Feed on
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘> Dari New Orleans Ke Kendal’ Kategori

Pengantar :
Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya [...]

Read Full Post »

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung [...]

Read Full Post »

(2).   Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30, sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans, tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal dunia sekitar satu  jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal. Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda dari yang [...]

Read Full Post »

(3).   Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
Penerbangan New Orleans ke Dallas - Ft.Worth selama satu setengah jam dengan pesawat American Airlines (AA) berjalan lancar. Hari itu juga disambung dengan penerbangan lanjutan AA menuju Tokyo. Di perjalanan, sambil membayangkan persiapan pemakaman ibu saya, sambil terus mengirimkan doa, sambil saya berpikir apakah ada cara lain untuk mendapatkan penerbangan [...]

Read Full Post »

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang [...]

Read Full Post »

(5).   Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
Senin sore, 14 Pebruari 2000, sekitar jam 15:45 saya sudah berada di ruang kedatangan bandar udara Narita, Tokyo. Dari sinilah, rupanya serangkaian upaya yang sangat melelahkan di sepanjang perjalanan saya dari New Orleans ke Kendal akan saya mulai.
Menurut tiketnya, saya akan bermalam di Tokyo menunggu perjalanan sambungan menuju [...]

Read Full Post »

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam [...]

Read Full Post »

(7).   Jika Ingin Tilpun Dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
Saat itu Senin malam, 14 Pebruari 2000, sambil menunggu saat boarding, saya mencari tilpun umum untuk melakukan panggilan internasional menghubungi adik-adik di Kendal sana. Privilege untuk menunggu di VIP lounge sebagai penumpang kelas bisnis saya korbankan.
Saya jumpai beberapa kotak tilpun umum, semuanya sudah diantri oleh calon [...]

Read Full Post »

(8).   Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
Selasa, 15 Pebruari 2000, sekitar jam 1:30 dini hari, pesawat Singapore Airlines (SQ) mendarat di Terminal 2 Changi, Singapura. Saya harus melewati imigrasi, karena mesti keluar dulu untuk ambil bagasi. Ternyata bagasi saya sudah tiba bersama-sama saya. Terus terang saya agak gumun (heran), bahwa petugas American [...]

Read Full Post »

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di [...]

Read Full Post »

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat [...]

Read Full Post »

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju [...]

Read Full Post »

(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali
Selasa siang, 15 Pebruari 2000, sekitar tengah hari saya tiba di Kendal. Dari masjid kota yang berada tidak jauh dari rumah saya terdengar adzan (panggilan sholat) waktu Dzuhur. Ya, saya sudah tiba di rumah, di Kendal. Sebuah perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans ke Kendal yang sangat melelahkan [...]

Read Full Post »