Arsip untuk ‘> Keliling Setengah Amerika’ Kategori

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

Pengantar :

Terdorong oleh obsesi untuk melihat sebanyak mungkin belahan lain dari negara Amerika, maka selama dua pekan dari tanggal 1-15 Juli 2000 yang lalu saya dan keluarga melakukan perjalanan liburan lewat darat mengelilingi setengah negara Amerika belahan timur. Perjalanan ini melintasi 33 negara bagian dan ibukota Washington DC, menjalani hampir 5.500 mil (8.800 km), menghabiskan 186 gallon (704 liter) BBM dan rata-rata 12 jam setiap hari berada di jalan.

Seorang teman Amerika saya mengomentari perjalanan ini sebagai “bahkan sopir truk Amerika pun tidak pernah melakukannya”, dan seorang rekan lainnya berkomentar “it’s crazy“. Yang pasti, kami sekeluarga telah melihat Amerika lebih banyak dari yang pernah dilihat oleh umumnya orang Amerika sendiri.

Hanya karena saya bukan sopir truk dan tidak gila, maka saya bisa berbagi cerita melalui catatan perjalanan ini. Barangkali bisa untuk dikenang bagi yang pernah berada di daerah yang kebetulan saya lalui, atau untuk diniati bagi yang berencana mengunjungi negeri ini, atau untuk sekedar selingan saja.-    

(1).      Mengotak-atik Rute Perjalanan
(2).      Akhirnya Jadi Berangkat Juga
(3).      Mencapai Atlanta Di Hari Pertama
(4).      Jalan Merayap Di Cherokee
(5).      Pejalan Kaki Yang Dimanjakan Di Gatlinburg
(6).      Kelok Twin Falls Yang Memabukkan
(7).      Jalur Lintas Angkasa Di Pegunungan Blue Ridge
(8).      Antri Memasuki Gedung Putih
(9).      Mengunjungi Musium Smithsonian
(10).    Menikmati Ikan Bakar, Lalapan Dan Sayur Asam
(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”
(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam
(13).    Memandang Monumen Washington Dari Gedung Capitol
(14).    Hampir Malam Di New York
(15).    New York, New York
(16).    Menyeberang Ke Patung Liberty
(17).    Senja Di Brooklyn
(18).    Di Puncak Gedung Pencakar Langit
(19).    Ditolak Masuk Gedung Sekretariat PBB
(20).    Makan Hotdog Di Central Park
(21).    Suatu Malam Di Broadway
(22).    Apel Besar Itu Bernama New York
(23).    Jalan-jalan Sore Di Alun-alun Harvard
(24).    Menginap Di Motel Kelas Kambing Di Lebanon
(25).    Mencicipi Sirup Maple Di Vermont
(26).    Hujan Di Sepanjang Pegunungan Adirondack
(27).    Mengenang Tragedi Love Canal
(28).    Love Canal Dan Mimipi Buruk Amerika
(29).    Menyaksikan Air Terjun Niagara Dari Pulau Kambing
(30).    “Mainan Air” Itu Adalah Sebuah Maha Karya
(31).    Menuju Ke Dasar Air Terjun Di Malam Hari
(32).    Ketika Kemalaman Tiba Di Chicago
(33).    Di Madison, Saya Belajar Tentang Arti Kebersihan
(34).    Menyusuri Ladang Jagung Iowa
(35).    Bermalam Di Oskaloosa
(36).    Tengah Hari Musim Panas Di Columbia
(37).    Sejenak Di Tepi Danau Ozark
(38).    Rumah Kecil Di Padang Prairie
(39).    Impian Yang Hilang Di Kota Minyak Tulsa
(40).    Mampir Ke Musium “Cowboy” Di Oklahoma City
(41).    Perjalanan Terpanjang Pada Hari Terakhir
(42).    Di Bawah Purnama, Kami Kembali Ke New Orleans

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(1).     Mengotak-atik Rute Perjalanan

Mulanya sekedar sebuah angan-angan, kami sekeluarga ingin melihat kota Washington DC, New York dan air terjun Niagara, selagi kami berkesempatan tinggal di negara besar ini. Ya, karena tempat-tempat itu sudah sangat terkenal dan selama ini namanya sering disebut-sebut orang. Mewujudkan keinginan itu tentu tidak mudah, karena jarak antara tempat-tempat itu dengan kota New Orleans dimana kami tinggal cukup jauh. Jarak dari New Orleans ke New York adalah sekitar 1324 mil (sekitar 2118 km).

Rencana pun diatur untuk bisa mengunjungi tempat-tempat itu. Sebenarnya tidak terlalu susah kalau hanya untuk mengunjungi tempat-tempat itu saja. Masalahnya menjadi agak rumit karena rencana perjalanan yang mulanya hanya sekedar mewujudkan sebuah keinginan, mulai terkontaminasi dengan sebuah obsesi. Kami ingin mengunjungi dan melihat lebih banyak tempat dari belahan negara besar ini selagi kami ada di sini. Karena itu rencana menjadi berkembang, bagaimana agar selain mengunjungi tempat-tempat terkenal itu kami juga bisa mengunjungi dan melihat tempat-tempat lain sebanyak-banyaknya.

Waktu yang saya anggap tepat untuk melakukan perjalanan ini adalah di musim panas. Selain karena anak-anak sekolah sedang libur panjang, juga dipastikan perjalanan tidak akan terganggu salju terutama ketika berada di daerah utara. Selain itu waktu siang hari akan lebih panjang karena matahari baru terbenam selepas jam 20:30, bahkan di daerah Niagara dan kota-kota di bagian utara lainnya matahari baru terbenam jam 21:30. Maka awal bulan Juli kami pilih dengan alokasi waktu selama dua minggu.

***

Sejak jauh hari sebelumnya, saya mulai mengumpulkan berbagai informasi baik yang berkaitan dengan kota-kota tujuan utama maupun daerah-daerah lainnya yang sekiranya akan sempat saya kunjungi. Hal pertama yang kemudian harus diputuskan adalah pilihan antara melakukan perjalanan darat langsung berkendaraan dari New Orleans, atau terbang lebih dahulu ke suatu kota kemudian menyewa kendaraan di sana seperti yang pernah kami lakukan ketika travelling ke daerah Colorado dan sekitarnya.

Dari segi pendayagunaan waktu dan tenaga, pilihan kedua memang lebih ideal. Saya hanya akan kehilangan waktu dua hari untuk terbang saat berangkat dan kembali, selebihnya untuk perjalanan darat memutar dengan menyewa kendaraan. Tetapi pilihan kedua ini menghilangkan kesempatan untuk melihat banyak tempat yang dilalui karena hanya akan lewat di atasnya saja dengan pesawat.

Sedangkan dengan pilihan pertama, saya akan langsung mengerahkan tenaga untuk mengemudi sejak hari pertama hingga hari terakhir. Tetapi saya akan menghemat ongkos pesawat dan sewa kendaraan meskipun sebagai gantinya saya harus menambah alokasi dana untuk BBM. Selain itu, pilihan pertama akan memberi kesempatan untuk lebih banyak melihat tempat-tempat yang saya lalui. Demi mewujudkan obsesi, maka pilihan pertama saya ambil dengan segala resikonya.

Diantara resiko yang harus saya perhitungkan antara lain adalah mengatur sebaik mungkin rencana perjalanan agar dapat mengunjungi sebanyak-banyaknya wilayah Amerika dalam waktu hanya 15 hari. Sebagai sopir tunggal yang tanpa cadangan, ini tentu akan sangat menguras energi. Belakangan saya baru menyadari bahwa rencana perjalanan yang saya buat ternyata sangat ketat dan padat.

Sebagai akibat dari ketatnya rencana perjalanan, maka kondisi fisik kami harus selalu terjaga selama perjalanan. Termasuk dalam “kami” adalah saya, keluarga dan kendaraan. Apa yang harus dilakukan kalau di tengah perjalanan terjadi hal-hal yang tak terduga. Hal berikutnya adalah bagaimana kalau anak-anak merasa bosan berkendaraan terus setiap hari. Jurus-jurus kompromis perlu disiapkan guna menghadapi anak-anak yang tentu akan berpikir dengan logikanya dan berperasaan dengan nalurinya. Hal lainnya adalah mengantisipasi agar tidak terjadi gangguan pada kendaraan karena akan diforsir tenaganya selama 15 hari.

***

Setelah yakin dengan pilihan cara perjalanan, kemudian saya mulai membuat rencana rute perjalanan. Untuk ini saya perlu memiliki peta-peta lengkap seluruh wilayah yang akan saya lalui termasuk dengan informasi tentang obyek-obyek menarik yang bisa dikunjungi. Saya sangat terbantu dengan adanya saya menjadi anggota AAA Emergency Road Service. Ini adalah perusahaan jasa swasta di Amerika yang memberi layanan bantuan perjalanan kepada setiap anggotanya yang mengalami kesulitan di perjalanan.

Sebagai anggota, di manapun di pelosok Amerika kalau misalnya saya mengalami kerusakan kendaraan, kehabisan bensin, ban pecah, kunci kontak terkunci di dalam mobil, dsb. saya tinggal menghubungi nomor tertentu dan kru AAA akan segera datang memberi bantuan tanpa dipungut biaya apapun untuk layanannya, termasuk kalau misalnya kendaraan perlu diderek untuk jarak tertentu. Tentu ada biaya tambahan kalau misalnya perlu diderek untuk jarak yang cukup jauh atau untuk penggantian BBM yang habis. 

Untuk menjadi anggota saya membayar US$42 per tahun. Biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan rasa aman yang saya peroleh ketika melakukan perjalanan berkendaraan. Selain itu, setiap saat tanpa ada batasan saya bisa memperoleh peta-peta, buku panduan wisata, minta dibuatkan rute perjalanan, dsb. dengan tanpa dipungut biaya. Seperti untuk perjalanan saya kali ini, setelah membuat rencana perjalanan secara kasar lalu saya pun menyiapkan daftar peta dan buku panduan wisata untuk saya mintakan ke AAA sebagai bekal perjalanan saya. Baru setelah itu saya akan menyusun rencana perjalanan secara lebih rinci.

Petugas AAA, seorang ibu berusia sekitar 50-an tahun, seperti tidak percaya ketika saya sodori daftar peta dan buku yang saya minta. Semuanya ada 37 lembar peta dan 12 buku panduan wisata saya minta untuk bekal perjalanan. Buku-buku dan peta-peta yang berukuran A0 dan A1 itu terdiri dari peta negara bagian (state map) yang mencakup 33 negara bagian yang akan saya lalui serta peta kota (city map) dari kota-kota yang rencananya akan saya singgahi termasuk ibukota Washington DC.

Iseng-iseng saya timbang, berat semuanya 6,6 kg. Dengan membawa peta lengkap, ini membuat saya merasa bebas, fleksibel dan mudah jika sewaktu-waktu ingin melakukan improvisasi rute karena tersedia peta untuk setiap wilayah yang akan saya lalui.

Mulailah saya membuat rencana perjalanan. Patokannya adalah berangkat dari New Orleans tanggal 1 Juli dan kembali tanggal 15 Juli, menginap di Washington DC 2 malam, di New York 3 malam dan di Niagara Falls 2 malam, serta saya usahakan tanggal 4 Juli berada di Washington DC karena bertepatan dengan Independence Day, yaitu Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika ke 224.

Setiap kali selesai dengan satu rencana rute, kemudian saya hitung jarak dan perkiraan waktu tempuhnya. Ternyata tidak mudah. Tidak selesai dengan dua-tiga kali perencanaan, tapi hingga belasan kali saya mengotak-atik rute perjalanan. Hingga akhirnya saya peroleh yang saya anggap paling representatif. Dari hitung-hitungan jarak dan waktu tempuh, lalu saya tentukan di kota mana saja kami akan menginap dan apakah perlu membuat pemesanan hotel lebih dahulu.

Melihat rute perjalanannya, saya menyadari sepenuhnya bahwa rencana perjalanannya memang sangat ketat. Jarak terpendek sekitar 350 mil (560 km) dan terjauh mencapai 650 mil (1040 km) untuk sehari perjalanan. Artinya, sejak awal saya sudah menyadari bahwa saya akan mengemudi lebih dari 10 jam per hari, bahkan lebih. Padahal idealnya adalah sekitar 6-7 jam saja, dan itupun tidak berturut-turut setiap hari.

Melihat hal ini, maka yang paling utama menjadi perhatian saya adalah menjaga agar saya, keluarga dan kendaraan selalu ada dalam kondisi prima. Karena sehari saja ada gangguan, entah gangguan kesehatan atau kendaraan, maka semua rencana hari berikutnya bisa berubah. Karena itu saya juga menyiapkan rencana alternatif dari beberapa penggal rute yang saya rencanakan. Rencana cadangan ini mencakup rute mana dan obyek mana yang harus saya korbankan jika terjadi keadaan yang tidak diinginkan yang menggangu rencana perjalanan berikutnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(2).     Akhirnya Jadi Berangkat Juga

Selesai dengan draft akhir rencana perjalanan, selanjutnya rencana itu saya presentasikan di depan anak-anak dan ibunya dengan menggunakan peta Amerika guna memperoleh persetujuan. Intinya adalah memberitahu kepada mereka bahwa perjalanan liburan kali ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Agar proposal ini disetujui tentunya saya harus menonjolkan sisi-sisi menarik dari banyak tempat yang akan dikunjungi. Sekedar menerapkan strategi bisnis, bukan memanipulasi informasi melainkan lebih menonjolkan sisi enaknya agar sisi tidak enaknya tidak terlalu diperhatikan meskipun tetap harus diantisipasi.

Hal terakhir yang saya mintakan persetujuan adalah bahwa hotel hanya akan kami jadikan sebagai tempat untuk numpang tidur dan membuang hajat. Selebihnya kami akan berada di jalan menikmati matahari dan alam Amerika. Toh, di musim panas ini biasanya gelapnya malam hanya akan berlangsung sekitar 8 jam saja.

Langkah berikutnya adalah mencoba menghubungi beberapa rekan yang kebetulan tinggal di daerah yang akan saya kunjungi atau lalui. Hitung-hitung sekalian bersilaturrahmi. Diantaranya saya menghubungi Mas Prapto Supeno di Wheaton (negara bagian Maryland). Mas Peno yang mantan teman kuliah di jurusan Tambang ini ternyata malah mengharapkan agar kami menginap saja di rumahnya. Wah, ya kebetulan.

Saya juga sempat menghubungi mBak Rinta Gillert yang alumni Geologi dan tinggal di Ithaca (negara bagian New York). Rupanya mBak Rinta sedang pulang kampung ke Indonesia, karena itu maka rute untuk melewati Ithaca saya ubah. Sebagai gantinya saya akan mampir menemui seorang bekas teman kerja di Tembagapura yang kini tinggal di Syracuse (juga negara bagian New York). Adiknya Mas Mimbar Seputro yang tinggal di Columbia (negara bagian Missouri) juga saya hubungi, sekalian ingin bersilaturrahmi karena kota ini akan saya singgahi dalam perjalanan saya kembali menuju ke New Orleans.

Perhatian saya berikutnya adalah soal kesiapan kendaraan. Sedan Ford Taurus tahun 1999 warna hijau metalik yang spedometernya sudah berada di angka sekitar 15.000 mil (24.000 km) rasanya masih layak saya bawa untuk perjalanan jauh (yang nantinya akan saya tambahi angkanya dengan 5.500 mil). Meskipun demikian, saya merasa lebih yakin kalau lebih dahulu kendaraan saya masukkan ke bengkel untuk preventive maintenance.

Ada yang saya hampir kelupaan bahwa ternyata sticker tanda lulus uji kir kendaraan yang disebut dengan brake tag sudah lewat masa berlakunya sejak tiga bulan yang lalu. Untuk memperkecil peluang berurusan dengan Pak Polisi di wilayah negara bagian lain yang akan saya lewati, tentu saya harus memperbaharui brake tag ini terlebih dahulu sebelum kendaraan saya gunakan untuk perjalanan jauh.

Beberapa perlengkapan praktis untuk bantuan darurat juga saya persiapkan, seperti kompresor mini untuk penggunaan darurat guna menambah angin ban, penambal ban sementara berupa cairan yang disemprotkan dan dipompakan ke dalam ban, kabel untuk menyetrum aki (biasa disebut jumper) yang dihubungkan melalui socket pelantik api rokok, dan juga lampu senter kecil. Ban cadangan perlu dipastikan, meskipun selama ini belum pernah saya gunakan. Tidak saya lupakan perlengkapan PPPK (first aid kit) serta obat-obatan standard yang biasa diperlukan oleh anak-anak.

***

Satu hal lagi yang hingga minggu terakhir belum saya selesaikan, yaitu membuat pemesanan kamar hotel di kota New York dan Niagara Falls. Pemesanan lebih awal ini perlu dilakukan mengingat bahwa di musim liburan seperti ini, hotel-hotel di tempat-tempat strategis biasanya sudah penuh dipesan orang jika terlambat. Saya memang belum melakukan pemesanan hingga sehari terakhir sebelum berangkat, karena mendadak ada pekerjaan kantor yang cukup menyita waktu yang membuat saya ragu-ragu apakah bisa saya selesaikan sebelum hari Sabtu, hari pertama yang saya rencanakan untuk memulai perjalanan.

Celakanya, pekerjaan mendadak ini tidak bisa ditunda hingga dua-tiga minggu mendatang. Akibatnya saya tidak mempunyai pilihan lain selain berusaha habis-habisan agar pekerjaan selesai akhir minggu itu juga. Ya, terpaksa perlu memperpanjang jam kerja alias lembur, daripada mementahkan kembali rencana perjalanan yang sudah dipersiapkan.

Apa boleh buat. Saya ambil hikmahnya saja, bahwa seringkali untuk memperoleh apa yang kita inginkan diperlukan pengorbanan di sisi yang lain. Kata mbah-mbah buyut saya : “jer basuki mawa bea“. Klise saja. Tetapi nyatanya toh banyak orang tidak mau terima kalau berhadapan dengan kenyataan semacam ini. Akhirnya baru hari Jum’at malam saya memastikan bahwa besok akan jadi berangkat, setelah malam itu pekerjaan bisa saya selesaikan.

Keesokan harinya, Sabtu, 1 Juli 2000, rencana semula saya akan memulai perjalanan di hari pertama ini dengan berangkat dari New Orleans sepagi mungkin. Ternyata di hari pertama ini saya sudah gagal memenuhi rencana perjalanan saya karena waktu keberangkatan tertunda hingga siangnya. Pagi-pagi saya mesti membuat pemesanan hotel untuk di New York dan Niagara Falls.

Dalam situasi mendadak seperti ini, tentunya saya tidak punya banyak pilihan untuk mencari hotel murah meskipun sebelumnya saya sudah menyiapkan daftar akan menginap di hotel-hotel mana saja. Pemesanan saya lakukan via internet dan saya rekonfirmasi via tilpun sambil iseng-iseng mengecek siapa tahu ada harga promosi yang agak miring.

Setelah memesan hotel, saya langsung menuju ke agen brake tag guna memperbaharui sticker tanda uji kir kendaraan yang sudah kedaluwarsa. Seminggu terakhir ini saya belum sempat melakukannya karena memang waktu saya tersita untuk mengejar menyelesaikan urusan kantor. Untungnya saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk urusan brake tag.

Urusan uji kir kendaraan memang dilakukan oleh agen swasta yang resmi ditunjuk oleh pemerintah. Setelah mendaftar, kemudian oleh satu-satunya petugas yang ada di situ langsung dilakukan pengujian dengan dicoba berjalan maju-mundur, dites remnya, lampu-lampunya, dan kelengkapan pokok kendaraan lainnya.

Setelah semuanya oke, lalu ditempeli sticker yang berlaku satu tahun dan membayar US$10. Begitu saja, tidak repot-repot berurusan dengan birokrasi yang rumit. Sayang saya tidak sempat menanyakan apa yang harus dilakukan seandainya ada yang tidak beres. Selesai uji kir kendaraan, saya lalu mampir mengisi BBM dan mampir ke sebuah toko untuk membeli kelengkapan fotografi dan camcorder.

Akhirnya, Sabtu siang itu kami jadi berangkat juga untuk memulai perjalanan panjang liburan, mewujudkan sebuah obsesi ingin melihat lebih banyak tempat di belahan negeri besar ini. Secara geografis perjalanan ini memang tidak sampai mencakup setengah dari luas daratan Amerika, tetapi secara administratif melewati lebih dari setengah negara bagian yang ada. Memang harus saya akui, sekalipun perjalanan panjang ini sudah saya rencanakan, persiapkan dan perhitungkan sebaik-baiknya, tapi toh tetap saja berbau nekad.

Well, maka seusai waktu dzuhur hari Sabtu siang itu, kami pun berangkat meninggalkan kota New Orleans melesat menuju ke arah timur.  “Bismillah……”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(3).     Mencapai Atlanta Di Hari Pertama

Sabtu siang, 1 Juli 2000, menjelang jam 1:00, saya langsung masuk ke jalan Interstate 10 menuju ke arah timur. Rencana semula di hari pertama ini saya akan berangkat pagi-pagi langsung menuju ke kota Greenville di wilayah negara bagian South Carolina, menempuh jarak 637 mil (sekitar 1020 km).

Menyadari bahwa saya terlambat start, maka yang ada dalam pikiran saya kemudian adalah berusaha agar bisa melesat sejauh-jauhnya ke arah timur laut. Minimal saya harus mencapai kota Atlanta di negara bagian Georgia, guna memperkecil keterlambatan waktu tempuh agar keseluruhan rencana perjalanan tidak berubah. Jika saya bisa mencapai kota Atlanta, maka saya hanya akan ketinggalan 132 mil (sekitar 211 km) dari rencana, atau ketinggalan hanya sekitar 2 jam melalui jalan Interstate.

Belum jauh keluar dari kota New Orleans, masih di negara bagian Louisiana menjelang perbatasan dengan negara bagian Mississippi, ada kemacetan terjadi di arah timur jalan Interstate 10. Dari jauh tampak antrian panjang kendaraan yang berjalan merambat. Padahal rute ini yang akan saya lalui menuju kota Mobile dan Montgomery di negara bagian Alabama, sebelum mencapai Atlanta. Melihat peluang yang tidak menguntungkan jika saya ikut berjalan merambat, maka ketika sampai di persimpangan dengan Interstate 59 yang menuju arah timur laut, saya mengambil keputusan untuk merubah rute.

Saya berbelok ke Interstate 59 menuju kota Meridian di negara bagian Mississippi. Di kota ini jalan Interstate 59 akan bergabung dengan Interstate 20 menuju arah timur laut. Perubahan rute ini memang berakibat jarak tempuh menjadi agak lebih panjang. Tetapi saya pikir masih lebih cepat dibandingkan dengan jika saya mengikuti rute mula-mula dan berjalan merambat untuk jarak atau waktu yang tidak saya ketahui. Sekitar setengah jam di arah timur dari Meredian, saya meninggalkan wilayah negara bagian Mississippi yang mempunyai nama julukan “Magnolia State” dengan ibukotanya di Jackson.

Sore hari saya mencapai kota Birmingham, kota terbesar di wilayah negara bagian Alabama. Negara bagian Alabama ini juga dijuluki dengan “Yellowhammer State” dengan ibukotanya di Montgomery. Melewati kota Birmingham saya terus mengikuti jalan Interstate 20 ke arah timur.

Nama Alabama ini mengingatkan saya pada sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering saya dengar diputar di radio, yaitu “Sweet Home Alabama” yang dinyanyikan oleh Lynyrd Skynyrd. Rupanya lagu pop yang berirama riang ini memang enak ditirukan, sehingga Zen Mafia pun merubahnya menjadi berjudul “Sweet Home California” yang berirama rap. Entah kalau ada juga kelompok pengamen Malioboro yang memelesetkannya menjadi “Sweet Home Yogyakarta”. Memang kebetulan kedengaran pas. Wong yang tidak pas saja sering dipas-paskan.

Ingatan saya yang kedua, nama negara bagian Alabama sering menjadi salah satu pertanyaan dalam Teka Teki Silang (TTS) di Indonesia, sejak 25 tahun yang lalu ketika saya masih di SMP hingga sekarang. Heran juga, dari 50 negara bagian yang ada di Amerika, hanya Alabama yang paling sering ditanyakan.

Entah karena memang hanya itu yang diketahui oleh si pembuat TTS tentang negara bagian yang ada di Amerika, atau karena si pembuat pertanyaan generasi berikutnya malas berkreatifitas sehingga dikutip begitu saja hingga turun-temurun. Atau memang kebetulan nama itu enak dan pas untuk dirangkai dalam TTS. Toh, rancangan TTS-nya tetap saja dibeli orang. Bahkan boleh jadi kalau pertanyaannya susah dijawab atau untuk menjawabnya perlu mikir apalagi membuka referensi, malah TTS-nya tidak laku.

Nampaknya ini menjadi semacam fenomena. Dan istilah paling tepat untuk menyebut fenomena semacam ini adalah — “nyuwun sewu” — simbiose mutualisme yang tidak kreatif. Tidak percaya? Coba saja perhatikan, TTS atau kumpulan TTS yang pertanyaannya susah-susah pasti kurang diminati orang. Memang tidak ada yang salah dengan fenomena ini. Saya juga melihatnya hanya sebagai kegiatan iseng saja. Tapi kok menarik?

***

Seperti halnya saat melewati Mississippi, di Alabama pun saya hanya numpang lewat saja, karena saya tidak ingin terlalu malam tiba di Atlanta. Bukan saja karena jarak tempuhnya masih cukup jauh tetapi juga adanya perbedaan zona waktu. Ada perbedaan waktu satu jam antara New Orleans dengan Atlanta yang lebih di timur, sehingga jam di Atlanta yang masuk zona waktu Amerika bagian timur maju satu jam terhadap New Orleans yang masuk zona waktu Amerika bagian tengah.

Daratan Amerika ini terbagi dalam lima pembagian zona waktu, yaitu Eastern Standard Time di daratan paling timur, lalu Central Standard Time, Mountain Standard Time, Pacific Standard Time di daratan paling barat dan Alaskan Standard Time yang mencakup wilayah negara bagian Alaska yang berada di daratan ujung barat laut yang terpisahkan oleh negara Canada. Sedangkan negara bagian Hawaii yang berada di kepulauan di samudra Pacific termasuk dalam zona Hawaii-Aleutian Standard Time.

Menjelang jam 9 malam saya memasuki kota Atlanta, ibukota negara bagian Georgia. Nampaknya ini tempat terjauh yang bisa saya capai di hari pertama. Georgia adalah negara bagian keempat yang saya lintasi, setelah Louisiana, Mississippi dan Alabama. Georgia dikenal dengan julukannya sebagai “Peach State”.

Lalulintas di kota metropolitan Atlanta malam itu masih kelihatan cukup ramai. Di tengah kota Atlanta, dari jalan Interstate 20 saya berpindah ke Interstate 85 yang mengarah ke timur laut. Saat berpindah jalan ini saya sempat agak bingung karena jalan ini terbagi dalam 5 lajur dengan arus lalulintas cukup kencang. Agak bingung karena khawatir salah mengambil lajur exit untuk keluar atau pindah jalan.

Di saat hari sudah gelap berada di kota yang belum saya kenal seperti ini biasanya saya perlu lebih berkonsentrasi agar lebih jeli memperhatikan rambu petunjuk jalan. Jangan sampai mengambil lajur yang salah, sebab akan sama artinya dengan membuang waktu untuk memutar-mutar menemukan kembali lajur atau jalan yang benar. Akhirnya saya berhasil sampai di sisi timur kota Atlanta dan menemukan hotel yang cukup murah dan enak untuk sekedar melewatkan malam.

Beberapa obyek di seputar kota Atlanta terpaksa harus saya korbankan untuk tidak saya kunjungi, sebagai akibat dari keterlambatan waktu berangkat di hari pertama ini. Kota Atlanta yang namanya pernah ngetop karena menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas tahun 1996 yll, juga dikenal sebagai pusatnya Coca-Cola. Kota Atlanta bangga dengan sebutan “World of Coca-Cola”. Ada museum Coca-Cola yang semula rencananya hendak kami kunjungi, tapi kami batalkan mengingat keesokan harinya mesti berangkat agak pagi guna mengejar ketertinggalan jarak tempuh di hari pertama. 

Kota metropolitan Atlanta yang berlokasi di ketinggian sekitar 320 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh lebih 400.000 jiwa penduduk, malam itu kami tinggal tidur saja.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(4).     Jalan Merayap Di Cherokee

Minggu pagi, 2 Juli 2000, menjelang jam 10:00 kami baru meninggalkan kota Atlanta menuju ke arah timur laut mengikuti jalan Interstate 85. Sekitar satu setengah jam kemudian kami melintas danau Richard B. Russell yang merupakan perbatasan antara negara bagian Georgia dan South Carolina. Melanjutkan setengah jam kemudian kami tiba di kota Greenville. Di kota ini kami keluar dari Interstate 85, lalu pindah ke Highway 25 yang menuju ke arah utara.

Tidak ada obyek menarik yang kami rencanakan untuk dikunjungi di jalur utara South Carolina yang mempunyai nama julukan “Palmetto State” dan ibukotanya ada di Columbia. Kami terus saja melanjutkan perjalanan ke utara hingga memasuki wilayah negara bagian North Carolina. Beberapa kilometer di utara daerah perbataasan ini kami bertemu dengan jalan Interstate 26 yang menuju kota Asheville.

Di kota Asheville kami berpindah ke jalan Interstate 40 menuju ke arah barat lalu keluar di kota kecil Waynesville untuk istirahat makan siang. Seperti dijumpai di banyak lokasi di sepanjang perjalanan, makan siang yang paling praktis adalah model makan cepat saji. McDonald adalah satu di antaranya. Anak-anak pun menyukainya karena di sana ada happy meals atau kid meals yang biasanya disertai iming-iming mainan anak-anak. Makananpun bisa dimakan sambil jalan, tanpa perlu berhenti terlalu lama.

Dari Waynesville perjalanan kami lanjutkan menuju ke rute yang akan melintasi pegunungan Great Smoky. Rute yang membelah Taman Nasional Great Smoky Mountain ini memang salah satu tujuan kami. Taman Nasional Great Smoky Mountain berada tepat di perbatasan wilayah antara negara bagian North Carolina dan Tennessee, membentang seluas lebih 210.000 ha pada ketinggian hingga lebih 2.000 m di atas permukaan laut.

Pegunungan di Taman Nasional ini mempunyai enam belas puncaknya yang berketinggian di atas 1.800 m. Seperti tersirat di balik namanya, Great Smoky Mountain, barangkali karena di rute puncak pegunungan ini seringkali terlihat adanya awan yang menyerupai asap seakan-akan menggantung di langit biru di atas puncak-puncak pegunungan.

Taman Nasional yang resminya berdiri tahun 1934 guna melindungi sisa-sisa hutan di bagian selatan Appalachian Trail ini merupakan Taman Nasional yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Amerika. Rata-rata dikunjungi oleh sekitar 10 juta wisatawan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 1999 yll. telah tercatat dikunjungi lebih dari 21 juta wisatawan. Sebuah angka kunjungan yang luar biasa, untuk ukuran Amerika sekalipun. Bulan paling padat adalah selama musim liburan antara Juni hingga Agustus, dan di bulan Oktober dimana daun-daun mulai berubah warna di musim gugur.

Jalur Appalacian Trail adalah jalan setapak yang membentang di gigir pegunungan dan memotong lembah sepanjang 3.480 km dari ujung timur laut daratan Amerika di negara bagian Maine hingga ke selatan di daerah Georgia.

Jalur ini dikelola oleh sekitar 32 kelompok pecinta alam setempat di bawah organisasi yang disebut Appalachian Trail Conference guna pemeliharaan dan perlindungannya, bekerjasama dengan lembaga pemerintah National Park Service (NPS). Penggal-penggal jalur jalan setapak ini banyak menjadi pilihan para penggemar olah raga lintas alam (hiking), bahkan termasuk para tuna netra dan penderita cacat kaki yang melintas menggunakan kruk (tongkat berjalan).

*** 

Jalan utama yang melintas di pegunungan ini disebut Newfound Gap Road (jalan US 441) membentang antara kota Cherokee di sisi tenggara dan Gatlinburg di sisi barat laut sepanjang sekitar 53 km. Di kota kecil Cherokee yang berada di kaki sebelah tenggara pegunungan ini ada areal konservasi suku Indian Cherokee. Karena itu kota kecil ini menjadi salah satu obyek kunjungan para wisatawan.

Rupanya rute jalan yang melalui wilayah ini luput dari perhitungan saya sebelumnya, yaitu bahwa di saat hari libur ternyata rute ini sangat ramai dan arus lalulintasnya padat. Akibatnya kendaraan hanya dapat berjalan merayap ketika tiba di Cherokee. Kami jadi kehilangan cukup banyak waktu untuk melewati kota terakhir sebelum saya meninggalkan negara bagian North Carolina yang mempunyai nama julukan sebagai “Tar Heel State” dengan ibukotanya Raleigh.

Daripada sekedar mengikuti arus lalulintas yang merayap perlahan, kami lalu memutuskan untuk berhenti di kota ini. Turut mengambil bagian di tengah keramaian. Sampai di pertigaan jalan yang akan membelok menuju pegunungan Great Smoky, di sisi utaranya ada sungai yang tidak terlalu lebar tapi jernih airnya.

Di tengah suhu udara siang musim panas yang cukup menyengat, sungai ini dimanfaatkan oleh banyak wisatawan untuk ciblon (mandi dan berendam di sungai) beramai-ramai. Karena lokasinya yang tepat di pinggir jalan, maka tentunya ini menjadi bagian tontonan tersendiri. Kejadian yang sebenarnya biasa saja, tapi menjadi tidak biasa karena adanya di tengah keramaian.

Salah satu tempat yang terkenal di area Reservasi Indian Cherokee seluas lebih 22.000 ha ini adalah Museum Indian Cherokee dan Perkampungan Indian Oconaluftee. Di perkampungan Indian ini direkonstruksi kehidupan masyarakat Cherokee tahun 1750-an. Selama berabad-abad, wilayah reservasi ini ternyata telah menjadi wilayah hunian suku Indian Cherokee yang saat ini paling tidak masih ada sekitar 11.000 warganya.

Kini umumnya mereka hidup dari hasil industri pariwisata. Tampak sekali kalau kita menyusuri di sepanjang jalan dan pertokoan, mereka suku Indian yang berkulit kemerah-merahan ini berseliweran, berdagang cendera mata, beraksi dengan pakaian tradisionalnya dan aktifitas-aktifitas seni lainnya. 

***

Layaknya rute jalan di daerah pegunungan, tentu banyak berupa kelokan, tanjakan dan turunan di tengah areal hutan. Namun yang menjadikan rute jalan ini enak dilewati adalah karena pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan di beberapa penggal jalan, batang dan ranting di bagian atasnya menyatu. Membuat penggal jalan ini seperti sebuah lorong yang ditutup oleh atap warna hijau. Cahaya matahari pun menerobos di antara celah-celah batang dan dedaunan.

Saat kami tiba di bagian puncak pegunungan, cuaca berubah menjadi mendung dan hujan kecil mengguyur hingga saat kami menuruni pegunungan. Rute jalan dua lajur dua arah ini tampaknya memang menjadi pilihan para wisatawan yang ingin menikmati alam pegunungan. Terlihat dari cukup ramainya kendaraan yang datang dari kedua arah. Bukan saja karena di kaki pegunungan sebelah tenggara ada kota Cherokee, tetapi juga di kaki sebelah barat laut ada beberapa kota wisata seperti Gatlinburg, McCookville, Pigeon Forge, Dollywood dan Pine Grove.

Kota-kota di sisi barat laut pegunungan Great Smoky ini berada di wilayah negara bagian Tennessee yang mempunyai nama julukan “Volunteer State” dengan ibukotanya di Nashville. Tennessee, siang itu menjadi negara bagian ketujuh yang saya lintasi setelah pagi harinya melintasi South Carolina dan North Carolina.

Melewati kota-kota ini membuat kami semakin ketinggalan jarak dan waktu tempuh, karena di beberapa kota kecil yang sangat ramai wisatawan ini lagi-lagi kami mesti berjalan merayap. Tak terhindarkan, selain karena melewati rute ini memang sudah kami rencanakan sebelumnya, tetapi juga karena saya tidak melihat ada rute alternatif di sekitarnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(5).     Pejalan Kaki Yang Dimanjakan Di Gatlinburg

Gatlinburg menjadi kota pertama yang saya temui setelah menuruni pegunungan Great Smoky, satu diantara beberapa kota pariwisata di sisi barat laut pegunungan Great Smoky. Kota yang terletak pada elevasi sekitar 400 m di atas permukaan laut ini sebenarnya hanya berpopulasi sekitar 3.400 jiwa. Tetapi kota ini populer sebagai kota cendera mata yang hampir setiap harinya dipadati oleh wisatawan, lebih-lebih dalam liburan musim panas seperti ini. Entah bagaimana kota kecil ini bisa sedemikian menjadi pilihan tempat tujuan wisata.

Ada yang menarik ketika tiba di kota kecil Gatlinburg, yang menjelang sore hari Minggu, 2 Juli 2000 itu masih sangat padat dan ramai wisatawan. Jalan utama yang membelah kota wisata ini cukup dikendalikan dengan rambu lalulintas yang memperingatkan tentang batas kecepatan maksimum 25 mil/jam (sekitar 40 km/jam). Para pengendara yang sewaktu berada di rute pegunungan tadi sama-sama melaju kencang, tiba di kota ini serta-merta mengurangi kecepatan. Tanpa perlu dilambai-lambai oleh tangannya Pak Polisi, apalagi patungnya.

Kalau ditanya kenapa mereka bisa demikian patuh kepada aturan yang ada? Saya tidak tahu persis jawabannya. Saya hanya bisa menduga-duga, kemungkinan karena tradisi lebih mudah diatur (baca : disiplin) memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat mereka. Atau, kemungkinan lain karena mereka takut kepada disiplin penegakan aturan yang ketat. Artinya, sekali mereka melanggar aturan maka sangsi yang tidak ringan akan dikenakan kepada mereka dengan konsekuen. Kalaupun ini benar, maka ini adalah ketakutan yang edukatif.

Saya mencoba bercermin diri : Bagaimana dengan kita? Siapa takut……? Kelihatannya kita memang lebih berani. Berani bukan karena tidak takut, melainkan karena kita punya “kebiasaan” suka memperjual-belikan rasa takut. Sehingga tidak tampak lagi beda antara patuh dan tidak patuh, disiplin dan tidak disiplin. Ah, bisa jadi cermin yang saya gunakan keliru.

Setiap beberapa puluh meter di jalan utama kota Gatlinburg ini ada tempat penyeberangan jalan (zebra cross), yang di atas aspalnya ditulis dengan tulisan besar warna putih yang berbunyi “Dahulukan Pejalan Kaki”. Maka jika terlihat ada pejalan kaki yang turun dari trotoar hendak menyeberang, tidak ada alasan lain bagi setiap pengendara kendaraan yang datang dari kedua arah selain berhenti memberi kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang.

Menjadi pejalan kaki di Gatlinburg memang benar-benar dimanjakan dengan rasa aman. Untuk menjadi pejalan kaki di kota ini nampaknya tidak diperlukan ketrampilan menyeberang jalan. Kontradiktif (tanpa bermaksud membandingkan) dengan cerita kawan-kawan saya yang tinggal di Jakarta, dimana ilmu menyeberang jalan menjadi wajib dipelajari oleh kaum pendatang untuk bisa hidup selamat di Jakarta. Alih-alih mau turun dari trotoar, lha wong masih di atas trotoar saja sudah merasa tidak aman. Berebut jalan dengan para pemain tong setan yang karena tidak punya tong lalu pindah ke trotoar.

***

Setelah melewati beberapa kota wisata yang membuat kami tidak bisa melaju cepat, akhirnya kami ketemu lagi dengan jalan Interstate 40 yang menuju ke arah timur dan lalu berpindah ke Interstate 81 menuju ke arah timur laut. Di jalan bebas hambatan ini saya memberanikan diri memacu kendaraan dengan mencuri kecepatan di atas batas maksimum, agar bisa memperkecil ketertinggalan jarak dan waktu tempuh. Sebelum tiba di perbatasan dengan negara bagian Virginia, kami berbelok ke Highway 23 yang menuju ke kota Kingsport.

Kota Kingsport terletak menjelang perbatasan antara negara bagian Tennessee dan Virginia. Hari sudah mulai gelap saat saya tiba di kota ini, dan perjalanan ke arah utara dari kota ini hanya akan melalui kota-kota kecil. Ketika berhenti sebentar untuk mengisi BBM, saya minta persetujuan terutama kepada anak-anak bahwa perjalanan akan dilanjutkan sampai agak malam dan menginap dimanapun nanti kalau ketemu kota pertama yang sekiranya enak untuk diinapi. Ini karena mengingat bahwa kami semakin tertinggal dari jarak tempuh yang seharusnya bisa dicapai akibat beberapa kali jalan merayap ketika melewati jalur padat yang kurang saya perhitungkan sebelumnya.

Melaju dalam gelap di rute jalan yang relatif sepi, awalnya memang cukup mengasyikkan. Di sebelah menyebelah jalan di dataran agak tinggi tampak pemandangan kerlap-kerlip lampu-lampu rumah yang antara satu rumah dan lainnya saling berjauhan di keremangan senja hari. Sepi sekali memang. Tetapi semakin malam menjadi semakin membosankan karena tidak ada lagi pemandangan yang bisa dinikmati di wilayah paling ujung barat dari negara bagian Virginia. Negara bagian Virginia ini mempunyai nama julukan sebagai “The Old Dominion State” dengan kota Richmond sebagai ibukotanya.

Akhirnya kami tiba di kota kecil Jenkins yang berada di perbatasan antara negara bagian Virginia dan Kentucky. Dari kota ini perjalanan masih kami lanjutkan, karena melihat suasana kota yang menurut feeling kurang enak untuk disinggahi. Sekitar sejam kemudian kami lalu tiba di kota Pikeville, yang berada di wilayah negara bagian Kentucky. Kentucky adalah negara bagian kesembilan yang saya lintasi hingga hari kedua perjalanan kami, setelah sebelumnya melintasi Virginia. Negara bagian Kentucky mempunyai nama julukan “Bluegrass State” dengan ibukotanya di kota Frankfort.

Sejak dari kota Kingsport hingga Pikeville rute jalan yang kami lalui relatif mudah karena hanya mengikuti sepanjang rute Highway 23, sehingga tidak perlu bolak-balik melihat peta. Saat tiba di kota Pikeville ini waktu sudah menunjukkan lebih jam 10:00 malam. Kami lalu mencari hotel untuk menginap di pinggiran kota kecil ini setelah lebih dahulu mampir ke McDonald di downtown, sekedar mengisi perut.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(6).     Kelok Twin Falls Yang Memabukkan

Hari masih agak pagi ketika kami meninggalkan kota Pikeville selepas jam 9:00. Hari ini hari ketiga, Senin tanggal 3 Juli 2000, kami merencanakan untuk mencapai kota Wheaton di negara bagian Maryland yang terletak di sebelah utara ibukota Washington DC. Jarak yang mesti kami tempuh hari ini cukup jauh, sekitar 511 mil (atau sekitar 818 km), akibat dari ketertinggalan jarak tempuh sejak dua hari sebelumnya.

Di saat pagi hari ini kami baru melihat lebih jelas bahwa kota kecil berpenduduk sekitar 6.300 jiwa ini terletak di celah-celah perbukitan. Untuk pengembangan kotanya, masih terlihat di sana-sini bekas pekerjaan pemindahan tanah dengan memotong lereng-lereng bukit. Dari kota ini kami melaju ke arah timur laut, dan kota Williamson di perbatasan antara negara bagian Kentucky dan West Virginia adalah kota berikutnya yang kami tuju.

Kota Williamson yang berpopulasi sekitar 4.200 jiwa ini dikenal karena adanya lembah Tug yang mempunyai banyak ladang batubara. Di kota ini saya membelok ke arah timur ke jalan Highway 52, dan memasuki wilayah negara bagian West Virginia yang ibukotanya ada di Charleston. Negara bagian ini mempunyai nama julukan sebagai “Mountain State” dan ini adalah negara bagian kesepuluh yang saya lintasi.

Rute jalan ini banyak melalui kota-kota kecil yang nampak sepi, diantaranya Vaney, Mountain View dan Gilbert yang berpopulasi hanya sekitar 2.000 – 3.000 jiwa. Namun yang mengherankan ternyata di sana ada toko agen kendaraan (dealer mobil) dan terlihat mobil-mobil baru Ford berjejer di depan toko. Entah siapa pembelinya. Pertanyaan ini timbul karena sepintas saya melihat kota ini tidak terlalu padat dan tidak juga tampak sibuk dengan aktifitas bisnis.       

Dari peta terlihat bahwa perjalanan kami pagi itu masih akan terus melalui rute-rute sepi yang cukup panjang, jalan sempit dan berkelok-kelok, melewati beberapa kota kecil serta menerobos beberapa jalan State Road guna memperpendek jarak. Oleh karena itu selain menyiapkan peta agar mudah dilihat setiap saat, saya juga mesti memperhatikan rambu petunjuk jalan agar tidak kebablasan saat harus membelok di persimpangan jalan.

Mengikuti jalan-jalan di Amerika sebenarnya tidak terlalu sulit. Pada umumnya setiap jenis jalan mempunyai nomor, bahkan terkadang jalan kerikil atau tanah tak beraspal sekalipun. Pada setiap jarak tertentu akan terpasang rambu nomor jalan serta arahnya, selain rambu batas kecepatan.

Sebagai contoh, misalnya pada jalan yang membentang arah timur – barat, maka kalau saya menuju ke timur pada setiap jarak tertentu saya akan melihat rambu nomor jalan dengan tulisan “East”, demikian sebaliknya. Di setiap persimpangan jalan juga akan terpasang rambu yang menunjukkan nomor dan arahnya masing-masing.

Dengan demikian sepanjang saya bisa membaca peta dan tahu arah, rasanya tidak akan kesasar kalau saya jeli melihat rambu-rambu. Itu sebabnya dalam perjalanan ini saya sengaja membawa peta sekomplit mungkin dan melengkapi kendaraan dengan kompas. Jika sewaktu-waktu perubahan rute perlu dilakukan, maka akan memudahkan saya untuk mencari jalan alternatif serta memperkirakan jarak tempuhnya karena di peta yang saya bawa juga tertulis jarak antara setiap persimpangan dan antara kota.

***

Setiap pagi sebelum saya memulai perjalanan, semua peta dan buku panduan wisata untuk daerah-daerah yang akan saya lalui selalu saya siapkan di sebelah kanan dan kiri tempat duduk. Bahkan karena ibunya anak-anak kurang berpengalaman dalam urusan perpetaan (maklum, karena tidak pernah ikut kuliah Perpetaan) maka saya terpaksa berdwi-fungsi : ya sopir, ya navigator. Karena itu seringkali jika menjelang tiba di daerah-daerah yang agak rumit rute jalannya, peta-peta itu sudah saya lipat sedemikian rupa lalu saya letakkan di atas pangkuan sehingga bisa sambil nyopir sambil sesekali melirik peta.

Saya sangat sadar bahwa ini memang tindakan yang tidak aman dan tidak seharusnya saya lakukan karena terlalu riskan, terutama jika berada di kawasan yang lalu lintasnya padat dan cepat. Kalau sudah demikian biasanya saya tidak mau diajak ngomong karena khawatir konsentrasi terganggu. Anak-anak pun biasanya memahami hal ini. Resiko semacam ini terkadang saya ambil demi tidak mau kehilangan waktu untuk berhenti membuka-buka peta, selain karena memang tidak diperbolehkan berhenti di sembarang tempat.

Untuk menghindari hal ini apalagi jika di saat hari sudah gelap, seringkali rute jalan yang akan saya lalui lebih dahulu sudah saya hafalkan di luar kepala, termasuk nama jalan, arah, jumlah persimpangan dan tanda-tanda fisik seperti yang biasanya ada dalam peta situasi. Layaknya siswa SMP yang sedang belajar peta buta. Dalam hal ini kompas yang terpasang di mobil sangat membantu saya dalam bernavigasi. Kebiasaan ini terutama saya lakukan ketika masuk ke jalan-jalan di dalam kota.

Demikian pula karakteristik sistem berlalu lintas selalu menjadi observasi saya setiap kali masuk ke sebuah kota. Pada umumnya setiap kota mempunyai sistem lalu lintas yang sama, tetapi seringkali setiap kota mempunyai karakteristik untuk tanda-tanda tertentu yang mudah diingat, selain rambu lalu lintas yang memang standard. Seperti misalnya warna dan bentuk tulisan, penggunaan kata-kata tertentu, lokasi pemasangannya, dsb. Ternyata ini memang menguntungkan dan sangat membantu untuk beradaptasi dalam berlalu-lintas di kota itu.

***

Setiba di pertigaan di kota Gilbert, dari Highway 52 saya berbelok ke utara ke State Road (SR) 80, selanjutnya belok ke timur ke SR 10, dan belok lagi ke arah timur laut ke SR 16, hingga masuk ke Interstate 77 di sisi barat kota Beckley. Rute panjang sejak kota Williamson hingga Beckley sejauh 115 mil (sekitar 184 km) adalah jalur melalui lereng dan celah perbukitan. Rute jalannya cukup enak dan teduh karena melewati daerah pedesaan Amerika yang rimbun dengan pepohonan.

Melewati kota-kota kecil yang sepi, yang terkadang nyaris tampak seperti kota tak berpenghuni. Badan jalannya sendiri sebenarnya tidak terlalu lebar, berkelok-kelok tajam, terutama saat menyisir lereng selatan di perbukitan kawasan hutan lindung Twin Falls.

Enaknya, meskipun sudah ada rambu batas kecepatan maksimum, pada setiap tikungan tajam selalu ada rambu bantu batas kecepatan yang dianjurkan. Maka kalaupun mau mencuri kecepatan, dari jauh sudah bisa memperkiraan kira-kira mau “mencuri berapa km/jam” agar laju kendaraan masih aman dan terkendali saat memasuki tikungan. Mengemudi menjadi lebih enak karena umumnya setiap pengemudi patuh terhadap rambu lalulintas.

Betapapun kendaraan beriringan panjang dan yang paling depan berjalan lambat misalnya, kalau di bagian tengah aspal jalan masih bertanda garis penuh warna kuning, maka tidak satupun ada yang berusaha menyalip. Tetapi begitu garis kuning pemisah lajur berubah menjadi garis putus-putus, maka mulailah kendaraan yang lebih cepat berusaha menyalip.

Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika sopir bis-bis jurusan Malang – Surabaya mutung (ngambek), mogok narik penumpang gara-gara Pak Polisi menerapkan aturan soal garis kuning pemisah lajur ini. Akhirnya, Pak Polisi yang kemudian mengalah, dan garis kuning tetap ada di sana, tidak dihapus. Lha ya siapa yang mau menghapus cat kuning di tengah jalan antara Malang dan Surabaya. Jadi? Aturan berlalu-lintas dibuat dan tidak untuk dipatuhi?. Saya percaya ini hanya kasus, dan tentunya tidak dapat untuk menggeneralisir.       

***

Melaju dengan kecepatan antara 45-55 mil/jam (sekitar 72-88 km/jam), melewati tikungan-tikungan tajam memang cukup mengasyikkan. Badan pun ikut meliuk-liuk berlawanan arah dengan gerakan kendaraan. Awalnya menyenangkan, tapi lama-lama anak-anak mulai protes karena duduknya jadi tidak nyaman. Semakin lama anak-anak mulai tidak terdengar suaranya, dan saya merasa semakin menikmati liukan-liukan menyusuri rute berkelok-kelok. Sekitar dua setengah jam saya habiskan melalui rute ini, hingga mendekati kota Beckley.

Menjelang masuk kota Beckley, anak laki-laki saya yang berumur 7 tahun mengeluh perutnya mual dan sakit. Wah, barulah saya sadar. Pantesan sejak tadi tidak ada suaranya, pasti karena menahan rasa tidak enak di perutnya. Rupanya mabuk kendaraan akibat jalan yang meliuk-liuk tadi. Tanpa pikir panjang, begitu terlihat ada warung McDonald, langsung saja belok dan parkir. Saat itu juga anak saya membuka pintu mobil, dan ……semua isi perutnya dimuntahkan. Bekal minyak kayu putih pun segera difungsikan. Asli lho…., sisa dari membeli di pasar Sentul Yogya dua tahun yang lalu.

Kami lalu beristirahat agak lama di daerah ini, sekalian makan siang dan mengendurkan otot-otot kaki yang tegang sejak dua setengah jam tadi bermain gas dan rem, tanpa kopling dan persneling. Seperti umumnya mobil di Amerika yang menggunakan sistem pemindah gigi otomatis. Barangkali disesuaikan dengan kebutuhan orang Amerika yang ingin serba praktis dan tidak suka repot. Kalau memang memudahkan, kenapa tidak?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(7).     Jalur Lintas Angkasa Di Pegunungan Blue Ridge

Usai istirahat di pinggir kota Beckley, perjalanan hari Senin siang itu kami lanjutkan dengan menyusuri jalan Interstate 64 (I-64), lalu pindah ke I-81 dan menyambung kembali ke I-64 menuju arah timur. Sekitar dua setengah jam kami melewati jalan bebas hambatan sehingga bisa melaju lebih cepat sambil sesekali mencuri batas kecepatan maksimum. Akhirnya tiba di kota kecil Waynesboro dan kembali kami berada di wilayah negara bagian Virginia.

Dari kota Waynesboro ini selanjutnya saya masuk ke jalur pegunungan Blue Ridge melalui pintu selatan dari penggal jalur jalan yang disebut dengan skyline drive (jalur lintas angkasa). Disebut demikian barangkali karena jalur sepanjang 105 mil (sekitar 168 km) ini menyusuri gigir puncak pegunungan Blue Ridge (Blue Ridge Parkway) yang membentang utara – selatan, yang beberapa puncaknya berada pada ketinggian lebih 1.800 m di atas permukaan air laut.

Di kota Staunton, sekitar 10 km sebelum tiba di Waynesboro saya sempat berhenti istirahat sebentar, sambil mencoba menghubungi Mas Prapto Supeno via tilpun. Sekedar ingin mengkonfirmasi bahwa saya sudah dalam perjalanan menuju ke kotanya, dan secara hitung-hitungan sekitar jam 8:30 malam baru akan tiba di Wheaton.

***

Rute panjang pegunungan Blue Ridge (Blue Ridge Parkway) sendiri tepatnya berada membentang antara Taman Nasional Senandoah di sebelah utara hingga Taman Nasional Great Smoky Mountain di sebelah selatan, dengan panjang keseluruhan sekitar 469 mil (sekitar 750 km). Karena itu memasuki jalur skyline drive dari Waynesboro berarti saya berada di pintu masuk Taman Nasional Shenandoah sebelah selatan yang disebut dengan Rockfish (South) Entrance Station.

Sebagai pemegang kartu National Park Pass, saya bisa langsung memasuki Taman Nasional Shenandoah dengan tanpa perlu membayar uang masuk yang besarnya US$10 per kendaraan.

Wilayah hutan liar Shenandoah yang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu Taman Nasional pada tanggal 26 Desember 1935 mempunyai luas areal sekitar 794 km2. Di wilayah hutan liar ini masih banyak dijumpai jenis-jenis binatang seperti beruang hitam, rusa dan kalkun liar, yang hidup di antara hutan tanaman oak-hickory. Pada musim-musim tertentu wilayah hutan ini menjadi tempat berburu, terutama untuk berburu kalkun liar.

Setiap tahun Taman Nasional Shenandoah dikunjungi oleh tidak kurang dari dua juta wisatawan yang umumnya memilih jalur skyline drive. Jalur lintas angkasa ini menjadi sangat ramai terutama pada liburan musim panas (sekitar bulan Juni – Juli) dan pada musim gugur (sekitar pertengahan bulan Oktober) saat daun-daun berubah warna menjadi kuning kemerah-merahan. Di saat musim dingin jalur skyline drive ini biasnya tertutup salju, oleh karena itu ditutup untuk umum. 

Jalan dua lajur dua arah ini cukup mulus, berkelak-kelok tidak terlalu tajam, dan dapat dilalui dengan kecepatan maksimum 35 mil/jam (sekitar 55 km/jam). Di sepanjang jalur skyline drive ini, di beberapa tempat terdapat lokasi-lokasi untuk menikmati pemandangan (overlook). Bentang alam berupa lembah, ngarai serta pegunungan berada di seberangnya, tampak di sebelah menyebelah jalan.

Saat itu cuaca cukup cerah dan matahari sore masih enak dinikmati. Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar turut menikmati suasana alam berbeda di daerah ini. Namun tidak berarti selamanya akan demikian, karena di sebelah timur laut sudah tampak awan gelap yang sewaktu-waktu siap bergerak turun membawa hujan.

Benar juga, setelah sekitar satu jam bergerak santai menyusuri jalur lintas angkasa di pegunungan Blue Ridge ini, hujan mulai turun rintik-rintik dan angin dingin berhembus agak kencang. Akhirnya hujan deras mengguyur disertai angin kencang ketika kami sedang beristirahat di ruang pusat pengunjung (visitor center) sambil melihat-lihat toko cendera mata di daerah yang disebut Big Meadows. Tempat ini berada kira-kira di pertengahan jalur skyline drive yang berada pada elevasi  sekitar 1.060 m di atas permukaan laut.

Setelah beberapa saat ditunggu ternyata hujan tidak juga mereda, sementara hari mulai menjelang gelap, akhirnya saya nekad berlari menuju tempat parkir menerobos hujan untuk mengambil payung hitam yang kebetulan kami bawa. Satu per satu pun anak-anak dan ibunya saya bawa menerobos hujan deras menuju ke dalam kendaraan, agar bisa secepatnya melanjutkan perjalanan. Tak terhindarkan lagi, baju di badan pun basah oleh air hujan.

Segera perjalanan kami lanjutkan untuk keluar dari Taman Nasional Shenandoah melalui pintu utara yang disebut dengan Front Royal (North) Entrance Station. Terpaksa tidak bisa membawa kendaraan melaju lebih cepat, khawatir akan kondisi jalan yang licin dan pandangan ke depan yang agak terhalang oleh kabut dan hujan deras.   

***

Sekitar jam 19:00 kami baru keluar dari Taman Nasional ini. Sebenarnya hari belum gelap kalau saja tidak turun hujan. Perjalanan terus kami lanjutkan menuju timur ke arah kota Washington DC sejauh sekitar 125 km melalui Highway 211 dan 29 yang kemudian masuk ke Interstate 66. Melihat hujan masih saja belum mereda meskipun tidak lagi terlalu deras, saya tidak berani melaju dengan kecepatan maksimum. Saya mulai memperhitungkan bahwa pasti akan terlambat tiba di kota Wheaton. Ya, apa boleh buat, lebih baik agak berhati-hati.

Menjelang pukul 22:00 malam, saya baru tiba di jalan lingkar barat kota Washington DC. Di Intersate 495 ini saya langsung saja menyusur ke utara, lalu melingkar ke timur di sisi utara Washington DC, dan akhirnya exit menuju ke arah kota Wheaton yang berada di wilayah negara bagian Maryland. Maryland yang mempunyai nama julukan sebagai “Old Line State” dengan ibukotanya di kota Annapolis adalah negara bagian kesebelas yang saya lintasi hingga hari ketiga ini, setelah sebelumnya melintasi negara bagian West Virginia.

Kota Wheaton yang berpopulasi sekitar 50.000 jiwa ini berjarak hanya sekitar 15 km dari pusat kota Washington DC. Daerah Wheaton menjadi semacam daerah penyangga bagi ibukota Washington DC, yang barangkali bisa saya andaikan seperti halnya Depok, Bekasi atau Tangerang terhadap Jakarta.

Lebih pukul sepuluh malam, kami baru tiba di rumah Mas Prapto Supeno. Gerimis masih membasahi kota Wheaton yang malam itu sudah tidak terlalu ramai. Rupanya Mas Supeno dan kedua putra-putrinya sudah menunggu-nunggu sejak tadi. Ya maklum, akibat hujan deras sejak di Taman Nasional Shenandoah sore harinya kami jadi tidak berani bergerak lebih cepat.

Malam ini kami menginap di rumah Mas Supeno yang adalah teman lama di Yogya karena pernah sama-sama sebangku kuliah di jurusan Tambang. Hanya saja Mas Supeno memilih meninggalkan bangku kuliah sebelum selesai untuk mengadu nasib di sebuah negeri besar yang bernama Amerika ini. Dan kelihatannya aduannya berhasil, tentu menurut ukuran orang yang harus merangkak dari awal berjuang hidup di negeri orang, di sektor non-formal yang tidak ada kaitannya dengan dunia pertambangan.

Segera saja kedua anak saya berbaur dengan kedua anak Mas Supeno yang ternyata sebaya. Belakangan saya baru melihat sendiri bahwa ternyata kawan lama saya ini tidak saja berjuang mencari hidup di negeri orang tetapi juga menjadi single parent (orang tua tunggal) untuk kedua orang putri dan putranya, sejak istrinya tercinta mendahului menghadap kepada Yang Maha Kuasa tahun lalu akibat penyakit kanker yang dideritanya. Sungguh saya sangat menghargai perjuangan kerasnya. Sebuah sisi lain dari kehidupan manusia yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(8).     Antri Memasuki Gedung Putih

Hari ini, Selasa 4 Juli 2000, adalah hari ulang tahun Amerika (Independence Day) ke 224. Kami merencanakan untuk mengunjungi Gedung Putih (The White House) pagi itu bersama-sama dengan keluarga Mas Supeno. Lalu siangnya jalan-jalan di ibukota Washington DC, yang biasanya cukup disebut DC saja (singkatan dari District of Columbia), barangkali untuk membedakannya dengan negara bagian Washington yang ada di ujung barat laut Amerika.

Dari informasi yang telah saya kumpulkan sebelumnya, hari ini Gedung Putih akan buka sebagaimana biasanya. Hanya saja khusus hari ini tidak diperlukan pengambilan tanda masuk terlebih dahulu, melainkan diterapkan sistem first come, first serve (dulu-duluan datang), langsung ke pintu samping timur Gedung Putih.

Sepanjang tahun Gedung Putih memang terbuka untuk umum dan boleh dikunjungi oleh siapa saja, dari hari Selasa hingga Sabtu, sedang hari Minggu dan Senin tutup. Benar-benar untuk umum karena tanda masuk dapat diperoleh dengan gratis. Tentu ada tata tertib yang harus dipatuhi. Biasanya pengambilan tanda masuk dibuka antara jam 10:00 hingga jam 12:00 siang.

Menjelang jam 10:00 pagi kami berangkat dari Wheaton menuju jantung kota Washington DC yang hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Barangkali karena Selasa ini hari libur nasional, sehingga lalulintas relatif cukup lancar. Akan tetapi justru di sekitar Gedung Putih menjadi ramai karena ternyata sudah banyak wisatawan yang lebih dahulu berada di sana.

Setelah putar-putar kesulitan mencari tempat parkir di dekat Gedung Putih, akhirnya memperoleh tempat parkir yang agak jauh. Perlu 15 menit lagi untuk berjalan kaki menuju Gedung Putih. Itupun dengan berjalan kaki agak cepat karena khawatir keburu pintu masuk Gedung Putih tutup lebih awal mengingat banyaknya pengunjung.

Tiba di Jalan Pennsylvania Avenue 1600 dimana Gedung Putih berada , ternyata antrian panjang sudah melingkar di sana. Kepalang sudah datang jauh-jauh dan memang salah satu tujuannya adalah untuk mengunjungi sebuah gedung sangat terkenal yang memang bercat putih ini, maka kami pun menyambung di ekor antrian. Saya perkirakan panjang antrian di depannya sudah lebih lima ratus meter. Saat itu sudah menjelang jam 11:00 siang. Dugaan saya sebelumnya benar, sekitar jam 11:30 antrian sudah di putus oleh petugas. Pengunjung sudah tidak diperkenankan lagi menyambung di ekor antrian.

Antrian bergerak cukup cepat, hingga hanya sekitar setengah jam kami sudah sampai di pintu gerbang pemeriksaan seperti kalau mau masuk ke bandara. Seperti biasa, perlengkapan fotografi tidak diperkenankan untuk digunakan selama berada di dalam gedung, tapi tetap boleh dibawa masuk. Hampir di setiap sudut bangunan berdiri petugas penjaga yang berpenampilan cukup bersahabat dan bahkan siap menjawab dengan ramah setiap pertanyaan pengunjung (saya tidak menyebutnya petugas keamanan karena biasanya yang saya sebut terakhir ini cenderung berpenampilan angker dan digalak-galakkan).

Meskipun demikian toh petugas penjaga ini tetap berlaku tegas. Ini tampak ketika ada seorang pengunjung yang entah sengaja entah tidak, duduk di sebuah kursi di ruang pertemuan kenegaraan yang disebut Red Room (karena memang warna merah mendominasi dekorasi ruangan tersebut) yang jelas-jelas ada tertulis larangan untuk mendudukinya.

Ketika ditegur, ternyata sang pengunjung yang kelihatannya pendatang dari Asia ini malah cengengesan bersama teman-teman rombongannya dan tidak sedikitpun menunjukkan sikapnya bahwa dia telah melakukan hal yang salah. Merasa tegurannya tidak diindahkan, maka langsung saja pengunjung nekad ini digandeng dengan cara yang sopan (baca : tidak kasar) oleh sang petugas penjaga dan dibawa keluar. Tidak diapa-apakan, cuma diperingatkan dan setelah itu disuruh menunggu di luar.

***

Sejak lebih 200 tahun yang lalu, Gedung Putih (the White House) berdiri sebagai simbol kepresidenan, simbol pemerintah Amerika Serikat dan simbol bagi rakyat Amerika. Peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan oleh presiden pertama Amerika, George Washington, pada bulan Oktober 1792. Tetapi justru George Washington sendiri tidak pernah menempati gedung ini.

Baru pada tahun 1800, presiden kedua, John Adams menempati gedung baru ini untuk yang pertama kali. Gedung baru ini selanjutnya menjadi tempat kediaman resmi presiden Amerika, dan sejak itu pula setiap Presiden Amerika melakukan perubahan dan penambahan atas Gedung Putih sesuai dengan selera, kebutuhan dan tuntutan perkembangan bangsa Amerika.

Gedung Putih yang bertingkat tiga ini ternyata mempunyai sejarah yang unik. Berhasil dibangun kembali pada tahun 1817 setelah dibakar bangsa Inggris tahun 1814. Kebakaran terjadi lagi di Sayap Barat tahun 1929 setelah sebelumnya dilakukan pelebaran Ruang Santap Malam dan penambahan ruangan untuk staff kepresidenan. Setiap presiden bebas mengekspresikan sentuhan pribadinya dalam mendekorasi ruangan-ruangan Gedung Putih, dan juga dalam cara mereka menerima kehadiran masyarakatnya yang ingin sowan ke Gedung Putih.

Thomas Jefferson (presiden ketiga) mengadakan open house pertama kali tahun 1805. Setiap warga yang hadir dapat dengan bebas memasuki tempat kediamannya hingga ke Ruang Biru (Blue Room), dan sejak saat itu Gedung Putih terbuka untuk dikunjungi masyarakat umum. Hingga pada setiap acara resepsi tahunan Tahun Baru dan Ulang Tahun Kemerdekaan 4 Juli, gedung ini sangat ramai dipadati pengunjung. Andrew Jackson (presiden ke-7) pernah kabur demi alasan keamanan akibat membludaknya pengunjung acara inagurasi di Gedung Putih.

Saat inagurasi Abraham Lincoln (presiden ke-16), Gedung Putih semakin tidak mampu menampung pengunjung. Baru sejak open house yang digelar Bill Clinton (presiden ke-42) pada 21 Januari 1993, tradisi inagurasi Gedung Putih diubah. Hanya dua ribu warga yang diterima di Ruang Resepsi melalui sebuah undian.  

Memasuki Gedung Putih melalui pintu timur yang disebut East Executive Avenue, setelah melewati ruang pemeriksaan, maka akan langsung menuju ke koridor lantai paling bawah. Tampak dari lorong ini halaman dan taman yang tentunya mempunyai kisahnya sendiri, diantaranya tanaman magnolia yang ditanam Andrew Jackson, lalu Taman Jacqueline Kennedy di sebelah timur dan Taman Rose di sebelah barat.

Halaman Gedung Putih ini ternyata dirawat mengikuti tradisi klasik yang dibuat oleh sebuah biro jasa arsitektur lanskap tahun 1935. Di sepanjang koridor ini bergantung foto-foto para presiden dan ibu negara. Juga dapat disaksikan berbagai contoh piring dan perlengkapan makan yang pernah digunakan oleh presiden sebelumnya dalam menjamu para tamu.

Kemudian kami sampai ke Ruang Perpustakaan sebelum naik ke tingkat yang pertama yang disebut State Floor. Di seberang tangga nampak beberapa ruang khusus yang hanya boleh dilihat melalui pintu, yaitu Vermeil Room dan China Room, juga Diplomatic Reception Room. Ruang pertama di lantai satu adalah East Room yang merupakan ruangan terbesar di Gedung Putih yang biasanya digunakan untuk resepsi, acara perayaan, konferensi pers, dsb.

Selanjutnya memasuki Green Room yang furniturnya dibuat di New York tahun 1810, dindingnya ditutup kain sutera hijau, meja makannya dilapisi marmer Italia yang dibeli tahun 1818. Ruangan ini digunakan oleh Thomas Jefferson sebagai ruang santap malam. Ceret kopi milik John Adams ada di sini, juga tempat lilin dari Perancis milik James Madison (presiden ke-4).

Kemudian kami memasuki ke Blue Room yang berbentuk oval yang sering digunakan untuk menerima tamu. James Monroe (presiden ke-5) melengkapi ruangan ini setelah kebakaran tahun 1814, termasuk tujuh kursi dan satu sofa buatan Perancis. Di tempat ini tergantung foto-foto dari John Adams, Thomas Jefferson, James Monroe dan John Tyler (presiden ke-10). Warna biru pertama kali digunakan selama pemerintahan Martin Van Buren (presiden ke-8) tahun 1837.

Dari Blue Room lalu melewati Red Room yang merupakan ruangan favorit para ibu negara mengadakan resepsi-resepsi kecil, sebelum masuk ke ruangan besar State Dining Room di ujung paling barat. Ruangan khusus untuk acara makan malam dan makan siang yang terakhir direnovasi tahun 1902 ini mampu menampung 130 orang tamu. Dari ruangan ini selanjutnya pengunjung keluar melalui pintu sebelah timur laut.

Tingkat dua dan tiga adalah tempat kediaman presiden dan keluarganya, serta ruang kerja tempat para presiden Amerika mengendalikan pemerintahannya. Sudah barang tentu tidak boleh dilongok oleh para pengunjung, apalagi dimasuki. Selain menyaksikan ruang-ruang utama yang secara umum mengekspresikan kesan klasik, artistik dan anggun, juga dapat dijumpai berbagai dekorasi karya seni dan benda-benda kenangan lainnya.

Sekitar satu jam diperlukan untuk menikmati salah satu kebanggaan rakyat Amerika ini. Kebanggaan yang sama dirasakan oleh setiap pengunjung yang sempat menyaksikan secara langsung seperti apa Gedung Putih itu. Masyarakat Amerika juga bangga, karena Gedung Putih yang memiliki 132 ruangan, 32 kamar mandi, 412 pintu, 147 jendela dan setiap hari dikunjungi oleh sekiat 6.000 orang pengunjung, kini menjadi satu-satunya tempat kediaman presiden yang terbuka untuk dikunjungi oleh masyarakat umum dengan tanpa dipungut bayaran. 

Pertanyaan yang kemudian melintas dipikiran saya adalah, apakah masyarakat Gunung Kidul sana juga pernah merasakan kebanggaan yang sama terhadap Istana Merdeka di jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta? Ah, yo embuh…, wong ndak setiap orang boleh masuk kesana……..- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(9).     Mengunjungi Musium Smithsonian

Siang hari setelah keluar dari Gedung Putih, masih di hari Selasa, 4 Juli 2000, kami berjalan kembali menuju tempat parkir kendaraan yang agak jauh. Di depan Gedung Putih ada taman atau alun-alun yang disebut Lafayette Square, dan kami berjalan memutari alun-alun ini tidak sebagaimana ketika datang langsung memotong di bagian tengahnya karena memburu waktu.

Dari Gedung Putih kami langsung menuju ke kompleks musium Institut Smithsonian yang membentang di sebelah utara dan selatan jalur lapangan rumput sepanjang lebih 1,5 km antara jalan 1st Street di sebelah timur dan 14th Street di sebelah barat. Di kedua ujung lapangan rumput ini berdiri megah Gedung Capitol di ujung timur dan Monumen Washington di ujung barat. Di pinggiran jalur hijau ini ditumbuhi banyak pepohonan pelindung sehingga terkesan teduh dan berhawa menyegarkan.

Bangunan-bangunan di kompleks Institut Smithsonian yang umumnya berupa bangunan kuno yang masih megah dan kokoh ini antara lain terdapat National Museum of Natural History, National Museum of American History, National History of Art, National Museum of African Art, Arthur M. Sackler Gallery, Freer Gallery of Art, Arts and Industries Building, Hirshhorn Museum and Sculpture Garden, National Air and Space Museum, National Archives, National Postal Museum, Anacostia Museum, dsb.

Masih ada dua musium lainnya yang berlokasi di kota New York, yaitu Cooper-Hewitt, National Design Museum dan National Museum of the American Indian’s George Gustav Heye Center. Untuk memasuki museum-museum yang berada di Washington DC tidak dikenakan biaya, hanya National Design Museum yang berada di New York saja yang mengenakan ongkos masuk.

Institut Smithsonian berdiri pada tanggal 10 Agustus 1846. Smithsonian berasal dari nama seorang ilmuwan Inggris James Smithson yang sangat berjasa dalam upayanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat Amerika masa itu, dan bahkan hingga kini. Dalam perkembangannya kini Institut ini telah banyak dimanfaatkan oleh para peneliti dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu serta telah menghimpun lebih dari 140 juta benda-benda sejarah, contoh-contoh temuan ilmiah, karya-karya seni, dsb. 

Di antara 14 musium di kompleks Institut Smithsonian ini, National Museum of Natural History adalah yang paling banyak diminati pengunjung, paling atraktif serta tersedia berbagai fasilitas umum. Museum ini telah menjadi narasumber untuk berbagai penelitian, koleksi dan pameran khususnya dalam bidang biologi, ilmu kebumian dan antropologi. Ke musium inilah siang itu kami berkunjung setelah berjalan cukup jauh dari lokasi parkir, menyusuri tepian jalur lapangan rumput yang cukup teduh.  

Di musium yang terdiri dari tiga lantai ini antara lain dapat dijumpai jejak kehidupan di bumi melalui berbagai temuan fosil tumbuhan dan hewan seperti mamalia, dinosaurus, reptil, serangga, burung, serta kehidupan laut purba, yang juga dilengkapi dengan laboratorium fosil. Budaya bangsa-bangsa di dunia juga dapat ditelusuri melalui eksibisi budaya Asia dan Afrika, budaya Barat, budaya asli bangsa Amerika serta Amerika Selatan. Termasuk eksibisi legenda ekspedisi Viking di Amerika Utara.

Peristiwa sejarah jaman es serta kehidupan awal di bumi, dan temuan-temuan geologi, batu permata serta mineral juga tersaji dengan lengkap dan sangat menarik. Diantaranya yang menarik adalah temuan mineral baru yang diberi nama smithsonite yang komposisinya berupa zinc carbonate. Penamaan ini sebagai penghargaan atas temuan James Smithson pada tahun 1802. Warna dari mineral ini tergantung pada kandungan unsurnya, akan berwarna merah jambu jika mengandung cobalt dan berwarna biru atau hijau jika mengandung tembaga. Ini menjadikan batu smithsonite tampak indah oleh tampilan warnanya.

Selain itu, yang juga banyak dikerubuti pengunjung adalah pameran batu-batu berlian yang diberi nama hope diamond dan ditempatkan di dalam bungkus ruang kaca (barangkali anti peluru, saya lupa menanyakan saking ikut larut dalam pesona kemilaunya).

Tidak terasa waktu bergulir semakin sore. Beberapa bagian dari museum ini hanya sempat saya lewati sambil lalu saja. Rasanya tidak akan cukup waktu mengelilingi musium ini hanya dalam satu dua jam, jika ingin mengetahui lebih dalam tentang berbagai hal menarik yang dipamerkan. Belum lagi harus dengan sabar menjawab pertanyaan anak-anak yang bahkan saya sendiri sering tidak tahu jawabannya. Tapi mungkin itulah salah satu gunanya musium, untuk mencari jawaban atas banyak pertanyaan.

***

Saya mengenal nama Musium Smithsonian sejak kira-kira 3 tahun yang lalu. Waktu itu saya mendapat tawaran untuk menjadi anggota Institut Smithsonian dan berlangganan majalah yang juga bernama sama. Tertarik dengan isi majalahnya, maka tawaran itu saya terima dan untuk itu saya membayar US$24 untuk satu tahun keanggotaan.

Waktu itu meskipun saya memegang Kartu Anggota, tetapi sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk pada suatu saat akan berkesempatan mengunjungi kompleks musium dimana saya adalah satu dari sekian ribu anggotanya. Kini ada terselip rasa bangga, bahwa akhirnya saya sempat berkunjung ke kompleks musium yang berpusat di kota Washington DC ini. Meskipun tentu saja saya tidak memiliki cukup waktu untuk dapat mengunjungi semuanya yang ada di kompleks Institut Smithsonian ini.

Di Amerika, musium merupakan salah satu tempat tujuan wisata. Maka tidak heran kalau di brosur-brosur promosi pariwisata, tidak hanya wisata alam saja yang tampak menonjol dipromosikan melainkan juga termasuk wisata musium. Pengunjungnya pun tidak hanya dari kalangan tertentu (masyarakat sekolahan, misalnya), melainkan juga para orang-orang tua. Terlebih di musim liburan seperti saat liburan musim panas kali ini, musium adalah salah satu tempat yang ramai dikunjungi wisatawan.

Sangat berbeda sekali dengan apa yang saya jumpai di Indonesia. Sejak SD saya sudah mengenal bahwa di Jakarta ada musium di Gedung Gajah, tapi ya sekedar hafal namanya saja. Rasa-rasanya juga sangat sedikit warga Jakarta yang dapat bercerita banyak tentang musium ini, selain sebuah gedung yang di depannya ada patung gajahnya. Itu saja. Apalagi musium-musium di daerah yang belum dikenal. Masih lebih baik kalau pernah dikunjungi peserta study tour siswa sekolah.

Untuk sekedar mengambil contoh, di daerah Bintaran Wetan, Yogyakarta, ada Musium Jendral Sudirman. Kalau saya pulang ke Yogya, hampir setiap hari melewati tempat ini karena kebetulan tidak jauh dari rumah mertua. Herannya, setiap kali saya melewatinya seringkali saya lupa bahwa di situ ada musium.

Banyak mahasiswa yang kost di sekitar situ yang juga tidak tahu bahwa ada musium yang sangat bernilai kejuangan di sekitar tempat tinggalnya. Tidak jauh dari sana ada Musium Biologi. Musium yang ini malah nyaris tidak terlihat bentuknya.

Tahun 1978 ketika saya masih di bangku SMA di Kendal, saya pernah menerima kartu pass untuk masuk Musium Zoologi di Bogor, sebagai salah satu penghargaan menang lomba karya tulis. Ketika di tahun yang sama saya punya kesempatan untuk liburan ke Bogor, kesempatan untuk mengunjungi Musium Zoologi yang ada di kawasan Kebun Raya ini tidak saya sia-siakan. Ternyata banyak hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya ada di dalam sana. Sebenarnya cukup menarik untuk dikunjungi dan menambah wawasan. Tetapi kenapa tidak banyak yang tahu tentang musium ini? Saya pun baru tahu karena kebetulan punya kartu pass dan sempat mengunjunginya.

Saya jadi penasaran, dulu di lingkungan kampus Tambak Bayan UPN “Veteran” Yogyakarta pernah berdiri Musium Teknologi Mineral. Mudah-mudahan musium yang dibangun menempati bekas gedung perpustakaan serta pernah dibanggakan sebagai satu-satunya musium teknologi mineral itu kini masih ada yang ngurip-uripi (menghidup-hidupi) keberadaannya dan masih diminati pengunjung, minimal oleh mahasiswanya sendiri.

Terkadang saya heran pada diri sendiri. Terhadap musium di luar negeri yang waktu itu sama sekali tidak saya bayangkan seperti apa bentuk dan isinya, saya rela menjadi anggota dan membayar uang keanggotaan. Tetapi terhadap musium di negeri sendiri saya justru tidak mudah memperoleh informasi yang lengkap, akibatnya menjadi tidak tergerak untuk turut merasa terlibat atau memiliki.

Sepertinya ada sesuatu yang terputus. Musium (termasuk sarana dan medianya) yang memang tidak menarik, atau masyarakatnya (termasuk saya) yang memang tidak tertarik. Rasanya perlu ada jembatan yang menghubungkan kedua ujung yang masih terputus itu. Sebab ini adalah potensi ekonomi yang kalau di Amerika dapat mendatangkan pemasukan guna tujuan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Barangkali saja karena belum ada yang “sempat” memikirkan bagaimana mengemas benda-benda kuno agar juga bernilai rekreatif. Bagaimana mengenalkan kepada masyarakat bahwa ada tambahan ilmu yang bernilai tinggi di sana, ada sumber inspirasi yang membangkitkan semangat, atau setidak-tidaknya ada sesuatu yang enak dilihat, dinikmati, dikenang dan dibanggakan.

Dengan demikian akan menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat yang pada gilirannya akan tertarik untuk datang dan “membeli”. Atau, jangan-jangan malah jenis pekerjaan semacam ini sendiri yang memang tidak atraktif dan tidak bernilai ekonomis?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(10).    Menikmati Ikan Bakar, Lalapan Dan Sayur Asam

Matahari sudah lengser ke barat, dan sekitar jam 4 sore kami segera bergegas meninggalkan kompleks Musium Smithsonian dengan tujuan untuk kembali menuju kota Wheaton. Kembali kami menyusuri pinggir utara lapangan rumput yang lumayan tidak terlalu panas dengan banyaknya ditumbuhi pepohonan. Dari kejauhan terdengar bunyi musik dari berbagai konser musik yang sedang digelar di beberapa panggung yang ada di lapangan.

Pertunjukan musik sepanjang hari itu memang bagian dari perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika. Maka tidak heran kalau arena di sekitar lapangan hijau itu banyak dipadati pengunjung. Tidak ketinggalan pedagang kaki lima (tapi pakai mobil) yang turut meramaikan suasana di sepanjang pinggiran jalan.

Siang hari tadi sebenarnya juga ada berbagai atraksi lain, diantaranya karnaval atau parade hari kemerdekaan, parade militer, pembacaan naskah “Declaration of Independence”, dsb. Sore dan malam harinya juga akan digelar berbagai atraksi antara lain konser musik oleh National Symphony Orchestra dan pesta kembang api di Monumen Washington yang baru direnovasi.

Hanya yang agak mengherankan saya, dari daftar agenda acara dalam rangka perayaan kemerdekaan Amerika ini saya tidak menemukan ada upacara pengibaran bendera secara nasional yang kalau di Indonesia justru menjadi acara inti. Di Amerika, acara semacam upacara bendera ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan tertentu dan terbatas, karena itu tidak pernah dijumpai arak-arakan anak sekolah, pramuka, hansip, pegawai negeri, tentara, kelompok pemuda ini-itu, pam swakarsa, dsb. yang memenuhi jalanan umum menuju lapangan upacara. Memang, lain ladang lain belalang. Beda negara tentu beda sejarah perjuangannya, karena itu juga beda tradisi dan tata caranya.

***

Cuaca siang itu cukup panas, maka kamipun cepat-cepat saja berjalan menuju ke lokasi parkir kendaraan yang jaraknya agak jauh dari lokasi musium yang baru kami kunjungi. Lama-lama terasa capek juga, apalagi anak-anak. Baru ingat kalau kami belum makan siang. Sesuai rencana, kami akan makan siang di Wheaton. Kata Mas Supeno, di sana ada restoran Indonesia.

Wah, memang ini yang dicari-cari. Serasa tidak sabar segera ingin mencapainya. Sebenarnya rencana semula begitu tiba di Wheaton tadi malam akan langsung makan di restoran Indonesia. Sayangnya saat tiba di Wheaton sudah kemalaman, sehingga restoran sudah tutup.

Mendengar kata restoran Indonesia, rasanya sudah tidak perlu lagi ditanyakan masakannya enak apa tidak. Setidak enak – tidak enaknya masakan di restoran Indonesia, kalau sudah lebih setahun tidak menjumpainya ya pasti akan terasa enak juga. Terbayang sudah, berbagai menu kampung yang sudah luuuamaaa….. tidak ketemu.

Meninggalkan jantung kota Washington DC melalui jalan 16th Street seperti waktu berangkatnya, melaju lurus ke utara hingga menyatu ke jalan Georgia Avenue, memotong jalan lingkar utara Interstate 495 hingga tiba kembali di Wheaton. Sepanjang jalan 16th Street banyak dijumpai rumah-rumah yang berupa bangunan-bangunan kuno yang tampak masih sangat terpelihara dengan baik. Tentu ini memberikan pemandangan yang khas berkesan kota kuno.

Hal yang sama juga kami jumpai di jantung kota Washington DC dimana banyak bangunan-bangunan kuno berkonstruksi menjulang tinggi yang masih difungsikan dan terpelihara dengan baik. Daerah di sekitar pusat kota ini terkesan tidak terlalu sibuk dan relatif enak dijelajahi. Berbeda sekali dengan suasana di sekitarnya yang padat dan ramai sama halnya dengan umumnya kota-kota besar di Amerika.

Setiba di Wheaton, kami langsung saja menuju ke pusat kota, lalu masuk ke jalan 2504 Ennalls Avenue. Di situlah kami akan menyantap makan siang menjelang sore di restoran Indonesia. Restoran “Sabang” namanya. Kebetulan seorang teman Mas Supeno bekerja di restoran ini, sehingga acara membuka-buka daftar menu pun menjadi lebih bersuasana kekeluargaan.

Restoran Sabang sedang tidak ramai, hanya ada satu dua tamu. Ya, karena memang kami datang tidak pada jam makan. Tapi malah kebetulan, kami jadi bisa agak lebih leluasa untuk mengesampingkan tata krama makan di restoran. Terutama dalam hal “cengengesan bersama” menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Hal yang tidak etis untuk dilakukan kalau saja restoran sedang banyak tamu.

Tanpa pikir panjang, langsung saja memesan ikan bakar, lalapan lengkap dengan sambal terasinya, sayur asam dan tentu nasi putih. Anak-anak pun ikut nimbrung : “saya mau sate”. Tidak perlu ditanya-tanya lagi, anak-anak dan ibunya langsung teriak : “es dawet…, es teler…”. Seperti tahu kalau sedang tidak sabar menunggu pesanan makanannya disajikan, musik klenengan gendhing Jawa lalu mengalun. Kedengarannya kok jadi merdu dan bersuasana nglaras (santai seperti tanpa beban pikiran), padahal kalau sedang di Yogya dengar bunyi-bunyian musik gamelan itu di radio biasanya langsung diganti gelombangnya

Pemilik restoran ini bernama Pak Victor yang berdarah Menado. Lho, kok musiknya gendhing Jawa? Tidak penting lagi dipersoalkan. Bagi Pak Victor yang penting adalah tamu-tamunya senang dan berharap akan kembali lagi makan di restorannya. Siang menjelang sore itu Pak Victor tampil rapi, turut menyapa tamu-tamunya. Restoran “Sabang”-nya beroperasi dari jam 11 siang hingga jam 9 atau 10 malam.

Pak Victor yang sudah duapuluh tahunan melanglang Amerika ini paham dengan peluang bisnis di daerah ini. Maka sekitar separuh dari pengembaraannya di Amerika sudah dihabiskannya untuk menekuni bisnis restoran. Dan tampaknya cukup berhasil. Kalau tidak tentu restorannya sudah tutup sejak dulu.

Kabarnya restoran ini menjadi langganan para pejabat Indonesia yang sedang berkunjung ke Washington DC. Disamping lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari kota Washington DC, tentu juga karena menu dan masakan yang disajikannya pas dengan umumnya lidah orang Indonesia. Dengan kata lain saya berkesimpulan, berarti masakannya cukup enak.

Tidak terlalu lama kami menunggu, pesanan pun segera disajikan. Ini dia, masakan yang masih mengepul asapnya segera memenuhi meja. Tanpa tolah-toleh kiri-kanan, jurus tradisional segera dimainkan. Untuk menyelesaikan makanan yang sudah tersaji di meja, saya merasa perlu untuk “turun tangan”, maksudnya membebaskan tangan dari sendok, garpu, pisau dan sejenisnya sehingga bebas berkeliaran dari piring ke piring.

Seperti orang sedang kemaruk (bernafsu makan tinggi setelah sembuh dari sakit). Lalu ….., ikan bakar pun bablas tinggal tulangnya. Lalapan dan sambal terasi ludes, entah daun apa saja yang tadi disajikan. Tinggal menyeruput kuah sayur asam. Anak-anak pun suka dengan satenya. Perut jadi terasa kemlakaren (penuh terisi seperti tidak tersisa lagi rongga yang kosong).

Saya ingat-ingat, sekitar satu setengah tahun tinggal di Amerika, ya baru kali inilah makan sampai keringatan. Alhamdulillah, sebuah kenikmatan yang sudah lama tidak saya alami. Sejenak keluar restoran, merokok di luar karena restoran ini bebas asap rokok, lalu masuk lagi. Ya ini untungnya makan saat bukan jam makan, sehingga tata krama makan di restoran bisa dikesampingkan untuk sejenak berlaku ndeso. Nampaknya Pak Victor juga maklum.

Keluar dari Restoran “Sabang” seusai makan, kami pulang menuju ke rumah Mas Supeno. Istirahat sejenak karena malamnya akan dilanjutkan dengan rencana yang lain. Rupanya kami benar-benar kecapekan, barangkali tadi makannya kebanyakan, yang jelas istirahatnya menjadi berjenak-jenak dan ketiduran agak lama. 

Menikmati ikan bakar, lalapan dan sayur asam, nampaknya memberi kesan tersendiri bagi kami sekeluarga yang sudah cukup lama tidak menjumpai menu makanan semacam itu di Amerika. Bukannya tidak bisa memasak sendiri, tetapi barangkali sama seperti kalau kita di kampung sana, makan gudegnya simbok yang pagi-pagi jualan di ujung gang seringkali terasa lebih enak daripada makan gudeg bikinan sendiri.

Padahal tangannya simbok itu ya njumput gudeg (mengambil gudeg dengan menggunakan ujung-ujung jari), ya nyuwil ayam (mengambil sebagian daging ayam dengan jari tangan), ya nyusuki (memberi uang kembalian setelah menerima pembayaran), ya terkadang garuk-garuk.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”

Sebenarnya agak ogah-ogahan juga untuk jalan-jalan keluar saat hari menjelang malam. Akan tetapi mengingat hari ini Selasa tanggal 4 Juli 2000 adalah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika yang ke-224, maka kami pun segera siap-siap untuk turut menikmati suasana perayaan kemerdekaan Amerika. Malam itu dijadwalkan akan ada pesta kembang api yang digelar di berbagai tempat.

Pesta kembang api, seperti sudah menjadi tradisi di Amerika selalu menjadi bagian dari setiap acara-acara perayaan. Maka di Hari Kemerdekaan Amerika ke-224 inipun setiap kota menggelar pesta kembang api. Dalam perjalanan hari sebelumnya saya banyak menjumpai pedagang kembang api yang membuka kios-kios tiban di pinggir-pinggir jalan. Seperti yang saya jumpai saat melewati beberapa kota di negara bagian North Carolina dan Kentucky. Ini mengingatkan saya pada penjual mercon (petasan) yang biasanya menjamur di pinggiran jalan saat menjelang Lebaran di kota-kota di Indonesia.

Nampaknya setiap pemerintahan negara bagian mempunyai aturan sendiri-sendiri. Ada negara bagian yang memperbolehkan penjualan kembang api secara umum ada juga yang melarangnya. Kelak kalau otonomi daerah di Indonesia sudah melangkah lebih maju, bisa jadi hal yang kurang lebih sama juga akan terjadi. Setiap propinsi akan membuat aturan yang berbeda untuk setiap urusan yang ada di wilayahnya. Sepanjang untuk maksud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di masing-masing propinsi, rasanya akan menjadi hal yang baik.

***

Rencana semula, malam ini kami akan menyaksikan pesta kembang api di Monumen Washington, karena di sana akan digelar pesta kembang api besar-besaran dalam rangka malam perayaan Hari Kemerdekaan di awal millenium baru dan sekaligus menandai akan segera selesainya renovasi Monumen Washington. Anak-anak pun sudah sangat antusias untuk pergi kesana naik kereta bawah tanah. Sudah pasti, kegembiraan anak-anak sebenarnya bukan lantaran melihat kembang apinya, melainkan karena tahu akan naik kereta bawah tanah.

Dapat dimaklumi bagaimana rasa ingin tahu mereka mendengar kata kereta bawah tanah. Wong kereta kok jalannya di bawah tanah. Kalau hanya pesta kembang api mereka sudah sering melihatnya di New Orleans, bahkan seringkali dapat disaksikan cukup dengan melongok dari jendela apartemen saja. Kebetulan tidak jauh dari apartemen kami ada lapangan baseball dimana di sana sering digelar pesta kembang api.

Rupanya saya dan Mas Supeno kemudian berubah pikiran. Ke Washington DC bawa kendaraan sendiri pada saat malam pesta Hari Kemerdekaan menurut pengalaman Mas Supeno akan beresiko kesulitan mencari tempat parkir yang dekat dan menghadapi kemacetan yang luar biasa pada saat pulangnya. Masyarakat kota Washington DC malam ini tentu akan tumplek blek (tumpah ruah) di lapangan Monumen Washington bergabung dengan masyarakat Virginia dan Maryland yang tinggal di kawasan daerah penyangga.

Naik kereta bawah tanah juga sama, akan bertemu dengan padatnya arus penumpang dari luar kota, apalagi membawa anak-anak. Kalau mau mesti berangkat lebih awal dan pulang sebelum selesai. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami sepakat untuk menyaksikan pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di kota Wheaton saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dengan berjalan kaki dari rumah Mas Supeno.

Sekitar jam 9 malam lebih sedikit, tanpa halo-halo, tanpa sambutan, tanpa formalitas macam-macam, langsung “byaaaaarrrrrr….“, kembang api pertama mengangkasa dari atap sebuah gedung parkir di kompleks pertokoan pusat kota Wheaton. Rupanya memang tempat itu dipilih karena strategis dan berlokasi agak tinggi. Sehingga masyarakat yang berada di lokasi agak jauh pun dapat turut menyaksikan pesta kembang api.

Kami sengaja mencari tempat paling dekat sambil duduk-duduk di jalur hijau yang benar-benar hijau karena ditumbuhi rumput. Di samping kiri-kanan maupun di belakang kami sudah penuh masyarakat Wheaton yang sama-sama sejak tadi menunggu saat pesta kembang api dimulai.

Sorakan gembira mengiringi kembang api pertama yang memancarkan cahaya berwarna-warni di angkasa. Hampir 30 menit, pesta kembang api berlangsung. Bunyi “dar-der-dor” dan gebyar cahaya warna-warni di langit kota Wheaton yang malam itu cukup cerah berakhir diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat kota Wheaton, yang seakan menyeru : “Selamat Ulang Tahun, Amerika”.

Kami pun segera beranjak pulang, berbaur di tengah masyarakat Wheaton. Anak-anak juga gembira dan saling menceriterakan pengalaman yang baru saja disaksikannya. Namun rupanya masih ada yang mengganjal di hati mereka. “Naik kereta bawah tanahnya kapan?”. Wah, lha karena rencananya berubah ya tidak jadi naik kereta bawah tanah. Dasar anak-anak, ya tidak mau tahu. Ya karena memang sebenarnya bukan kembang apinya yang lebih menarik khususnya bagi kedua anak saya, melainkan naik kereta bawah tanah.

Saya lalu berunding dengan Mas Supeno, bagaimana agar sebelum pulang dapat membawa anak-anak naik kereta bawah tanah dulu. Naik dari mana, mau kemana, turun di mana tidak jadi soal. Pokoknya beli karcis dan lalu naik kereta bawah tanah. Kami lalu berjalan kaki membelok menuju ke stasiun kereta bawah tanah kota Wheaton.

Kereta bawah tanah yang melayani berbagai rute di wilayah kota Washington DC dan sekitarnya ini disebut dengan metrorail, seringkali hanya disebut metro saja. Selain jasa layanan kereta juga ada layanan transportasi umum dengan bis yang disebut dengan metrobus. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam

Dalam perjalanan pulang dari menyaksikan pesta kembang api, kami lalu menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh, masih mudah dicapai dengan berjalan kaki. Tiba di stasiun, hari sudah menunjukkan lebih jam 10 malam. Stasiun sedang tidak terlalu ramai, sehingga kami dapat langsung menuju ke mesin penjual karcis. Dengan menyelipkan uang ke dalam slot mesin, pencet tombol untuk memilih jenis karcis, lalu karcis pun keluar. Uang kembalian juga akan diberikan oleh mesin itu, jika memang ada sisa.

Sangat praktis dan mudah. Hanya tentunya bagi yang baru pertama kali menggunakan jasa metro ini, perlu terlebih dahulu membaca tata caranya sebelum berurusan dengan mesin penjual karcis. Untung kami pergi bersama Mas Supeno yang tentunya sudah paham betul. Jadi sementara menunggu Mas Supeno membeli karcis, saya membaca-baca tata caranya, sekedar ingin tahu.

Ada beberapa macam jenis karcis dan yang paling umum digunakan adalah yang disebut dengan Metrorail farecard, yaitu semacam kartu yang dilengkapi garis magnetik seperti kartu kredit. Selain itu ada Metrocheck card, SmarTrip card dan Metrorail pass. Selain membelinya melalui mesin di stasiun-stasiun, kartu ini juga dijual di tempat-tempat umum seperti halnya kartu tilpun, dan juga dapat dipesan secara on-line melalui media internet.

Harga karcisnya ada beberapa macam mulai yang $1.10 hingga yang maksimum $3.25 tergantung dari jarak tempuhnya. Ada karcis dengan tarip biasa (regular fare) yang berlaku di saat-saat jam sibuk pagi dan sore, dan ada tarip hemat (reduced fare) yang berlaku di luar jam-jam sibuk. Harganya sama, tetapi tarip hemat dapat digunakan untuk menjalani jarak tempuh yang lebih panjang.

Selain menggunakan uang tunai, pembelian juga dapat dilakukan menggunakan kartu kredit. Bahkan bagi pemegang SmarTrip card yang nilai karcisnya sudah habis, mesin ini juga melayani pengisian atau penambahan nilai karcis agar dapat digunakan lebih lama.   

Setelah kami masing-masing memegang karcis, kami lalu menuju ke pintu gerbang untuk masuk peron stasiun. Karcis tinggal diselipkan ke slot-nya, lalu diambil lagi dan palang pintu membuka. Kemudian kami turun melalui tangga berjalan yang panjangnya sekitar 70 meter menuju peron stasiun yang (tentu saja) menuju ke lokasi di bawah tanah. Stasiun Wheaton ini mempunyai tangga berjalan yang paling panjang dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kini tinggal menunggu kereta datang dan lalu naik ke jurusan yang hendak dituju.

Aturan penggunaan karcis yang sama ada pada saat hendak keluar dari stasiun. Selipkan kartu dan lalu akan tercetak angka yang menunjukkan nilai sisa karcis tersebut, tergantung pada penggunaan jarak tempuhnya. Jika ternyata nilai karcisnya kurang, maka palang pintu tidak akan membuka, dan penumpang tersebut dipersilakan menuju ke mesin penjual karcis untuk keluar (exitfare machine) guna menambahkan kekurangannya.

Saya tidak tahu, apa yang harus dilakukan kalau seandainya sang penumpang benar-benar tidak punya uang lagi. Saya tidak mau menanyakannya, karena takut kalau jawabannya adalah : “Ya jangan naik kereta bawah tanah”. Pertanyaan menggelitik yang sama : bagaimana jika ada penumpang yang uangnya kurang lalu nekad menerobos palang pintu dan lari? Ya, paling-paling dikejar petugas. Lha tapi nyatanya tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Artinya kemungkinan pelanggaran semacam itu relatif tidak banyak terjadi.

Jadi, agaknya memang kemoderenan hanya cocok diterapkan bagi masyarakat yang sudah memiliki kesadaran tinggi bahwa semua kemudahan akibat kemajuan teknologi itu disediakan sebagai bagian dari milik masyarakat sendiri. Bukan semata-mata milik pemerintah, dan yang lebih penting adalah masyarakatnya percaya bahwa itu juga bukan semata-mata untuk kepentingan PT ini atau PT itu.   

Malam itu, karena tujuannya hanya sekedar ingin merasakan naik metro, maka begitu datang kereta pertama yang menuju utara dari stasiun Wheaton, kami langsung naik saja. Hanya beberapa menit metrorail yang berjalan dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam segera tiba di stasiun Glenmont. Kami lalu turun dan pindah ke jalur yang kembali ke selatan. Naik kereta lagi menuju Wheaton tapi tidak langsung turun, melainkan dilebihkan hingga tiba di stasiun berikutnya yang agak ke selatan, yaitu Forest Glen.

Forest Glen adalah stasiun yang lokasinya paling dalam, yaitu 60 meter di bawah permukaan tanah. Dari Forest Glen kami pindah kereta lagi menuju utara untuk kembali ke stasiun Wheaton. Cukup kira-kira setengah jam untuk menjawab rasa ingin tahu anak-anak naik kereta bawah tanah. Barulah anak-anak merasa lega, dan kami pun lalu pulang berjalan kaki.

***

Jasa layanan angkutan umum kereta bawah tanah (yang juga mencakup sistem transportasi bis) ini dikelola oleh The Washington Metropolitan Area Transit Authority (WMATA). Pekerjaan konstruksi pertamanya dilakukan pada tahun 1969, dan secara resmi kereta bawah tanah mulai beroperasi tahun 1976.

Sistem trasportasi rel bawah tanah ini menghubungkan 78 stasiun, melayani rute sepanjang 154 km menjangkau wilayah Washington DC dan beberapa wilayah penyangga di sekitarnya yang berada di negara bagian Maryland dan Virginia. Diperkirakan jasa layanan metrorail maupun metrobus ini melayani sekitar 3,4 juta masyarakat pengguna jasa transportasi umum, baik karyawan, siswa sekolah maupun masyarakat umum lainnya.

Seperti halnya untuk kereta bawah tanah, karcis farecard juga disediakan untuk transportasi bis maupun gabungan atau sambungan antara kereta dan bis. Karena itu, berwisata di kota Washington DC menggunakan jasa kereta bawah tanah dapat menjadi daya tarik tersendiri. Selain bebas dari kemacetan, relatif murah, juga mudah jika harus menggunakan bis untuk berpindah (transfer) dari satu lokasi ke lokasi lainnya. 

Sejak pertama kali masuk stasiun hingga naik-turun kereta dan keluar dari stasiun lagi, tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Hanya tampak beberapa orang saja, itupun hanya sekedar mengawasi dan membantu kalau-kalau ada penumpang yang perlu bantuan. Sepanjang dapat dan sempat membaca tulisan rambu-rambu petunjuk, rasanya tidak akan kesulitan. Serba mudah, praktis dan tertib. Lalu….., kapan ya kira-kira kita akan memilikinya. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(13).    Memandang Monumen Washington Dari Gedung Capitol

Hari ini, Rabu, 5 Juli 2000, kami merencanakan siang harinya akan meninggalkan ibukota Washington DC untuk melanjutkan perjalanan menuju kota New York. Namun sebelum meninggalkan Washington DC, kami masih ingin mengunjungi beberapa tempat lagi, yaitu Monumen Washington dan Gedung Capitol.

Sekitar jam 10:30 pagi, kami berpamitan pada keluarga Mas Supeno untuk melanjutkan perjalanan yang masih akan panjang. Meninggalkan kota Wheaton kami lalu menuju ke Washington DC melalui jalan 16th Street. Sekitar pertengahan jalan sebelum tiba di pusat kota, kami menyempatkan untuk mampir ke Rock Creek Park.

Ini adalah sebuah taman yang masih ditumbuhi banyak pepohonan layaknya sebuah hutan yang berada di tengah kota Washington DC, yang mencakup areal seluas lebih 700 ha. Di dalamnya terdapat banyak fasilitas untuk berolah raga seperti jogging, bersepeda, athletik, golf, tenis, dsb., termasuk fasilitas untuk berpiknik. Sungguh sebuah tempat yang nyaman dan berhawa segar di tengah kesibukan kota Washington DC. 

Dari Rock Creek Park kami langsung menuju ke Monumen Washington yang terletak di sebelah selatan Gedung Putih. Tepatnya di belakang Gedung Putih yang dipisahkan oleh sebuah taman yang berbentuk ellips, karena itu kawasan ini disebut The Ellips. Setiba di dekat lapangan Monumen Washington, ternyata daerah itu sudah sangat ramai, hingga banyak kendaraan parkir sampai ke tepi-tepi jalan. Saya kesulitan mencari lokasi parkir.

Setelah cukup lama hanya berputar-putar dengan berjalan merambat karena padatnya arus lalu lintas, dan tetap juga tidak menemukan tempat parkir, saya lalu memutuskan untuk meninggalkan kawasan itu dan langsung saja menuju ke Gedung Capitol.

Saya duga siang itu sedang ada acara di sekitar lapangan Monumen Washington. Entah apa, tapi pasti berkaitan dengan perayaan hari Kemerdekaan, karena beberapa saat sebelum tiba di daerah itu arus lalu lintas sempat dihentikan karena Presiden Bill Clinton dan rombongannya lewat.

Sebenarnya pada saat itu Monumen Washington sendiri masih belum dibuka untuk umum karena sedang dalam tahap penyelesaian renovasinya sejak delapan bulan terakhir ini. Rencananya monumen ini baru akan mulai dibuka kembali pada tanggal 31 Juli 2000. Menurut informasi, untuk memasuki monumen ini tidak dipungut bayaran dan tiket dapat diperoleh dengan gratis pada saat hari berkunjung di tempat yang telah ditentukan. Pemesanan tiket juga dapat dilakukan sebelumnya, tetapi akan terkena biaya pemesanan sebesar $1.50. Monumen ini setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari 500.000 wisatawan.

Untuk mencapai Gedung Capitol dari lokasi Monumen Washington tidak terlalu sulit, karena saya tinggal menyusuri Jalan Constitution lurus saja ke arah timur melalui kompleks Institut Smithsonian. Kawasan terbuka yang membentang antara Gedung Capitol di ujung timur lalu ke barat melalui kompleks Institut Smithsonian hingga Monumen Washington di ujung barat adalah kawasan yang dikenal dengan sebutan The Mall. Di sepanjang kawasan itu membentang lapangan rumput yang luas.

Tiba di Gedung Capitol sudah menjelang jam 1:00 siang. Saya rencanakan paling lambat jam 2:00 harus sudah meninggalkan kota Washington DC agar tidak terlalu malam tiba di New York.

***

Gedung Capitol atau lengkapnya United States Capitol adalah salah satu lambang kebanggaan rakyat Amerika. Gedung tempat dimana para anggota Congress, The House of Representatives dan Senate, melakukan pertemuan untuk membuat Undang-Undang atau peraturan-peraturan bagi bangsa dan negara Amerika.

Gedung kuno yang tampak megah ini rancangan awalnya dibuat oleh Dr. William Thornton pada tahun 1792, dan selama lebih 200 tahun gedung ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Gedung Capitol yang ukuran panjangnya 229 meter dan lebarnya 107 meter ini mempunyai 550 buah ruangan dengan dua bangunan sayap yang berkonstruksi marmer. Di puncak kubahnya terdapat patung Freedom setinggi 6 meter.

Untuk menuju gedung ini, kami melewati halaman depannya yang cukup luas serta banyak ditumbuhi pepohonan, yang merupakan bagian dari kompleks gedung Capitol yang luas seluruhnya mencapai 24 ha. Biasanya pengunjung akan menuju ke teras depan yang letaknya cukup tinggi sehingga harus melalui beberapa tingkat anak tangga. Dari tempat ini pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang utama Gedung Capitol, tetapi pengunjung diberi kesempatan untuk berjalan mengelilingi di bagian luarnya.

Dari teras depan ini kami dapat melihat sebagian kota Washington DC dari ketinggian. Ketika berdiri menghadap lurus ke arah barat maka tampak tepat di depan kompleks Gedung Capitol adalah sebuah kolam luas yang disebut Reflecting Pool dan alun-alun yang disebut Union Square. Setelah itu tampak jalur lapangan hijau menghampar hingga sekitar 1,5 km yang disebelah kiri dan kanannya berdiri kompleks Institut Smithsonian. Monumen Washington terlihat menjulang tegak di ujung pandangan.

Kenampakan seperti ini mengingatkan saya pada beberapa film Amerika yang sering mengambil setting dengan visualisasi bidang terbuka menghijau yang membentang di areal The Mall ini. Tapi tentunya dengan pengambilan gambar tidak pada saat siang hari yang terik seperti yang kami alami saat kami berkunjung ke Gedung Capitol.

Kalau siang ini kami tidak berhasil melihat Monumen Washington dari dekat, maka cukuplah kalau bisa memandangnya dari teras atas Gedung Capitol. Kalaupun bisa mendekat, toh tidak dapat memasukinya juga, karena sedang ditutup untuk penyelesaian pekerjaan renovasi.

Monumen Washington sendiri adalah sebuah monumen marmer obelisk setinggi hampir 170 meter yang dibangun sebagai penghormatan bagi presiden pertama Amerike, George Washington yang diberi gelar sebagai “father of his Country“. Disekeliling monumen ini dikibarkan 50 bendera Amerika “The Star Spangled Banner” yang melambangkan 50 negara bagian yang ada. Di sinilah digelar pesta kembang api pada setiap tanggal 4 Juli. 

***

Washington DC bukan sebuah negara bagian dan juga bukan wilayah teritorial, tetapi mempunyai sebuah pemerintahan yang mencakup urusan keduanya. Karena itu ibukota ini mempunyai kedudukan yang unik. Meskipun kepala daerahnya disebut Walikota (Mayor) namun secara bersamaan dia berfungsi sebagai sebuah ibukota, sebuah kabupaten, sebuah negara bagian dan sebagai tempat kedudukan pemerintah federal.

Washington dipilih sebagai ibukota negara Amerika Serikat oleh Congress pada tahun 1790. Sejalan dengan perkembangan kotanya, baru pada tahun 1800 secara resmi kota ini menjadi ibukota federal, dan tahun 1802 pertama kali dibentuk pemerintahan, akhirnya baru pada tahun 1812 pertama kali dipilih seorang Walikota sebagai kepala pemerintahan Washington DC.

Dua hari sudah kami berada di ibukota yang dihuni oleh lebih dari 600.000 jiwa penduduknya. Kami telah berkeliling untuk melihat sebanyak mungkin berbagai tempat menarik, di kota yang setiap tahun dikunjungi oleh lebih 20 juta orang dari seluruh penjuru dunia dan lokasinya berada di sepanjang sungai Potomac. Akhirnya Washington DC akan segera kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju New York.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(14).    Hampir Malam Di New York

Sekitar jam 2:00 siang, masih di hari Rabu, 5 Juli 2000, kami meninggalkan halaman parkir di depan Gedung Capitol dan segera menuju ke luar kota Washington DC. Di jalan 7th Street yang lurus ke utara, semula saya akan masuk ke jalan New York Avenue atau Highway 50. Tapi rupanya saya kebablasan, akhirnya saya mengambil jalan Rhode Island Avenue atau Highway 1 untuk menuju ke Interstate 95 yang menuju arah timur laut.

Hampir satu jam saya menghabiskan waktu untuk keluar dari Washington DC. Selain lalulintas cukup ramai, banyak melalui perempatan ber-traffic light, juga sempat berhenti dulu untuk menambah BBM. Baru setelah berada di Interstate 95 saya bisa melaju agak cepat. Itupun belum berani dengan kecepatan maksimum mengingat lalu lintas di jalan bebas hambatan ini masih cukup padat.

Jarak yang saya rencanakan hari ini dari Washington DC menuju New York adalah sekitar 260 mil (416 km), kalau saya tempuh langsung kira-kira akan memakan waktu 4 jam. Cuaca sangat cerah, bahkan panas, sehingga saya memperkirakan akan dapat melaju lebih cepat saat keluar agak jauh dari Washington DC nanti.

Rupanya perkiraan saya meleset. Saat memasuki kota Baltimore, masih di wilayah negara bagian Maryland, arus lalu lintas masih juga padat. Melihat kondisi lalu lintas yang seperti ini, saya mulai mengantisipasi bahwa kelihatannya arus lalu lintas akan terus padat hingga sampai kota New York. Terpaksa saya harus selalu mengendalikan kecepatan.    

Melewati kota Baltimore, lalu tiba di kota Wilmington yang merupakan kota terbesar di negara bagian Delaware. Saya tidak mempunyai rencana khusus di negara bagian Delaware yang beribukota di Dover dan mempunyai nama julukan sebagai “Diamond State”. Dari Wilmington perjalanan saya teruskan hingga tiba di kota Philadelphia yang merupakan kota terbesar di negara bagian Pennsylvania.

Philadephia berada di perbatasan dengan negara bagian New Jersey tepat di pinggir barat sungai Delaware. Dari Interstate 95 yang dibangun melintas di atas kota Philadelphia, nampak pemandangan kota yang padat dengan gedung-gedung tingginya.

Sebenarnya ada yang menarik yang ingin saya kunjungi di negara bagian Pennsylvania ini, yaitu masyarakat Amish dengan pola hidup tradisionalnya. Mirip-mirip masyarakat Badui di Banten. Tetapi untuk mencapai daerah ini saya mesti berbelok ke barat cukup jauh menuju kota Lancaster. Kelihatannya waktu saya tidak akan mencukupi karena berangkat dari Washington DC tadi sudah terlalu siang. Akhirnya rencana itu saya batalkan.

Sebagai gantinya, saya mendadak merencanakan untuk mampir ke kota Atlantic City di wilayah negara bagian New Jersey melalui jalan bebas hambatan Atlantic City Expressway. Dari Atlantic City selanjutnya saya tidak perlu kembali ke Philadelphia tetapi dapat langsung ke arah New York melalui jalan tembus Garden Street Parkway. Atlantic City adalah kota yang terletak di pantai timur New Jersey di pinggiran Samudra Atlantic. Kota ini terkenal sebagai kota pantai yang indah dan merupakan kota judi seperti Las Vegas di negara bagian Nevada.

Menyusuri Interstate 95 di atas kota Philadelphia, saya kurang cermat memperhatikan tanda-tanda karena ngobrol dengan anak-anak tentang kota ini. Ya, kebablasan lagi, ketika seharusnya saya berbelok ke Interstate 76 yang menuju jembatan Walt Whitman di atas sungai Delaware.

Saya lalu mengambil exit (jalan keluar) agak ke utara, cepat-cepat membuka peta kota Philadelphia sambil menyusuri jalan-jalan kota dengan maksud berbalik ke selatan. Karena jalan yang saya ambil berbelok-belok dan banyak melewati persimpangan, akhirnya malah jadi keliling kota Philadelphia dan tidak tembus-tembus ke Interstate 76.

Sebelum semakin kehilangan arah, saya memutuskan untuk kembali saja ke Interstate 95 tetapi yang arahnya menuju selatan. Saya pikir pasti akan lebih mudah untuk selanjutnya menemukan jalan yang menuju jembatan Walt Whitman untuk menyambung ke Atlantic City Expressway. Benar juga, ternyata memang lebih cepat dibandingkan kalau saya tadi melanjutkan melalui jalan-jalan kota. Segera saja saya melaju ke timur menuju kota Atlantic City.

Tiba di kota kecil Blackwood setelah berjalan kira-kira 15 mil (24 km), anak-anak ngajak berhenti di McDonald. Saat itu sudah menjelang jam 6:00 sore. Cuaca masih sangat cerah dan matahari masih tinggi. Sambil menunggu anak-anak dan ibunya membeli makanan, sekalian mengistirahatkan kendaraan karena sejak tadi belum berhenti. Kesempatan ini saya gunakan untuk membuka peta, mempelajari perubahan rute, serta menghitung-hitung lagi jarak tempuh dan perkiraan waktunya.

Hasilnya? Rupanya saya tadi terlalu berspekulasi saat memutuskan merubah rute menuju kota Atlantic City. Jika saya teruskan menuju Atlantic City, saya akan kemalaman tiba di New York. Ini bisa menjadi hal yang tidak menguntungkan. Selain karena hari sudah gelap, juga saya belum familiar dengan sistem jalan di New York, yang konon sangat semrawut dibandingkan kota-kota lain di Amerika.

Akhirnya saya putuskan untuk tidak mengambil resiko itu. Lebih baik kembali menuju ke barat mumpung belum terlalu jauh ke arah Atlantic City. Menyadari kemungkinan hari sudah mulai malam saat memasuki kota New York nanti, dan pasti tidak memungkinkan untuk mengemudi sambil melirik peta, maka rute jalan yang menuju hotel di New York saya hafalkan. Termasuk nama jalan, arah, dan perempatan yang akan saya lalui.

Dari kota kecil Blackwood ini saya kembali menuju ke arah Interstate 95. Sekitar setengah perjalanan, saya melihat ada jalan yang lebih singkat, yaitu melalui jalan tembus bebas hambatan New Jersey Turnpike. Jalan tembus ini sejajar dengan Interstate 295 dan Interstate 95 yang masing-masing berada di sebelah timur dan sisi barat sungai Delaware. Selanjutnya saya akan terus ke utara mengikuti jalan tembus yang membelah negara bagian New Jersey ini hingga bertemu lagi dengan Interstate 95 sampai ke kota Newark.

Newark adalah kota terbesar di negara bagian New Jersey yang dijuluki sebagai “Garden State” dengan ibukotanya di Trenton. Ketika jalan tembus ini bergabung kembali dengan Interstate 95, cuaca berubah menjadi mendung dan akhirnya turun hujan deras. Saat itu menunjukkan sekitar jam 7:00 sore. Hari yang sebenarnya masih cukup terang tentu saja berubah menjadi remang karena hujan lebat.

Hingga saya tiba di kota Newark, hujan masih juga belum reda meskipun tidak lagi deras. Lalu lintas di jalan bebas hambatan empat-lima lajur ini menjadi semakin padat. Selain oleh kendaraan kecil juga mulai banyak berbarengan dengan truck-truck besar pembawa kontainer-kontainer raksasa. Saya menjadi semakin hati-hati dan tidak berani melaju terlalu cepat.

Tiba di kota Newark, artinya sebentar lagi saya akan memasuki wilayah negara bagian New York. Dari Interstate 95 saya lalu membelok ke Interstate 495 yang menuju New York City. Melalui jalan memutar (ramp) turun, kemudian masuk ke terowongan Lincoln (Lincoln Tunnel) sebelum tiba di wilayah Manhattan, New York City. Keluar dari terowongan ini saya membayar toll yang terakhir. Sejak dari Washington DC tadi sudah empat kali saya membayar toll, setiap kali melalui jalan toll bebas hambatan, jembatan atau terowongan.

Hari memang sudah mulai gelap. Saat keluar dari terowongan, kendaraan berjalan perlahan karena antri membayar toll. Kekhawatirkan saya sebelumnya kini terjadi, ketika sudah mendekat ke pintu toll saya baru melihat bahwa saya berada di antrian yang menuju ke lajur yang salah. Saya sempat bimbang, kalau saya teruskan jangan-jangan nanti harus memutar-mutar untuk kembali ke arah yang benar. Sedang kalau saya berpindah antrian, pasti akan digerundeli (diomelin) sopir-sopir di belakang.

Daripada kehilangan waktu untuk putar-putar, saya nekad menyalakan lampu sign kanan dan berpindah antrian. Benar saja, dari belakang langsung berbunyi klakson. Saya maklum. Untung saja kendaraan yang ada di antrian di samping kanan saya berbaik hati memberi jalan saya untuk masuk di depannya. Barangkali karena melihat plat nomor mobil saya sehingga dia tahu saya pasti orang baru di New York, atau dia tahu saya orang bingung.

Apapun pertimbanganya orang itu, saya pantas berterima kasih. Saya lalu membuka jendela dan melambaikan tangan sebagai pengganti ucapan terima kasih. Dalam hati saya berharap, mudah-mudahan suatu ketika saya dapat juga berbaik hati kepada orang lain seperti orang itu. Kalau tidak di Amerika, ya di Indonesia. Tapi apa mungkin? Apa malah bukan saya yang nantinya akan diomelin orang yang di belakang saya? 

Hampir malam di New York. Waktu menunjukkan sekitar jam 9:30 malam. Seharusnya belum terlalu gelap kalau saja tidak hujan, karena matahari baru terbenam menjelang jam 9:00 malam. Negara bagian New York mempunyai nama julukan sebagai “The Empire State” beribukota di Albany, sedangkan New York City adalah kota terbesarnya. New York adalah negara bagian ke-15 di hari kelima perjalanan saya, setelah sebelumnya melewati negara bagian Delaware, Pennsylvania dan New Jersey.

Saya lalu mengikuti rute yang sudah saya hafal sorenya tadi untuk langsung menuju hotel yang sudah saya pesan. Lalu lintas kota New York masih ramai dan padat. Mulai saya merasakan semrawutnya kota New York, terutama di daerah Manhattan ini. Dikatakan semrawut karena pembandingnya adalah kota-kota besar lainnya di Amerika. Padahal kalau pembandingnya adalah Jakarta, mungkin orang yang mengatakan semrawut akan berubah pikiran.

Kota manapun pembandingnya, yang jelas perusahaan jasa bantuan perjalanan AAA memberikan nasehat singkat bagi mereka yang belum terbiasa berkendaraan di Manhattan, yaitu : “Don’t”. Lho? Maksudnya tentu lebih baik tidak nyopiri kendaraan sendiri jika berada di Manhattan. Malah nasehat itu masih ditambah dengan pesan : “Pintu mobil supaya selalu terkunci”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(15).    New York, New York

Hari Kamis pagi, tanggal 6 Juli 2000, matahari sudah agak tinggi sebelum kami meninggalkan hotel untuk mulai mengarungi belantara kota New York. Melihat keluar dari jendela hotel di lantai 9, yang tampak malah dinding-dinding gedung tinggi. Cahaya matahari hanya menyelusup di celah-celahnya. Rupanya kami sedang berada di sebuah sudut kecil  dari belantara kota New York, tepatnya di wilayah Manhattan. Inilah belantara kota yang banyak ditumbuhi oleh gedung-gedung tinggi.

Sekitar jam 9:30 pagi kami keluar dari hotel, mulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan 55th Street, lalu masuk ke jalan 7th Avenue menuju ke Times Square. Mengikuti saran dari banyak orang agar lebih leluasa menyusuri kota New York, maka kami memilih untuk tidak menggunakan kendaraan sendiri. Tadi malam setiba di hotel, mobil langsung saya titipkan ke tempat penitipan mobil yang sudah menjadi bagian dari layanan hotel, meskipun perlu membayar biaya parkir tambahan.

Tidak sebagaimana hotel-hotel di tempat lain, di Manhattan hotel hanya merupakan sebuah bangunan yang tumbuh ke atas tanpa menyisakan ruang yang cukup leluasa di sekitarnya, hingga terkesan berhimpit-himpitan dengan bangunan di sekitarnya. Karena itu hotel tidak menyediakan halaman parkir. Selain itu jika saya nekad menyusuri mengendarai kendaraan sendiri juga akan menyulitkan. Selain karena padat dan semrawutnya lalu lintas, juga menemukan tempat parkir adalah bukan hal yang mudah, khususnya di wilayah Manhattan. Belum lagi kekhawatiran akan dijahilin orang.

Mempertimbangkan hal tersebut, maka menitipkan kendaraan selama kami berada di kota New York dirasa akan lebih aman dan nyaman, serta lebih effisien dalam hal penghematan waktu. Mengemudikan kendaraan dengan menyusuri semrawutnya jalan-jalan kota New York tentu perlu energi tersendiri, dan pasti akan lebih menyita waktu serta tidak fleksibel untuk kesana-kemari.

Oleh karena itu berjalan kaki adalah pilihan yang saya anggap paling tepat untuk menikmati kota New York, lengkap dengan arsitektur bangunan kota maupun kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya saya akan menggunakan jasa wisata kota (city tour), meskipun untuk itu perlu dianggarkan biaya yang cukup mahal. Kalaupun tidak ingin menggunakan jasa ini, menggunakan taksi juga bukan hal yang sulit. Selain itu, jasa angkutan kereta bawah tanah (subway) juga dapat menjadi pilihan.

***

New York City (selanjutnya saya sebut dengan kota New York saja) terletak di sebuah semenanjung kecil di ujung tenggara dari wilayah negara bagian yang juga bernama New York. Kota New York sendiri sebenarnya terdiri dari lima wilayah kecil atau semacam Kecamatan (yang disebut borough) yang nama-namanya sudah sering kita dengar, yaitu Manhattan, Brooklyn, Queens, the Bronx dan Staten Island.

Manhattan adalah salah satunya yang paling dikenal orang. Jika orang-orang New York (yang disebut New Yorker) menyebut the city, maka yang dimaksudkan adalah wilayah Manhattan, bukan keempat wilayah lainnya. Wilayah Manhattan ini sendiri sebenarnya terpisah dari daratan di sekitarnya oleh adanya tiga sungai, yaitu sungai Hudson yang paling lebar berada di sebelah barat, sungai East di sebelah timur dan sungai Harlem membelah di sisi utara.

Sistem jalan-jalan di New York sebenarnya tidak rumit. Membentang arah utara-selatan adalah jalan-jalan utama mulai First Avenue di sebelah timur hingga Tenth Avenue di sebelah barat, dengan Fifth Avenue membelah di tengah-tengahnya membagi wilayah timur dan barat. Membentang arah timur-barat tegak lurus memotong kesepuluh Avenue tersebut adalah puluhan bahkan ratusan jalan penghubung yang antara lain dinamai jalan 1st, 2nd, 3rd, 4th, 5th Street, dst. mulai dari sebelah selatan hingga entah Street ke berapa ratus di sebelah utara. Umumnya jalan-jalan tersebut merupakan jalur satu arah.

Di tengah-tengah Manhattan ini terdapat sebuah taman kota yang sangat luas yang bernama Central Park. Jika disebut downtown di wilayah Manhattan, maka tidak dengan sendirinya yang dimaksudkan adalah pusat kota, melainkan adalah wilayah bagian selatan Manhattan atau mudahnya dari Central Park ke arah selatan. Sedangkan uptown adalah wilayah dari Central Park ke utara. 

Uniknya, ada sebuah jalan yang sangat terkenal yang membelah diagonal dari sisi tenggara menuju ke barat laut, yaitu jalan Broadway. Menurut sejarahnya jalan Broadway ini merupakan bekas rute perlintasan suku Indian. Tempat di mana jalan Broadway ini memotong Avenue, maka terbentuklah daerah-daerah yang dikenal dengan nama square atau circle.

Sebagai contoh, tempat dimana Broadway memotong Fourth Avenue di sebelah selatan disebut dengan Union Square. Lalu yang memotong Fifth Avenue di sebelah utaranya disebut Madison Square, yang memotong Sixth Avenue disebut Herald Square, yang memotong Seventh Avenue disebut Times Square, dan yang memotong Eight Avenue disebut Columbus Circle. Madison Square dan Times Square adalah yang paling dikenal orang.

***

Berjalan kaki menyusuri kota New York dari Seventh Avenue hingga Times Square, kami langsung berada di tengah-tengah kepadatan lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki. Menyatu dengan para pejalan kaki bergelombol di ujung perempatan jalan, lalu berbondong-bondong menyeberang saat kendaraan berhenti. Demikian seterusnya berpindah dari satu perempatan menuju ke perempatan jalan berikutnya.

Jarak antara tiap-tiap perempatan atau blok tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan itu pula bangunan-bangunan tinggi menjulang ke angkasa dengan dominasi pemandangan pertokoan yang didekorasi secara sangat atraktif, paling tidak dengan tampilan yang berbeda dibandingkan dengan umumnya pertokoan di kota lain.

Taksi-taksi yang berwarna khas kuning (karena itu disebut dengan yellow cab) bertebaran di sepanjang jalan-jalan kota New York. Dari ketinggian puncak gedung Empire State, tampak gerombolan taksi kuning ini layaknya sedang ada arak-arakan kampanye Golkar. Rasanya benar kalau orang mengatakan ada jutaan taksi berseliweran di New York setiap saat. Seperti yang sering tampak dalam film-film layar lebar dengan setting kota New York dan taksi kuningnya. Memudahkan bagi siapa saja yang ingin menggunakan jasanya.

Meskipun demikian, pemerintah kota New York mengingatkan agar para calon penumpang taksi memperhatikan tulisan tentang hak-hak penumpang terhadap taksi sebagaimana yang selalu terpasang di setiap taksi. Ini adalah kata lain untuk memperingatkan bahwa terkadang ada sopir taksi yang suka nakal terhadap penumpang yang belum biasa bertaksi di New York. Sesuai ketentuan pemerintah kota New York, bahwa setiap penumpang taksi berhak untuk minta diantarkan kemanapun tujuannya di kota New York, tidak tergantung jarak dan lokasi tujuan. Karena itu jangan biarkan sopir taksi yang mendikte penumpang tentang arah dan tujuannya.

Alternatif sarana angkutan lainnya adalah kereta bawah tanah. Di berbagai sudut kota banyak dijumpai tangga menurun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kereta bawah tanah di New York, yang disebut subway merupakan salah satu kereta bawah tanah tertua di dunia setelah yang ada di London, Inggris. Meskipun dahulu jalur kereta bawah tanah New York ini pernah terkenal karena tidak aman, tetapi kini pemerintah setempat meyakinkan bahwa angka kriminalitas di jalur subway ini sangat menurun. Meskipun tentu saja tetap diperlukan kewaspadaan.

Jalur-jalur subway yang panjang totalnya mencapai 237 mil (sekitar 380 km) menjangkau wilayah yang sangat luas dan memang terkesan rumit. Namun tanda-tanda petunjuk di setiap stasiun sebenarnya mudah untuk diikuti. Meskipun demikian, disarankan kepada calon penumpang yang belum terbiasa agar hendaknya terlebih dahulu mempersiapkan rencana perjalanan sebaik-baiknya sebelum membeli karcis. Ini dimaksudkan agar tidak bingung dan tersesat di rute-rute yang simpang siur di bawah tanah yang akhirnya malah memboroskan waktu dan biaya.

Kami sendiri memilih menggunakan jasa wisata kota yang kami anggap lebih mudah, lebih banyak kesempatan melihat pemandangan kota serta lebih aman mengingat kami pergi bersama anak-anak. Pagi ini kami akan segera memulai perjalanan menyusuri belantara hutan beton. Beberapa lokasi pilihan sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Pasti tidak cukup waktu kalau ingin mengunjungi semua tempat dalam waktu hanya dua hari.

***

Tak diragukan lagi, kalau dikatakan bahwa New York adalah salah satu kota paling menawan di dunia. Kota dimana perputaran roda kehidupan tidak pernah berhenti dan selalu tampil atraktif. Kota yang tidak pernah bebas dari kesibukan, dan karena itu mobilitas kota menjadi bagian persoalan tersendiri. Kota yang ternyata juga menjadi tujuan untuk mengadu peruntungan bagi kaum pendatang, termasuk pendatang (haram) dari Indonesia.

Inilah New York. Kota dengan sekitar 7,5 juta penduduknya dan berelevasi sekitar 16 m di atas permukaan air laut. Tempat dimana Frank Sinatra pernah menghayalkan ingin bangun pagi di sebuah kota yang tidak pernah tidur, dalam lagunya : “New York, New York“……………- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(16).    Menyeberang Ke Patung Liberty

Setiba di Times Square di hari kedua ini, kami langsung masuk ke gedung visitor center. Di dalam ruangan ini kami dapat memperoleh informasi apa saja tentang wisata kota New York. Di sini pula kami membeli tiket wisata kota yang salah satunya dilayani oleh perusahaan Grey Line. Tiketnya cukup mahal, yaitu US$59 untuk orang dewasa dan US$39 untuk anak-anak.

Dengan paket wisata seharga itu kami dapat keliling kota New York selama dua hari penuh siang maupun malam sepuas-puasnya, termasuk mengunjungi patung Liberty, naik ke puncak menara Empire State dan gedung pencakar langit World Trade Center. Dari pagi hingga malam, bis-bis tingkat (double decker) yang di dek atasnya terbuka tanpa atap, berjalan mengelilingi kota New York, tepatnya wilayah Manhattan.

Bis wisata ini akan berhenti di banyak tempat pemberhentian yang telah ditentukan. Berbekal peta perjalanan yang disediakan, kami tinggal memilih dimana ingin berhenti dan kapan ingin naik lagi menuju ke tempat-tempat lain di sepanjang rute yang dilalui oleh bis wisata yang berjalan setiap 15 menit ini. Cukup luwes guna mengatur tempat tujuan dan waktunya.

Ada dua macam perjalanan wisata, siang dan malam. Untuk perjalanan siang itu kami langsung memutuskan untuk mengunjungi patung Liberty sebagai prioritas tujuan pertama. Ini mempertimbangkan lokasinya yang berada paling jauh, karena harus naik ferry menyeberang ke pulau kecil di sungai Hudson, sehingga perlu mengalokasikan waktu lebih lama.

Sekitar jam 10:30 pagi kami baru mendapat giliran untuk naik bis wisata. Anak-anak spontan meminta untuk duduk di dek atas. Memang ini pilihan tepat di saat hawa panas di musim panas. Meskipun tanpa atap, tapi justru dapat memperoleh udara segar. Untungnya kepadatan kota ini tidak diperburuk dengan polusi udara yang tak terkendali, setidak-tidaknya di wilayah Manhattan ini, sehingga berada di udara terbuka pun terasa enak.

***

Bis wisata menyusuri rute tengah kota dengan berjalan perlahan-lahan. Sepanjang perjalanan pemandu wisata menjelaskan segala macam kisah dan sejarah, dari apa saja yang terlihat dari bis. Seperti tidak kehabisan ide dan kata-kata untuk berceritera mulai dari gedung bertingkat, jalan, jembatan, toko, restoran, dsb. Saya maklum, itu semua mampu dilakukannya karena mereka telah mengulanginya ribuan kali, setiap hari hingga sepanjang tahun. New York memang tidak pernah sepi dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia sepanjang tahun.     

Sekitar 45 menit sibuk tolah-toleh kiri-kanan atas-bawah di dek atas bis wisata, seperti sedang tenggelam di sela-sela gedung-gedung tinggi, akhirnya tiba di Battery Park. Battery Park adalah sebuah taman di pinggir pantai barat daya di mana terdapat pelabuhan tempat penyeberangan ferry menuju pulau Liberty, pulau Ellis dan tempat-tempat lainnya.

Dari jauh sudah kelihatan sosok patung Liberty yang tegak berdiri di pulau Liberty. Saat itu di tempat penyeberangan sudah bergerombol antrian panjang para wisatawan yang juga ingin mengunjungi patung Liberty. Tidak ada pilihan lain, selain menyambung di ujung antrian untuk menunggu giliran naik ferry.

Saat musim liburan musim panas seperti kali ini, seharusnya kami berangkat lebih awal, karena waktu yang diperlukan untuk antri saat berangkat naik ferry, antri naik ke atas patung dan antri lagi saat kembali naik ferry, bisa berjam-jam. Paling tidak, sejak tiba di Battery Park kami perlu waktu lebih satu jam berpanas-panas antri naik ferry. Sambil berdiri dan sesekali jongkok di antrian, tampak banyak pedagang asongan yang umumnya orang kulit hitam sedang menawarkan barang dagangannya.

Barang yang ditawarkan bermacam-macam, selain cendera mata juga ada yang menawarkan jam tangan Rolex atau kaca mata Rayban seharga US$10. Bahkan bisa lebih murah kalau berminat menawarnya. Sangat murah untuk ukuran merk barang yang disandangnya. Tentu saja setiap orang maklum untuk tidak perlu menanyakan keasliannya.

Ada juga mereka yang mengamen dengan cara memamerkan keahliannya dalam berakrobatik dan berolah tubuh. Setelah itu mereka meminta para penonton untuk menyumbangkan uang recehnya. Sukarela tentunya.

Setelah naik ferry sekitar 15 menit, kami berlabuh di pulau Liberty. Mulailah berjalan berkeliling di pelataran patung Liberty yang resminya kompleks taman ini disebut dengan Statue of Liberty National Monument. Berdiri di bawah patung yang menjulang setinggi 93 m, dengan tinggi patungnya sendiri 46 m, terasa benar betapa besar dan kokohnya patung yang terbuat dari cetakan tembaga yang melingkupi kerangka besi ini. Kini patung Liberty tampak berwarna kehijau-hijauan akibat dari proses oksidasi dari bahan tembaganya, mewarnai tampilan khasnya.  

Patung Liberty yang menjadi simbol kebebasan bagi dunia ini berupa seorang wanita berkain selendang mengenakan mahkota di kepalanya, dengan tangan kanannya mengacung memegang obor dan tangan kirinya memegang buku. Tujuh cahaya yang memancar dari mahkotanya melambangkan tujuh samudra dan tujuh benua (tepatnya adalah tujuh daratan dunia). Pada mahkotanya terdapat 25 lubang jendela yang melambangkan 25 macam batu permata yang ditemukan di dunia. Pada buku yang dipegangnya tertulis dalam tulisan Latin berbunyi : 4 Juli 1776.

Demikian antara lain makna yang dimaksudkan oleh perancangnya, seorang pematung Perancis bernama Frederic-Auguste Bartholdi. Nyala api obornya kini telah diperbarui dengan lapisan emas 24 karat sebagai pengganti atas nyala api aslinya yang telah terkorosi.

Frederic Bartholdi yang lahir di Colmar, Perancis, pada 2 Agustus 1834 dan meninggal tahun 1904, sang perancang patung, menggunakan ibunya sendiri sebagai model patung Liberty. Bartholdi telah mencurahkan 20 tahun dari sebagian hidupnya untuk mewujudkan impiannya membuat monumen Liberty ini. Ini tentu bukan pekerjaan iseng dari seseorang yang tinggal di tempat yang jauh dari Amerika. Terbukti dia kemudian sibuk mencari dukungan kesana-kemari guna mewujudkan impiannya.

Tahun 1869 Bartholdi mulai mencorat-coret rancangannya. Tahun 1875 terbentuk lembaga penyandang dana di bawah Union Franco-Americaine. Tahun 1878 hingga 1884 dilakukan pekerjaan pertukangan pembuatan patung dari bahan tembaga di Paris, Perancis. Pekerjaan perancangan rangka besinya dikerjakan oleh Gustave Eiffel, sebelum merancang menara Eiffel di Paris, Perancis.

Setelah digotong dengan kapal menyeberang samudra Atlantik, maka pada tanggal 4 Juli 1884 (bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Amerika), berdirilah patung ini di pulau Bedloe’s yang luasnya sekitar 48,500 m2. Sejak tahun 1956 pulau ini dikenal dengan nama pulau Liberty. Akhirnya baru pada tanggal 28 Oktober 1886, patung ini diresmikan setelah didahului dengan penyematan tanda warga kehormatan New York bagi Bartholdi.

Sekalipun dilatarbelakangi oleh semangat bersatunya bangsa Perancis dan Amerika setelah periode Revolusi Amerika, entah apa yang mengilhami dan mendorong Bartholdi untuk mewujudkan impiannya itu. Sehingga bangsa Perancis suka rela menyumbangkan uangnya untuk sebuah patung yang kelak akan dipasang di sebuah negeri di seberang samudra Atlantik. Sebuah patung yang mereka sebut “Liberty Enlightening the World”. Dan kini, lebih dari dua juta orang setiap tahunnya mengunjungi patung ini.

***

Bangunan di bagian bawah dari tempat patung Liberty berdiri, berarsitektur bentuk benteng Amerika yang di dalamnya juga dibangun fasilitas museum. Selain ada sarana lift untuk mendaki ke atas patung, juga tersedia 354 anak tangga. Pada saat kami menaiki patung ini, para pengunjung hanya diperbolehkan mencapai setengah ketinggian, yaitu di bagian puncak landasannya atau di bagian dasar patungnya.

Kenampakan patung menjadi tidak indah dari sini, lha wong tepat berdiri di bawah benda raksasa. Melainkan sejauh mata memandang, tampak pemandangan indah sungai Hudson dengan latar belakang gedung-gedung menjulang tinggi di Manhattan dan kota Jersey City di wilayah negara bagian New Jersey. 

Selain dicapai dari Battery Park di Lower Manhattan (istilah untuk menyebut wilayah Manhattan sebelah selatan), Pulau Liberty dapat juga dicapai dari Liberty State Park di Jersey City. Dari kedua pelabuhan ferry ini, para wisatawan selain menuju ke pulau Liberty juga dapat mengunjungi pulau tetangganya yaitu pulau Ellis. Pulau Ellis ini pernah menjadi pelabuhan pendaratan dari kaum immigran pada tahun 1892 – 1954.

Sekitar jam 4:00 sore, kami baru meninggalkan patung Liberty. Kembali kami harus berada di antrian panjang sebelum dapat menyeberang kembali ke Battery Park. Setiba di Battery Park, kami masih harus antri lagi menunggu bis wisata yang sore itu ditunggu banyak orang yang baru kembali dari pulau Liberty.  

Berada di tengah kerumunan orang banyak untuk tujuan yang sama memang terasa sumpek dan tidak menyenangkan. Akan tetapi adanya kesadaran setiap orang untuk antri tanpa perlu ada petugas atau tulisan yang menyuruhnya, ternyata dapat menjadi solusi yang enak. Bersama anak-anakpun menjadi tidak perlu khawatir berdesak-desakan.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(17).    Senja Di Brooklyn

Langit masih cerah dan matahari pun masih tinggi. Serasa belum puas kalau seharian tadi hanya sempat mengunjungi patung Liberty. Kami lalu memutuskan untuk ikut wisata malam. Untuk itu kami harus kembali berjalan kaki menuju ke tempat pemberangkatan bis wisata kota. Dengan jenis bis double decker yang sama, kami kembali memilih untuk duduk di dek atas. Kali ini cuaca agak lebih enak, karena jatuhnya cahaya matahari sudah agak condong.

Masih di hari Kamis, 6 Juli 2000, saat menjelang senja kami berkeliling menyusuri kota New York melalui rute yang berbeda dari pagi harinya. Meskipun saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 7:00 malam, tapi saya menyebutnya menjelang senja karena matahari baru akan tenggelam menjelang jam 9:00 malam. Daerah yang pertama kami kunjungi sore itu adalah Grand Central Terminal.

Grand Central Terminal ini adalah sebuah bangunan kuno yang terletak di jalan 42nd Street yang saat ini berfungsi sebagai pusat terminal atau stasiun kereta api. Di dalam bangunan tua tapi masih sangat terurus dengan baik ini terdapat sebuah ruangan yang luas dan berlangit-langit tinggi dengan arsitektur kuno yang tampak megah. Aula luas ini menjadi tempat ruang tunggu dan di bagian pinggirnya tempat penjualan tiket.

Dari aula luas ini terdapat lorong atau tangga naik maupun turun yang menghubungkan dengan lorong-lorong bawah tanah yang menuju ke berbagai jalur pelayanan subway maupun menuju ke sarana perkantoran atau pertokoan. Sarana perbelanjaan yang cukup besar dan lengkap memang juga tersedia di dalam stasiun ini.

Tujuan berikutnya adalah Greenwich Village. Dahulu tempat ini terkenal sebagai pusat kota Bohemian dan sebutan the Village terkenal dengan adanya restoran, toko cendera mata, toko buku, pameran seni dan teater, kafe dan klab malam. Greenwich Village ini identik dengan seni kontemporer masa depan (avant-garde), gaya hidup nyeleneh dan seniman-seniman yang hidupnya menderita, termasuk tempat transaksi obat-obat terlarang. Suasana khas itu kini masih bisa dirasakan jika kita berjalan menyusuri jalan-jalan di wilayah ini. Bagi yang berwisata bersama keluarga sebaiknya memang tidak melakukannya di saat malam hari.

Di bagian depan atau timur laut wilayah ini terdapat taman yang disebut Washington Square Park dimana dapat dijumpai sebuah tugu Plengkung Washington  (Washington Arch). Plengkung Washington yang berlokasi tepat di ujung selatan jalan Fifth Avenue ini dibangun pada tahun 1895 oleh Stanford White dari bahan marmer.

Tugu ini dibangun menandai seabad peringatan pelantikan presiden pertama Amerika, George Washington. Untuk menjaga keutuhannya, kini Plengkung Washington dipagar keliling, sehingga di bagian bawah plengkungnya tidak dapat dilewati sebagaimana Plengkung Gading di Yogya, misalnya.

***

Senja telah menjelang, ketika kami sampai di ujung barat jembatan Brooklyn. Kami memang akan menuju ke wilayah Brooklyn melalui sebuah jembatan yang juga bernama sama yang menghubungkan antara kecamatan Manhattan dan Brooklyn melintasi sungai Timur (East river). Selain jembatan Brooklyn, di sungai Timur ini juga melintas jembatan Manhattan dan Williamsburg. Di sebelah utaranya lagi ada jembatan Queensboro yang menghubungkan Manhattan dengan Queens.

Di samping beberapa jembatan, di bawah sungai Timur ini juga ada melintas dua buah terowongan, yaitu terowongan Brooklyn di sebelah selatan dan Queens Midtown di sebelah utara.

Selain dihubungkan melalui beberapa jembatan dan terowongan di sisi timur, wilayah Manhattan juga dapat dicapai dari sisi barat melalui beberapa terowongan di bawah sungai Hudson yang lebar. Antara lain terowongan Lincoln yang kami lewati saat pertama kali tiba di New York yang menghubungkan antara wilayah kota Union City di New Jersey dengan Manhattan di New York. Ada lagi terowongan Holland di sebelah selatannya yang menghubungkan kota Jersey City dengan Lower Manhattan. Sedangkan di ujung paling utara terdapat jembatan George Washington untuk mencapai wilayah Manhattan utara dari kota Fort Lee di New Jersey.

Dari atas jembatan Brooklyn tampak pemandangan indah di kedua wilayah di seberang-menyeberang sungai. Jembatan Brooklyn yang arsitekturnya terkesan lebih bernuansa seni jika dibandingkan dengan umumnya jembatan gantung, memang mempunyai profil penampilan agak berbeda.

Tiba di wilayah Brooklyn, kami lalu memutar menuju ke tepian sungai Timur dan berhenti di sebuah anjungan di tepi sungai. Di sana ada semacam dermaga tempat dimana orang-orang dapat dengan aman berdiri tepat di pinggir sungai. Berdiri menghadap ke barat dari tempat ini, tampak wilayah Manhattan di seberangnya dan jembatan Brooklyn yang membentang panjang dan tinggi di sisi kanannya. Seolah-olah sedang berada di bawah jembatan Brooklyn, meskipun tidak tepat di kolongnya.

Senja semakin gelap menuju malam. Temaram cahaya matahari semakin menghilang. Di kejauhan di seberang sungai Timur di wilayah Manhattan, tampak titik-titik cahaya lampu yang memancar dari gedung-gedung pencakar langit. Memberikan pesona pemandangan malam hari, berlatar belakang kerlap-kerlipnya cahaya lampu dan berlatar depan gelapnya permukaan air sungai, yang sesekali ada perahu berlalu membelah di tengah kegelapan. Pemandangan semacam ini sebenarnya bukan hal yang aneh, namun yang membedakannya dengan tempat-tempat lain karena dari tempat ini sejauh mata memandang yang tampak adalah bayangan gedung pencakar langit.

Sekitar pukul 10:00 malam, kami meninggalkan dermaga di bawah jembatan Brooklyn dan melanjutkan perjalanan kembali ke Manhattan. Saat kembali melintas di tengah jembatan Brooklyn, pemandangan malam hari belantara hutan beton Manhattan dengan pancaran lampu-lampunya tampak lebih jelas dari atas jembatan. Cahaya merah-kuning-biru yang memancar dari puncak menara Empire State Building juga tampak menjulang ke angkasa.

Akhirnya kami tiba di jalan 7th Avenue, lalu berjalan kaki kembali menuju hotel. Suasana jalan-jalan dan umumnya wilayah Manhattan di lokasi yang kami lalui masih tampak ramai meskipun tentunya tidak seramai dan sepadat saat siang hari. Paling tidak, suasana yang demikian ini membuat kami merasa aman untuk berjalan kaki bersama anak-anak menyusuri jalan-jalan penghubung menuju ke hotel.

Ya maklum saja, bagaimanapun juga kami tetap perlu menjaga kewaspadaan kalau mengingat bahwa tingkat keamanan kota New York yang relatif agak kurang aman terutama di malam hari jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Amerika. Tipikal kehidupan kota metropolitan yang penduduknya sangat heterogen, multi-rasial serta terdiri dari berbagai strata sosial.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(18).   Di Puncak Gedung Pencakar Langit

Hari ini adalah hari Jum’at, 7 Juli 2000, merupakan hari ketiga kami di New York. Sekitar jam 10:00 pagi kami baru meninggalkan hotel, menghirup udara Manhattan di saat matahari sudah agak tinggi. Kami langsung berjalan kaki menuju ke tempat pemberhentian bis wisata yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Rencana semula kami ingin mengunjungi dua buah gedung pencakar langit, yaitu Empire State Building dan World Trade Center (WTC) Building dengan menara kembarnya.

Namun mempertimbangkan agar saya tidak kehilangan sholat Jum’at tengah hari nanti, maka hanya salah satu gedung saja yang akan sempat kami kunjungi. Pertanyaan selanjutnya adalah : Gedung pencakar langit mana yang sebaiknya dikunjungi? Keduanya menjulang tinggi, Empire State yang berlokasi di jalan 34th Street tingginya mencapai 381 m dan terdiri dari 102 lantai, sedangkan WTC yang berlokasi di jalan West Street tingginya mencapai 411 m dan terdiri dari 110 lantai. Empire State Building pernah menjadi gedung tertinggi di dunia hingga tahun 1977 ketika posisinya digantikan oleh WTC Building.

Mengingat bahwa gedung WTC banyak dijumpai di mana-mana dan menimbang bahwa gedung Empire State lebih terkenal namanya, maka kami memutuskan untuk mengunjungi gedung pencakar langit Empire State yang namanya juga dipakai sebagai nama julukan negara bagian New York.

Sekitar jam 11:15 siang kami tiba di lantai dasar gedung Empire State yang ternyata merupakan kompleks pertokoan. Di luar dugaan saya sebelumnya, untuk naik ke lift ternyata sudah banyak orang yang antri. Sekitar 30 menit kemudian barulah lift yang kami naiki meluncur ke puncak gedung, menuju ke lantai paling atas yang boleh dikunjungi yaitu lantai 86, tepat di bawah bangunan menaranya.

Dari lantai 86 ini ada beberapa pintu yang menuju ke teras luar yaitu sebuah tempat terbuka yang lebarnya kira-kira 1.5 m mengelilingi puncak gedung yang berbentuk bujur sangkar. Saya pikir, inilah tempat di udara terbuka New York yang paling dekat dengan matahari. Angin pun bertiup spoi-spoi kering dan agak kencang. Kami lalu berjalan memutari teras yang di sekelilingnya dipasang pagar pengaman berupa pagar jeruji setinggi 3 meter.

Memandang jauh ke depan dari tempat ini kami dapat melihat hamparan luas New York City dan sungai-sungainya. Memandang ke arah bawah tampak jalan-jalan kota yang silang-menyilang timur-barat dan utara-selatan di sela-sela bangunan-bangunan tinggi. Sekumpulan taksi-taksi New York yang berwarna kuning dan berseliweran di sepanjang jalanan nampak seperti sedang ada kampanye Golkar. Kerumunan pejalan kaki dan penyeberang jalan yang memadati sekitar perempatan jalan nampak bergerak beriringan seperti semut ketika lampu tanda menyeberang menyala.

Empire State Building yang dirancang dengan motif art deco selesai dibangun tahun 1931 pada saat Amerika sedang mengalami depresi ekonomi. Entah kenapa gedung ini dibangun pada saat yang tidak tepat. Akibatnya, pengelola gedung ini kemudian mengalami kesulitan untuk memasarkannya, kesulitan mencari penghuni yang mau menyewanya.

Meskipun pembangunannya sendiri hanya memakan waktu dua tahun, namun setelah itu hingga belasan tahun banyak ruangan yang kosong tak berpenghuni. Karena itu sempat para New Yorker (sebutan untuk orang-orang New York) menyebut gedung ini dengan memelesetkannya menjadi “Empty State Building”. Namun untungnya kepopuleran menara observasi yang berada di lantai 102 gedung ini akhirnya berhasil menyelamatkannya dari kebangkrutan. Bahkan kini setiap tahunnya dikunjungi oleh tidak kurang dari 3,5 juta wisatawan dari seluruh dunia.

Gedung tinggi ini pernah beberapa kali dihantam petir. Bahkan pada tahun 1945 sempat disenggol oleh pesawat tempur B-45 tepat di lantai 79, hingga mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan mengakibatkan kerusakan senilai lebih US$ 1 juta.

Inilah gedung pencakar langit yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat kota New York. Gedung yang kalau ditimbang memiliki berat 60.000 ton ini dilengkapi dengan elevator berkecepatan tinggi, sehingga untuk menuju ke puncak bangunan cukup diperlukan waktu sekitar satu menit lebih sedikit.

***

Setelah puas “berkelana” di angkasa New York, kami lalu menuju ke lift untuk turun setelah sebelumnya sempat mampir ke toko cendera mata yang ada di lantai yang sama. Kali ini tidak terlalu lama mengantri. Tiba di luar gedung segera menuju ke tempat pemberhentian bis. Kali ini juga tidak terlalu panjang mengantri, tapi justru lama menunggu bisnya tidak datang-datang. Dari sini kami langsung menuju ke gedung PBB yang berlokasi di jalan First Avenue dengan niat ingin sholat Jum’at di sana, dan rasanya belum terlambat.

Sebenarnya di New York ini ada masjid Indonesia yang dikelola oleh masyarakat Indonesia yang ada di sana. Saya memang belum tahu ada di mana, dan rasanya akan dapat saya temukan kalau mau mencarinya meskipun untuk itu perlu waktu. Akan tetapi saya memang mempunyai rencana berbeda, yaitu ingin menikmati sholat Jum’at di gedung PBB. Sebuah gedung tempat bertemunya para duta negara-negara di dunia. Dari informasi yang saya miliki, di gedung PBB ada masjid. “Masak sih, mau numpang sholat tidak boleh”, pikir saya.

Itulah sebabnya maka siang itu saya langsung melanjutkan perjalanan dari gedung Empire State menuju ke gedung markas besar PBB dan berhenti tepat di depan pintu gerbangnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(19).    Ditolak Masuk Gedung Sekretariat PBB

Akhirnya kami tiba di jalan First Avenue, di depan sebuah gedung yang di halaman depannya terpasang berjejer puluhan bendera negara anggota PBB. Saking banyaknya bendera hingga mengganggu pandangan depan gedungnya. Kompleks gedung yang dikenal dengan nama United Nation Headquarter ini ternyata dari luar tampak biasa-biasa saja. Tidak segagah keputusan-keputusan sidangnya yang sering nakut-nakutin anggotanya, apalagi anggotanya yang “kelas gurem”. Rasa-rasanya masih tampak lebih megah gedung DPR/MPR kita yang di Senayan itu, yang pernah “boleh” dipanjat ramai-ramai.

Setelah melewati pemeriksaan seperti halnya kalau mau masuk bandara, akhirnya kami tiba di dalam gedung di bagian lobi umum, melalui pintu sisi utara. Masuk gedungnya sendiri tidak perlu membayar, namun disediakan sarana untuk berwisata menjelajahi gedung ini dengan membayar US$7.50 per orang dewasa. Karena tujuan utama saya adalah mau numpang sholat Jum’at, maka saya langsung mencoba mencari tahu di mana letak musholla atau masjidnya.

Dari informasi yang saya punyai dan setelah melihat sendiri situasinya, ternyata musholla atau masjid PBB berada di lantai 17 gedung utama atau Secretariat Building. Padahal untuk masuk ke gedung utama diperlukan ijin khusus. Sebelum saya menemui petugas yang ada di situ, saya sempat memperhatikan orang-orang yang mendaftar untuk memperoleh ijin masuk ke gedung utama. Semuanya berpenampilan rapi dan resmi, pakai jas dan dasi, dengan membawa tas atau segepok dokumen di tangannya. Tidak ada satupun yang berpenampilan sebagai wisatawan.

Akhirnya saya beranikan diri juga untuk bertanya bagaimana caranya kalau saya mau sholat Jum’at di masjid PBB. Eh, lha malah saya ganti ditanya : “Siapa sponsor Sampeyan?”. Wah, ya jelas tidak ada sponsornya. Wong saya lagi melancong, je….. Maka kemudian saya diberitahu oleh petugas itu bahwa untuk memasuki gedung utama diperlukan sponsor atau ada pihak yang mengundang, atau dengan kata lain ada yang menjadi tuan rumah atas kehadiran saya. Lha ya siapa yang mau menuan-rumahi saya, kalau saya datang ke situ dalam rangka melancong dan mampir mau nunut Jum’atan.

Yah, terpaksa saya kehilangan sholat Jum’at siang itu. Saya baru menyadari bahwa ada yang tidak lengkap dari informasi yang saya miliki untuk dapat masuk ke masjidnya PBB di bagian gedung yang disebut International Islamic Community. Ternyata memang tidak dapat begitu saja untuk mampir dan lalu numpang Jum’atan.

Tadinya pikiran saya berlogika bahwa gedung itu kan miliknya negara-negara sedunia, termasuk Indonesia. Karena itu tentunya saya juga berhak menjadi pemiliknya. Apalagi kalau tujuannya untuk ibadah, kan mestinya tidak ada halangan bagi siapapun untuk tidak diperbolehkan beribadah. Ternyata logika saya kelewat ndeso. Bagaimanapun juga setiap perkara itu ada aturan dan tata caranya demi kemaslahatan (kebaikan) semua pihak. Di antaranya ya demi keamanan bersama maka salah satunya aturan sponsor-menyeponsori itu diterapkan bagi siapa saja yang akan masuk ke gedung utama sekretariat PBB.

Yo wis (ya sudah)….., akhirnya kami jalan-jalan berkeliling di dalam lobi sayap timur gedung PBB saja. Di salah satu toko cendera mata yang ada di lantai dasar, ada dijual barang-barang kerajinan dari seluruh negara anggota PBB. Saya cari-cari yang dari Indonesia. Rupanya ada wayang golek dari Jabar, kerajinan kayu dari Bali, kerajinan perak dari Yogya, dan entah apa lagi wong penempatannya terpisah-pisah.

Selesai berkeliling di dalam ruangan, kemudian kami menuju keluar gedung. Di halaman terbuka sebelah timur yang siang itu matahari terasa panas menyengat ada beberapa patung menghiasi pelataran. Kami lalu menuju ke arah belakang atau menjauh dari pintu utama. Rupanya sungai Timur (East river) tepat berada di belakang gedung PBB.

Di kompleks PBB yang luas seluruhnya mencapai 7,3 ha ini selain terdapat Secretariat Building, ada bangunan berkubah yang disebut General Assembly Building tempat biasanya sidang umum diselenggarakan. Gedung General Assembly ini mampu menampung 1.400 delegasi, 160 wartawan dan 400 tamu. Pada setiap kursi delegasi dilengkapi dengan earphone untuk mendengarkan terjemahan dari setiap pidato ke dalam enam bahasa resmi yaitu : Inggris, Rusia, Cina, Perancis, Spanyol dan Arab.

Selain kedua bangunan tersebut masih ada bangunan lain yang disebut Conference Building dan Hammarskjold Library. Di bagian utara kompleks PBB ini terdapat sebidang halaman luas berumput. Setelah melewati sebidang halaman yang agak teduh dan rindang dengan pepohonan kecil, kami tiba di bantaran sungai yang sengaja dirancang menjadi sebuah taman di pinggir sungai tepat di belakang gedung PBB.

Jauh di seberang sungai tampak wilayah kecamatan Brooklyn. Di sungainya sendiri berlalu-lalang perahu-perahu dan kapal kecil. Gedung-gedung tinggi juga tampak menjulang di sisi yang sama di tepian sungai. Kalau saja kami ada di sana di saat sore atau senja hari, pasti suasananya lebih mengasyikkan.

Kelihatannya tempat itu memang sengaja dirancang untuk menjadi tempat refreshing bagi para delegasi PBB yang sedang jenuh bersidang dan melototin dokumen-dokumen, sehingga perlu melepas pandangan jauh-jauh. Sekaligus tempat ini menjadi obyek wisata tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke gedung markas besar PBB.   

Sekitar jam 4:30 sore, kami baru meninggalkan pelataran gedung PBB dan lalu menuju ke pintu gerbang utama. Sambil duduk-duduk di pinggir trotoar jalan, kami menunggu bis wisata yang akan membawa kami ke downtown. Terlihat ada dua orang petugas sedang menurunkan bendera-bendera negara anggota PBB yang seharian berkibar di sepanjang pagar halaman depan.

Rupanya bendera-bendera itu setiap pagi dikibarkan dan setiap sore diturunkan. Cara menurunkannya pun biasa-biasa saja serta tidak terlihat ada upacara tertentu. Dari pinggir jalan ini saya dapat melihat bangunan gedung utama sekretariat PBB yang menjulang setinggi 166 m dimana saya tadi tidak diperbolehkan masuk.

Cukup lama kami menunggu bis wisata yang tidak muncul-muncul, hingga sekitar 45 menit barulah kami meninggalkan gedung markas besar PBB yang terletak di pinggir tenggara Manhattan. Dari sini kemudian kami menuju ke jalan 59th Street di wilayah tengah Manhattan. Kami lalu turun di sisi tenggara Central Park atau di penggal jalan Central Park South. Central Park adalah sebuah taman sangat luas di pusat kota New York. Sengaja kami ingin menikmati suasana sore hari di Central Park.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.