Arsip untuk Januari, 2011

Mie Ayam “Virgo” Jogja

9 Januari 2011

Pulang dari Madurejo mampir ke warung mie ayam. Sering kuperhatikan warung kecil ini selalu ramai dan baru sore tadi kubuktikan ke-ramai-annya. Saat tersaji semangkuk mie ayam, kucoba mencecapnya. Mie dan sawinya biasa, tapi olahan ayamnya memang benar-benar woenak…

Pantesan, racikan pak Tanu yang berjudul Mie Ayam “Virgo” di Jl. Wonocatur Jogja itu bertahan sampai 21 tahun dan tetap digemari. Lha wong memang top-markotop je…

Yogyakarta, 1 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Semangkuk mie ayam yang penuh menggunung ini judul menunya ‘mie ayam x-tra sawi+ayam’ (dan kuhabiskan sore tadi), di warung mie ayam “Virgo” Jl. Wonocatur, Banguntapan, mBantul, Jogja (barat Ring Road). Semangkuk mie ayam biasa, harganya Rp 5 ribu. Tapi rasanya bo…

Pak Tanu siap meracik mie ayam kepada pelanggannya. Mie ayam “Virgo”, Jl. Wonocatur, Jogja. Kesederhanaan dan konsistensi untuk menjaga citarasanya, membuat warung mie ayam sederhana itu mampu bertahan hingga 21 tahun.

(Selain di Wonocatur, Pak Tanu juga membuka cabang di Berbah yang dikelola oleh anaknya)

Jadikan Jogja Tetap Istimewa

9 Januari 2011

Jogja Macet Padat Merayap (tapi tetap Istimewa) — Hari ini dan hari-hari ini Jogja padat, moacet di mana-mana, istimewa tidak seperti biasanya karena banyak pelibur bermobil dan bermotor masuk Jogja.

Bagi warga Jogja, berusahalah menjadi tuan rumah yang baik dengan melonggarkan syaraf sabar, sabbaaar dan sooabbaaaar… Jadikan Jogja tetap istimewa, ya kotanya, ya warganya. Makin istimewa, makiiiiin cinta….

Yogyakarta, 1 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Berpikirlah Sejenak

9 Januari 2011

Pikiran saya agak terganggu membaca banyak keluhan di Facebook maupun Twitter tentang kepadatan, kemacetan, desak-desakan, anak-anak yang menangis, dsb. yang kebanyakan menyalahkan panitia atau polisi.

Mestinya siapapun tahu bahwa situasi seperti itu jelas tak terhindarkan. Jadi sebaiknya berpikirlah sejenak sebelum memutuskan untuk berangkat menuju titik keramaian semacam itu tentang resiko yang dapat terjadi atau dialami, sebelum mengumbar bunyi-bunyian kemana-mana…

Yogyakarta, 1 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Suasana Seperti Perang

9 Januari 2011

Petasan dilarang, bahkan larangan itu sangat ketat ketika Lebaran tiba, tapi tidak untuk Tahun Baru…

Menjelang tengah malam saat pergantian tahun, suasana seperti perang. Bunyi petasan dan kembang api berpetasan seperti tidak ada jedanya di mana-mana. Sambung-menyambung menjadi satu…, itulah Indonesia. Bukan petasannya, tapi ketidak-konsistenannya…!

Yogyakarta, 1 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Harapan Sepanjang Hidup

9 Januari 2011

Tahun baru adalah tahun penuh harapan. Saking penuhnya sampai isinya harapan thok… Tapi ya tidak pernah tercapai wong harapan itu diperpanjang dan diperbaharui terus setiap tahun. Sehingga selamanya menjadi : hidup adalah harapan sepanjang harapan hidup yang dimiliki…

Yogyakarta, 31 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Wanti-wanti Untuk Anak Wedok

9 Januari 2011

Anak wedok kirim SMS, pamit ada acara tahun baruan dengan teman-teman kampus. Maka kubalas SMS-nya dengan wanti-wanti: “Wokkee…apapun acaranya, keep the spirit of muhasabah (introspeksi diri) and prepare for resolution what will be reached in 2011…”.

Selamat Tahun Baru 2011 – Mohon maaf lahir dan batin…

Yogyakarta, 31 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Melepas Matahari Terakhir 2010 Di Kaki Merapi

9 Januari 2011

Pengantar :

Berikut ini penggalan catatan saya saat mengunjungi desa Glagaharjo (kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman) yang berbatasan dengan desa Balerante (kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten) yang saya posting berurutan di Facebook. Kunjungan itu saya lakukan pada hari Jum’at tanggal 31 Desember 2010 dalam rangka ingin menyaksikan dan melepas matahari terakhir di penghujung tahun 2010.

Kabut sore terakhir di penghujung tahun 2010, di desa Balerante, Kemalang, Klaten (yang berbatasan dengan desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman)…

Yogyakarta, 31 Desember 2010
Yusuf Iskandar

——-

(1)

Bermaksud melepas matahari terakhir tahun 2010, Jum’at senja di kampung Klengon, dusun Kalitengah Lor, desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Ini adalah kawasan pemukiman tertinggi dan terujung di bawah Gunung Kendil, kaki tenggara Merapi. Kawasan ini kini musnah, menyisakan fondasi rumah dan sisa pepohonan yang terbakar awan panas (5/11/2010).

Namun sayang mendung bergelayut rata di angkasa, menutupi bentang Merapi.

(2)

Desa Glagaharjo, Cangkringan (dimana makam Mbah Maridjan berada) terletak di sisi timur kali Gendol. Di seberang barat kali Gendol terbentang kawasan desa Kinahrejo dan Kepuharjo yang nampak rata dan hilang tersapu awan panas. Seluas mata memandang ke arah barat, selatan dan timur adalah hamparan tanah terbuka yang didominasi oleh pemandangan pasir, lahar dingin dan sisa pepohonan mati.

(3)

Ketika kemarin sore saya mengajak seorang relawan mengunjungi desa Glagaharjo (Sleman) dan Balerante (Klaten), Kang Tugi sang relawan, mengajak naik motor saja. Mobil saya titipkan dan saya membonceng sepeda motor yang sudah tidak dikenali mereknya, yang suaranya mbeker-mbeker.., lebih 10 km mengikuti jalan menanjak dan…, blusukan ke bekas jalan-jalan desa.

Rupanya itulah alasannya, agar kami bisa blusukan di jalan-jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor…

(4)

Kawasan Glagaharjo dan Balerante masih nampak suram, lebih-lebih cuaca sore mendung seperti mau hujan sehingga bleger (sosok) Merapi menjadi tidak nampak. Padahal lokasi itu berjarak 5 km dari puncak.

Menyusuri jalan-jalan desa dengan sepeda motor, napak tilas dusun Klangon dan Kalitengah Lor yang merupakan kawasan terujung yang kini “hilang”, hingga masuk ke wilayah TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Bak penampungan dan sumber air goa Jepang masih ada di sana.

(5)

Kini kawasan Glagaharjo dan Balerante menjadi obyek tujuan wisata, seperti halnya Kepuharjo dan Kinahrejo. Lebihlebih di musim liburan ini, wilayah itu menjadi sangat padat pada siang hari. Sedang jalan-jalan desa yang ada umumnya sempit, maka bisa dibayangkan suasana yang padat oleh pengunjung termasuk sepeda motor dan mobil yang berdesak-desakan.

Keadaan ini nampaknya belum diantisipasi, bahkan hingga kini belum tertangani oleh pihak manapun.

(6)

Pihak perangkat desa belum sempat memikirkan desa yang kini ditinggalkan dan nyaris seperti “tak bertuan”. Apalagi perangkat pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi.

Dapat dimaklumi kalau pihak desa masih berfokus menangani warganya yang masih mengungsi karena mau kembali tidak lagi punya tempat berteduh, juga bagaimana masa depan mereka. Akibatnya tidak ada aparat keamanan yang turun ke kawasan itu. Maka tenggang rasa sesama pengunjunglah yang menjadi pengendali.

(7)

Terlihat beberapa bedeng sangat sederhana di beberapa lokasi di Glagaharjo. Sekedar atap peneduh dari plastik atau dinding gedek (bambu). Itu adalah bedeng yang digunakan oleh sebagian warga yang sebenarnya masih di pengungsian untuk membuka lapak berjualan makanan dan minuman seadanya. Sekedar memanfaatkan peluang usaha kecil-kecilan di lokasi wisata dadakan. Wisata bekas letusan Merapi. Tapi itu sebenarnya menjadi titik awal bangkitnya aktifitas ekonomi.

(8)

Relawan yang menemaniku berujar: “Saya kepingin membantu warga yang mau jualan dengan membuatkan warung yang lebih layak, sekalian dapat untuk berteduh pengunjung”.

Memang di kawasan seluas itu nyaris tidak ada bangunan yang masih tegak berdiri dan semua pepohonan mati. Para relawan sedang mengumpulkan material-material bekas yang masih dapat digunakan. Dan itulah salah satu info yang saya cari dalam kunjungan kemarin: Apa yang paling dibutuhkan saat sekarang ini.

(9)

Satu dua warga Glagaharjo kalau siang memang berjualan makanan-minuman bagi pengunjung. Satu dua warga mengumpulkan puing-puing rumahnya. Ada juga yang sudah mencoba mendirikan sebarang bedeng asal bisa ditempati dulu, sehingga bisa memulai beraktifitas di tempat semula.

Sekian lama tinggal di pengungsian tanpa kepastian kapan pulang tentu menjemukan, juga mereka menjadi tidak produktif. Berharap rumah bantuan, entah kapan turun dari langit…

(10)

Hal lain kemudian saya catat sebagai kebutuhan mendesak mereka adalah material bangunan untuk sekedar dapat mendirikan tempat berlindung sederhana, tidak permanen. Hanya agar mereka dapat memulai kehidupan di tempat asalnya, sebagai petani dan peternak. Atap, dinding dan kelengkapan seperlunya tentu akan sangat membantu.

Sekali lagi, berharap rumah? Ah.., berbiaya tinggi, sedang bantuan yang pernah dijanjikan entah kapan menjelma.

(11)

Hari makin petang dan awan gelap masih bergelayut di angkasa kaki Merapi ketika saya berada di kawasan TNGM. Rumpun-rumpun bambu yang dulu rimbun menghijau, kini kering, meranggas, roboh dan mati. Menyisakan pemandangan lepas ke arah gunung dan ke arah dataran rendah.

Masih ada bak penampung air. Perbaikan jaringan pengairan yang pasti perlu biaya banyak, belum mendesak saat ini mengingat warga belum kembali, walau tetap perlu direncanakan.

(12)

Di antara kegersangan tanpa satu pohon tinggipun tersisa melainkan kering dan mati seluas mata memandang, kini tunas-tunas tanaman pisang, keladi dan jenis rerumputan sudah mulai nampak menghijau. Memang akan perlu waktu untuk mengembalikan kerimbunan dan kehijauan Glagaharjo dan Balerante. Sedang kesuburan pasti akan meningkat. Maka penghijauan adalah program yang sedang digiatkan oleh para relawan di sana…

(13)

Para relawan yang sekarang “membina” kawasan Glagaharjo dan Balerante, saat ini sedang giat mengumpulkan bibit aneka tanaman keras. Tujuannya guna membantu mempercepat penghijauan.

Mengharapkan program pemerintah, mereka “no comment” (tidak perlu diterjemahkan apa artinya). Lebih baik langsung bergerak mengusahakan bibit tanaman apa saja sebisanya, bahkan meminta jika perlu dan mencari sendiri…

(14)

Jumat sore itu saya lihat beberapa bibit tanaman sudah ditanam. Mahoni, sengon, kelapa, talok (kersen), gayam, pendeknya bibit apa saja. Ada yang menyumbang tanaman buah seperti mangga dan rambutan. Bibit kelapa adalah hasil meminta karena memang tidak ada dana untuk membelinya. Bahkan bibit pohon gayam dan talok mereka cari sendiri.

Maka bantuan bibit tanaman adalah yang mereka harapkan sekarang. Bibit itu ditanam dimana saja di seluas kawasan gersang itu…

(15)

Menjelang maghrib saya tiba di dusun Sambungrejo, dusun paling ujung atas di desa Balerante, Klaten. Tempat yang saya tuju adalah sebuah masjid yang sedang direnovasi. Dari kejauhan masjid kecil ini, Al-Barokah namanya, nampak jelas berdiri megah. Dari pelataran masjid itu kupandang lepas kawasan gersang ke arah dataran rendah.

Dalam hembusan angin sejuk bertiup cukup kuat, kulepas kepergian senja terakhir tahun 2010… Subhanallah…

(16)

Di sebelah masjid kecil itu ada sebuah rumah yang nampak mulai ada penghuninya. Di sana saya bertemu dengan pak Barjo, takmir masjid itu, satu dari sedikit warga Balerante yang sudah mulai kembali.

Dari pak Barjo saya tahu, bahwa rupanya memang menjadi prioritas Pemkab Klaten untuk memperbaiki masjid lebih dulu (setelah sebelumnya dikunjungi oleh Bupatinya…). Pak Barjo juga sekalian menunggu dan merawat ternak sapi penggantian dari pemerintah untuk sapi-sapinya yang mati.

(17)

Di rumah yang masih terlihat baru diperbaiki itu pak Barjo tinggal bersama kedua orang tuanya, Mbah Sudi dan istrinya yang jelas menampakkan wajah tuanya. Di senja yang berhawa sejuk itu mbah Sudi sedang duduk santai menghangatkan badan dengan menyalakan api unggun di hadapannya.

Melihat kedatanganku, mbah Sudi dan istrinya bangkit menghampiri dan menyalamiku. Tidak tampak kesusahan di mukanya, melainkan aura damai terpancar di wajahnya. Ah…

(18)

Jejak sapuan wedhus gembel dapat saya temukan di seputaran rumah mbah Sudi dan masjid di dekatnya. Dua sepeda motornya yang kini tinggal rangka, masih teronggok di depan rumahnya. Horn (pengeras suara) masjid tergeletak bak besi tua, juga mustoko (kubah) masjid yang lama, selain onggokan kayu seperti sisa kebakaran.

Ketika kutanya apa kegiatannya sekarang. Jawabnya lugu: “Inggih pados suket kangge pakan sapi…(ya cari rumput untuk pakan sapi)”.

(19)           ‎

Antara desa Glagaharjo, kabupaten Sleman dan Balerante, kabupaten Klaten, memang hanya terpisah sebuah jalan desa. Tapi bagaimana kedua Pemkab itu menangani masyaakatnya, nampaknya masyarakat Glagaharjo pantas iri dengan tetangganya di Balerante.

Saat penggantian ternak mati masih angin sorga di Glagaharjo, tetangganya di Balerante sudah sibuk mencari rumput untuk sapi-sapi yang sudah ada di kandangnya, bangunan rumah contoh sudah mulai dibangun, termasuk masjid, dsb.

(20)

Saat warga Glagaharjo belum sempat terpikir melakukan penghijauan, kepada warga Balerante sudah dibagikan bantuan ribuan bibit tanaman. Para relawan kini berupaya mencari bibit tanaman bagi desa Glagaharjo dimana pihak pemerintah belum juga mulai bergerak “menghidupkan” desa itu.

Peran para relawan yang tidak menerima upah sepeserpun dari siapapun layak diapresiasi. Mereka yang kini aktif ngupokoro (mengelola) kawasan yanlg seoah tak bertuan…

(21)

Senja semakin remang, saya turun ke dusun di bawahnya, Banjarsari. Di sini lebih banyak warga yang kembali dari pengungsian. Mereka perbaiki rumah seperlunya asal dapat ditempati dulu. Beberapa warga terlihat sedang membuat api unggun di pinggir jalan untuk menghangatkan suasana yang sejuk, di depan masjid Al-Fatah yang juga baru selesai direnovasi.

Di masjid ini pula kusempatkan bersujud guna menghormati waktu maghrib terakhir tahun 2010…

(22)

Hari semakin gelap, saya menuju ke sebuah rumah yang kini dijadikan Posko Banjarsari, desa Balerante. Pak Darmini, ketua Posko menerima kedatangan saya dengan sangat baik. Kami bertukar pikiran tentang penanganan pasca bencana.

Saya tahu kenapa sebagian warga Balerante sudah kembali dari pengungsian, karena rupanya mereka digilir ronda guna menjaga ternak penggantian pemerintah yang sudah mereka terima, juga harta benda yang msh ada disana.

(23)           ‎

Posko Banjarsari bukan sekedar Posko penerimaan bantuan, tapi juga membuka dapur umum. Benar-benar dapur untuk umum karena siapa saja boleh ikut makan di situ. Bahan makanannya berasal dari bantuan logistik dari siapa saja. Tukang masaknya juga siapa saja yang mau. Dan rupanya selalu ada relawan yang datang dan pergi silih berganti dari mana-mana yang membantu membersihkan desa, menanam pohon, dsb. Semua ikut makan di dapur umum.

(24)

Jum’at malam itu, malam tahun baru 2011, bu Darmini menyuguhkan menu istimewa. Nasi putih, sayur daun ubi dan mie instan rebus. Semua disajikan dingin. Minuman tehnya saja yang hangat. Tapi nuikmatnya… Wow! Saya “terpaksa” nambah makan sayur daun ubi bumbu ndeso.

Soal wujud, rasa dan harganya tidak ada apa-apanya dibanding menu tahun baru di tempat-tempat hiburan. Tapi soal kenikmatan dan kesyukuran, tidak serta-merta harus berbanding lurus..

(25)

Bermalam tahun baru di kaki Merapi yang sejuk tapi gersang, sepi tapi tenteram, sederhana tapi bermakna… Sementra di tempat lain berbiaya tinggi tapi full “mudharat”, di kaki Merapi bergantung bantuan orang lain tapi sarat hikmah.

Apakah di kaki Merapi lebih baik daripada di tempat lain? Bukan itu soalnya, melainkan bagaimana menempatkan diri ke dalam medium yang sesuai menuju titik pencapaian. Perkara titik itu baik atau buruk, ya monggo (silakan)…

(26)

Sambil mnikmati sayur daun ubi dan nyruput teh panas, bercengkerama dengan pak Darmini dan beberapa warga Balerante…

Tiba-tiba ada yang nyeletuk: “Malam ini malam tahun baru lho…”.

Kata salah seorang: “Ya apa bedanya tahun baru dan tidak”.

Iya, ya, apa bedanya..? Ada seribu jawab dari perspektif berbeda. Tapi yang pasti kalender ruang tamu harus diganti. Itu pun kalau ada yang memberi gratis bergambar bintang film cantik, kalau tidak ya di pasang di jumbleng.

(27)

Hari sudah malam dan gulita ketika saya meninggalkan Balerante. Mendung di langit mulai agak tersingkap. Menyusuri jalan desa perbatasan provinsi Jateng-DIY dan memandang ke arah dataran rendah di selatan terkesan lepas dan luas.

“Beruntung” tiada lagi rumah warga dan pepohonan, sehingga bentang kota Yogyakarta di malam hari terlihat indah dengan kerlap-kerlip lampu kota, yang pasti sedang sibuk menyongsong detik-detik pergantian kalender…

(28)

Dalam perjalanan pulang, berhenti di sebuah warung di timur perempatan Manisrenggo, Klaten. Relawan yang menemani perjalanan saya hari itu mengajak mampir ke warung langganannya. Di sana dijual nasi kucing spesial.

Nasi kucing? Ya, nasi seukuran jatah makan kucing yang dibungkus kertas dengan lauk sesendok sambal belut. Harganya Rp 1000,- per bungkus. Wow..! Saya makan sebungkus, bukan karena lapar tapi ingin mencicipi rasanya…

(29)

Sambal belut terbuat dari belut goreng ditumbuk, dibumbu bawang, cabe, garam lalu disangrai. Mirip roa ikan cakalang dari Manado. Ketika dimakan dengan nasi putih (apalagi kalau hangat). Uhmm..!

“Kali ini tidak terlalu pedas. Cabenya mahal”, kata si penjual. Oo.., tak terbayang bahwa harga cabe akan berpengaruh terhadap kualitas nasi kucing. Kalau bukan karena sudah kenyang makan nasi sayur daun ubi, ingin sekali nambah dua takaran kucing…

(30)

Perjalanan saya ke Glagaharjo-Balerante di kaki tenggara Merapi pada Jumat sore terakhir di penghujung tahun 2010 diakhiri dengan obrolan ngalor-ngidul di sebuah warung di Manisrenggo bersama sesama penggemar nasi kucing. Khas suasana warung angkringan… Makannya tak seberapa, tapi berlama-lama nongkrongnya itu…

“Selamat Tahun Baru 2011″.

——-

Gule Kambing Dan Sate Goreng “Marto Gule” Madurejo Sleman

7 Januari 2011

Gule kambing, sederhana tapi agak manis gimana gitu… “Marto Gule”, perempatan pasar Gendeng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Menu sederhana (kolesterolnya yang tidak sederhana) tapi bertahan puluhan tahun di tempat yang sama. Sekarang adalah generasi ketiga dari penggiat dan pengusaha pergulean di pinggir timur kota Jogja.

Selain gule, warung “Marto Gule” di Madurejo, Prambanan, ini juga menyediakan menu kambing lainnya, yaitu sate goreng dan tongseng. Sate goreng sebenarnya adalah daging yang dipotong kecil-kecil seperti untuk sate, bumbunya langsung dicampur saat menggoreng. Berbumbu kecap, manis.

Warung ini sekarang dikelola dan dijurumasaki oleh keponakan mbah Marto sejak 1989. Sedang mbah Marto sendiri mewarisi dari ortunya, berarti sudah sejak puluhan tahun sebelumnya.

Yogyakarta, 30 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Hidup Tanpa Kartu ATM

7 Januari 2011

Seprana-seprene… (selama ini), “boss” saya itu tidak pernah mau membuat kartu ATM, untuk alasan tidak pernah bisa saya pahami. Pokoknya nggak perlu, kalau perlu uang ya bawa dari rumah. Begitu jalan pikirannya. Tapi faktanya, uangnya jauh lebih awet ketimbang uangku….

Aha! Tidak perlu ditarik kesimpulan. It just a case, but a lesson must be there… Dan hikmah pembelajaran itu tidak akan pernah sama bagi setiap orang dan setiap kasus…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Membebaskan Indonesia Dari Kepentingan

7 Januari 2011

“Jangan Malu untuk Belajar” (dari sukses Malaysia menjuarai Piala AFF 2010), kembali kata Kompas hari ini seperti menegaskan headline tiga hari yll “Indonesia Perlu Belajar”… Tim Garuda gagal juara, tapi semua sepakat bahwa Garuda tidak kalah hanya Harimau lebih beruntung.

Apapun itu, nampaknya memang benar bahwa masih ada sisi-sisi dimana bangsa ‘daripada’ Indonesia ini masih ada yang perlu dibebaskan ‘daripada’ kepentingan ‘daripada’ hal-hal yang tidak proporsional…

Yogyakarta, 30 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Bukan Meminjami Tapi Pinjamlah

7 Januari 2011

Menemani “boss” saya ke bank. Melihat papan tulisan daftar suku bunga, dia berkomentar: “Bunga deposito jauh lebih tinggi daripada tabungan”.

Jawabku: “Masih lebih tinggi bunga (hasil) toko Madurejo…”. Makanya kalau mau “meminjami” uang ke bank nggak usah banyak-banyak, tapi “pinjamlah” uang bank sebuuuanyak-buuuanyaknya…, lalu “bungakan” di toko (usaha) sendiri. Nanti bank dikasih bagian sedikit saja sudah senang kok…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Tidak Butuh Kartu Nama

7 Januari 2011

Tertidur nyenyak habis subuh, mimpi ngobrol canda dengan Barack Obama. Dia janji mau memberi pekerjaan, lalu minta kartu nama. Waktu sedang sibuk cari-cari kartu nama, lha kok terbangun…, dan kesiangan.

Alhamdulillah, ternyata benar, ada pekerjaan yang tidak butuh kartu nama. Ibunya anak-anak minta dibantu nyeterika baju dan membersihkan muntah-muntahan kucing di kursi teras belakang… Uuugh, pekerjaan fear factor yang tidak butuh adrenalin…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Soto Surabaya “Cak Saheri” Jogja

7 Januari 2011

Nunggu service motor, nyoto dulu… Soto Surabaya “Cak Saheri”, Jl. Pramuka, Jogja, dicampur uritan (telur ayam yang belum jadi) ditaburi koya (bubuk krupuk) khas Suroboyo… “Urip iku mung sak dermo nunut nyoto” (hidup ini cuma numpang nyruput soto…)…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Ingin Tahun Baru Di Kota

7 Januari 2011

Menyongsong hari baru 2011, anak lanang tiba-tiba punya ide lain. Kali ini tidak ingin berada di gunung saat detik-detik pergantian tahun. “Sudah tiga kali tahun baru di gunung terus. Ingin sekali-sekali di kota…”, katanya.

Yaaa…, alasan yang dapat diterima. Tinggal bapaknya yang harus menyesuaikan, karena tidak punya alasan untuk mengantar (masak harus mengantar ke kota…). Tapi kok Merapi seolah melambai minta disambangi…

Yogyakarta, 28 December 2010
Yusuf Iskandar

Apalagi Yang Belum Dipelajari?

7 Januari 2011

‎”Indonesia Perlu Belajar”, kata Kompas hari ini, reaksi atas kekalahan 0-3 dari Malaysia dalam final piala AFF. Saya merenung. Bukankah Indonesia sudah sering belajar, kebanyakan malah.

Tapi siapa dan perlu belajar apa lagi? Pemain & PSSI itu hanya bagian kecil dari Indonesia. Semua sudah dipelajari. Gempa, tsunami, banjir, longsor, gunung mbledos, lalu matematika, fisika sampai agama, pancasila, korupsi, bahkan klenik pun dipelajari. Jadi apalagi yang belum dipelajari?

Yogyakarta, 27 December 2010
Yusuf Iskandar

Giliran Penontonnya Main

7 Januari 2011

Setelah Indonesia kalah 0-3 dari Malaysia dalam laga Leg-1 final piala AFF malam ini. Saat para pemain dan tim Garuda Di Dadaku yang “kuyakin hari ini pasti menang” sedang berduka, maka tiba giliran penontonnya yang main. Saksikan tiga hari ke depan di semua stasiun televisi… Biasanya lebih seru dari permainan yang sebenarnya…! (Beruntunglah para politikus dan pejabat bermasalah yang bisa rehat sejenak tidak diublek-ublek televisi).

Yogyakarta, 26 December 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Garuda Terkulai Satu Sayapnya

7 Januari 2011

Walau saya bukan penggemar berat sepakbola, rasanya ikut tegang dan prihatin menyaksikan Garuda di dadaku yang malam ini satu sayapnya terkulai. Berharap ada mukjizat yang akan memulihkan sayapnya menjadi lebih kekar.

Lha kok ibunya anak-anak yang lebih-lebih bukan penggemar bola kirim SMS sok tahu dari tokonya: “Segala sesuatu memang ora iso (tidak bisa…) menyepelekan”. Langsung kubalas: “Yo ngomongo karo pelatihe…(ya sana bicara sama pelatihnya)”.

Yogyakarta, 26 December 2010
Yusuf Iskandar

Mendadak Suka Bola

7 Januari 2011

Sedih rasanya menyaksikan gol demi gol bersarang di gawang Indonesia malam ini. Lha kok ibunya anak-anak yang bukan pecinta bola, nonton juga tidak pernah, apalagi main, saat Indonesia kebobolan 0-1, dari tokonya kirim SMS: “Piye kuwi (gimana itu) Indonesia kalah”.

Saat 0-2 kirim SMS lagi: “Kuwi gol meneh (tuh gol lagi)”. Saat 0-3 kirim SMS lagi: “Kuwi dibabat meneh (tuh dibabat lagi)”. Saking keselnya kubalas: “Hey, tokonya jangan ditinggal!”.

Yogyakarta, 26 December 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Lampu Merah Dan Hijau Menyala Bersama

7 Januari 2011

Jawablah dengan pas… Ketika tiba di perempatan, lampu merah dan hijau nyala bersamaan:

A. Anggap sebagai hijau, dengan resiko ternyata Anda menerobos; B. Anggap sebagai merah, dengan resiko diklaksonin dari belakang; C. Stop sebentar nunggu teman lalu ramai-ramai menerobos;
D. Stop sebentar, cek lalulintas dari arah lain…

Ketika tadi sore saya berada dalam situasi seperti itu, semua jawaban salah, melainkan: Nekat jalan pelan sambil menginspirasi menulis status apa di FB…

Yogyakarta, 25 December 2010
Yusuf Iskandar

Banting Setir Menjadi Penjual Es Kelapa Muda

7 Januari 2011

Pengantar:

Catatan di bawah ini adalah kumpulan dari catatan status saya di Facebook.-

——-

(1)

Di seberang jalan depan tokoku “Madurejo Swalayan”, Sleman, Jogja Istimewa, beberapa bulan ini saya lihat ada penjual es kelapa muda. Meja, keranjang dan perlengkapannya nampak masih baru.

Hari ini saya sempatkan datang membeli segelas dan saya minum sambil duduk di pinggir jalan di bawah pohon. Bukan karena saya haus dan ngidam kelapa muda, tapi karena saya ingin ngobrol dan mengenal lebih jauh tetangga baru saya itu…

(2)

Pak Rohmadi dan istrinya bekerja sebagai buruh. Ya buruh bangunan, pabrik, pelayan toko, kuli, dsb. Pendeknya, sejak muda menjadi orang gajian berganti-ganti bidang dengan penghasilan bulanan yang segitu-segitunya.

Beberapa bulan yll mereka membuat keputusan besar dalam hidupnya, mengakhiri “petualangan” sebagai buruh dan banting setir menjadi pengusaha. Usaha pertama yang dilakukannya adalah jualan es kelapa muda di pinggir jalan.

(3)

Keuntungan bersih pak Rohmadi dari hasil jualan es kelamud (kelapa muda) berkisar Rp 40-50 ribu/hari. “Tergantung cuaca”, katanya. Sebenarnya tidak jauh beda dengan pendapatannya ketika menjadi buruh.

Tapi kini pak Rohmadi melihat di depan matanya membentang ribuan peluang yang memungkinkannya untuk melipat-gandakan penghasilannya 10 kali, 100 kali, 1000 kali dari hasilnya yang sekarang. Keyakinan itu perlu, walau belum tahu apa yang dapat dilakukannya saat ini.

(4)

Memang belum setengah tahun pak Rohmadi menekuni bisnis es kelamud. Belum dapat diukur apakah usahanya berkembang atau mengempis. Tapi yang pasti bahwa sejak banting setir menjadi pengusaha, dia sudah berhasil masuk tahap MPP (Menangkap Peluang Pertama).

Perkara nanti akan terus jualan es kelamud atau harus ganti dengan peluang kedua, ketiga, dst., itu soal lain. Sebab banyak orang yang bahkan untuk MPP pun sepertinya harus kungkum (berendam) di sungai tujuh hari tujuh malam..

(5)

Keranjang dipasang di kiri-kanan sepeda motor pak Rohmadi. Setiap pagi suami-istri itu berangkat dari rumah membawa perlengkapan jualannya. Ditatanya di atas meja kayu sederhana di pinggir jalan di bawah pohon, di seberang jalan depan tokoku. Sore biasanya mereka pulang.

Penghasilan mereka memang masih pas-pasan. Tapi kebebasan untuk mengatur irama hidup yang dimilikinya.., itulah nampaknya buah pertama dari keputusannya banting setir.

‎(6)

Bu Rohmadi agak kaget saat tahu saya, pembelinya yang banyak tanya ini, adalah pemilik toko swalayan di depannya. Lalu sampailah pada saat yang kutunggu-tunggu. Bu Rohmadi berkata: “Kenapa tidak jual baju-baju? Banyak yang tanya lho pak…”. Ini adalah informasi yang sangat berharga.

Harus dipahami, tidak mudah berharap masyarakat desa mau tanya hal-hal seperti itu langsung ke toko, melainkan melalui obrolan dengan orang lain. Sementara fashion memang belum menjadi segmen yang saya garap.

Yogyakarta, 25 Desember 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.