Arsip untuk Oktober, 2010

Jangan Terpesona Tampilan Luarnya

18 Oktober 2010

Karena terburu-buru, saya hanya sempat mencuci mobil bagian luarnya saja. Walau nampak bersih mengkilap bagian luarnya, tentu saja bagian dalamnya masih belum tersentuh kain lap.

Melihat itu, ibunya anak-anak komentar sambil nyengenges:
“Makanya…, jangan suka buru-buru terpesona dengan tampilan luarnya saja, perhatikan juga bagaimana dalamnya”.

“Iya tahu…”, jawabku nggak mau kalah.

Yogyakarta, 9 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Ulang Tahun Kota Yogyakarta Ke-254

18 Oktober 2010

Tanggal 7 Oktober tahun ini, kota Jogja berulang tahun yang ke-254. Pada salah satu spanduk kubaca tulisan: “Kami bangga jadi warga Jogja. Cinta Jogjaku, damai Jogjaku, jaya Jogjaku, Jogja banget”.

Bagi pemerhati bahasa Indonesia pasti akan berpikir, struktur kalimat itu aneh. Tapi karena saya penggemar bahasa plesetan, jadi ya… : “Aneh nggak apa-apa, yang penting ulang tahun…”. Dan kuucapkan : “Mangayubagyo Ngayogyokarto Hadininingrat”.

Yogyakarta, 8 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Harus “Take Action”

18 Oktober 2010

“Harus ada solusi”. Sengaja saya gunakan kata “harus”, karena kata itu akan menyugesti (menghipnotis, kata infotainment) agar kita berpikir dan berusaha keras untuk melakukan sesuatu. Apakah sesuatu itu memang seharusnya atau tidak, bukan itu soalnya. Melainkan agar kita terstimulasi untuk tidak sekedar “semoga” melainkan take action.

Perkara action-nya ternyata nggak mutu blasss…, yo wis… tidak perlu dipikir-pikir amat. Karena sesuatu itu hanya awalan, bukan hasil akhir.

Yogyakarta, 8 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menikmati Roti Bakar Tersisa

18 Oktober 2010

Akhir-akhir ini ibunya anak-anak dan anak-anaknya juga, suka sekali beli roti bakar saat malam. Biasanya tidak habis dimakan, paginya masih tersisa, ya pasti sudah tidak enak lagi. Akhirnya dibuang ke kolam ikan di belakang rumah, jadi sarapan ikan-ikan. Lama-lama para ikan jadi kesenangan sering sarapan roti. Harus ada solusi.

Sisa roti bakar dimasukkan dalam kocokan sebutir telor ayam (kalau telor angsa kegedean), lalu digoreng dengan mentega pada api kecil. Huuu.., hoenaknya..

Yogyakarta, 8 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bingung Pun Adalah Ibadah

18 Oktober 2010

Dalam beberapa kali kejadian, peluang untuk berbuat kebaikan (amal saleh) itu datang pada timing yang “dirasa tidak tepat” sehingga membuat bingung. Terkadang konflik dengan rencana dan komitmen lain yang sudah dibuat, atau keterbatasan finansial pada saat itu, atau karena sikon lain yang sedang tidak pas.

Sehingga yang terjadi kemudian adalah: menangkap peluang kebaikan dengan resiko ada yang harus dikorbankan. Maka bergelut dengan kebingungan pun adalah sebuah kebaikan yang bernilai ibadah…

Yogyakarta, 8 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Silaturrahim Tiada Akhir

14 Oktober 2010

Bertemu teman sekost yang telah 25 tahun terpisah, membangkitkan semangat nostalgia dengan ide-ide yang beda. Ide bisnis adalah satu di antaranya, tapi ide menyambung silaturrahim jauh lebih penting. Malam ini kami bertemu di “Warung Senja”, tempat kami biasa nongkrong dulu.

Suasananya masih sama seperti dulu, dengan wedang teh jahe dan asem jahe yang di-jog (ditambah) airnya berulang-ulang hingga butir gula batu terakhir. Bagai silaturrahim tiada akhir, seperti wedangnya…

Yogyakarta, 7 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Harus Membeli Genset

14 Oktober 2010

Memperbaharui kesaksian pelaku bisnis ritel: “There is no electricity but PLN and gen-set is the substitute..”. Maka pergilah “boss” membeli genset. Tapi bingung ketika ditunjuki ada yang 100% asli Jepang, setengah Cina, sepertiga Cina, seperempat Cina & 100% Cina, tergantung komponennya.

Walau hubungan Jepang-Cina baik-baik saja, tapi soal kualitas dan harga ternyata beda jauh. Sedang genset harus ada, agar uang cepek-nopek tidak lolos ketika PLN moddarr...

Yogyakarta, 7 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Memperhatikan Hal-hal Kecil

14 Oktober 2010

Ibunya anak-anak pamit pergi ke toko agak pagi. Entah untuk alasan apa, tiba-tiba anak wedok bertanya: “Ibu tadi pergi pakai kerudung warna apa, pak?”. Wooops…, warna apa ya tadi? — Betapa kita sering kurang memperhatikan hal-hal kecil, bahkan yang menyangkut orang-orang terdekat kita.

Yogyakarta, 7 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Olahraga “Kasepuhan”

14 Oktober 2010

Olahraga “kasepuhan” pagi ini: membuka baju, berjalan-jalan di halaman, membungkuk-bungkuk memunguti daun kering yang berserakan, mengumpulkannya di sudut halaman, lalu membakarnya dan menungguinya sampai badan berkeringat.

Spirit-nya adalah, menikmati prosesnya (enjoy the process)…. Lha kok tahu-tahu turun hujan…. Kabuuuuur….

Yogyakarta, 7 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Daun-daun Yang Berserakan

9 Oktober 2010

Pohon mertega (apel bulu) di depan rumah yang belum pernah berbuah itu daunnya berguguran setiap hari dalam jumlah lebih banyak dari umumnya pepohonan.

Istriku sering grundelan sendiri: “Daun-daun ini bikin kotor halaman saja…”. Aku pun mengimbangi: “Jangan menanam pohon kalau tidak suka dengan daunnya yang berserakan. Apakah itu sampah atau sesuatu yang indah, tergantung bagaimana kita memandangnya. Maka pandanglah!”.

“Dipandang thok ya tetap kotor…”, protesnya.

Yogyakarta, 7 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mem-PHK Dua Pegawai

9 Oktober 2010

“Boss” saya terpaksa mem-PHK dua orang pegawainya. Yang satu karena suka pacaran di toko pada jam kerja padahal sudah diingatkan berulang kali. Yang satu karena susah diatur untuk bertanggung-jawab terhadap jadwal kerjanya. Dalam bahasa bisnis dikatakan punya tabiat yang kontra-produktif (yang cenderung semakin menjengkelkan). Dalam bahasa “boss” saya dikatakan “daripada… nambahi pikiran”. Klasik sekali, tapi harus diselesaikan (ya di-selesai-kan hubungan kerjanya itu tadi)

Yogyakarta, 6 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Berangkat Lebih Cepat

9 Oktober 2010

Seprana-seprene naik pesawat, yang sering terjadi adalah terlambat berangkat dari jadwalnya. Kalau bisa on-schedule, itu prestasi. Tapi Batavia Air jurusan Balikpapan – Jogja pagi ini tumben rada “nekat”, berangkat 15 menit lebih cepat. Pesawat yang harusnya berangkat jam 07:15 WITA itu belum jam 7 sudah nutup pintu dan bergerak meninggalkan tempat parkir. Rasanya ini bukan prestasi tapi “mencuri start” untuk menyelesaikan etape awal hari ini.

Yogyakarta, 6 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kartu Magnet Vs HP

9 Oktober 2010

Semalam di Balikpapan… Kupilih menginap di hotel “Nuansa Indah”, hanya karena saya suka dengan namanya (selain karena baru direnovasi sehingga suasananya seindah nuansanya). Tapi sempat agak jengkel ketika kartu magnet yang berfungsi sebagai kunci kamar tidak bisa dipakai untuk membuka pintu lorong. Terpaksa turun lagi ke lobby. Kata mbak resepsionis: “Kartunya jangan didekatkan HP karena magnetnya rusak”. (Celathu… Kuterima juga penjelasannya, tapi benarkah?)

Balikpapan, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Lampu Penyeberang Jalan

9 Oktober 2010

Malam, di tempat penyeberangan “resmi” di Jl. Sudirman, Balikpapan. Mau nyeberang jalan saja susah 1/2 mati melebihi rasa rindu. Terbaca sebuah tulisan kecil di tiang lampu: “Menyeberang tekan tombol ini”. Langsung saya tekan saja tombolnya.

Ternyata benar, lampu tanda menyeberang berganti hijau dan lampu lalulintas berganti merah. Yang tidak benar adalah, pengguna jalan cuek bebek tetap saja tidak berhenti oleh lampu merah. Wooo.., tobil anak kadal!

Balikpapan, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pak Burhanuddin Sang Tukang Ojek

9 Oktober 2010

Cara mengendarai motornya terkesan hati-hati, pelan-pelan saja, tidak grusa-grusu seperti tukang ojek umumnya. Dialah Haji Burhanuddin, asli Samarinda, kakek empat cucu dari empat anak. Telah 12 tahun mengojek, sejak memutuskan banting setir dari profesi sebelumnya sebagai bagian marketing toko alat tulis. Alasannya (banting setir) sederhana, karena pekerjaan sebelumnya membuat dia sulit menghindar dari perilaku “kong kalikong untuk korup” ketika harus bertransaksi dengan instansi pelanggannya.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Dagelan Di Atas Ketinggian

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan kemarin, sambil masih terkantuk-kantuk, sayup-sayup terdengar pemberitahuan: “Awak kabin segera akan membersihkan sisa makanan dan minuman di kursi Anda..”. Terang saja saya jadi terjaga, karena setahu saya tadi tidak ada pembagian konsumsi di pesawat, atau jangan-jangan karena saya tertidur lalu tidak diberi suguhan.

Setelah tolah-toleh, ya memang tidak ada pembagian konsumsi. Ah, dasar.., dagelan di atas ketinggian lebih 30000 kaki, ala Lion Air.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Serangan Fajar

9 Oktober 2010

Berkat kepiting asap dan tumis pakis tadi malam, dan sambalnya itu lho….., kombinasi sambal terasi dan sambal mangga yang tidak terlalu pedas tapi manstaff tenan… Terpaksa harus rela menerima serangan fajar, pagi umun-umun (pagi sekali) sudah gedandapan (keburu-buru) ke peturasan melampiaskan hajat yang tidak bisa ditunda sedetikpun. Syukurlah, subuhnya jadi tidak terlambat…

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kepiting Asap RM “Pondok Borneo”

9 Oktober 2010

Seorang teman ngiming-iming menjamu makan malam kepiting asap di RM Seafood “Pondok Borneo”, Samarinda. Ya, jelas mau…

Kepiting perempuan yang mengandung telur, dibungkus alumunium foil, dibumbui mirip-mirip kare tapi tidak berkuah, diasap sampai masak, bumbunya begitu meresap. Huuh, membuat jadi nggak sabar… Ditambah kepiting laki-laki rebus berbumbu bawang putih sederhana, dilengkapi dengan tumis pakis… Wauw! Layak untuk disambangi lagi.

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pindang Ikan Mas RM “Tahu Sumedang”

9 Oktober 2010

Makan siang di RM “Tahu Sumedang” yang tidak hanya jualan tahu, Jl. Poros Balikpapan – Samarinda Km50. Pilihan saya kali ini pindang ikan mas dengan nasi timbel, sayur asam dan tahu Sumedang. Taste masakan dan sambalnya dominan manis-gurih. Dari aroma pindangnya saja sudah hmmm… passs benar untuk lidah Jogja.

Rumah makan yang telah berkibar sekitar enam tahun ini semakin membesar, paling sukses di antara sekian banyak cabangnya, yang awalnya berdiri di Bontang.

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.