Ketika Bumi Muter-muter Dan Kepala Kliyengan

Pengantar:

Berikut ini kumpulan catatan pengalaman saya ketika tiba-tiba terserang vertigo untuk pertama kali sepanjang hidup lebih setengah abad. Catatan ini secara berseri saya tulis sebagai cersta (cerita status) di Facebook pada tanggal 12-18 Maret 2011. Semoga ada manfaatnya, setidak-tidaknya menjadi bacaan selingan yang menghibur…

***

(1)

Hari Minggu kali ini diisi dengan berkebun tanaman hias di belakang toko di Madurejo, Sleman, DIY. Bercocok tanam bagi manusia setengah abad yang tidak biasa, sungguh bukan pekerjaan ringan. Padahal ya cuma gali-gali tanah lalu menanam di bawah mentari siang hingga sore.

Tapi rupanya pekerjaan yang dulu begitu enteng dilakukan, kini terasa sangat menguras energi. Usia memang tidak bisa dibohongi, tapi kok ya inginnya “berbohong” terus…

(2)

Enaknya kalau punya “boss” baik hati, tidak sombong, suka menabung, dan (tidak seberapa) rajin belajar… Tahu sopirnya kecapekan habis berkebun di belakang toko, sebagai wujud “boss” yang bertanggung jawab, pulangnya mampir warung sate kambing “Pak Tarno” di Jl. Prambanan-Piyungan yang dagingnya empuk karena dijamin kambing muda.

Tapi untuk urusan capek, “boss” saya lari dari tanggung jawab. “Panggil saja tukang pijit langganan itu…”. Huuu…

(Note: Yang saya maksud “boss” adalah ibunya anak-anak yang semakin enjoy ngurus toko).

(3)

Bangun pagi badan terasa kaku, pegel, sakit semua, dampak dari berkebun kemarin. Uugh..! Faktor “U” (usia) terbukti bekerja sesuai kodratnya. Pertanyaannya: Kenapa harus dikerjakan sendiri? Itulah soal yang sulit saya pungkiri jawabnya.

Ada kenikmatan dan keasyikan tersendiri saat adrenalin meningkat dan ada desir darah ketika faktor “G” (gairah) memuncak dengan berkebun sendiri. Tinggal mencari rumus yang pas antara kedua faktor itu.

(4)

Ternyata soal tidak seimbangnya faktor U & G bukan guyonan semata. Setelah Minggu siang menguras energi dengan berkebun di bawah terik matahari hingga sore, lalu makan sate dan gule kambing habis dua piring nasi, Senin terasa ada yang aneh dengan tubuh setengah abad ini.

Senin malam tidak nyenyak tidur karena kepala kliyengan, memandang dunia seolah berputar (ya memang bumi berputar pada porosnya). Tapi ini kok kamar tidur seisinya ikut berputar…

(5)

Lewat tengah malam saya terbangun kepingin pipis. Tapi rupanya seisi kamarku masih berputar. Untuk duduk pun sulit. Kupaksa berdiri, hampir jatuh, hilang keseimbang, akhirnya duduk lagi dan kembali terbaring. Waduh.., ada apa denganku?

Kuusahakan memejamkan mata untuk tidur lagi. Tapi bumi seperti benar-benar melayang dan berputar. Ada sedikit rasa nikmat seperti sedang fly (padahal seingatku fly tidak seperti itu…). Uuugh.., tiba-tiba aku merasa tak berdaya.

(6)

Sesaat kemudian aku terlelap. Hanya sebentar, karena terbangun lagi dan masih ingin pipis. Kali ini kupaksakan bertahan duduk walau dunia kamarku tetap berputar. Aku menang, kamarku kelelahan berputar. Kucoba berdiri, sempoyongan menuju kamar mandi. Berpegangan pintu, hingga berhasil berdiri di depan lubang closet.

Walau kepala kliyengan, aku masih bisa mengarahkan kencingku ke lubangnya. Tak kupungkiri, sejenak aku merasa hebat…

(7)

Kucoba melanjutkan tidur, tapi kepala kliyengan tidak karuan. Telentang mata melek, kamar seperti kembali berputar. Kucoba mata merem, sejenak terasa nikmatnya serasa terbang melayang, tapi lama-lama semua pun berputar. Ada apa denganku?

Aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Kepala tidak pusing, hanya kliyengan. Perut terasa mual mau muntah. “Harus bertahan”, kata hatiku. Dini hari, serasa sendirian, bergulat dengan rasa cemas yang sangat…

(8)

Cemas… Ya, tak kupungkiri itu kurasakan. Sempat berpikir buruk, jangan-jangan ini adalah penghujung perjalanan hidupku. Kutengok ibunya anak-anak di sebelahku lelap tidur. Mau kubangunkan, takut dia panik lalu memaksa ke RS (wah, orang lain enak tidur, aku malah ke RS…).

Kutahan dulu. Kliyengan semakin menjadi-jadi, mual tak tertahankan, mau bangkit tidak bisa, selalu terhuyung-huyung, akhirnya nggeblak lagi… Hanya dzikir dan salawat menyertai.

(9)

Saat hendak sholat subuh, benar-benar kupaksakan untuk berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Semua saya lakukan dalam adegan lambat.

Haha…, sholat subuh pun tertunaikan dalam adegan lambat. Karena ingin menikmati sensasinya, sengaja aku tidak memanfaatkan fasilitas sholat sambil berbaring. Habis itu nggeblak lagi… Dalam persepsi kepala dan panca inderaku, dunia benar-benar berputar tak terkendali.

(10)

Pagi datang menjelang. Segera ingat sahabat dokter di Jakarta yang ingin kuminta sarannya. Konsultasi saya lakukan via SMS agar tidak mengejutkan sahabat saya itu. (Haha.., kepala kliyengan tapi masih bisa nulis SMS, dunia berputar kecuali huruf-huruf di HP).

Dan kesimpulan sementara, saya kena vertigo. Beliau pun memberi tips-tips mengatasi kliyengan yang belakangan disebut namanya desensitisasi (Trims untuk dr. Nury Nusdwinuringtyas di Jakarta).

***

(11)

Pagi itu dr. Nury meminta saya melakukan latihan merem-melek. (Haha, saya sudah terbiasa, sukkaa… sekali melakukannya). Intinya: Buka-tutup mata berulang kali, memandang benda yang diyakini tidak bergerak, lalu mulai menggerakkan tubuh. Tetap mensugesti bahwa ruang tidak bergerak.

Jelasnya dalam SMS-nya: Tetap berbaring, buka mata, fokus pada satu benda. Kalau terasa berputar, merem lagi. Ketika terasa enak, buka mata lagi. Begitu berulang-ulang…

(12)

Ada perasaan lega setelah mendengar pandangan awal dr. Nury bahwa yang saya alami malam itu adalah vertigo. Setidak-tidaknya saya tahu apa yang sedang terjadi. Walau saya tetap merencana hari itu mau ke Rumah Sakit untuk konsultasi langsung dengan dokter. Dengan tahu apa yang terjadi, maka masalah menjadi lebih mudah diatasi.

Seringkali kita ini tidak tahu apa yang harus dilakukan bahkan kadang-kadang salah bertindak, karena kurang pandai mengidentifikasi apa yang sesungguhnya sedang terjadi…

(13)

Setelah lebih yakin dengan apa yang terjadi pagi itu, saya baru cerita kepada istri. Namun responnya di luar dugaan yang semula saya pikir dia akan terkejut. Eee, malah dengan enteng berkata: “Itu karena sampeyan kecapekan tapi tidak pernah dirasa…”.

Uugh… “Terus gimana?”, pancingku.
“Sini tak kerokin…”, jawabnya.
Weleh.., lha istriku kok lebih sakti, kataku dalam hati. Akhirnya kuturuti juga. Kusodorkan punggungku, siap kerokan…

(14)

Benar juga. Belum selesai kerokan, saya sudah bersendawa beberapa kali. Perut pun terasa makin lega. Rasa mual yang semalam terasa mendesak mau muntah jadi makin hilang. Tapi rasa kliyengan masih ada walau tidak separah semalam.
“Sana berjemur biar keringatan”, kata istriku santai.

Uuugh… Aku pun berjemur seperti bayi cuma tidak telanjang, hanya tanpa baju, di depan rumah di bawah sinar matahari pagi. Nyaman terasa di badan…

(15)

Pagi itu saya pergi ke Rumah Sakit tidak jauh dari rumah. Merasa kondisi badan lebih enak, saya naik sepeda. Saya perlu konsultasi dengan dokter tentang apa yang saya alami malam sebelumnya.

Tensiku 110/70. “Normal”, kata dokter yang kemudian juga berkata saya kena vertigo. Lalu diberinya aku resep obat untuk diminum tiga hari.

Keluar dari ruang dokter tiba-tiba kepalaku kliyengan. Segera saya berhenti berpegangan kursi ruang tunggu sampai kondisiku stabil.

(16)

Saya menuju ke bagian Farmasi, resep obat kuberikan. Petugas Farmasi kemudian memberitahu total harganya Rp 119.000,- Tiba-tiba saya diam tercenung. Saya lupa tanya dokternya, ini obat apa? Tapi petugas itu malah berkata: “Diambil setengah dulu boleh kok pak. Masing-masing untuk obat mual dan pusing”.

Pikiran luguku mulai bekerja. Saya sudah tidak mual dan dari semalam juga tidak pusing. Kalau begitu untuk apa minum obat? Lalu kataku: “Obatnya tidak jadi saya ambil sekarang…”.

(17)

Pulang dari RS perasaan terasa lebih lega karena dua dokter telah mengkonfirmasi tentang serangan vertigo. Setidak-tidaknya itu bukan serangan yang secara “historis” mematikan (kecuali sambil dipukuli kepalanya).

Bersepeda santai meninggalkan RS. Lha kok ndilalah, di seberang jalan, mataku tertuju pada sebuah warung soto. Haha.., jangan-jangan vertigo menyerang karena sebulan ini saya tidak nyoto… Dan, sepedaku seperti otomatis belok menuju warung.

(18)

Warung itu warung soto ayam komboran “Mas Bero”. Sejenak lupa dengan kliyengan saat nyruput soto panas wal-pedas, ditambah jerohan goreng. Nyemmm…

Sedang enak-enaknya menikmati soto, datang SMS dari istri: “Gimana keadaan sekarang? Ada perubahan? Sudah lebih enak?”.

Kujawab: “Alhmdulillah. Woenak banget. Aku lagi nyoto…”.

Lalu pesannya: “Yo wis. Maem yang banyak biar cepat sembuh”. Haha.., terpaksa sotonya nambah, seperti pesan istriku.

***

(19)

Lha wong kepala masih kliyengan kok ya kepingin makan tempe goreng sambal bawang. Terpaksa menggoreng sendiri. Gak tahu kenapa tiba-tiba jempolku mak nyosss menyentuh tempe puanas yang baru mentas dari pnggorengan.

Segera ingat daun binahong. Ya, itu daun sakti mandraguna. Dipetik, diremas, ditempel… Kurang dari sehari kulit tidak melepuh, tidak sakit, langsung kering, menyisakan batas lepuhan yang tidak jadi..

(20)

Setiap kali kliyengan timbul, dunia seperti berputar, segera saya lakukan desensitisasi dengan cara merem-melek. Kejadiannya mirip ketika naik kereta api berhenti di stasiun. Ketika lewat kereta lain, sepertinya gerbong kita yang jalan. Baru sadar ketika kemudian terlihat stasiun masih mbegogok (nongkrong) di seberang rel.

Maka ketika kliyengan tiba, lakukan sugesti diri bahwa bukan kita berputar. Berulang-ulang, karena masih ada kereta yang akan lewat…

(21)

Ketika tengah malam itu kepalaku kliyengan nggak karuan dan semua seperti muter, prasangka pertama sebelum tahu bahwa itu vertigo, saya menduga aliran darah ke otak tidak lancar. Maka yang kulakukan adalah memindahkan bantal dari kepala ke kaki sehingga posisi kepala lebih rendah.

Rupanya cukup membantu membuat lebih nyaman. Tentu saja yang saya lakukan itu bukan mengobati. Pada kesempatan pertama setelah itu baiknya tetap temui ahlinya (dokter).

(22)

Beberapa tips diberikan oleh beberapa rekan terkait vertigo (trims banyak). Seperti tips saat kliyengan, berusaha duduk lalu menunduk mencium lutut. Atau makan tomat dicampur sedikit gula.

Tentang tomat ini (konon) punya khasiat lain. Bagi pria dapat mencegah penyakit prostat. Juga untuk mengurangi kegemukan atau peyyut buncit jika rajin makan tumat sebagai menu terakhir sebelum bubu malam… Kalau pun ini salah, maka yakinlah tomat itu woenak…

(23)

Akhirnya, mengakhiri dongeng tentang “Si Vertigo”… Dalam kasus yang saya alami, Si Vertigo datang karena faktor G (gairah alias semangat beraktifitas) yang tak seimbang dengan faktor U (umur) pada saat bioritme fisik sedang di bawah.

Yang harus saya lakukan setelah serangan awal adalah banyak istirahat, memulihkan kondisi fisik. Tapi harus hati-hati, sebab kelamaan istirahat jadi nglangut (mengawang-awang) yang bisa berakibat munculnya faktor M (melamun)…

Yogyakarta, 12-18 Maret 2011
Yusuf Iskandar

About these ads

Tag: , , , ,

2 Tanggapan to “Ketika Bumi Muter-muter Dan Kepala Kliyengan”

  1. eti Says:

    thanks y atas berbaginya….

  2. Udin Wahidin Says:

    mirip seperti yang saya alami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: