Arsip untuk Desember, 2010

“Burung Singa” Tak Mau Ingkar Janji

20 Desember 2010

Seperti tak mau kalah dengan Merpati dan Merapi, “Burung Singa” pun tak mau ingkar janji. Di bandara Mutiara Palu, panggilan boarding dilakukan sesuai jadwal. Eh, lha ternyata take-off tetap saja terlambat lebih 20 menit tanpa permohonan maaf. Maka bagi penumpang maskapai ini, ketika beli tiket harus juga sudah menyediakan maaf utk diberikan tanpa diminta, dan dilarang sakit hati…, kalau rada serik (jengkel) boleh…

Makassar, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Warung Kopi “Harapan” Palu

20 Desember 2010

Mampir ke warung kopi “Harapan” Jl. M. Yamin, yang sudah kondang di Palu. Warkop milik mas Acang alias Arif Abdullah ini menjual minuman kopi racikan “rahasia” run-temurrun dari embahnya yang asli dari Tiongkok, yang sudah membuka warung kopi sejak tahun 1959.

Taste kopinya benar-benar spesial, sensasi theng-nya nuikmat tenan… Sayang tidak menjual bubuk kopinya. Perlu dirayu dulu untuk akhirnya sekantong kecil bubuk kopi bisa saya bawa pulang.

Palu, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mas Aceng siap melayani pembeli fanatik kopinya — Warung Kopi “Harapan” Jl. M Yamin Palu, menjadi jujukan ngopi utk bersantai para pejabat dan masyarakat karena suasana yang santai di tepi trotoar jalan.

Perjalanan Setengah Trans – Sulawesi

20 Desember 2010

Tunai sudah perjalanan darat setengah Trans Sulawesi melintasi Makassar (Sulsel) – Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng) sejauh lebih dari 800 km. Siang ini tiba di bandara Mutiara Palu, siap-siap melanjutkan perjalanan udara dengan “Burung Singa” Palu-Makassar-Surabaya-Yogyakarta.

Palu, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kaledo Khas Palu

20 Desember 2010

Kaledo (kaki lembu donggala), menu khas Palu. Tulang dan sumsum kaki sapi dimasak dengan kuah rasa asam, dimakan tidak dengan nasi tapi ubi rebus, dengan asesori bawang goreng khas Palu dan paru goreng. Serasa belum makan (wong tanpa nasi), tapi kuenyangnya minta ampyun…

Huhmm, mak nyusss tenan itu namanya sumsum kaki. Tapi menyesuaikan status Merapi, statusku pun meningkat ke Awas kolesterol… (Ya diawasin aja, kaledonya tetap buablass).

Palu, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Palu…!

20 Desember 2010

Salah satu sudut kota Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah.

Palu, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Antara Donggala – Palu

20 Desember 2010

Jalur sepanjang sekitar 30 km antara Donggala – Palu, menyusuri pesisir teluk Donggala yang berpemandangan cukup menarik (saya bayangkan kalau malam pasti tampak indah sekali dengan kerlip lampu kawasan Palu yang berada di perbukitan). Kota Donggala dan Palu memang baku hadap terpisah teluk.

Donggala, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Geliat Pembangunan Di Pesisir Teluk Donggala

20 Desember 2010

 

 

 

 

 

Kota Donggala (Sulteng) menunjukkan geliat pembangunan kota terutama di jalan pesisir pantai teluk Donggala, di jalan antara Donggala dengan Palu.

Donggala, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Membunyikan Klakson Panjang-panjang

20 Desember 2010

Saya tidak habis pikir, pak sopir ini setiap kali ada orang, sepeda, apalagi sepeda motor, selalu membunyikan klakson panjang-panjang seperti sedang marah. Membuat jadi risih di telinga. Jadi ingin tahu kenapa.

Rupanya orang-orang itu suka jalan atau menyeberang seenaknya, terutama penyepeda motor yang suka tiba-tiba jalan ke tengah, memotong jalan tidak tolah-toleh atau memberi tanda. Kalau di Jawa suka saya bilang ke ibunya anak-anak: “Kuwi jaran (itu kuda)…”.

Antara Karossa – Donggala, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Itulah Juga Indonesia

20 Desember 2010

Dalam perjalanan antara Karossa (Sulbar) – Palu (Sulteng), seorang teman merasa kesal karena susah menghubungi saya dan sekalinya bisa nyambung, terputus beberapa kali.

Saya katakan: “Jangan dibayangkan seperti di Jawa”. Dari satu tempat sampai tempat lain, berjajar sinyal-sinyal, sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Di Sulawesi, sinyal tidak sambung-menyambung menjadi satu, tapi itulah juga Indonesia

Antara Karossa – Donggala, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Meninggalkan Karossa

20 Desember 2010

Jam 06:45 WITA meninggalkan Karossa ke arah utara menuju kota Palu (Sulteng). Perjalanan 4-5 jam akan saya tempuh untuk mengejar pesawat siang dari Palu yang akan terbang menuju Surabaya lalu Jogja.

Karossa, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kehidupan Pagi Di Karossa

20 Desember 2010

Yang saya sukai dengan kehidupan di kota kecil seperti Karossa ini adalah banyak warung, kios atau toko yang sudah membuka usahanya sebelum jam enam pagi. Khas kehidupan kota di kawasan jalur lintas atau transit, seperti di jalan poros Trans-Sulawesi ini.

Rejeki memang tidak akan kemana, tapi kalau tidak dicari ya akhirnya benar-benar tidak akan kemana-mana, tidak juga mampir ke rumah kita (mampir saja tidak, apalagi mendayagunakannya).

Karossa, 30 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Sayur Kepala Ikan

20 Desember 2010

Menu makan yang hampir selalu dijumpai di jalan lintas Sulawesi adalah ikan laut. Calon pemakan memilih sendiri ikan dalam almari pendingin. Setelah itu tinggal mau digoreng, dibakar atau disayur. Saat itu juga ikan langsung dimasaknya, dan selalu disajikan dengan asesori kuah.

Malam ini, di “Warung Hery”, Sarudu, Mamuju, kupesan kepala ikan batu yang disayur asam. Bumbunya pas sekali, sehingga ketika disruput celah-celah tulangnya…hmm suedap tenan.

Sarudu, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mereka Yang Beruntung

20 Desember 2010

Jam 16:00 WITA, dari Karossa menuju selatan sejauh satu jam untuk mencari ATM. Begitu dapat duit langsung kembali ke Karossa. Dilanjutkan menuju utara sejauh setengah jam untuk mencari warung agak enak. Begitu dapat kepala ikan langsung kembali ke Karossa, tiba jam 21:00 WITA –

Yen tak pikir-pikir.., betapa beruntung mereka yang tinggal di kota-kota besar. (Tapi jelas tidak boleh diterjemahkan betapa tidak beruntung mereka yang tinggal jauh dari kota besar…).

Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Hanya Ada Satu ATM

20 Desember 2010

Tidak ada ATM di Karossa. Maka ketika saya perlu uang tunai, terpaksa harus mencari ATM ke kota kecamatan terdekat, yaitu kecamatan Topoyo yang berjarak sekitar sejam berkendaraan ke arah selatan dari Karossa. Itu pun di sana hanya ada satu mesin ATM milik BRI… Lha, kalau kebetulan rusak? (rusak kok kebetulan…). Pergilah ke kota Mamuju atau Palu yang berjarak 3-4 jam berkendaraan.

Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Anak Seorang Peladang Dan Serangga Mainannya

20 Desember 2010

Dika (laki-laki, 4 tahun), anak seorang peladang dan tinggal bersama orang tuanya di pondok peladang. Dika sedang bermain dengan serangga yang ditangkapnya di pinggir sungai.

 

 

 

 

 

Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mindset Seorang Petani

20 Desember 2010

Ngobrol dengan seorang peladang. Banyak petani punya ladang luas ditanami coklat atau kakao. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Tapi kenapa tingkat kehidupan mereka begita-begitu saja dari tahun ke tahun?

Dengan bahasa sederhana peladang itu mengatakan, bahwa itu karena mindset mereka adalah berladang dan bukan berbisnis hasil pertanian. Maka yang penting bagaimana mereka bisa hidup dari ladangnya, dan bukan bagaimana mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Tidak Jum’atan

20 Desember 2010

Terpaksa tidak Jumatan siang ini. Di camp sendiri menunggu teman yang akan mengantar ke kota. Kalau saja ada teman yang mau Jumatan (karena ada yang nggak mau), Jumatan dapat diatur. Salah satu menjadi khatib (tukang khotbah) merangkap imam (pemimpin sholat), satu lagi menjadi muadzin (tukang adzan) merangkap makmum (peserta sholat).

Lha kalau sendirian? Di hutan, hujan, nggak ada sinyal, rokok juga habis (keukeuh we..), teman nggaaak datang-datang, yo wis…

Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pondok Peladang

20 Desember 2010

Pondok peladang yang dipakai sebagai base camp tim survey di bukit Sanrege, desa Sanjango, kecamatan Karossa, kabupaten Mamuju (Sulbar)

Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mandi Di Sungai

19 Desember 2010

Pagi, awan mendung menggelayut, tapi tidak hujan. Air sungai yang semalam keruh karena banjir pagi ini sudah surut. Membasuh muka, tangan, ubun-ubun lalu kaki, di tepi sungai yang arus airnya deras dan dingin, seolah menyemangati untuk segera nyubuh

Lalu, ngupy pagi… Waaah, selalu saja mengasyikkan, sambil duduk-duduk di beranda pondok di dekat sungai. Lalu, mandi di sungai. Uuugh, segar sekali… Mandi pagi kalau biasa, sejuk dingin tidak terasa.

Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Hidup Tanpa Sinyal

19 Desember 2010

Hujan deras mengguyur, kemarin sore ketika tiba di camp di perbukitan Sanrege, Mamuju (Sulbar). Logistik segera dibongkar, ngupy dulu… Genset segera disiapkan.

Malam pertama di hutan bertepatan dengan malam Jum’at. Sinyal tak kunjung singgah, harus dijemput ke tempat tinggi, sedang hujan masih menyisakan guyurannya. Terasa sinyal seperti menjadi kebutuhan pokok (lengkap dengan HP dan pulsa tentu saja), hidup seperti ada yang kurang jika tanpa sinyal…

Sanjango – Karossa, 29 Oktober 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.