya anggap tidak biasa. Biasanya kalau jagung itu dibakar, dibuat perkedel, brondong, marning, popcorn atau dithothol pitik (ayam). Ini pasti bukan jagung dari Klaten, melainkan dari Malaysia yang rasanya manis.

Sambil menikmati jus jagung sinambi leyeh-leyeh dan bercengkerama ngalor-ngidul, sambil menatap sang rembulan purnama yang tepat menggantung di atas kepala, semakin malam semakin bergeser sedikit-sedikit. Kantuk pun tiba, lalu kami kembali ke hotel meninggalkan purnama di Tanjung Pinang……. Uah! 

Tanjung Pinang, Kepri – 12 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang

Hari ini hari terakhir di pulau Bintan. Siangnya kami akan menyeberang kembali ke Batam. Sesuai rencana yang telah kami bicarakan malam sebelumnya, baik ketika di “Potong Lembu” maupun di “Sunset Café”, pagi hari kami akan menemui seseorang dan melihat-lihat rencana tempat dan peralatan laboratorium untuk menganalisis mineral bauksit.

Sarapan pagi tentu tidak lupa. Meskipun saya termasuk orang yang tidak biasa sarapan, melainkan cukup hanya dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Di tempat baru ini kebiasaan itu perlu disesuaikan agar tidak kehilangan momen-momen beda dan khas yang ada. Mata tertuju pada kedai di bilangan Batu 10 kawasan Bintan Center, yang memasang tulisan mie lendir. Baru membaca tulisannya saja asosiasi saya sudah macam-macam. Ini mie campur lendir, atau mie berlendir, atau lendir yang dicampurkan ke dalam mie?

Pokoknya dicoba dulu. Perkara nanti tidak enak ya tidak usah dimakan. Untuk menyiasatinya, saya biarkan seorang teman memesannya dulu, saya menyusul pesan kemudian. Ketika saya lihat mie lendir pesanan teman itu kok kelihatannya cukup merangsang lidah, barulah saya memesan satu porsi tambahan. Rupanya memang sejenis mie ayam, tapi kuahnya seperti bumbu sate sambal kacang. Entah benar entah tidak, pokoknya uenak, dan bikin perut mak sek (langsung kenyang) di waktu pagi. Kalaupun deskripsi saya tentang mie lendir ini salah, toh saya tidak kepingin memasaknya sendiri di rumah.

***

Kami kembali menuju kota Kijang karena ada rencana untuk bertemu dengan seseorang. Bolak-balik Tanjung Pinang – Kijang adalah rute yang biasa, karena jaraknya memang tidak terlampau jauh, relatif tidak padat lalu lintasnya dan jalan aspalnya terbilang mulus. Seperti halnya kota-kota lain yang seakan berlomba menonjolkan motto kotanya, Kijangpun memiliki semboyan sendiri, yaitu Kijang “Berseri”. Saya tidak tahu persis apa kepanjangan dari kata “Berseri” ini. Tapi saya tebak pastilah tidak jauh-jauh dari maksud  bersih, sehat, rapi, indah, dan kata-kata lain yang  semacamnya. 

Namun seorang tokoh Lembaga Adat Melayu berseloroh sambil berplesetan masygul, katanya “Berseri” itu kepanjangan dari “berserak sehari-hari”. Maklum tokoh yang cukup disegani ini hatinya gundah wal-gulana melihat kota Kijang sekarang semakin kurang bersih akibat sampah. Warga dan pemerintahnya seolah-olah kurang perduli dengan masalah kebersihan kotanya. Tentunya ini rasa keprihatinan yang bagus. Karena menurut saya, sekotor-kotornya Kijang yang saya lihat, masih terbilang lebih bersih dibandingkan yang terjadi di kota-kota lain di Jawa.

Hal yang paling menarik dari kota ini adalah tumbuhnya satu-satunya pohon bunga sakura di tengah kota. Tidak ada orang yang tahu persis asal bin muasal tanaman khas Jepang ini kenapa dan bagaimana bisa tumbuh di Kijang yang hingga kini tetap bertahan tumbuh kokoh mencapai lebih 10 meter tingginya. Barangkali dulunya tanaman ini dibawa oleh seorang pendatang dari Jepang, waktu jaman penjajahan dulu. Tapi entahlah, tidak ada yang tahu persis kisahnya.

Ketika di negara asalnya Jepang tiba musim bunga dan sakura bermekaran, maka pohon bunga sakura yang di Kijang pun turut berbunga, dengan dominasi warna putih menyelimuti pohon, seolah-olah satu pohon bunga semua tanpa daun. Ini katanya lho….., wong saya juga belum pernah melihatnya dan saat ini juga tidak sedang musim berbunga. Saya percaya karena foto yang ada di kalender menunjukkan penampakan yang seperti itu. 

Seorang teman yang asli penduduk Kijang bercerita, sudah banyak orang yang mencoba menyangkok atau menyetek untuk memperbanyak tanaman ini, namun selama itu pula tidak ada satu pun orang yang berhasil mengembang-biakkannya. Jadilah hingga sekarang, pokok bunga itu menjadi satu-satunya tanaman bunga sakura yang ada di Kijang, bahkan mungkin di Indonesia. Siapa tahu suatu saat nanti pemerintah setempat menghubungi Jaya Suprana karena mau ikut-ikutan latah mendaftarkan tanaman sakura ini ke MURI.

Ini bagian menariknya, agaknya lokasi di bawah pohon bunga sakura ini cocok untuk medan uka-uka. Pasalnya menurut penuturan orang Kijang, di lokasi itu suka muncul kenampakan seorang wanita. Kawasan sekitar tumbuhnya pohon bunga sakura yang berada di sudut Jalan Tenggiri dekat dengan kolam kota ini memang bukan kawasan pemukiman. Maka kalau malam ya terkesan sepi dan gelap. Bumbu-bumbu penyedap cerita semacam inilah yang semakin membuat satu-satunya pohon bunga sakura di kota Kijang ini semakin menarik untuk dinanti-nanti saat akan datangnya musim sakura berbunga.

Ada bunga sakura di Kijang, ada aset yang potensial untuk “dijual” kepada wisatawan, kalau saja sempat terpikirkan…..

Tanjung Pinang, Kepri – 13 April 2006
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(8).  Semalam Di Batam

Ini sebutan semalam versi saya yang orang Jawa, maksudnya saya menginap satu malam di Batam. Sebab kalau versinya orang Melayu Riau, semalam maksudnya adalah hari kemarin. Ya, kami memang sengaja menyempatkan untuk menginap satu malam di mBatam sebelum kembali ke Jogja. Hitung-hitung sekedar refreshing setelah muter-muter di Bintan.

Siang kemarin telah kami tinggalkan pulau Bintan dengan bauksitnya dan Tanjung Pinang dengan kopi O-nya yang mbludak….. Di pelabuhan feri kami tidak repor-repot lagi membeli tiket penyeberangan, karena  tiket pergi-pulang feri “Baruna” yang kami beli di Punggur saat berangkatya masih berlaku untuk perjalanan kembali dari Tanjung Pinang, ke Telaga Punggur lagi.

Setiba di Batam sebenarnya kami belum tahu hendak kemana. Yang kami tahu hanya ada tempat yang terkenal dengan nama Nagoya. Ya itu saja pedomannya. Maka naik taksi dari Telaga Punggur pun cukup dengan meminta tolong pak sopirnya agar dicarikan hotel murah di sekitar Nagoya. Kata “murah” yang menjadi kata kuncinya. Itulah bedanya dengan dulu sewaktu masih jadi orang gajian di sebuah kumpeni kelas antarbangsa.

Dulu kalau plesir semuanya sudah di-set lengkap sejak sebelum berangkat, termasuk hotel yang berbintang-bintang. Sehingga ketika meletakkan pantat di taksi pun bisa sambil dehem-dehem….., sambil rada nggleleng menyebut nama hotelnya. Sedangkan kini harus memposisikan diri bak seorang petualang kehabisan bekal. Meskipun ada yang mbayarin, namun toh mesti tanggap ing sasmito bahwa itu bukan privilege melainkan sekedar sarana. Toh fungsi hotel sebenarnya hanya untuk nggeblak (merbahkan tubuh) dan buang hajat saja…..  Akhirnya kami temukan sebuah hotel yang agak murah, kelas backpacker naik sedikit, di bilangan wilayah pinggiran Nagoya.

Acara pertama di Batam adalah jalan-jalan sore, menemukan kedai kopi di salah satu sudut perempatan jalan. Lalu ngopi sepuasnya sambil ngobrol ngalor-ngidul. Menikmati pemandangan lalu lintas kota Batam yang semrawut, lebih-lebih di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas. Menikmati berseliwerannya aneka merek dan jenis mobil yang tidak pernah ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tentu saja saya tahu, bahwa pemandangan kesemrawutan yang saya potret sore itu adalah bukan mewakili  keseluruhan lalu lintas di pulau Batam. Sebab di belahan lain pulau ini, terutama di luar kota, saya justru menikmati rapi dan bagusnya pengaturan lalu lintas, penataan rambu jalan dan tata ruang jalan, yang menyerupai di negara maju. Menempuh perjalanan dari Telaga Punggur ke bandara atau ke kawasan kota, rasanya seperti sedang melaju di sebuah highway di Amerika. Sayang, kerapian dan kebagusan ini tidak konsisten saat memasuki kawasan bisnis dan pemukiman.

***

Batam diidentikkan sebagai halaman belakang Singapura. Di sini ada lebih dari 500 perusahaan asing telah menanamkan investasinya, yang berarti terbukanya banyak lapangan kerja. Pulau seluas 400 km2 itupun dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar siap mengimbangi kemajuan bisnis dan investasi yang datang dari tanah seberang. Namun sepintas nampaknya kesiapan penataan ruang dan wilayahnya baru sempat menyentuh sektor-sektor yang terkait langsung dengan kemajuan industri saja.

Bisa jadi penglihatan saya yang hanya semalam ini salah. Namun ketika saya berkesempatan mengunjungi rumah seseorang di sebuah kompleks perumahan, agaknya dugaan saya agak-agak benar. Pertumbuhan penduduknya jauh lebih cepat dari tata ruang yang direncanakan. Akibatnya ibarat kebanyakan menuang kopi O dalam cangkir kecil, ya mbludak kemana-mana tanpa sempat direncana.

Keberadaan industri di Batam telah menarik minat pendatang dan pencari kerja, berduyun-duyun memasuki pulau Batam untuk mengadu untung tanpa bekal keahlian yang memadai. Karena mbludak, maka tingkat pengangguran menjadi cukup tinggi dibanding tempat-tempat lain di Indonesia. Sementara pada saat yang sama Batam dibanggakan sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Memang pertumbuhan penduduknya luar biasa. Tahun 1995 penduduk Batam masih sekitar 196 ribu jiwa, tapi tahun 2002 sudah mencapai lebih 560 ribu jiwa. Sekarang? Suk-sukan ora karu-karuan (berdesakan tidak karuan) di pusat keramaian…… Terhimpun dalam cluster-cluster di tengah hamparan luas tanah gersang yang mengandung banyak macam mineral tambang, karena memang tidak sembarangan boleh membuka lahan untuk pemukiman.

Keadaan ini membuat ingatan saya terbang ke ujung timur, ke kota Timika di Papua. Kejadiannya sungguh mirip dengan Batam. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertumbuhan kota Timika akan sedemikian pesatnya sebagai dampak dari beroperasinya perusahaan tambang raksasa Freeport di lokasi dalam radius kurang dari 100 km. Akibatnya pihak pemerintah setempat jadi “telmi”, mangsudnya, benar-benar terlambat untuk memikirkan. Belum sempat selesai memikirkan bagaimana sebaiknya menata ruang dan wilayah kota Timika secara integratif. Eeee….., enggak tahunya pertumbuhan penduduknya lebih cepat luar biasa. Jadinya, ya mbludak ….., penduduk yang bertambah-tambah itu menempel di mana-mana jadi sulit dikendalikan.

Ibarat tanaman, tumbuh sak thukule, asal tumbuh di mana saja. Padahal dulu sempat terpikir untuk membuat penataan kota agar menjadi lebih baik, sehat dan indah. Tapi ya terlambat, keburu para petualang pencari kerja berdatangan dari mana-mana. Ibarat mengambil KPR tipe 36 di atas lahan 100 m2. Belum seperempat cicilan dipenuhi, tahu-tahu sudah mbegogok (nongkrong) rumah tingkat di atas lahan 100 m2 penuh-nuh, tanpa sisa sedikitpun bahkan untuk sekedar menaruh pot bunga. Akhirnya, pak Camat pun bengong-terbengong melongo…..

***

Sambil jalan-jalan menyusuri pertokoan, saya sempatkan membeli koran Jakarta. Maklum beberapa hari ini rada ketinggalan informasi nasional. Kata seorang pelayan toko yang agaknya pendatang dari Jawa, mengatakan bahwa kalau soal makan maka Batam adalah tempatnya. Jadi tidak perlu khawatir soal makan apa atau dimana. Pernyataan ini tidak salah, namun agaknya ada yang kurang.

Tidak dipungkiri, Batam sudah menjadi pilihan tempat hiburan bagi masyarakat Singapura, juga Malaysia. Soal makan sebenarnya hanya aktifitas sampingan saja. Wong namanya orang hidup ya pasti butuh makan. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa yang sebenarnya menjadi tujuan utama turis akhir-pekanan dari Singapura dan Malaysia (ngngng….. rasanya dari Indonesia juga…..) adalah main golf, berjudi dan “esek-esek”. Yang terakhir inilah yang kemudian mendominasi bisnis hiburan di Batam. Dampaknya meluber ke pulau tetangga dekatnya, yaitu pulau Bintan dan Karimun. Maka sangat beralasan kalau masyarakat penduduk asli ketiga pulau itu yang umumnya adalah masyarakat yang taat dalam beragama, semakin hari semakin risau melihat “kemajuan” jaman yang tidak terelakkan.

Tidak di Batam, tidak di Bintan, tidak terkecuali di pulau Karimun. Seorang teman yang tinggal di Karimun mengeluh bahwa keluarganya terpaksa menjual rumahnya yang ada di kota yang sudah turun-temurun ditinggali, lalu terpaksa pindah. Pasalnya rumah keluarga besarnya yang ada di kota Tanjung Balai, Karimun, itu kini sudah dikepung dengan fasilitas entertainment (ini adalah kata lain untuk bisnis bernuansa “esek-esek”). Akhirnya keluarga teman tersebut merasa risih dan mengalah pindah ke luar kota.

***

Berbekal semangat ingin melihat suasana beda di tempat yang baru pertama kali saya datangi. Maka satu malam di Batam pun tidak ingin saya lewatkan begitu saja dengan nglekerrr….. (tidur nyenyak). Satu-satunya hiburan yang cocok adalah makan. Di Batam banyak pilihan tempat makan, seperti kata penjual koran tadi. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di “Nagoya Food Court”. Kelihatannya ini tempat yang representatif untuk menggapai suasana berbeda, di kesempatan yang hanya semalam.

“Nagoya Food Court” adalah arena terbuka sangat luas yang dikelilingi oleh kedai-kedai yang menawarkan aneka menu masakan. Mirip-mirip pujasera yang ada di Tanjung Pinang, bedanya “Nagoya Food Court” ini bangunannya lebih permanen, tertata rapi, bersih dan enak dikunjungi. Ideal juga bagi yang membawa keluarga karena tersedia juga arena bermain untuk anak-anak. Selain itu, di bagian tengah arena makan-memakan ini terpasang layar tancap. Menu utamanya memang ikan-ikanan (sea food), tapi lebih banyak variasi jenis masakannya, termasuk kalau menginginkan masakan ala Jawa.

Memasuki tempat ini, lalu tolah-toleh mencari tempat kosong di antara pengunjung yang cukup ramai. Begitu duduk langsung dikerubuti oleh para SPG yang mengenakan pakaian seragam masing-masing sambil menawarkan produk bir segala macam merek. Karena kami memesan teh obeng, akhirnya mereka bubar jalan. Tinggal pelayan biasa yang menawarkan menu masakan biasa.

Sampai selesai makan, kami masih merasa betah ngobrol sampai malam. Suasananya memang tidak membosankan, hingga kami pun dapat benar-benar menikmati malam di Batam dalam suasana santai. Agaknya inilah suasana berbeda yang dapat saya peroleh dalam masa yang hanya semalam. Saya memang tidak punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Batam. Mudah-mudahan masih ada kesempatan berikutnya. Insya Allah.

“Sampun nggih, pareng ……”

Batam, Kepri – 14 April 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.