Arsip untuk September, 2010

Terry Jones

16 September 2010

Jangan-jangan Terry Jones ini bukan pastor melainkan santri muslim yang sesat. Diam-diam niatnya untuk membakar Qur’an itu sebenarnya karena dia sedang menjalani “laku” ilmu kadigdayan… Setelah Qur’an dibakar, abunya akan dimasukkan ke dalam gentong berisi air putih, lalu ditenggak ramai-ramai seperti pemabuk minuman oplosan, agar tubuhnya jadi kebal…

(Just intermezzo…)

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Petani Itu Pun Menangis

16 September 2010

Melintasi rute Temanggung – Kendal, via Parakan, Sukorejo, Weleri. Ini salah satu kawasan sentra tembakau di Jateng, yang para petaninya bisa sekali waktu kaya mendadak dan di saat yang lain terpuruk-ruk-ruk-ruk…

Seperti lebaran kali ini, udan salah mongso (hujan salah musim) telah menghancurkan mimpi indah para petani itu, produksi tembakaunya hancur. Tidak ada lebaran bagi mereka. Dan, para petani itu pun menangis…

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Mie Instan Lagi

16 September 2010

Usai melakukan perjalanan silaturrahim seharian, nyopir lebih 10 jam, tiba di rumah menjelang tengah malam. Kepingin makan ternyata stok opor ayam di panci tinggal menyisakan kuahnya. Maka alternatifnya? Mie instan lagi…., mie instan lagi… Aaah…, menu lebaran dengan mie instan, itu pun mesti nyopir 10 jam dulu….!

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Perjalanan Silaturrahim Ke Kendal

12 September 2010

Trip of the silaturrahim’s day: Jogja – Magelang – Temanggung – Parakan – Sukorejo – Weleri – Kendal, tidak padat tidak merayap ramai lancar, kondisi jalan relatif bagus, pemandangan pegunungan cukup menarik.

***

Akhirnya tiba kembali di Jogja setelah menempuh perjalanan sore – malam: Kendal – Semarang – Magelang – Jogja, ramai lancar tidak padat tidak merayap, kecuali penggal Secang – Magelang yang benar-benar puadet merayap. Hujan deras antara Ungaran – Bawen dan Muntilan – Jogja. Kelancaran perjalanan hari ini tak seburuk yang saya kira sebelumnya.

Kendal – Jogja, 11 September 2010
Yusuf Iskandar

Kawah Chandra Di Muka

12 September 2010

Puasa sudah. Zakat fitrah sudah. Sholat Ied sudah. Maaf-maafan sudah. Makan opor ayam dan sambal goreng hati juga sudah… Setelah itu lalu apa?

Nampaknya akan menempuh perjalanan waktu 11 bulan berikutnya hingga tiba waktunya ritual “sudah” di atas diulang kembali. Padahal yang diharapkan kitab suci adalah agar Ramadhan itu menjadi kawah (1 bulan) chandra di muka bagi (11 bulan) chandra di belakangnya

(chandra = bulan).

Yogyakarta, 10 September 2010
Yusuf Iskandar

Pasar Tumpah

12 September 2010

PASAR TUMPAH? Lha wong PASAR kok TUMPAH… Kalau ada yang tumpah, itu pasti menaruhnya nggak benar atau wadahnya kurang gede. Jadi jangan pernah menyalahkan isinya, melainkan yang mengatur tempatnya. Jika tetap harus tumpah juga, maka aturlah agar tumpahannya tidak mbleber kemana-mana dan tidak mengganggu aktifitas lainnya…

Yogyakarta, 10 September 2010
Yusuf Iskandar

Deg-degan Di Malam Lebaran

12 September 2010

Seninya bisnis ritel. Saat pebisnis lain sudah menutup buku catatan keuangan di malam takbiran dan sibuk dengan opor ayam, pebisnis ritel justru sedang deg-degan mengumpulkan keuntungan cepek-nopek dari pembelanja kebutuhan lebaran.

Deg-degan makin kencang kalau ingat dua hari sebelumnya hari hujan sehingga omset turun dari yang diprediksi sebelumnya, sedang barang modal yang telanjur disetok lebih banyak dan belum lunas itu tetap harus dibayar usai lebaran.

Madurejo – Sleman, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Arak-arakan Malam Takbiran

12 September 2010

Arak-arakan penggembira takbiran itu
tak berhenti hingga menjelang tengah malam
bapak, anak, cucu, handai taulan
semua larut dalam pesta takbiran semalaman..

Kita telah kembali kepada fitri
kita telah meraih kemenangan
seru mereka..

Allah Maha Besar
Tiada Tuhan selain Allah
Segala puji bagi Allah
sanjung mereka bagi Tuhannya..

Semoga benar
pencapaian tertinggi dan terindah itu
memang pantas dirayakan
disyukuri
dan lebih-lebh dipertahankan..

Selamat Idul Fitri

Madurejo – Sleman, 9 September 2010 (malam Idul Fitri 1431H)
Yusuf Iskandar

Sampailah Kepada Saat Yang Berbahagia

12 September 2010

Dan perjuangan melawan hawa nafsu selama Ramadhan telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan orang-orang beriman ke depan pintu gerbang kemenangan di Idul Fitri 1431H yang termaafkan lahir batin dan kembali kepada kesucian…

(Teriring doa:
Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk barsamanya
Ku mencintainya, sungguh mencintainya…
Wahai Ramadhan…)

Madurejo – Sleman, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Gunakan Common Sense

12 September 2010

Bagi pemudik tujuan Jogja, perhatikan saat ketemu traffic light karena banyak lampu hijaunya yang menyala cuma sak nyuk-an (sebentar saja), sekitar 10-15 (detik). Jadi bagi pemudik tipe tidak sabaran yang hobinya membunyikan klakson, siap-siap bermain adrenalin menyerobot jalan. Jika hal itu terpaksa harus dilakukan, maka gunakanlah common sense dan lakukan dengan sopan, baik, benar, aman, tidak merugikan orang lain, serta jangan sampai ketangkap polisi…

Yogyakarta, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Sedia Opor Ayam Sebelum Lebaran

12 September 2010

Salah satu “syarat” sahnya perayaan Idul Fitri di kampungku adalah sedia opor ayam dan sambal goreng hati sebelum lebaran. Maka ketika ditawari ayam kampung siap masak dengan harga antara Rp 50-80 ribu/ekor, saya langsung pesan dua ekor yang harganya paling murah, yang penting tetap ayam dan ada brutu-nya (lha itu yang paling hoenak je..).

Dan, siang ini terpaksa turun tangan membantu memotong-motong daging ayam sebelum siap naik ke panci pengoporan.

(brutu : dubur ayam)

Yogyakarta, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Menyampaikan Titipan

12 September 2010

Pagi ini di hari terakhir Ramadhan, kutemui teman kuliahku yang kini sedang tepuruk dirongrong sakit paru-paru dan stroke. Kusampaikan titipan bantuan dari beberapa sahabat, uang sejumlah Rp 1,9 juta untuk keperluan membeli obat dan usaha istrinya. Semoga dapat membantu meringankan beban hidupnya dan semoga Tuhan membalas ketulusan beberapa sahabat itu dengan yang lebih baik — Lihat: Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan dan Kepedulian Tiga Rekan.

Yogyakarta, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Pendakian Terindah

12 September 2010

Malam ini
akan menjadi tahajud terakhirku
di perjalanan pendakian yang sungguh indahnya kali ini
sebab sekali puncak berhasil dicapai
maka usai sudah pendakian yang telah terjalani sebulan lamanya
Dan, pendakian indah itu bernama Ramadan
sedang puncak terindah itu bernama Idul Fitri

Yogyakarta, 9 September 2010 (dini hari pada sepertiga malam terakhir Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

Ramai Lancar Padat Merayap

12 September 2010

Kosa kata yang lagi akrab di telinga, seputar arus mudik Lebaran adalah: RAMAI LANCAR dan PADAT MERAYAP. Entah kenapa kok bukan ‘ramai merayap’, ‘padat lancar’, ‘ramai padat’ atau ‘lancar merayap’. Tapi saya suka karena enak didengar, walau sebenarnya tidak memberi makna apa-apa selain arus mudik itu sendiri…

“Berhati-hatilah wahai para pemudik!”. Ramai walau lancar dan padat walau merayap sama-sama berarti unsafe conditions.

Yogyakarta, 7 September 2010
Yusuf Iskandar

Spesalis “Sopir Tembak”

12 September 2010

Dasar spesialis “sopir tembak”… Malam ini tarawih di masjid sekolah dekat rumah, setelah agak lama tidak ku-trawehin. Ndilalah, kok ya imam dan pengkultumnya “mbolos” ikut-ikutan seperti anggota Dewan.

Setelah tolah-toleh tidak ada juga yang mau jadi imam, yo wis… terpaksa jadi “sopir tembak” lageee... (Sumprit..., terpaksa tapi ikhlas). Semoga menjadi rejeki tak terduga bagian dari malam kemuliaan di penghujung Ramadhan…

Yogyakarta, 7 September 2010
Yusuf Iskandar

The Show Keeps Go On

12 September 2010

Salah satu hal yang ditakuti setiap menjelang panen raya lebaran bagi pebisnis ritel-modern-kecil adalah trouble komputer. Dan sekarang terjadi di kasir “Bintaran Mart”. Gubrax…!, dan transaksi pun terganggu. ‘Boss’ jadi panik bin stress (kalau sudah begini jangan coba-coba diganggu, bisa batal THR-ku).

Saya tidak punya ilmunya, melainkan didongani wae…(didoain saja). Dan, the show keeps go on… Ahamdulillah, ada langkah darurat.

Yogyakarta, 6 September 2010
Yusuf Iskandar

Melamun Dan Leyehan Di Masjid

12 September 2010

Syukur…, hujan siang ini agak mendinginkan suhu mesin Ramadhan di siang hari ke-27. ML (melamun & leyehan) sebentar di masjid At-Taqwa Ditlantas Polda DIY, woenak skalee.…, sambil menunggu hujan mereda.

Rupanya “cabang olah raga” yang satu ini (ML lalu tidur di masjid di bulan Ramadhan), bukan monopoli kaum pria, beberapa… pegawai wanita pun terlihat tidur di dalam masjid sambil masih berbalut mukena sehingga tersamar wajahnya…

Yogyakarta, 6 September 2010
Yusuf Iskandar

Malam Bagi Penghuni Pilihan

6 September 2010

Malam ini
habis hujan
menyisakan titik-titik sisa hujan sana-sini
langit berawan keputih-putihan
merata ke penjuru pandangan
alam seperti berhenti beraktifitas
tak ada angin
tak satupun daun bergerak
tak juga di dahan tinggi
dan suara serangga sayup-sayup
melatari keheningan
mewarnai sepi
membisiki sunyi

Malam ini
adakah ini pengantar perjalanan penghuni langit
yang turun berhamburan ke muka bumi
betebaran menemui para penghuni bumi
penghuni pilihan yang sedang merindu kekasih hati

Malam ini
kan kusambut tamu istimewaku
sepenuh keikhlasan dan kepasrahanku
dan sujudku di hamparan nikmat dan syukurku
hanya kepadaMu
hanya bagiMu

Yogyakarta, 5 September 2010 (26 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

“Internal Ukhuwah”

6 September 2010

Untuk pertama kali dalam Ramadhan ini di Jogja, turun hujan usai berbuka sampai tiba saat Isya dan Tarawih. Untuk pertama kali pula dalam Ramadhan ini, berjamaah tarawih di rumah atas usul ibunya anak-anak. Kenapa tidak?

Ada sensasi “internal-ukhuwah” berbeda yang hanya bisa dirasa tak bisa dikata… Kalau pun ini bukan lailatul qadar yang dimaksud kitab suci, paling tidak adalah “lailatul qadar lokal” di rumah, seperti basahnya hujan malam ini…

Yogyakarta, 5 September 2010
Yusuf Iskandar

Benar Tapi Tidak Dapat Dibenarkan

6 September 2010

Mau bukber, ujuk-ujuk anak lanang mampir toko berbelanja. Mentang-mentang toko milik ortunya, giliran ke kasir bilang ke ibunya: “Gak usah bayar ya, kan tokonya ibu…”. Jawab ibunya: “Lha kok enak?” –

Logika anak lanang benar. Tapi dalam bisnis, tidak setiap hal yang nampak “benar” itu dapat “dibenarkan” dan tidak setiap hal yang dapat “dibenarkan” itu “benar”. Intinya? Ya tetap harus bayar!

“Kalau gitu, minta uangnya…”, katanya. Woo…dasar!

(bukber : buka bersama)

Yogyakarta, 4 September 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.