Arsip untuk Juli, 2010

Jogja Macet

8 Juli 2010

Jogja muacet parah hari ini…, ada pembukaan Muktamar Muhammadiyah. Jika kebetulan sedang liburan ke Jogja, ada baiknya hindari dulu pusat kota, daripada anti Anda berbunyi-bunyi…, kecuali otot dan syaraf sabar Anda cukup terlatih

Yogyakarta, 3 Juli 2010
Yusuf Iskandar

SMS Curang

8 Juli 2010

Saya menerima SMS ‘curang tapi legal’ yang isinya: “PESTA BOLA Pada 5 Juli 2010 Anda OTOMATIS menerima NSP Ayo Semangat-The Changcuters.GRATIS 7hr lalu Rp3rb/2mggu lalu Rp3rb/mggu.Utk menolak,ketik NO sms ke 1212″.

Sebelum (terpaksa) saya ketik NO, saya balas dulu dengan “Curang!”. Eee.. lha kok dibalas: “Judul lagu yang Anda minta tidak ditemukan”. Lha yang minta kiriman lagu “Curang!” itu ya siapaaa…???

Yogyakarta, 2 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Udan Salah Mongso

8 Juli 2010

Baruuu… saja saya tilpun-tilpunan dengan seorang teman sambil nglaras di teras, cerita tentang kota Jogja yang puanas terik sejak beberapa hari terakhir. Eh, lha ditinggal minger (beringsut) ke belakang sebentar kok tahu-tahu berawan guelap lalu hujan dueras.

Udan salah mongso (hujan salah musim)… Jangan-jangan ini hujan “rekayasa” Tuhan, untuk mengalihkan perhatian umat dari kasus “mirip” Ariel ke kasus yang lebih produktif fiddunya wal-akhirah (dunia-akherat)…

Yogyakarta, 2 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Ancang-ancang Lebaran

8 Juli 2010

“Lebaran sebentar lagi”, begitu kata pebisnis ritel mracangan. Tiba waktunya untuk menyetok komoditas unggulan kala Lebaran, seperti sirup, roti kaleng, susu kaleng, dll. Hitung-hitungan cermat dilakukan. Berapa banyak masing-masing item harus disetok agar tidak meleset jauh dari kebutuhan. Begitu pun ‘boss’ saya mulai ancang-ancang…

Ancang-ancangnya sih gampang, tapi yang untuk mengancang itu yang bikin ‘gerah’, membayangkan besarnya modal ekstra yang nanti akan parkir beberapa waktu.

Yogyakarta, 1 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Jadi Pulang Kapan?

8 Juli 2010

Kemarin sore ibunya tanya, anak lanang kirim SMS nggak? Jadi pulang kapan?. Diam-diam lalu kukirim SMS pendek: “So?“.
Sejam kemudian dibalas: “Sekarang di stasiun Senen..”.
Take care…”, balasku.

Sengaja tidak kuberitahukan ibunya, tidak juga kudoakan agar dapat tiket…, karena saya ingin tahu apa yang terjadi dengan usaha dan doanya sendiri sebagai “pencapaiannya” selama tiga hari tertunda. Tiba-tiba tadi pagi kirim SMS: “Dah sampe Purwokerto..”. Great..walhamdulillah.

Yogyakarta, 1 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Dalam Doa Syukur

8 Juli 2010

Setiap kali diundang hadir ke acara syukuran, selalu kita diajak berdoa memohon agar semoga rejekinya semakin bertambah. Tapi malam ini saya baru ngeh bahwa rupanya ada yang kurang dalam doa syukur itu, yaitu memohon agar semoga nikmat yang sudah ada tidak dicabut. Sebab apa artinya rekening semakin gemuk ipel-ipel… tapi nikmat yang sudah ada dieliminasi oleh Sang Panitia Pemberi Nikmat…

Yogyakarta, 30 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Pulangnya Mundur

8 Juli 2010

Anak lanang yang sudah kalah ikut kompetisi free style di Jakarta, hari Minggu kirim kabar: “Pulangnya mundur karena kereta penuh”. Hari Senin kirim kabar lagi: “Pulangnya mundur karena tidak dapat tiket kereta”. Eh, hari Selasa kirim SMS lagi: “Pulangnya mundur lagi karena dapat tiket kereta tapi berdiri”. Akhirnya kujawab: “Kayaknya besok juga nggak dapat tiket, deh…(mungkin keretanya libur)”. Dijawabnya cepat: “Besok mau ke stasiun pagi…”.

Yogyakarta, 29 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Ular Merambat Kaki

8 Juli 2010

Keluar dari masjid, baru mau pakai sandal kok terasa seperti ada yang merambat di kaki. Ee.., ternyata ular seukuran jari tangan. Tiwas (telanjur) kaget, saya kira harimau…! (Beda di gigitannya saja…). Menuruuut… analisis saya, insya Allah ini fenomena alam (sejenis gerhana, gempa, banjir) bakal memperoleh rejeki besar yang barokah. Kalau ada yang menafsirkan beda, ya berarti beda “ngelmu”….

Yogyakarta, 29 Juni 2010
Yusuf Iskandar

“Subuh Call”

8 Juli 2010

Usai subuh di Jogja, kukirim SMS kepada anak lanang di Jakarta: “Subuh duluuuu…”. Begitu kebiasaanku membangunkan anak-anak untuk subuh. Terkadang SMS harus berulang-ulang karena nggaak…bangun-bangun. Sesekali dibalas : “Iya, iya…!”.

Tapi tadi pagi jam 9 baru dibalas: “Sudah”.
“Lho, sholatnya yang terlambat atau balas SMS-nya?”, tanyaku agak sensi.
Dijawab: “SMS bapak”.

Ooo…, so jangan percaya begitu saja kecaggihan teknologi, sekali waktu bisa jadi biang misunderstanding.

Yogyakarta, 29 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Anak Lanang Njaluk Sangu

4 Juli 2010

Anak lanang yang lagi free-style di PRJ, di Jakarta, kirim kabar: “Wah barusan kalah di per-4 final”. Lalu mestinya sudah pulang, tapi bukannya kasih kabar pulang malah kirim SMS: “Pak aku minta tlong krimin uang..brapa aja..”. Saya balas: “Lho piye to iki…?“. Katanya disponsori produk sepatu kok malah njaluk sangu (minta uang saku). Ibunya yang tidak tega, akhirnya dikirimi juga. Sangat ibuwi.. (manusiawi sebagai seorang ibu).

Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Ada Rapat RT Gabungan

4 Juli 2010

Sebenarnya rada ogah-ogahan tadi mau datang ke rapat RT, tapi berhubung sudah ditelpun langsung sama pak RT, terpaksa datang juga. Sebelum rapat dimulai, dibuat kesepakatan “darurat” : apapun yang terjadi rapat RT yang mulainya sudah terlambat itu (sudah tradisi) harus selesai jam 21:00, berhubung ada undangan lain rapat gabungan dengan RT Inggris dan RT Jerman….

Yogyakarta, 27 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Secangkir Kopi Aroma

4 Juli 2010

Secangkir ‘Koffie Fabriek’ Aroma van Bandoeng, rasa mokka arabika… (ternyata aku masih punya simpanan dari Bandung). Sruputan dan theng-nya full enggak setengah-setengah… Cocok buat kesebelasan Jerman, Inggris, Argentina dan Meksiko malam ini, agar mereka tidak ngantuk dan produktif mencipta gol-gol indah dan spektakuler…! (Kalau penontonnya yang ngantuk nggak apa-aa, biar saja, nggak ngaruh….).

Yogyakarta, 27 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tawakkal

4 Juli 2010

Kajianku Ahad pagi tadi adalah tentang tawakkal. Kita sering salah kaprah. Dikiranya tawakkal berarti pasrah bongkokan, kalau sudah tawakkal everything is OK, terbebas dari kontribusi… Padahal tawakkal itu menyerahkan sisa urusan kepada Tuhan agar “disempurnakan”. Lha kalau tidak pernah melakukan kesungguhan apapun, lha apanya yang mau disempurnakan? Kok nyimut..? “Capek, deh!”, kira-kira begitu kata Tuhan (entah apa bahasa Arabnya).

Yogyakarta, 27 Juni 2010
Yusuf Iskandar

4 Juli 2010

Garang asam ayam kampung, tanpa santan… Oeddiaaan segernya…!

Yogyakarta, 27 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Kartu Tambahan

4 Juli 2010

HP berdering. Seorang wanita langsung nerocos: “Saya dari…, segera akan dikirim kartu tambahan…bla, bla dan bla..”, yang intinya iming-iming bebas iuran, diskon belanja, dst. Kalimat poanjang susah disetop yang bisa membuat si pendengar tersugesti tidak sempat berpikir.

Akhirnya kupaksa memotong: “Sebentar, sebentar, sebentar, mbak.., maaf ya saya tidak berminat dan terimakasih tawarannya”, kataku dengan sabar. Lha, satu kartu saja nggaak.. habis-habis, kok mau ditambahi…

Yogyakarta, 27 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Gol Kemenangan Uruguay

4 Juli 2010

“Mirip” tendangan pisang (tapi kecil) oleh Luis Suarez mengantarkan gol kedua sebagai gol kemenangan Uruguay atas Korsel… (pisang besarnya belum muncul, agaknya masih diembu…, diperam)

Yogyakarta, 26 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Gerhana Bulan

4 Juli 2010

Bulan gerhana, di awal purnama Sya’ban. Betapa tanda keagungan Sang Pencipta itu sering terabaikan. Mungkin karena letaknya jauh, sehingga nggak ngaruh, nggak kerasa. Sedang yang dekat saja sering ora urus, yang di depan mata sering tak nampak.

Kita memang aneh, baru sibuk pasang gembok setelah kecurian, sibuk tuding-tudingan setelah tabung gas pada njeblug, sibuk mengelus dada setelah ada yang “mirip” Ariel. Baru ngeh kepada yang menghidupi setelah hidupnya nyaris…..

Yogyakarta, 26 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Ranking Sekolah

4 Juli 2010

Tadi ambil rapor di sekolah anak lanang sama ibunya. Hasil rapornya : “wajar tanpa syarat”, naik kelas tapi zonder ranking-ranking-an. Kubilang kepada ibunya: “Biar saja tidak dapat ranking di sekolah, karena ranking anak lanang ada di luar sekolah, dan insya Allah kelak sekolah di luar..” (minimal di luar kecamatan, kataku dalam hati)

Yogyakarta, 26 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Ibu Guru Yang Kecopetan

4 Juli 2010

Setelah tugas nyopir dan mengantar istri saya ke tokonya di Madurejo, Sleman, Yogyakarta, saya segera menuju ke masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Cuaca siang di seputaran Jogja sedang panas-panasnya. Maka duduk-duduk sambil agak melamun (melamun tapi agak) dan leyeh-leyeh di teras masjid usai sholat dhuhur, sepertinya menjadi selingan aktifitas yang menyejukkan. Selain menyejukkan suasana fisik di tengah teriknya matahari musim kemarau, juga menyejukkan hati dan pikiran usai menunaikan salah satu kewajiban.

Sambil mengisi waktu dengan berbalas SMS (jaman sekarang ini berbalas SMS rupanya sudah menjadi salah satu pilihan cabang aktifitas mengisi waktu), tiba-tiba datang seorang ibu muda naik Mio lalu memarkir sepeda motornya di pelataran masjid. Ibu muda berjilbab itu lalu turun membawa tas cangklong terbuat dari kain dan duduk tidak jauh dari saya duduk bersandar di tiang teras masjid. Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, pandangannya ke lurus depan seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya mencoba mencuri pandang karena saya merasa ada yang aneh. Mau menatap langsung saya merasa tidak enak dan mungkin juga kurang etis (terkadang pikiran saya masih bisa membedakan mana yang etis dan kurang etis, tapi seringkali lupa…).

Sejurus kemudian, tanpa basa-basi atau senyum sapaan, ibu itu bertanya : ”Kantor polisi terdekat dimana ya pak?”. Sepertinya ini pertanyaan yang agak janggal. Saya tidak langsung menjawab, melainkan secepat kilat saya mencoba menyelidik profil kenampakan ibu itu hingga ke plat nomor kendaraan yang dinaikinya. Secepat kilat pula kesimpulan sementara saya bahwa kelihatannya ibu itu bukan orang yang biasa berada di seputaran kawasan situ.

Baru kemudian saya menunjukkan dan memberi ancar-ancar dimana kantor pilisi terdekat berada. Tak ayal rasa penasaran saya belum terjawab. Ada apa dengan ibu itu? Dialog pun berlanjut.

”Lho ada apa bu?”, saya mencoba bertanya menyelidik.

”Saya mau melapor kecopetan”, jawabnya.

”Kecopetan dimana?”, tanya saya lagi.

”Di pom bensin tadi sebelum Prambanan”, jawab ibu itu sambil kemudian menjelaskan ihwal terjadinya aksi pencopetan, setelah saya menanyakan kronologi kejadiannya.

”Sebenarnya tadi ibu sudah melewati kantor polisi sebelum sampai ke sini”.

”Saya tidak tahu pak”.

”Ibu ini dari mana mau kemana?”, tanyaku kemudian.

”Saya dari Sragen mau ke Gombong”.

”Wah, ibu ini nekat sekali. Itu kan jauh kalau naik sepeda motor. Apalagi sendirian”, kataku tidak habis pikir.

”Iya memang, sekitar enam jam perjalanan. Biasanya saya naik bis. Ini soalnya saya buru-buru mau layatan sekalian memulangkan motor ke Gombong”, jawaban itu membuat saya semakin penasaran. Bukan soal kenekatannya, melainkan duduk persoalannya.

Setelah panjang-lebar berdialog karena saya mencoba menelisik dan memastikan bahwa ceritanya benar dan agar saya tidak perlu berprasangka buruk terhadap ibu itu, barulah akhirnya saya percaya bahwa ibu itu tidak sedang mengada-ada dalam rangka mencari keuntungan diri sendiri dengan memperdaya orang lain, alias bukan sedang berupaya pu-tippu

Menurut ceritanya, ibu itu asli Gombong dan hal itu dengan mudah dapat terdeteksi dari logat bicaranya dengan bahasa Indonesia yang ngapak-ngapak, maupun juga dari plat nomor sepeda motor yang dinaikinya. Setelah ibu itu menyadari HP dan dompet seisinya dicuri orang ketika sedang berhenti sholat dhuha di sebuah pom bensin sebelum sampai Prambanan dari arah Solo, dia belok ke selatan berniat mampir ke rumah temannya di Wonosari untuk minta bantuan. Agaknya dia tidak tahu kalau jarak Prambanan – Wonosari itu cukup jauh. Bahkan sialnya lagi ternyata temannya itu sudah lebih dulu berangkat melayat ke Gombong. Itulah sebabnya maka di tengah kebingungannya akhirnya ibu itu mampir ke masjid dimana kebetulan bertemu dengan seorang sopir yang sedang duduk melamun dan leyeh-leyeh di teras masjid.

Baru tiga bulan yang lalu diangkat menjadi guru di Sragen, daerah asal suaminya yang sekarang kerja di Jakarta. Sebenarnya selama ini biasanya kalau pulang ke Gombong naik bis. Tapi karena katanya sekalian mau mengembalikan sepeda motornya dan buru-buru mau melayat, kemudian diputuskan pulang ke Gombong naik sepeda motor, sendirian dengan perkiraan waktu tempuh enam jam! Itulah yang kemudian sempat kulontarkan kata-kata : ”Sampeyan kok nekat banget”.

Niatnya mau sholat dhuhur dulu kok ndilalah di masjid itu tidak tersedia mukena untuk sholat bagi ibu-ibu. Maka ibu itu pun segera hendak pergi lagi, setelah sekali lagi saya memberi ancar-ancar dimana kantor polisi berada. Sambil bersiap melanjutkan perjalanan, ibu itu berkata : ”Saya mau melapor dan mungkin mau pinjam uang ke polisi biar nanti sepeda motornya mau saya titipkan di sana. Saya mau naik bis saja…”.

Ucapan dari ibu guru itu membuat otak saya berpikir cepat. Apakah memang seharusnya ibu itu menempuh cara itu? Tidak adakah solusi yang lebih baik baginya? Apa yang bisa saya lakukan?

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepadanya, sambil saya berkata : ”Bu, ini untuk membeli bensin. Ikhlaskan saja dompet ibu yang hilang dan doakan pencurinya, insya Allah ibu akan memperoleh gantinya yang lebih baik”, kataku sok tahu (dan memang dalam situasi tertentu, berperilaku ’sok tahu’ itu adalah sebuah keterampilan yang sangat diperlukan). Semula ibu itu menolak pemberian saya. Namun saya yakinkan bahwa dia lebih membutuhkannya. Tidak lupa kemudian saya wanti-wanti : ”Hati-hati di jalan, bu…!”. Ucapan ”normatif” tapi saya tahu pasti itu cukup membantu menenangkan pikirannya.

***

Bagian terakhir itulah sebenarnya yang menjadi inti dari cerita saya ini. Bukan soal uang yang saya berikan. Kalau itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik dengan jumlah yang lebih banyak. Dalam agama saya, dan juga siapapun (lebih-lebih para pemilk KTP Islam) pasti tahu, perbuatan ”pamer kebaikan” adalah tergolong riya yang dilarang oleh agama. Namun, ternyata tidak setiap pemilik uang sempat dan mampu membuat keputusan cepat untuk melakukan sebuah kebaikan di detk-detik yang boleh dikatakan ”kritikal”. Sebab kalau saja saya kelamaan berpikir, ibu itu pasti sudah telanjur berangkat tanpa saya melakukan tindakan apapun.

Intinya adalah bagaimana kita menangkap sebuah peluang di detik-detik yang dalam istilah persepakbolaan disebut dengan injury time. Juga dikenal ada istilah suddent dead. Siapa duluan membuat gol, atau action langkah kemenangan, dialah yang akan meraih hasilnya. Dalam pengalaman cerita di atas, saya lebih dahulu membuat keputusan untuk berbuat sesuatu di detik-detik terakhir sebelum ibu itu pergi. Bukan tidak mungkin, saya terlambat membuat keputusan sehingga ibu itu lebih dahulu melaju pergi meninggalkan saya yang sesaat setelah itu baru ngeh….. Sesal kemudian tak berguna….

Satu hal lagi, bahwa kesempatan memperoleh peluang seperti itu tidak datang setiap saat. Sekedar ilustrasi, barangkali kita pernah mengalami berangkat dari rumah membawa segepok uang receh dengan harapan kalau nanti ketemu peminta-minta di jalan akan dibagikan. Tapi setelah berjalan melewati banyak perempatan jalan malah tidak satu pun peminta-minta yang kita jumpai. Atau sekali waktu kita pergi hendak bersedekah kepada seseorang dan ternyata setelah dicari-cari, seseorang itu tidak berhasil ditemui. Bahkan dalam kisah di atas, seorang teman yang kebetulan membaca status yang saya tulis di Facebook segera mengontak saya dan berniat menyumbangkan sejumlah uang. Namun sayang sekali, sudah dicari-cari hingga ke kantor polisi Prambanan, ibu itu tidak berhasil dijumpai. Entah sedang singgah kemana ibu itu. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang. Tapi ketika kemudian kesempatan itu datang, sepertinya banyak hal membuat ragu dan menghalangi sehingga kita malah tidak melakukan apapun.

Ya, tentang menangkap sebuah peluang, itulah sebenarnya yang saya ingin berbagi melalui cerita ini. Menangkap sebuah peluang ”bisnis” yang dalam pemahaman saya di baliknya terkandung nilai yang tak terukur dan digaransi akan memperoleh return yang tak terhingga nilainya. Hanya sebuah langkah kecil yang relatif tidak berarti banyak. Namun saya ingin meyakinkan bahwa improvisasi keseharian semacam itu terkadang perlu dilakukan, minimal agar irama kehidupan ini tidak membosankan begita-begitu saja…, karena langgam improvisasi yang secara kasat mata tidak seberapa itu akan terasa besar manfaatnya baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Namun sekali lagi, tidak banyak orang yang sempat menangkap peluang ”bisnis” semacam ini. Padahal bukan soal ”berapa banyak” yang menjadi esensinya.

Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Ibu Guru Yang Kecopetan Dan Niat Sedekah

4 Juli 2010

Lagi enak-enak ML di masjid (Melamun & Leyeh-leyeh), datang seorang ibu guru muda naik motor mau sholat dhuhur, terlihat bingung, tanya kantor polisi terdekat. Rupanya baru kecopetan dalam perjalanan dari Sragen ke Gombong (rada nekat, 6 jam perjalanan sendiri naik motor). KTP/SIM/HP/uang, hilang. Mau beli bensin tidak bisa. Mampir ke rumah temannya tidak ketemu. Kunasehati: “Ikhlaskan yang hilang, doakan yang nyuri, dan ‘ini’ sekedar untuk beli bensin..”.

***

Sesaat setelah saya nulis ‘cersta’ tentang ibu guru muda yang kecopetan, seorang rekan kirim SMS: “Mas, aku nunut nyumbang 250 ribu, nanti saya transfer…”. “Waduh, orangnya sudah pergi”, jawabku.

Rupanya rekan saya pantang menyerah, saudaranya disuruh nyusul ke Polsek. Kuberikan ciri-ciri orang dan motornya. Ternyata tidak berhasil menemuinya. Saya yakin ibu muda tadi bukan model orang tipu-tipu. Dan…, terbukti merealisasi niat ibadah itu tidak selalu mudah.

(Note : “Cersta” = cerita status, di Facebook)

Madurejo – Sleman, 26 Juni 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.