Arsip untuk ‘> Perjalanan Pulang Kampung’ Kategori

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

Pengantar :

Dalam rangka melakukan perjalanan pindahan pulang kembali ke kampung halaman dari New Orleans menuju ke Yogyakarta, kami sekeluarga menyempatkan untuk menyinggahi beberapa tempat di Eropa (12 – 19 Juli 2001).

Beberapa catatan kecil selama melakukan perjalanan ini semula ingin saya usahakan untuk dapat menceriterakannya secara langsung. Namun sayangnya saya sering mengalami kesulitan untuk melakukan koneksi ke internet dari hotel. Entah apa sebabnya, yang jelas saya menjadi malas untuk mengkutak-katik di saat (biasanya) sudah kecapekan.

Sekedar ingin berbagi ceritera.-

(1).   Tiba Di Bandara Charles de-Gaulle Paris
(2).   Berhujan-hujan Sore Di Chatelet
(3).   Salah Membaca Peta
(4).   Menyusuri Jalan-jalan Kota Paris
(5).   Menyaksikan Pesta Kembang Api Di Menara Eiffel
(6).   Mendaki Tangga Menara Eiffel
(7).   Salah Masuk Gerbong Kereta Di Stasiun Le Gare Du Nord
(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal
(9).   Melihat Kincir Angin Dan Sepatu Kayu Di Zaanse Schaan

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(1).   Tiba Di Bandara Charles de-Gaulle Paris

Sekitar tengah hari Jum’at, 13 Juli 2001, kami sekeluarga tiba di bandar udara internasional Charles de-Gaulle, Paris. Perjalanan panjang sekitar 12 jam dari New Orleans setelah transit di Atlanta lalu menuju Paris dengan pesawat Air France dengan rute menyeberangi Samudra Atlantik baru saja kami jalani. Anak-anak terlihat kelelahan, ya maklum sebagai akibat dari perbedaan waktu maju 6 jam sejak kami meninggalkan New Orleans kemarin sorenya.

Ini adalah perjalanan pulang kembali ke kampung halaman yang telah kami tinggalkan sejak lebih dua tahun yll. Dengan kata lain maka perjalanan ini sebenarnya dalam rangka pindahan dari New Orleans ke Yogyakarta. Wong namanya pindahan, maka meskipun sebagian besar barang-barang sudah dikirim via jasa pengiriman, tetap saja masih tersisa banyak barang bawaan yang mesti benar-benar dibawa. Jadinya tak terhindarkan, akhirnya masih ada empat tas besar yang cukup berat yang harus menyertai perjalanan kami. 

Padahal kami merencanakan perjalanan ini akan melewati rute Eropa sambil singgah beberapa hari jalan-jalan di Perancis dan Belanda. Keinginan semula sebenarnya tidak hanya Perancis dan Belanda, melainkan juga beberapa negara Eropa lainnya. Namun sayang, saya dibatasi oleh waktu karena ada beberapa agenda bisnis yang mesti dijalani. Belum lagi keterbatasan waktu untuk mengurus visa.

Ada yang sangat kami sesali. Rencananya selain mampir ke Eropa, kami juga berniat untuk mampir ke Arab Saudi guna menjalankan ibadah umroh. Namun diluar yang saya perhitungkan sebelumnya bahwa tahun ini Arab Saudi menerapkan aturan baru tentang permohonan visa umroh yang ternyata cukup rumit dan memakan waktu.

Tahun lalu pengurusan visa umroh ini bisa diselesaikan 1-2 hari langsung ke konsulat Arab Saudi, sebagaimana juga berlaku bagi pengurusan visa negara-negara lain. Tetapi dengan aturan yang baru ini (kata petugas agen perjalanan yang ditunjuk oleh pemerintah Saudi, dan “sialnya” hanya agen perjalanan itulah menurut aturan yang baru sebagai satu-satunya yang diberi ijin guna pengurusan visa Arab Saudi) perlu waktu 1-2 minggu.

Well, waktu keberangkatan sudah mendesak, itupun sudah saya undur-undur dengan harapan masih cukup waktu untuk mengurus visa, akhirnya tidak selesai juga. Dengan perasaan sangat menyesal akhirnya paspor dan segala macam dokumen permohnan visa saya tarik kembali karena mesti segera berangkat meninggalkan New Orleans. Kata para sesepuh : barangkali memang belum saatnya dipanggil oleh Allah untuk datang ke rumah-Nya.

***

Tiba di bandar udara Charles de-Gaulle, Jum’at tengah hari dalam cuaca kota Paris yang muram akibat langit tertutup awan serta turunnya hujan kecil. Keluar dari bandara kami beristirahat cukup lama di halaman depannya. Tidak mudah untuk memperoleh angkutan menuju hotel yang mampu mengangkut kami berempat plus empat buah tas besar dan berat.

Taksi biasa tentu terlalu kecil. Shuttle bus tidak melewati hotel yang kami tuju, pasti akan merepotkan kalau kemudian harus naik taksi lagi. Akhirnya ketemu dengan sarana angkutan shuttle van, itupun setelah setuju bahwa pembayarannya dalam uang US dollar. Saya memang tidak siap dengan uang Franc yang cukup. Mau menukar uang dulu, ternyata di depan loket tempat penukaran uang yang ada di dekat situ sudah penuh orang yang antri dan bergerak sangat lambat.

Kurang dari 30 menit perjalanan, kami sudah tiba di hotel yang memang sudah kami pesan sejak di USA. Berbenah sejenak di dalam kamar hotel, kami lalu memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Atas rekomendasi petugas hotel, untuk sore itu kami naik taksi menuju ke Chatelet. Chatelet adalah salah satu kompleks perbelanjaan di kota Paris.

***

Ketika berada di dalam taksi, serasa baru sadar bahwa saya sedang berada di negeri Perancis. Pasalnya, pak sopir taksi ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Anak laki-laki saya mengistilahkannya sebagai : “this is another country” dan karena itu bahasanya berbeda, yang maksudnya adalah bukan bahasa Inggris sebagaimana yang dia dengar selama lebih dua tahun ini.

Wah, agak repot juga. Dengan bekal pengetahuan bahasa Perancis yang sepotong-sepotong dan selembar peta sebagai peraga, plus “bahasa Tarzan” jika perlu, akhirnya dapat juga terbentuk sebuah komunikasi dengan pak sopir taksi. Sejak itu saya memutuskan bahwa setiap kali keluar dari hotel maka peta dan catatan alamat hotel tidak boleh lepas karena akan sangat membantu. Tidak cukup dengan menghafal, karena salah melafalkan ejaan bahasa Perancis dengan ejaan bahasa Inggris bisa saja menyebabkan miskomunikasi.

Sempat juga saya heran pada diri sendiri. Lebih 15 tahun yll, saat masih di pertengahan kuliah, saya pernah kursus bahasa Perancis di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) di Yogya. Kala itu, kalau saya ditanya kenapa ambil kursus bahasa Perancis dan bukan Inggris, atau kenapa bukan kursus-kursus yang lain, maka terus terang saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Ya begitu saja, ingin kursus lalu daftar dan hadir seminggu dua kali. Meskipun di hati kecil saya ada terselip khayalan bahwa suatu saat nanti saya ingin pergi ke Perancis. Kapan dan untuk apa? Saya tidak tahu. Ya, sekedar khayalan masa muda yang (pada masa itu) bisa jadi akan ditertawakan orang kalau saya ceriterakan kepada orang lain.

Namun seperti yang sering saya selipkan dalam catatan-catatan saya yang lain, bahwa saya banyak menyimpan hal-hal yang tak terduga. Hal-hal yang semula sekedar khayalan atau impian kosong, kelak sekian belas atau puluh tahun kemudian ternyata menjadi kenyataan, tanpa sedikitpun pernah saya rencanakan.

Hanya ada satu ungkapan yang paling tepat untuk menyebut kejadian-kejadian semacam ini, yaitu bahwa Tuhan akan mencatat setiap niat baik mahluknya dan Tuhan pula akan membantu mewujudkannya dalam kesempatan dan kenyataan yang tak terduga.-

Yusuf Iskandar  

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(2).   Berhujan-hujan Sore Di Chatelet

Sedikit penggalan-penggalan kata serta potongan-potongan kalimat bahasa Perancis ternyata masih saya ingat. Setidak-tidaknya kalau lupa, dengan melihat penggalan katanya sudah cukup untuk mengingatkannya kembali dan melafalkannya dengan benar. Termasuk bunyi-bunyi cadel dan bindheng (sengau), yang suka membuat anak-anak saya tertawa kalau saya ajari mengucapkan kata merci (terima kasih) misalnya, atau bonjour (selamat pagi atau kata sapaan).

Paham serba sedikit tentang bahasa Perancis ternyata cukup membantu dalam berkomunikasi dengan sopir taksi, pelayan restoran, penjaga toko, dsb. Di Perancis, tidak banyak orang yang dapat (atau mau?) berbahasa Inggris.

Saya jadi ingat sebuah artikel yang pernah ditulis di harian Kompas sekian belas tahun yll. Judulnya kalau tidak salah : “No anglais for England”, yang maksudnya bahkan orang Inggris pun yang notabene adalah tetangga Perancis, dituntut untuk bisa ngomong Perancis jika datang ke negeri Perancis. Sedemikian kuatnya semangat nasionalisme bangsa Perancis akan bahasa nasionalnya.

***

Setiba kami di Chatelet sore itu, 13 Juli 2001, hujan pun turun. Kami benar-benar sedang tidak beruntung sore itu. Karena hujan, maka acara jalan-jalan sore menjadi tidak leluasa. Toko-toko pun sudah banyak yang tutup karena meskipun cuaca masih cukup terang, tapi sebenarnya waktu sudah menunjukkan sekitar jam 20:00.

Sambil menunggu hujan reda, kami masuk ke sebuah restoran, atau sebenarnya lebih tepat kalau saya sebut warung makan di pinggir jalan. Lagi-lagi, tak seorangpun dari pelayan restoran yang dapat berbahasa Inggris. Akibatnya saya tidak bisa bertanya tentang daftar menu yang tertulis dengan nama-nama “aneh”. Terpaksa main tebak berbekal pada penggalan-penggalan kata yang saya ketahui.

Selesai makan, ternyata hujan belum juga reda. Karena istri dan anak-anak setuju, maka kami pun lalu berlari-lari kecil pindah dari satu teras toko atau restoran ke teras-teras berikutnya hingga menemukan tempat yang enak buat berteduh sambil melihat-lihat pertokoan. Banyak orang atau pejalan kaki yang juga melakukan hal yang sama dengan kami.

Sesekali jika hujan agak mereda, kami berkesempatan berjalan agak jauh. Ya, sekedar ingin melihat-lihat. Keluar masuk toko untuk tahu apa yang ada di dalamnya dan berapa harganya, sambil sesekali membandingkan harga-harganya dengan harga barang sejenis yang ada di Amerika.

Harga-harga umumnya ditulis dalam dua satuan mata uang, yaitu Franc dan Euro. Untuk mudahnya membayangkan harga dalam Franc atau Euro dengan US dollar, sebagai pedoman (meskipun tidak tepat sama) saya perkirakan 1 US$ adalah setara dengan 7 Francs atau 1 Euro. Seperti telah diketahui bahwa mulai tahun 2002, sebelas negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, salah satunya adalah Perancis, secara resmi mulai akan menerapkan satuan mata uang Euro, sehingga mata uang dari negara masing-masing tidak lagi berlaku. 

Kemudahan lain akibat dari adanya kesepakatan Eropa Bersatu ini adalah cukup diperlukannya hanya sebuah visa untuk mengunjungi kesemua negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa yang disebut dengan Schengen States. Artinya, dengan hanya memiliki visa Perancis misalnya, maka kita bebas untuk masuk ke negara Belgia, Belanda, Jerman serta negara-negara lainnya yang tergabung dalam Uni Eropa.

***

Hari semakin remang dan hujan belum juga reda, akhirnya sambil berlari-lari kecil dalam hujan dan pakaian agak basah kami menuju sudut jalan dimana terdapat tanda tempat pangkalan taksi. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dengan taksi kami kembali ke hotel.

Kali ini agak beruntung, ternyata pak sopir taksinya bisa berbahasa Inggris. Komunikasi pun jadi lebih enak dan terutama dari sopir taksi ini saya jadi tahu tentang apa agenda acara kota Paris dalam dua hari mendatang.

Kebetulan sekali, ternyata tanggal 14 Juli  adalah Bastille Day, yaitu hari besar di Perancis berkaitan dengan peringatan revolusi Perancis. Akan ada parade militer besar-besaran di pagi harinya dan pesta kembang api besar-besaran di malam harinya. Pada tanggal 13 Juli 2001 malam sebenarnya ada konser musik terbuka, namun tidak berlangsung meriah akibat hujan turun mengguyur kota Paris.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(3).   Salah Membaca Peta

Kemarin malam, 13 Juli 2001, saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil tentang perjalanan menyinggahi Paris dalam rangka perjalanan pulang ke kampung halaman. Sudah terlalu ngantuk untuk mencoba mengakses internet. Jadi, saya lanjutkan saja membuat catatan-catatan untuk entah kapan akan dapat berbagi ceritera kepada rekan-rekan saya.

Hari Sabtu pagi, 14 Juli 2001, menurut rencana kami akan berjalan-jalan menuju ke pusat kota Paris guna menyaksikan parade militer besar-besaran dalam rangka perayaan Bastille Day. Informasi awal ini saya terima dari pak sopir taksi malam sebelumnya.

Dari harian “Le Parisien” baru saya ketahui dengan lebih lengkap informasi tentang lokasi parade dan apa saja agendanya, termasuk jenis-jenis peralatan perang yang akan diperagakan. Di antaranya disebutkan bahwa parade militer akan diikuti oleh lebih 5.000 pasukan lengkap dengan peralatan dan kendaraan-kendaraan tempur. Di atas langit akan melintas lebih 100 pesawat tempur.

Tenntu saja saya tidak memahami ceritera selengkapnya dari berita koran itu, melainkan dengan mereka-reka berdasarkan beberapa kata kunci berbahasa Perancis yang kebetulan saya pahami artinya. Dari koran itu pula saya ketahui bahwa dalam beberapa hari ini Paris akan bercuaca mendung dengan sedikit peluang matahari akan memancarkan sinarnya.

Parade militer dijadwalkan dimulai jam 10:30 pagi. Akan tetapi rupanya hujan deras mengguyur Paris pagi itu, termasuk di lokasi parade di jalan Avenue des Champs Elysees sepanjang kira-kira 2,5 km yang membentang dari lapangan Place Charles de-Gaulle dimana terdapat tugu atau plengkung Arc de Triomphe hingga ke lapangan Place de la Concorde (anak laki-laki saya suka sekali menyebut nama yang terakhir ini dalam lafal Perancis sambil tertawa, kedengaran lucu katanya).

Di seputaran lapangan Place de la Concorde didirikan panggung kehormatan, dimana antara lain Presiden Perancis Jacques Chirac akan menyambut parade militer dari tribun utama. Masyarakat yang ingin turut menyaksikan parade militer biasanya berjajar di sepanjang jalan protocol Champs Elysees yang cukup lebar untuk ukuran kota Paris.

***

Karena hujan turun cukup deras maka kami mengurungkan niat untuk menuju ke arena parade militer, melainkan cukup dengan menyaksikannya melalui layar televisi di kamar hotel. Acara parade militer pun kelihatannya berlangsung tidak sepenuhnya seperti dijadwalkan semula karena sebagian peragaan mesin-mesin perang dibatalkan dari agenda, terutama atraksi pesawat-pesawat tempur. Ya dapat dipahami jika mengingat cuaca yang memang tidak mendukung untuk itu.

Baru sekitar tengah hari hujan agak mereda. Kami lalu memutuskan untuk segera keluar dari kamar hotel. Dengan taksi, yang lagi-lagi pak sopirnya tidak paham bahasa Inggris, kami berniat menuju ke jalan Champs Elysees. Namun dari penjelasan sopir taksi yang sesekali terselip penggalan-penggalan kata bahasa Inggris, saya menangkap bahwa jalan-jalan yang menuju ke sana ditutup untuk lalulintas umum. Akhirnya saya putuskan untuk beralih menuju ke pusat perbelanjaan Galeries Lafayette.

Galeries Lafayette dan sekitarnya adalah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Paris. Meskipun sebagian toko-tokonya tutup pada hari Sabtu ini, namun masih ada sebagian yang buka seperti biasa. Di situlah kami jalan-jalan sambil melihat-lihat berbagai barang bermerek yang selama ini nama bekennya hanya mungkin dijumpai di pusat perbelanjaan bergengsi di Jakarta.

Semakin siang cuaca berubah menjadi cerah, meskipun langit masih berawan namun tidak lagi hujan. Ini tentu menguntungkan bagi para pejalan kaki, setidak-tidaknya tidak terlalu berkeringat jika ingin jalan-jalan menyusuri kota Paris di saat sedang musim panas.

Menurut rencana, kami benar-benar ingin berjalan kaki menyusuri kota Paris. Dengan berbekal peta kota Paris, dari Galeries Lafayette yang berada di jalan Boulevard Haussmann kami akan menuju ke plengkung Arc de Triomphe di arah barat, melalui jalan Rue du Faubourg Saint Honore dan jalan Avenue des Champs Elysees.

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menyusuri jalan-jalan kota Paris dengan cukup berbekal selembar peta. Di sepanjang jalan di lokasi-lokasi pemberhentian bis kota dan di jalan turun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah biasanya juga terpasang peta. Bukan pemandangan yang aneh kalau di setiap tempat-tempat itu selalu ada para pejalan kaki yang sedang mencocokkan peta yang dibawanya dengan lokasi dimana dia berada.

Hanya diperlukan kejelian saja untuk terhindar dari salah jalan atau kesasar, kalaupun itu terjadi juga maka tidak terlalu sulit untuk menemukan kembali arah jalan yang dimaksud. Akibat ketidak-jelian juga yang menyebabkan kami salah arah siang itu. Saat menyusuri jalan Boulevard Haussmann yang seharusnya menuju ke arah barat, saya salah membaca peta sehingga terlanjur berjalan cukup jauh ke arah timur.

Kesalahan ini terutama disebabkan oleh tidak-mudahnya saya mengingat nama-nama persimpangan jalan-jalan kecil berejaan Perancis dan kurang menguasai arah mata angin. Akhirnya terpaksa mengambil arah kembali menuju ke arah barat melalui jalan yang sama. Meskipun saya diprotes oleh istri dan anak-anak saya akibat tidak berhasil menjadi pemandu yang baik, tetapi kami jadi berkesempatan melihat banyak wajah kota Paris.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(4).   Berjalan Kaki Menyusuri Kota Paris  

Setelah kebablasan lebih satu kilometer ke arah timur, kami lalu berbalik arah menuju barat. Hari Sabtu, 14 Juli 2001, waktu sudah menunjukkan lebih jam 3:00 siang, saat kami kembali berjalan menyusuri jalan Boulevard Poissonniere dan Montmartre yang merupakan sambungan dari jalan Boulevard Haussmann.

Kami lalu berjalan melewati jalan pintas yang menuju ke lapangan Place Vendome melewati simpang tujuh di lapangan Place de l’Opera yang berada tepat di depan gedung opera yang tampak sebagai sebuah bangunan tinggi dan kokoh berarsitektur kuno. Bangunan-bangunan kuno sejenis ini sangat banyak dijumpai di Paris dan umumnya masih berfungsi dan tampak terawat dengan baik.

Ketika berada di tengah-tengah simpang tujuh ini, terasa sekali akan kepadatan lalu lintas kota Paris. Tak beda dengan kepadatan persimpangan jalan di Jakarta. Saya cenderung mengatakan bahwa perlalulintasan di Paris ini agak semrawut jika mengingat Paris sebagai salah satu kota metropolitan di sebuah negara maju. Jauh sekali berbeda dengan sistem perlalulintasan di Amerika yang serba sangat teratur dengan tingkat kedisiplinan tinggi dari para pemakai jalan.

Tak ubahnya berada di jalanan kota besar negara berkembang, itulah kesan yang saya rasakan. Maka tidak heran kalau di buku-buku panduan wisata selalu diingatkan agar sedapat mungkin menghindari mengendarai kendaraan sendiri di Paris jika belum familiar dengan sistem perlalulintasan di kota ini. Selain karena kepadatannya, juga umumnya jalan-jalan di Paris adalah sempit, satu arah, banyak persimpangan dengan penempatan nama jalan yang tidak mudah dikenali dari jauh, lalu lintas yang berjalan cepat, serta sangat terbatasnya tempat parkir.

Oleh karena itu bisa dipahami kalau di Paris banyak dijumpai mobil-mobil berukuran kecil. Seukuran sedan compact atau yang lebih kecil seperti mobilnya Mr. Bean. Banyak juga dijumpai mobil Renault yang berukuran kecil dan pendek, atau mobil-mobil setipe dengan itu. Berbeda dengan di Amerika yang umumnya orang lebih menyukai mobil-mobil berukuran besar.

***

Setelah berjalan agak ke selatan dari Place de l’Opera, kemudian kami tiba di lapangan Place Vendome. Ini adalah sebuah pelataran luas yang di tengahnya terdapat sebuah tugu tinggi yang di atasnya terpasang patung Napoleon. Pelataran ini dikelilingi oleh dua buah bangunanan kuno bertingkat bergaya Romawi, yang masing-masing berbentuk setengah lingkaran yang dipenuhi oleh sangat banyak pintu dan jendela besar di sepanjang mukanya. Bangunan kuno ini terbelah menjadi dua oleh jalan yang melintas di tengahnya. Beberapa patung berukuran lebih kecil tersebar di seluas pelataran. Burung-burung pun leluasa hinggap di mana-mana.

Keluar dari dari lapangan Place Vendome kami belok ke arah barat masuk menyusuri jalan Rue du Faubourg St. Honore. Kemudian kami tiba di sebuah gereja tua yang di depannya tampak berdiri tiang-tiang besar dan tinggi khas bangunan kuno bergaya Romawi. Ini adalah gereja Madelaine yang memang masih berfungsi sebagai tempat peribadatan. Kawasan ini disebut dengan Place de la Madeleine.

Kami sempatkan untuk beristirahat sejenak di teras gereja ini dan sempat pula masuk ke dalamnya. Memandang ke arah selatan dari teras gereja yang letaknya cukup tinggi ini tampak membentang lurus jalan Rue Royale dengan latar belakang Place de la Concorde di kejauhan.

Dari gereja Madeleine, perjalanan dilanjutkan masih dengan berjalan kaki menyusuri jalan Rue du Faubourg St. Honore ke arah barat. Jalan ini sebenarnya hanya sebuah jalan kecil satu arah dengan sisi kanan dan kirinya termakan sebagai tempat parkir berdesak-desakan. Namun jalan ini terkenal di kalangan para wisatawan karena di sepanjang jalan ini banyak dijumpai pertokoan tempat dimana produk-produk bermerek beken membuka bisnisnya.

Sebut saja mulai dari Pierre Cardin, Gucci, Lancome, Saint-Laurent, Courreges, Laroche, Christian Dior, Hermes, Dupont, Burton, dsb. Bagi mereka yang fanatik dengan produk merek-merek tertentu, maka di jalan inilah tempat yang paling tepat untuk membelanjakan uangnya dan membeli mereknya.

Bahkan jika hanya ingin sekedar untuk melihat-lihat tanpa berniat membeli, maka di sini jugalah tempat yang pas buat melampiaskan kekaguman. Kagum karena harga yang luar biasa, menurut ukuran kebanyakan dari kita. Agak berbeda dengan di Galeries Lafayette dimana produk-produk merek terkenal itu berada di satu lokasi pertokoan, sedangkan di jalan ini masing-masing menyebar di lokasi berbeda-beda di tokonya masing-masing.

***

Sebelum tiba di ujung jalan Rue du Faubourg St. Honore, kami berbelok ke selatan masuk ke jalan raya Avenue des Champs Elysees. Keramaian yang luar biasa ada di penggal barat jalan ini hingga ke plengkung tugu Arc de Triomphe Etoile. Agaknya ini memang salah satu tempat tujuan wisata.

Di kedua sisi utara dan selatan jalan ini sangat ramai pengunjung, baik oleh mereka yang berbelanja, nonton bioskop, atau para pejalan kaki lainnya. Juga mereka yang menikmati makan dan minum di café-café di emperan jalan yang memang banyak menebar di sepanjang jalan ini atau mereka yang sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat seperti halnya rombongan keluarga kami. Namun kami sempat mampir di warung makan Quick, yaitu sejenis warung makan cepat saji seperti Mc Donald’s atau Subway di Amerika.  

Akhirnya kami tiba di tugu plengkung Arc de Triomphe Etoile. Ini adalah sebuah bangunan tugu tepat di pusat pertigabelasan jalan, karena paling tidak ada 13 jalan yang berujung di jalan yang melingkari tugu ini. Tugu plengkung ini mirip-mirip plengkung Washington di New York atau plengkung Gading di Yogya. Bedanya adalah tugu ini berukuran lebih besar, tinggi dan tampak kokoh dan artistik, serta ada sarana untuk naik menuju ke bagian atasnya. Plengkung ini sering dimunculkan di kalender dan kartu pos, dan menjadi salah satu simbol kebanggaan kota Paris setelah menara Eiffel. 

Di dekat pertigabelasan jalan ini pun kami sempatkan untuk kembali berhenti beristirahat sejenak. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20:30, namun matahari masih menampakkan berkas sinarnya di ujung barat menerobos di sela bangunan plengkung Arc de Triomphe Etoile. Kalau saya lihat-lihat di peta, sejak siang tadi kami sudah berjalan kaki menyusuri kota Paris sejauh lebih dari 6 km. Dan acara jalan kaki masih akan dilanjutkan.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(5).   Menyaksikan Pesta Kembang Api Di Menara Eiffel

Dari plengkung Arc de Triomphe Etoile kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan mengikuti jalan Avenue Kleber. Maksudnya untuk lurus menuju ke Palais de Challot yang terletak di sebelah barat menara Eiffel. Dari sana ada jalan lurus menuju ke menara Eiffel melalui pelataran timur Palais de Challot dan menyeberang jembatan Pont d’Iena.

Rupanya saya salah duga, kawasan Palais de Challot ditutup untuk jalan umum sore itu karena malam harinya akan ada acara pesta kembang api di kawasan menara Eiffel. Terpaksa kami mesti jalan memutar, mencari jalur lain menuju menara Eiffel.

Inilah agenda tahunan pesta kembang api terbesar yang sangat dinanti-nantikan masyarakat kota Paris khususnya dan Perancis umumnya setiap hari nasional Bastille Day. Setiap tahun Bastille Day selalu dirayakan besar-besaran di Paris dalam rangka mengenang aksi penyerangan penjara Bastille pada tanggal 14 Juli 1789. Peristiwa ini menandai awal sejarah moderen bangsa Perancis yang saya ingat dalam mata pelajaran Sejarah Dunia siswa SMP lebih dikenal dengan sebutan Revolusi Perancis. Pesta kembang api, parade militer, konser musik dan aneka pesta perayaan adalah agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat kota Paris, juga para wisatawan tentunya.

***

Saat matahari tenggelam akhirnya kami baru tiba di sisi timur menara Eiffel. Lampu-lampu kerlap-kerlip yang menghiasi setinggi menara sudah mulai menyala dan kami berada tepat di kaki sudut timur menara Eiffel. Anak-anak merengek minta mengajak naik ke menara, tapi tentu saatnya tidak tepat karena sudah menjelang malam dan sebentar lagi acara pesta kembang api akan dimulai.

Kemudian kami berjalan agak menjauh ke timur dari lokasi menara, tepatnya di bagian tengah taman Parc du Champ de Mars. Kami memilih lokasi yang berjarak sekitar 500 m di sisi timur menara Eiffel dengan pertimbangan tentu lebih enak menyaksikan pesta kembang api dari jarak agak jauh.

Hari Sabtu malam Minggu, 14 Juli 2001, sekitar jam 22:00 kami duduk menyatu dengan segenap masyarakan Paris yang senja itu sudah berkerumun di lapangan yang sama guna ingin menyaksikan pesta kembang api tahunan. Jarak sekitar 4 kilometer telah kami jalani sejak dari plengkung Arc de Triomphe Etoile menuju ke taman luas Parc du Champ de Mars dengan rute memutar melalui jembatan Pont d’Alma.

  

Taman Parc du Champ de Mars ini membentang sepanjang kira-kira satu kilometer dengan lebarnya sekitar 250 meter di sebelah timur menara Eiffel. Di ujung sebelah timur taman terdapat bangunan kuno yang tampak megah, Ecole Militaire atau Akademi Militer. Taman ini berupa lapangan rumput yang membentang luas yang di bagian pinggirnya dikelilingi oleh pepohonan. Sangat ideal untuk memandang penuh menara Eiffel dari kejauhan.

***

Menjelang pukul 23:00 lampu-lampu hias menara Eiffel dipadamkan dan meluncurlah ke angkasa bunga api berwarna-warni menandai dimulainya pesta kembang api terbesar di Perancis. Dari lokasi kami berada, menara Eiffel menjadi latar depan kembang api.

Sambung-menyambung, kembang api demi kembang api menghias angkasa Paris yang malam itu bercuaca cerah, tidak sebagaimana pagi harinya. Diiringi musik klasik moderen dan tepuk sorak penonton, gemebyarnya warna-warni dan letusan kembang api di atas menara Eiffel seperti tak henti-hentinya menghiasi malam di angkasa kota Paris.

Dan memang seperti tak henti-hentinya kalau mengingat lamanya pesta kembang api yang berlangsung sekitar 40 menit. Sebuah durasi pesta kembang api yang setahu saya sangat jarang terjadi. Di Amerika, pesta-pesta kembang api biasanya hanya berlangsung sekitar 15 menit saja.

Masyarakat pengunjung pun bersorak gembira ketika lampu-lampu hias menara Eiffel dinyalakan kembali dan pesta kembang api pun berakhir. Saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami pun menyatu dengan iring-iringan para penonton yang mulai meninggalkan lapangan Parc du Champ de Mars. Tinggal kini memikirkan bagaimana mesti mencari angkutan kembali ke hotel.

Jalan-jalan di sekitar arena pesta kembang api ditutup untuk umum, sehingga untuk memperoleh taksi kami mesti berjalan kaki agak menjauh. Sialnya, lalu lintas kota Paris malam itu sangat padat dan ramai, terpaksa kami pun berjalan kaki lebih menjauh dan menjauh. Tanpa terasa lebih 4 km sudah kami tempuh berjalan kaki menjauh dari menara Eiffel guna mencari taksi.

Istri dan anak-anak pun sudah tampak kelelahan. Sangat saya maklumi, karena seharian telah berjalan kaki cukup jauh untuk ukuran rombongan keluarga yang sedang berwisata. Barangkali turis manapun tidak akan percaya kalau saya beritahu berapa jarak yang kami tempuh dengan berjalan kaki seharian itu menyusuri jalan-jalan kota Paris. Masyarakat Paris pun barangkali tidak ada yang pernah melakukannya. Ya, sekitar 15 km telah kami jalani dengan berjalan kaki hari itu.

Akhirnya berhasil juga kami memperoleh taksi, setelah menunggu sekian lama di sebuah pinggiran jalan yang masih sangat ramai. Entah kami berada di jalan apa, rasanya sudah malas melihat peta. Pejalan kaki sudah mulai sepi sementara tidak mudah menemukan taksi kosong.

Bisa jadi kami berada di lokasi yang tidak tepat untuk menunggu taksi. Karena sejak meninggalkan lapangan Parc du Champ de Mars, praktis kami hanya berjalan cepat mengikuti arus kemana kebanyakan para pejalan kaki lainnya menuju. Akhirnya baru menjelang pukul 02:00 dini hari kami tiba di hotel.

Sungguh pengalaman berbeda dari yang biasanya kami alami ketika tinggal di Amerika. Kali ini benar-benar perjalanan yang dilakukan dengan berjalan kaki. Untungnya, anak-anak saya (berumur 9,5 dan 6,5 tahun) termasuk anak-anak yang siap fisik untuk melakukan wisata “tidak umum” semacam ini. Pasti kelak akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Setidak-tidaknya tak terlupakan karena punya ayah yang sering punya ide tidak normal, tidak sebagaimana ayah-ayah lainnya.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(6).   Mendaki Tangga Menara Eiffel

Hari itu, Minggu, 15 Juli 2001, adalah hari libur nasional di Perancis berkaitan dengan perayaan Bastille Day. Rencana semula hari ini akan meninggalkan Paris menuju ke Amsterdam. Namun rupanya tadi malam anak perempuan saya dan ibunya gremengan (berbicara sendiri pelan-pelan) yang intinya belum puas berada di kota Paris. Akhirnya disepakati untuk memperpanjang sehari tinggal di Paris. Hotel di Amsterdam yang sudah saya pesan sebelumnya pun segera saya konfirmasi sehubungan dengan perubahan rencana perjalanan.

Sekitar jam 11:00 siang kami meninggalkan hotel. Tujuan utama hari itu sebenarnya menuju ke menara Eiffel karena kedua anak saya merengek mengajak naik ke atas menara yang kemarin sore tidak dapat terlaksana karena akan ada pesta kembang api. Namun sebelum menuju ke menara Eiffel, kami ingin mampir ke Galeries Lafayette lebih dahulu.

Ketika naik taksi, sebenarnya pak sopir taksi sudah mengingatkan bahwa karena hari ini adalah hari libur nasional maka biasanya tidak ada pertokoan yang buka. Namun kami tetap saja memutuskan untuk menuju ke Galeries Lafayette. Dan memang benar, nyaris tidak ada toko yang buka kecuali beberapa restoran. Segera kami putuskan untuk menuju ke menara Eiffel yang tentu saja berjarak cukup jauh dengan jarak lurusnya sekitar 4 km.

Alternatif ditawarkan, menuju ke menara Eiffel dengan naik taksi atau kereta api bawah tanah atau berjalan kaki sambil melihat-lihat kota Paris dengan melalui rute yang agak berbeda dengan kemarin. Entah memperoleh inspirasi darimana, sehingga kami sepakat untuk kembali melakukan perjalanan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota Paris. Kali ini bukan ide saya, melainkan atas kesepakatan bersama anak-anak dan ibunya.

***

Di Paris sebenarnya cukup banyak sarana transportasi umum. Selain taksi maka menggunakan bis kota atau kereta api bawah tanah sebenarnya pilihan yang mudah dan hemat biaya dibandingkan dengan taksi. Jaringan kereta api bawah tanah kota Paris menjangkau hampir ke segenap penjuru sudut kota.

Informasi tentang kereta bawah tanah maupun bis kota pun sangat mudah diperoleh sejak dari airport hingga di setiap sudut-sudut jalan. Demikian pula peta rutenya. Hanya perlu sedikit kejelian saja untuk menghindari salah jurusan. Kalaupun hal itu terjadi, rasanya juga tidak akan sulit untuk menemukan kembali jalur yang benar. Demikian gambaran yang saya peroleh ketika membaca informasi yang ada.

Namun kami mempunyai ide berbeda, selalu ingin cepat sampai tujuan dan ingin lebih banyak melihat. Maka kami memilih menggunakan taksi untuk berangkat ke suatu tempat yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyinggahi tempat-tempat menarik di sepanjang dan seputaran jalan yang kami lalui dan selanjutnya kembali ke hotel dengan taksi. Konsekuensinya, kami harus menyediakan anggaran lebih buat naik taksi.

***

Dari Galeries Lafayette kami mencari jalan terobosan yang dapat lebih singkat menuju ke jalan Rue du Faubourg St. Honore. Kali ini sudah lebih familiar dengan beberapa jalan kecil di sekitar Boulevard Haussmann. Di jalan St.Honore ini istri saya berharap ada toko-toko yang buka. Ternyata sama saja, tidak satupun ada toko yang buka hari itu. Kemarin ketika melewati pertokoan di jalan ini tidak sempat berlama-lama masuk ke pertokoan sebab mengejar waktu agar tidak terlambat mengunjungi plengkung Arc de Triomphe Etoile dan menyaksikan pesta kembang api di menara Eiffel.

Melalui jalan-jalan terobosan kami lalu menuju ke jalan protocol Avenue des Champs Elysees. Di jalan terobosan yang saya lupa namanya ini kami ketemu dengan para pedagang kaki lima yang khusus menjual perangko dan benda-benda pos bekas. Bagi para filatelis, tempat ini pasti menjadi tujuan yang menyenangkan. Anak perempuan saya pun senang sekali berpindah dari satu pedagang ke pedagang lainnya melihat-lihat perangko-perangko kuno. Kami memang punya koleksi perangko bekas meskipun tidak pernah secara serius menekuni hobi filateli. 

Setelah yakin bahwa pertokoan di jalan St. Honore inipun ternyata pada tutup, akhirnya kembali mencari jalan pintas yang menuju ke menara Eiffel. Kali ini jarak berjalan kaki yang kami tempuh hanya sekitar 5 km untuk menuju ke menara Eiffel. Anak-anak pun menjadi sangat bersemangat karena ingin segera dapat naik ke atas menara. Terlebih anak perempuan saya yang sewaktu di New Orleans sempat memperoleh pelajaran bahasa Perancis sebagai “muatan lokal” dan di antara buku teksnya berceritera tentang Tour Eiffel (menara Eiffel).

Sekitar jam 16:00 kami tiba di kaki menara Eiffel. Ternyata masih sangat ramai pengunjung yang juga ingin naik ke menara sehingga membentuk sebuah antrian yang cukup panjang. Namun ada satu loket yang antriannya agak pendek, setelah saya dekati ternyata ini adalah loket bagi mereka yang berniat naik ke atas menara dengan cara berjalan mendaki melalui tangga. Sedangkan loket yang antriannya panjang adalah naik dengan menggunakan lift.   

Yang menarik, di depan setiap loket terpampang tulisan yang kira-kira maksudnya : “Awas Copet”. Lho, ada juga copet di sini rupanya, kata saya dalam hati.

Saya kemudian berunding dengan kedua anak saya, sementara ibunya memilih untuk menunggu saja di bawah. Jika naik lift biayanya 45.0 Fr (sekitar US$6.5) per orang dan untuk itu harus antri panjang untuk membeli tiket dan antri lagi untuk masuk lift. Jika naik tangga biayanya 20.0 Fr (sekitar US$ 3.0) per orang dan untuk itu perlu antri tapi tidak terlalu panjang dan dapat langsung mendaki. Akhirnya anak-anak saya memilih untuk mendaki lewat tangga. Sebelum keputusan diambil, sekali lagi saya tanyakan kepada kedua anak saya apakah memang sudah yakin mau mendaki tangga. Jawabnya kompak : “Ya!”.

***

Menara Eiffel pertama kali dibangun pada tahun 1889 oleh perancangnya yang bernama Gustave Eiffel yang adalah juga perancang konstruksi patung Liberty yang pernah kami kunjungi setahun yang lalu di New York. Konstruksinya terbuat dari material besi, baja dan kaca dengan tinggi totalnya 320 m dan terdapat tiga lantai yang dapat dikunjungi. Pada setiap lantainya terdapat bar dan restoran. Lantai pertama berada pada ketinggian 57 m, lantai kedua 115 m dan lantai ketiga 274 m. Hingga kini menara Eiffel tetap menjadi simbol kebanggaan bagi kota Paris. Sedikitnya 4 juta wisatawan naik ke atas menara ini setiap tahunnya.

Kamipun mulai mendaki. Cukup banyak juga pengunjung yang menaiki menara melalui tangga. Saya yakin mereka mempunyai alasan yang sama dengan kami, yaitu tidak sabar untuk antri lama kalau mendaki menggunakan lift. Atau karena mau hemat? Entahlah. Setelah mendaki dengan cukup ngos-ngosan mencapai lantai pertama, anak-anak saya malah mengajak mendaki lagi menuju ke lantai kedua yang berarti mesti naik tangga lagi 58 m. Selebihnya tidak diperkenankan lagi untuk mencapai lantai ketiga melalui tangga, melainkan harus menggunakan lift. Kalaupun boleh, ya siapa yang mau mendaki lewat tangga hingga menuju lantai ketiga.

Dari atas menara ini tampak pemandangan indah taman Champ de Mars di arah timur dan Palais de Challot di arah barat, serta kota Paris di segala penjuru arah. Anak-anak pun sangat puas bisa mendaki ke atas menara Eiffel dan lebih bangga lagi karena ternyata mereka mampu mendakinya melalui tangga.

Matahari masih belum tenggelam ketika akhirnya kami meninggalkan menara Eiffel untuk kembali menuju ke hotel.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(7).   Salah Masuk Gerbong Kereta Di Stasiun Le Gare Du Nord

Hari Senin, 16 Juli 2001, adalah hari yang kami jadwalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Amsterdam dengan menggunakan kereta api. Namun kami belum melakukan pemesanan tiket kereta, padahal dari buku-buku wisata selalu disarankan untuk melakukan pemesanan tiket jauh hari sebelumnya. Setelah cari-cari informasi, maka kemudian saya menilpun bagian reservasi kereta api yang untungnya menyediakan sambungan khusus untuk komunikasi berbahasa Inggris.

Jauh dari yang saya bayangkan, ternyata pemesanan tiket kereta dapat dilakukan dengan sangat mudah dan praktis. Cukup dengan menyebutkan kartu kredit sebagai jaminan, lalu saya diberi nomor kode pemesanan. Tinggal nanti menyelesaikan pembayaran saat tiba di loket stasiun dengan menunjukkan kode pemesanan yang telah diberikan via tilpun. Harga tiketnya pun relatif cukup murah. Untuk gerbong kelas dua harganya 503 Fr (sekitar US$ 72) untuk dewasa dan 126 Fr (sekitar US$ 18) untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Setelah selesai dengan pemesanan tiket kereta untuk perjalanan nanti sore, kami memanfaatkan waktu pagi hari dengan jalan-jalan ke Galeries Lafayette karena ibunya anak-anak berniat hendak berbelanja sesuatu. Mempertimbangkan masih cukup waktu, kami pun meluncur menggunakan taksi.

***

Saat kami meninggalkan hotel di Paris siang harinya dan hendak menuju ke stasiun Le Gare du Nord, sebenarnya kami sempat agak bingung bagaimana harus naik kereta api dengan membawa barang-barang bawaan yang cukup banyak dan berat. Bayangan saya adalah repotnya naik kereta Yogya – Jakarta dengan membawa banyak barang bawaan.

Rupanya kekhawatiran saya terpupus begitu kami turun dari taksi dan semuanya berlangsung begitu mudah. Setidak-tidaknya kami dapat menanganinya sendiri dengan tanpa bantuan porter stasiun. Cukup dengan menyewa kereta dorong (trolly) dua buah dengan harga sewa 12 Fr (sekitar US$ 1,50) sebuahnya, lalu bersama-sama istri dan anak-anak bergotong-royong mendorong barang bawaan masuk menuju ke dalam stasiun.

Di dalam stasiun, sementara istri dan anak-anak menunggui barang bawaan, saya mencari loket karcis (billet). Di loket saya tinggal menunjukkan catatan tentang nomor kode reservasi kereta Thalys yang menuju ke Amsterdam yang tiketnya sudah saya pesan pagi harinya via tilpun dari hotel.

Sekitar 15 menit sebelum jam keberangkatan kereta, di papan petunjuk jadwal kereta yang terpampang besar dan sangat jelas (perlu agak teliti saja mengingat di sana terpampang banyak jadwal kereta api) baru diinformasikan tentang kereta atau sepur nomor berapa yang menuju ke Amsterdam. Barulah kami dan para penumpang lainnya berbondong-bondong menuju ke peron dari nomor sepur (spoor) yang dimaksud.

Rupanya saya kurang teliti melihat nomor gerbong kereta yang tertulis di karcis. Dengan meyakinkan saya bawa segenap rombongan beserta barang-barang bawaan masuk menuju ke gerbong nomor 17. Usai menyusun barang-barang di tempat bagasi yang ada di ujung gerbong, kami lalu menuju ke kursi tempat duduk. Pekerjaan ini sungguh bikin berkeringat mengingat cukup beratnya tas-tas kami. Setelah tolah-toleh, akhirnya ketemu nomor tempat duduk kami. Tapi kok hanya ada dua nomor kursi, padahal kami pesan empat nomor.

Setelah sekian menit kami kebingungan mencari nomor kursi yang “hilang”, barulah saya ingat untuk memeriksa kembali tiket yang saya beli. Wow…, ternyata kami masuk di gerbong yang salah. Seharusnya kami masuk ke gerbong nomor 15. Terlanjur  sudah menaikkan barang-barang yang cukup berat. Sementara di luar sudah terdengar halo-halo bahwa kereta segera akan diberangkatkan yang berarti pintu-pintu otomatis gerbong kereta segera akan ditutup.

Dalam ketergesa-gesaan, saya instruksikan segenap rombongan untuk segera keluar dari gerbong nomor 17 dan bersama-sama lari menuju ke gerbong nomor 15. Sementara biarkan dulu empat buah tas yang cukup berat tetap berada di gerbong 17. Agak ngos-ngosan sambil sedikit cengengesan, akhirnya kami duduk di kursi yang benar sesuai bunyi karcisnya. Soal bagasi, biarlah saya percayakan kepada kereta api.

***

Tepat (dan benar-benar tepat) pukul 16:55 sore, pintu-pintu otomatis gerbong kereta api listrik Thalys meninggalkan stasiun Gare du Nord, Paris, meluncur ke arah utara menuju ke Amsterdam. Menurut jadwal, kereta ini akan tiba di Amsterdam pada pukul 21:07 malam, atau hanya sekitar 4 jam perjalanan. Saya sebut malam karena menyesuaikan dengan sebutan untuk waktu yang sama di Indonesia. Meskipun sebenarnya masih awal dari sore kalau mengingat lokasi Amsterdam yang lebih ke utara dari kota Paris. Jika di Paris matahari baru tenggelam di atas jam 10 malam, maka di Amsterdam pasti lebih malam lagi matahari baru akan terbenam.

Sekitar satu setengah jam meninggalkan Paris, kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, berarti kami sudah meninggalkan negara Perancis dan masuk ke Belgia. Saat kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, saya menyempatkan keluar dari kereta dan menuju ke gerbong nomor 17 untuk memeriksa bagasi saya. Ternyata masih aman di sana.

Setengah jam kemudian kereta berhenti lagi di Antwerpen – Berchem yang merupakan stasiun perlintasan bagi penumpang yang akan berpindah jurusan selain ke Amsterdam. Untuk kedua kalinya ketika kereta berhenti di stasiun Antwerpen – Berchem, saya sekali lagi mengintip bagasi saya, dan memang masih terlihat aman di sana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi perlu menengok-nengok. Mudah-mudahan aman sampai kami tiba di stasiun Centraal Amsterdam, doa saya.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal

Waktu sudah menunjukkan lewat jam 21:00 dibawah cuaca yang masih sangat cerah ketika akhirnya kami tiba di stasiun Amsterdam Centraal. Di negeri Belanda soal komunikasi masih lebih enak. Setidaknya setiap orang yang saya temui ternyata paham bahasa Inggris, termasuk sopir taksi, porter stasiun, juga pegawai toko dan restoran. Demikian ketika naik taksi dari stasiun menuju hotel, pak sopirnya cukup mengenal tentang Indonesia. Malah dia cerita tentang Gus Dur yang dulu sebelum jadi presiden sering singgah ke Amsterdam.

Pak Sopir pun membawa kami agak berkeliling melewati beberapa tempat terkenal sambil menyisipkan sedikit penjelasan kepada kami, layaknya pemandu wisata saja. Termasuk ketika kami lewat di depan istana Royal Palace sebagai simbol kebesaran kerajaan Belanda dimana ratu Beatrix biasanya menyelenggarakan acara-acara kenegaraan.

Untuk maksud berbelanja, maka pusat perbelanjaan Magna Plaza agaknya dapat menjadi salah satu pilihan, setidak-tidaknya bentuk dan konstruksi bangunan tua pusat perbelanjaan ini memang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya di kota Paris, di Amsterdam juga masih banyak dijumpai bangunan-bangunan berkonstruksi tinggi dan berarsitektur kuno yang masih berfungsi serta terawat dengan baik.    

Ketika tiba di kawasan Red Light District, pak sopir membenarkan ini memang tempat yang sangat terkenal sebagai kawasan entertainment. Tapi buru-buru pak sopir taksi menambahkan : “….. tapi tidak untuk keluarga”. Ya, saya tahu itu. Entah kenapa satu kawasan di pusat kota Amsterdam ini begitu terkenal. Keberadaannya sama terkenalnya dengan obyek-obyek wisata lainnya di Amsterdam.

Saya memang tidak berniat mengeksplorasi lebih jauh kawasan ini. Namun dapat saya ilustrasikan bahwa kawasan lampu merah ini kira-kira sama dengan Bourbon Street di New Orleans atau The Strip di Las Vegas atau Pat Pong di Bangkok yang semuanya memang sengaja dijual sebagai komoditi pariwisata. Di Jakarta malah tidak ada yang dapat disebut karena entertainment jenis ini termasuk komoditi yang resminya tidak halal untuk dijual. Atau jangan-jangan susah disebut karena saking banyak dan menyebarnya lokasi semacam itu yang keberadaannya sembunyi-sembunyi?    

Sekitar pukul 22:00 kami tiba di hotel. Matahari sedang beranjak tenggelam dan masih menyisakan cahaya merahnya. Beruntung cuaca Amsterdam senja itu cukup cerah.  Setiba di hotel dan setelah sedikit berbenah, kami langsung keluar dari hotel dan lalu mencari restoran untuk makan malam. Menurut sopir taksi yang membawa kami dari stasiun Amsterdam Centraal, di Amsterdam dan sekitarnya ini ternyata ada sangat banyak restoran Indonesia.

Dari daftar restoran di Amsterdam yang dimiliki oleh pak sopir taksi, ada puluhan restoran masakan Indonesia. Pak sopir taksi pun lalu merekomendasi sebuah restoran Indonesia lengkap dengan alamatnya yang menurutnya cukup terkenal. Namanya restoran “Raden Mas”. Ke restoran itulah malam itu kami menikmati santap malam atau mungkin lebih tepat disebut santap larut malam. Restoran di Amsterdam saat musim panas ini buka hingga jam 23:00. Menu sate dan nasi putih lalu menjadi pilihan kami, mengingat sejak beberapa hari terakhir ini tidak ketemu nasi.

***

Memperhatikan lalu lintas di Amsterdam nampaknya tidak terlalu sibuk dan padat, tidak sebagaimana di Paris. Hanya saja yang barangkali agak merepotkan bagi mereka yang memilih mengemudikan kendaraan sendiri dalam menjelajahi kota Amsterdam atau Belanda pada umumnya adalah perlunya waspada terhadap banyaknya jalur tram atau kereta api listrik yang menjadi satu dengan jalur kendaraan.

Kereta api memang menjadi sarana transportasi umum yang sangat populer di Belanda, bahkan juga untuk sarana berwisata. Seperti halnya di Paris, informasi tentang jalur-jalur kereta api serta tata cara penggunaannya terutama bagi pendatang baru di Amsterdam juga sangat mudah diperoleh. Jika mempunyai waktu yang agak longgar, berwisata dengan kereta api akan sangat menghemat biaya, tetapi pasti pergerakannya tidak secepat mobil.

Di Amsterdam banyak dijumpai adanya kanal-kanal atau sungai-sungai buatan yang berada paralel mengeliling setengah lingkaran kota Amsterdam yang memang terletak di ujung teluk. Sarana transportasi sungai atau kanal pun dapat menjadi pilihan untuk berwisata mengelilingi kota Amsterdam.    

Hanya ada satu hal yang membuat saya agak kesulitan untuk cepat mengenali wilayah Amsterdam sekalipun sudah berpedoman pada peta, yaitu susahnya mengingat nama-nama tempat atau jalan yang tentunya tertulis dalam ejaan bahasa Belanda. Kata-kata bahasa Belanda ternyata lebih sulit saya ingat dibanding kata-kata bahasa Perancis. Meskipun di beberapa tempat sesekali saya temukan nama-nama yang sama dengan bahasa Indonesia, seperti misalnya kata kantor, halte, stanplat (standplaats), dsb. yang memang telah menjadi kata serapan dalam kosakata bahasa Indonesia.- 

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(9).   Melihat Kincir Angin Dan Sepatu Kayu Di Zaanse Schaan

Hari Selasa, 17 Juli 2001 pagi saya mencari-cari informasi tentang beberapa obyek wisata yang sejak semula memang menjadi tujuan kami. Mempertimbangkan bahwa kesempatan kami mengunjungi Amsterdam sangat terbatas, maka pilihan-pilihan memang perlu dibuat. Di antaranya yang kami prioritaskan adalah melihat windmill atau kincir angin yang sering menjadi simbol bagi negeri Belanda dengan sebutannya sebagai Negeri Kincir Angin.

Tujuan kedua adalah kota Madurodam dimana terdapat kota mini atau miniatur negeri Belanda. Keminiannya kira-kira berskala 1 : 25 dari ukuran sebenarnya. Semula kami masih merencanakan tujuan lain yaitu menyaksikan bunga tulip yang juga menjadi salah satu simbol  bagi negeri Belanda. Namun sayang saat ini bukan musim yang tepat. Bunga ini biasanya mekar sekitar bulan-bulan Maret sampai Mei.

Mengingat beberapa lokasi pilihan yang hendak kami kunjungi ternyata letaknya saling berjauhan, maka saya memutuskan untuk mengambil paket wisata untuk mengunjungi tujuan wisata yang agak jauh lokasinya, seperti Madurodam. Melalui petugas hotel saya memesan paket wisata untuk mengunjungi Madurodam dan sekitarnya yang dijadwalkan berangkat jam 02:00 siang.

***

Memanfaatkan waktu paginya, di hari Selasa tanggal 17 Juli 2001, sebelum pergi ke Madurodam, kami pergi melihat kincir angin (windmill) yang terletak di kawasan Zaanse Schaan. Kawasan ini berada di arah barat laut dari Amsterdam dan dapat ditempuh dengan taksi paling lama 30 menit. Agar tidak memboroskan waktu, maka saya putuskan untuk menggunakan jasa taksi, meskipun untuk itu saya mesti menganggarkan biaya agak mahal. Untuk pergi dan pulang saya harus mengeluarkan hampir 200 Fl (Gulden) atau kira-kira setara dengan US$ 80.

Zaanse Schaan memang merupakan daerah tujuan wisata. Kalau di Indonesia barangkali dapat saya identikkan dengan desa wisata. Di kawasan ini dapat dijumpai beberapa bangunan  kincir angin yang sengaja difasilitasi untuk dikunjungi wisatawan. Selain itu juga ada sentra kerajinan sepatu kayu, industri pengolahan roti dan keju, serta beberapa museum.

Salah satu dari bangunan kincir angin yang ada di sana memang dibuka untuk wisatawan yang ingin naik ke bagian atapnya. Masuk ke bagian bawah dari bangunan ini akan dapat dilihat bagaimana kincir angin bekerja untuk dimanfaatkan energi yang dihasilkannya. Melalui tangga yang berukuran kecil dan relatif tegak, maka pengunjung dapat naik ke atap bangunan tepat di bagian belakang dari empat buah kincir atau baling-baling yang terus-menerus berputar karena tertiup oleh hembusan angin yang cukup kuat.

Sejauh mata memandang dari atap ini adalah dataran terbuka di satu sisi dan danau di sisi yang lain. Di seberang danau tampak bangunan-bangunan kayu yang berkonstruksi khas dan artistik yang dicat warna-warni. Saya tidak tahu persis apakah itu adalah bangunan khas tradisional Belanda.

Yang saya tahu bahwa adanya bangunan beberapa kincir angin di satu sisi danau dan bangunan artistik berwarna-warni di seberang danau telah menciptakan perpaduan pemandangan yang menarik. Pantas saja lanskap seperti itu sering ditampilkan dalam foto-foto promosi pariwisata termasuk di kalender atau kartu pos, selain bunga tulip kebanggan bangsa Belanda.

***

Obyek wisata ini rupanya memang cukup menarik wisatawan mancanegara. Banyak rombongan-rombongan wisatawan yang datang menggunakan bis-bis besar, diantaranya yang banyak saya temui adalah rombongan wisatawan dari Cina dan Jepang.

Masih satu kawasan desa wisata dengan kincir angin, selanjutnya kami menuju ke tempat industri sepatu kayu (woodshoes). Di lokasi inipun para pengunjung mesti berdesak-desakan. Di bagian depan tempat ini ada seonggok patung sepatu kayu raksasa yang menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto. Menilik namanya, maka dapat ditebak ini adalah tempat pembuatan sepatu yang bahannya dari kayu yang dipotong, dipahat, dilukis dan dikreasi dengan sentuhan seni sehingga benar-benar menjadi sepatu, sandal, sepatu-sandal dan sejenisnya.   

Saya jadi ingat, kalau saya pikir-pikir industri sepatu kayu ini sesungguhnya tidak beda dengan industri bakiak atau theklek di Jawa. Bakiak atau sejenis sandal kayu yang oleh orang-orang desa dulu biasa digunakan untuk pergi ke kamar mandi atau WC. Di desa-desa yang namanya tempat mandi atau WC ini biasanya lokasinya terpisah dari rumah induk, sehingga bakiak dirasa sangat cocok digunakan sebagai alas kaki. Biasa juga dipakai untuk pergi ke langgar atau surau oleh para orang-orang tua. Bahkan kalau dipakai untuk ronda malam dan jalannya agak diseret bisa untuk nakut-nakutin pencuri.

Sama-sama merupakan hasil kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, rupanya bakiak atau theklek buatan Indonesia ini kalah pamor dibandingkan dengan sepatu kayu (woodshoes) dari Belanda. Bisa jadi karena yang namanya bakiak itu sepanjang sejarahnya ya berbentuk begitu-begitu saja, tanpa pernah ada upaya untuk memberi sentuhan seni. Atau, barangkali karena para perajin bakiak kita memang kalah dalam kreatifitas dan idealisme, yang penting bekerja dan hasilnya lalu dijual apa adanya.

Atau, para perajin kita memang suka bekerja sendiri-sendiri, tidak pernah ada yang memberi petunjuk bagaimana agar bisa bersama-sama secara kolektif memperbaiki kualitasnya agar mampu ber-go international.  Entahlah, saya cuma menerka-nerka dalam hati. Sebab kalau saya ucapkan, saya akan kesulitan kalau anak-anak saya tanya : “Apa itu theklek…?”  Menjawabnya susah kalau tidak ada contohnya.

Sekitar jam 12:30, kami sudah meninggalkan kompleks desa wisata di Zaanse Schaan sebab jam 13:30 mesti kumpul di hotel untuk mengikuti paket wisata yang akan membawa kami menuju kota Madurodam. Katanya perlu waktu perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan.-

Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.