Arsip untuk April, 2010

Pameran Hanafi

7 April 2010

Mestinya hari ini aku hadir di Galeri Nasional Jakarta menyaksikan pembukaan pameran lukisan seorang sahabatku, merefleksi perjalanan kelimapuluh tahun. Tapi nampaknya Tuhan berkata: “Ko istirahatkan dulu ko pu kaki itu…“. Dan, ribuan halaman kertas yang telah penuh goresan pena pun kurenungi

(Selamat dan sukses buat sahabatku, Hanafi. Insya Allah aku ingin bersama menorehkan tinta di halaman selanjutnya, pada kesempatan berikutnya).

(Pameran lukisan dan instalasi oleh Hanafi berlangsung di Galeri Nasional Jakarta tanggal 6 s/d 18 April 2010)

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Murid Kencing Berlari

7 April 2010

Tanpa alasan yang jelas, kekasihku duluuu… bangga menjadikan aku sebagai idola, panutan sekaligus GURU baginya. Hatiku berbunga-bunga.

“Tapi aku ragu…”, kataku.
“Memang knaffa?”, tanyanya mesra (namanya juga kekasih, nggak mungkinlah teriak-teriak kayak kernet bis antar kota sambil bergelantungan).
“Apa kamu siap kalau aku ke toilet buang air kecil?”, tanyaku.
“Siap apaan?”, tanyanya curiga.
“Sebagai MURID kamu harus siap-siap kencing sambil berlari…”

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

RW

7 April 2010

Setiap kali ada pemilihan RW di kampung, kebanyakan para warganya malah berlomba tidak hadir karena takut kepilih. Kalau pun hadir, keukeuh tidak mau dipilih jadi RW. Lha, padahal tugas RW itu ‘kan mudah, wong cuma mengubah ‘baWang meRah’ menjadi ‘baRang meWah’. Tanpa perlu pusing-pusing nego dengan ‘Mr. Gayus’ untuk ngakalin PBM (Pajak Barang Mewah).

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Cinta Sejati

7 April 2010

Pengantar:

Berikut ini adalah kutipan dari status saya di Facebook tentang cinta sejati (sebagai respon atas status beberapa teman tentang topik yang sama), yang saya ungkapkan dari sudut pandang berbeda melalui penggalan-penggalan cerita puuendek. Sengaja tidak sekaligus saya tuliskan rangkuman penafsiran di balik cerita-cerita ini. Silakan Anda membuat penafsiran menurut pemahaman Anda.

***

(1)

Istri saya lagi nonton acara ‘Take Me Out Indonesia’. Tiba-tiba bertanya:

Cinta sejati kuwi sing piye to?“. Pertanyaan tak terduga membuat saya diam agak lama.
Jawabku kemudian:
Wah, yo embuh..! Yang saya tahu adalah bahwa kita sedang berada di tengah perjalanan, di tahun ke-20, untuk menjawab dan membuktikan tentang cinta sejati itu”.

Jika hari ini ada 1 milyar orang di dunia sedang berkoalisi cinta, maka 20, 30, 40, 50 tahun yang akan datang akan ada 1 milyar pemahaman berbeda tentang cinta sejati.

(2)

Menerima dan menyanjung kelebihan seseorang seringkali lebih mudah dilakukan. Bahkan saking lebihnya malah diecer-ecer ‘disedekahkan’ sepanjang jalan. Tapi tidak demikian dengan kekurangannya, tidak setiap orang siap ‘berkorban’ nombok untuk menutupnya. Salah-salah malah nggrundel sepanjang hayat, bukan berjuang menutup kekurangnnya, melainkan justru memperbesarnya. Maka proses pembuktian cinta sejati pun makin terseok separti mobil Jazz mendaki sungai kering…

Yogyakarta, 10 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(3)

Tahun 1980 saya pernah nonton film di bioskop Rahayu Jogja (sekarang sudah almarhum). Judulnya, kalau nggak salah: ‘Window of the Sky’. Ada sepenggal dialog indah, bunyinya: “True love is beautiful, so if you feel touched, don’t be ashame to cry” (cinta sejati itu indah, jika kamu merasa terharu, jangan malu untuk menangis). Cuma saya heran sendiri, bukan tentang true love-nya, tapi kata-kata itu kok masih teringat, sedang hafalan P4 saja sudah bubar dari kepala..

(P4 adalah pelajaran tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, di jaman Orde Baru)

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(4)

Lebih baik aku kau bunuh dengan pedangmu
Asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu
kata penyanyi gambus di televisi sambil jingkrak-jingkrak…

Yen tak pikir-pikir (mumpung pikiran lagi waras..), cinta yang dapat membunuhku itu rupanya datang dari penunggang kuda yang asapnya tak gendong ke mana-mana, yang untuk mendapatkan cinta itu aku harus ber-’transaksi’ membelinya…

(5)

Padahal di mana-mana cinta hasil ‘transaksi’ itu dijamin pasti luntur, bukan cinta sejati, tidak tulus, rentan terhadap kepentingan, dan… dapat membunuh itu tadi. Termasuk cinta yang tumbuh karena ‘rasa’… (sampai-sampai perlu minta kepada Tuhan hidup satu kali lagi…), ya… rasa asap tembakau maksudnya (Ugh-uk, ugh-uk, terdengar seperti burung hantu, suaranya merdu…)

Yogyakarta, 12 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(6)

Sering kudengar: “Habis sudah, batas kesabaranku!”. Lha memang garis batas kesabaran itu ada dimana? Yang saya tahu jelas batasnya itu ya garis finish, garis polisi, atau mall GVJ (Garis van Java). Tapi kata Thukul: “Sabar itu nggak ada batasnya…” (ini Thukul yang bilang lho!), ketika merespon Anang (mantannya KD) yang sedang penasaran karena merasa habis batas kesabarannya, saat sedang di tengah jalan membuktikan cinta sejati-nya..

(KD : penyanyi Krisdayanti)

Yogyakarta, 13 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(7)

Ketika hendak pergi maghrib-an ke masjid, kupamiti istriku dan kutanya:

“Minta didoain, nggak?“.
Istriku menjawab: “Jelas no…”.
Lalu kataku: “Sini ongkosnya!”.
Jawab istriku: “Ya nanti malam…”.

Inilah jenis ‘transaksi’ perkecualian dari cinta yang dapat membunuh, melainkan rangkaian bunga yang akan menghiasi dan mengharumi lintasan perjalanan panjang yang sedang kami arungi… (Apakah malamnya ongkos jadi dibayarkan? Itu soal lain)

Yogyakarta, 14 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(8)

Seseorang kirim email kepadaku. Dengan nada nelangsa bercerita yang intinya bahwa kekasihnya sekarang ada di US dan ingin sekali dia menyusulnya kesana pada suatu saat, sementara sekarang baru bisa berharap, bermimpi… Bagaimana ya caranya untuk bisa kesana?

Kali ini saya menghindar menjawab dengan nada canda, tapi saya ingin memotivasinya dengan mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dengan harapan dan mimpimu, pada saatnya kelak cinta sejati kalian akan membuktikan selebihnya…”

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(9)

Seorang kenalan yang sudah belasan tahun mengarungi bahtera rumah tangganya, bercerita: “Kalau di rumah sedang tidak ada kesibukan, mending saya pergi keluar. Karena di rumah kalau saya ada salah sedikit saja istriku suka bernyanyi dan suaranya keras sekali. Nggak enak sama tetangga”.

Saya membenarkan, karena bagiku kedengaran seperti sebuah perjuangan untuk mempertahankan bahtera cintanya. Hanya dalam hati saya berharap, semoga perginya itu bukan untuk mengaudisi penyanyi baru…

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(10)

Sebagai penganut Islam, saya mempelajari bahwa sesama muslim itu bersaudara, satu sakit yang lain turut merasakan… Saya juga memplajari bahwa sebagai bukti cinta pada Tuhan (dan RasulNya), maka selalu menyebut namaNya seperti melantunkan ‘nothing compare to You’… Saya juga memplajari bahwa doa dan pujian selalu tertuju padaNya (dan RasulNya) tanpa diminta……

So, bukankah yang demikian itu adalah referensi dan refleksi dalam membangun cinta sejati di dunia?

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(11)

Sedih hatiku, mulai hari ini aku di-PHK dari jabatan ‘sopirintendant’ gara-gara ‘boss’ dan putrinya sudah bisa nyopir sendiri. Pangkatku turun jadi sopir tembak, diminta nyopir hanya kalau sedang dibutuhkan saja… Yo wis, disyukuri saja.

Tapi sumprit.., jangan ada yang menyarankan cari ‘boss’ baru. Telanjur sudah tujuh samudra kusebrangi, tujuh gunung kudaki, tujuh gua kutelusuri, insya Allah ku tak ingin pindah ke lain ‘boss’…

Yogyakarta, 20 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(12)

I LIKE MONDAY…karena pada saat fajar menyingsing saya suka membuat keputusan STI (strategis tapi indah) dimana ruh penghambaan saya bermetamorfosis untuk membatalkan diri sebagai manusia ‘sunnah’ (ibadah personal puasa Senin) berubah memjadi manusia ‘wajib’ (ibadah kolektif bersama ‘boss’ saya…). So, setiap kali keputusan metamorfosis itu harus dibuat, maka pertimbangannya harus dalam rangka mengutamakan yang ‘wajib’ ketimbang yang ‘sunnah’…

Yogyakarta, 22 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(13)

Ketika karakter fisik dan materi tidak lagi menjadi ciri bagi modus eksistensi untuk MEMILIKI (to have), melainkan berganti untuk MENJADI (to be), maka di sanalah cinta sejati tumbuh subur. Masing-masing akan berjuang untuk menyatu saling MENJADI, sebab kalau hanya saling MEMILIKI maka yang dimilikinya itu sangat rentan untuk diganti, ditukar, diubah, dimodifikasi, direkayasa, diakalin, diplekotho…(terinspirasi oleh Eric Fomm).

Yogyakarta, 23 Maret 2010
Yusuf Iskandar

(Note : Yang saya maksud dengan ‘boss’ adalah ibunya anak-anak alias mantan pacar alias istriku tercinta)

Ketika Kekasihku Ketakutan

5 April 2010

Suatu ketika (duluuu sekali…) kekasihku merasa ketakutan karena tiba-tiba tercium aroma semerbak yang tidak biasanya.

Lalu kukatakan: “Enggak usah takut, aku di belakangmu siap memelukmu” (sumprit…, saya belum memeluknya…).
Dia pun merasa tenang. Tapi kemudian dia tanya: “Kalau benar-benar ada yang muncul gimana?”.
Jawabku: “Ya pasti kamu duluan yang di-brakot (dimakan seperti makan buah), ‘kan kamu ada di depanku…”.

Yogyakarta, 5 April 2010
Yusuf Iskandar

Kopi Dingin

5 April 2010

Pagi-pagi bikin secangkir kopi panas, pilihan pada kopi Amungme. Belum sempat kuhabiskan, keburu berangkat pergi melayat. Kopi lalu kusimpan di kulkas.

Siang-siang kuminum itu kopi dingin. Wow, lha kok mak nyusss…, hoenak tenan! Apalagi ditambahi sedikit es batu. Cuaca Jogja yang siang itu surya bermandi sinarnya, seolah-olah tiba-tiba redup langit kelam, perasaan sejuk wal-menyegarkan. Sumprit…, saya tidak sedang mendramatisasi, tentang kopi dinginnya.

Yogyakarta, 4 April 2010
Yusuf Iskandar

Sepeda Motor Tanpa Lampu

5 April 2010

Sedang mengemudi mobil dengan santai, di Jogja malam hari. Sewaktu membelok, lihat kiri-kanan sepertinya sepi. Tapi betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba ada sepeda motor tanpa lampu enak saja nyelonong memotong jalan.

Istriku komentar: “Wong jalan malam kok nggak mau nyalain lampu”. Tapi jengkelku tak terbendung: “Ya begitu itu kalau orang punya uang, nggak seberapa pandai, tapi rada edan… Sudah tahu sepeda motor nggak ada lampunya kok dibeli….”

Yogyakarta, 4 April 2010
Yusuf Iskandar

Angkringan Pendopo

5 April 2010

Nama restonya ‘Angkringan Pendopo’ — Angkringan tapi pendopo, yaitu warung angkringan di pendopo atau pendopo yang dipakai untuk warung angkringan, timur pasar Ngasem, Jogja. Di sini saya makan malam dengan nasi liwet, sayur brongkos (khas Jogja) dan sate brutu ayam. Ada juga jajan pasar. Lebih untuk tujuan ‘membeli’ suasana…

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Tangan Kiri Tidak Tahu

5 April 2010

Cek fisik mobil untuk ngurus mutasi/balik nama di Samsat DIY. Usai mesin digesek-gesek, tukang geseknya minta uang 10 ribu. Saya tahu ini illegal.

Sambil merogoh saku, terjadi perdebatan sengit dalam tempoh sesingkat-singkatnya antara hati dan otak, rasa vs. logika. Ketemulah tiga alasan: (1). Tidak tega mempermalukan tukang gesek, (2). Jumlah rupiah yang tidak seberapa, (3). Sekali seumur mobil itu. Akhirnya sampai pada alasan keempat : tangan kanan bersedekah, tangan kiri tidak tahu.

(Seorang teman melalui Facebook berkomentar : Mau sedekah saja kok mesti berpikir sampai empat langkah. Maka komentarku: Justru letak indahnya ibadah itu kalau kita bisa menikmati prosesnya…).

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Kondangan Di Tetangga

5 April 2010

Siang ini pergi kondangan di rumah tetangga sekampung. Jamuan makannya ala prasmanan. Melihat piringku penuh tapi tidak ada nasinya, istriku tanya: “Kok tidak ngambil nasi?”. Jawabku berbisik: “Kalau cuma mau makan nasi saja nggak usah repot-repot datang ke kondangan. Di rumah banyak…”.

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

“Selamat Jalan Anakku…”

5 April 2010

“Rasanya belum lama kau kuantar ke Jakarta, nak. Kemarin petang kau kecelakaan dan tak sadarkan diri, lalu pagi ini kau harus segera berangkat menuju keabadian. Bahkan salam perpisahan pun belum sempat kuucapkan. Selamat jalan, anakku…”.

Begitu kira-kira, betapa galau hati kedua orang tuanya. Dan orang tua itu adalah sahabatku, ex-teman kerja di Papua, Bp/Ibu Sriyono. Kami berdoa, Allah swt. pasti telah memilihkan jalan yang terbaik bagi ananda dan keluarganya.

(Turut berduka atas berpulangnya ananda Ria Octarianti, 16 tahun, putri kedua dari Bp/Ibu Sriyono, karyawan PT Freeport Indonesia. Jenazah dimakamkan di dusun Karangwetan, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Alirkan Terus Airnya

5 April 2010

Merespon status saya tentang konsep ‘memberi dan menerima’ dalam konteks rejeki, seorang sahabat, senior dan sumber inspirasi saya, mengutip pesan ibunda beliau: “Kalau ingin sumbermu besar, alirkan terus airnya, jangan pernah dibendung”. Sungguh saya sampai merinding menelaah kalimat indah itu…

(Terima kasih Pak Dwi Pudjiarso. Semoga kita tetap diberi kemampuan untuk terus berpikir, memahami dan mengamalkan)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Ngobrol Dengan Ibu Penjual Rambutan

2 April 2010

Ngobrol dengan ibu penjual buah di pinggir jalan. Ibu itu sedang menyortir kiriman rambutan yang baru saja datang, dibantu anak gadisnya. Duduk ngobrol ngalor-ngidul, sambil mencicipi rambutan yang pada rontok. Suasana berubah mempribadi sehingga ibu dan anak gadisnya bisa tertawa lepas. Entah berapa banyak rambutan rontok yang saya makan malam itu.

Akhirnya ketika pulang saya beli seikat dengan harga yang tidak saya pedulikan lagi, sebab persaudaraan itulah yang saya beli.

Yogyakarta, 2 April 2010
Yusuf Iskndar

Ketika Tiba-tiba Sensi

2 April 2010

Mendadak pagi ini saya agak sensi. Dialog biasa saja dengan anak lanang tiba-tiba berubah bernada tinggi.

Anak lanang pamit ke rumah temannya, lalu kuingatkan: “Ini Jumat, Le. Jangan keasyikan lalu lupa jumatan”.
Jawab anakku: “Dekat rumah temanku ‘kan ada masjid”.
Entah kenapa jawaban itu membuat darahku naik ke ubun-ubun (untung nggak stroke). “Di depan Kraton itu ada masjid, tapi berapa banyak pengunjung Kraton yang bahkan tidak tahu masjid itu menghadap kemana..!”

Yogyakarta, 2 April 2010
Yusuf Iskandar

Tempe Goreng Sambal Bawang

2 April 2010

Hari ini, Jumat Agung, Hari Raya Jumat, istriku kembali membuat menu sarapan sederhana tapi istimewa : tempe goreng sambal bawang.

Tempenya: 6 potong. Sambal bawangnya: 3 siung bawang putih, 3 cabe hijau besar + kecil, sedikit garam, diulek, lalu penyet tempenya. Istriku membuat modif, dipenyetnya ditambah bawang goreng agak banyak.

Wuaaah..! Oedan tenan, dalam sekejap bablasss sampai cobeknya bersih nyaris nggak perlu dicuci…

(Selamat Paskah kepada mereka yang merayakannya…)

Yogyakarta, 2 April 2010
Yusuf Iskandar

Memberi Dahulu, Menerima Kemudian

2 April 2010

Putriku sedang memulai bisnis online. Nampaknya dia enjoy.

Nasehatku (inilah keahlian yang perlu dimiliki orang tua, perkara lain boleh tidak bisa, tapi memberi nasehat harus ahli) : “Kalau ingin bisnismu cepat berkembang, maka setiap kali dapat keuntungan, sisihkan dan segera sedekahkan. Teorinya adalah, hanya kalau kamu memberi banyak, maka kamu pun pantas menerima banyak. Memberi-memberi dahulu, menerima-menerima kemudian….”

(Putriku memanfaatkan fasilitas jejaring Facebook untuk berbisnis, nama yang digunakan adalah : Happy Shoppers)

Yogyakarta, 1 April 2010
Yusuf Iskandar

Purnama Di Kala Subuh

2 April 2010

Langit Jogja cerah subuh ini. Pulang subuhan duduk-duduk sebentar di depan rumah. Menyaksikan bulan purnama yang mulai condong ke barat. Kalau tidak tertutup awan, mestinya tadi malam tepat di atas kepala. Indah sekali, seperti tak ingin aku berpaling menatapnya.

Kucoba mengingat-ingat, kapan terakhir aku menyaksikan yang seperti ini, namun ingatanku tak setajam kesadaran jiwaku… Rabbana ma kholaqta hadza bathila (Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dg sia-sia…..)

Yogyakarta, 1 April 2010
Yusuf Iskandar

Pemandu

2 April 2010

Menjamu seorang rekan yang segera akan bertolak ke India, meninggalkan satu kemapanan menuju kemapanan berikutnya. Di sebuah resto di Jogja, seorang gadis menyambut dan menawari karaoke (lha wong mau makan kok ditawari nyanyi…).

Katanya : “Ada tempat khusus untuk karaoke, pak. Juga disediakan pemandu sejam Rp 40 ribu, minimal 2 jam”.
Kujawab : “Waduh, sayang mbak”.
Gadis itu heran. “Kenapa pak?”, tanyanya.
“Saya dulu bekas pandu…”, jawabku

Yogyakarta, 1 April 2010
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.