Sumilar Sebagai Pengganti Abate

Sumilar5 Sumilar7

Pagi tadi rumah saya kedatangan petugas pengasapan (fogging) dari Kelurahan. Asap putih pun segera memenuhi sekeliling rumah. Pengasapan akan membantu untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya tak terusik. Cara yang efektif untuk mengatasi jentik nyamuk dan telurnya adalah dengan rumus 3M (menguras, menutup, mengubur), ikanisasi (menaruh ikan di bak atau tandon air) dan pemberian abate.

Dua hari yang lalu rumah saya juga didatangi dua orang petugas penyuluh kesehatan dari Kelurahan. Kunjungannya ini memang terkait dengan wabah penyakit demam berdarah yang akhir-akhir ini menyemarak di kampung kami (seperti yang saya ceritakan sebelumnya).

Selain memberi penyuluhan tentang 3M, lalu melakukan pengamatan secara sekilas kalau-kalau ada tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Ada satu lagi yang baru, yaitu membagi bubuk pembasmi nyamuk yang disebut sumilar.

Sumilar ini ternyata adalah bahan pengganti abate yang selama ini digunakan dan dikenal masyarakat. Cara penggunaannya hampir sama dengan abate, yaitu dicelupkan atau dimasukkan ke dalam bak atau tandon air. Menurut penjelasannya, bahan pembasmi nyamuk yang disebut sebagai hormon sumilar ini lebih baik dibanding abate.

Setelah melacak di internet, saya menemukan penjelasan dari Sugeng Juwono Mardihusodo, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM yang juga menjabat sebagai presiden nyamuk, Asosiasi Pengendalian Nyamuk Indonesia (Kompas, Selasa 04-03-2008). Menurut beliau, sumilar sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk untuk menjadi dewasa dan mematikannya. Selain itu, sumilar juga mempunyai daya bunuh lebih lama dibanding abate. Kalau abate hanya efektif untuk 2-3 bulan pemakaian, sedangkan sumilar bisa mencapai 4-5 bulan.

Masih menurut Pak Sugeng : “Nyamuk-nyamuk sekarang sudah semakin sulit diberantas. Mereka sudah kebal abate dan disinfektan. Kekebalan pada nyamuk tersebut muncul karena memiliki gen resisten terhadap obat-obatan itu”.

***

Rupanya sekarang ini sumilar sedang diujicoba untuk dimasyarakatkan di kota Yogyakarta. Mudah-mudahan bukan uji coba tentang daya gunanya, melainkan hanya pemasyarakatannnya saja. Pelaksanaan uji coba ini adalah hasil kerjasama antara pemerintah kota dengan sebuah yayasan non-profit di Yogyakarta.

Sumilar kini mulai dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat kota (masyarakat luar kota belum). Nampaknya Yogyakarta menjadi kota pertama yang menggunakan produk sumilar yang konon buatan Malaysia (begitu menurut informasi petugas penyuluh). Dari namanya saja sudah dapat ditebak, produk ini adalah buatan perusahaan Sumitomo.

Sumilar ini berupa butir-butir berukuran kecil (lebih kecil dari butiran batupasir), berwarna coklat muda bercampur dengan satu-dua butiran yang berwarna kehitaman. Bahan butiran halus ini dibagikan sudah dalam bentuk kemasan sangat sederhana, yaitu berupa bungkusan kantong plastik kecil yang diikat tali (jelas ini bukan kemasan dari pabriknya melainkan dikemas ulang agar masyarakat tinggal memakainya dengan mudah).

Plastiknya sendiri sudah ditusuk-tusuk dengan jarum sehingga berlubang-lubang kecil yang memungkinkan ditembus air. Di dalam bungkusan plasik ditambahi beberapa butir kerikil yang berfungsi sebagai pemberat. Maka, bungkusan sumilar tinggal dicelupkan atau ditenggelamkan ke dalam bak air dengan menggunakan talinya sebagai penggantung.

Seberapa efektifnya penggunaan sumilar sebagai pengganti abate? Kota Yogyakarta sedang membuktikannya. Kiranya yang akan menjadi kendala nampaknya justru ketelatenan masyarakat untuk memasang atau menggantung kantong plastik berisi sumilar ke dalam bak atau tandon, mengingat jika menggunakan abate biasanya tinggal menumpahkannya saja ke dalam air.

Umbulharjo – Yogyakarta, 26 Maret 2008
Yusuf Iskandar

About these ads

Tag: , , , ,

2 Tanggapan to “Sumilar Sebagai Pengganti Abate”

  1. Ihsan Shabri Says:

    Maaf nih pak Yusuf Iskandar. Saya baru membaca tulisan Anda di atas pada Mei 2012 dan saya jadi tergoda untuk berbagi pengalaman. Saya menggunakan kantong plastik dengan klip penutup berukuran kecil. Sebenarnya tidak perlu kantong ber-klip. Namun karena kantong berukuran kecil yang mudah didapat adalah yang seperti itu maka pilihan jatuh pada klip plastik tersebut. Takaran 10 mg untuk 100 liter air juga saya kurangi menjadi 5 mg untuk 100 liter air. Klip tidak saya beri tali dan tanpa pemberat. Hanya bibir klip plastik saya lipat ke bawah agar klip tetap dalam posisi terbuka dan bubuk mudah larut. Kemudian masukan ke dalam bak dengan memenuhi kantong plastik tersebut lebih dulu dengan air agar dapat tenggelam. Sampai saat ini sudah lebih 4 tahun pada bak-bak di rumah saya tidak pernah ada jentik nyamuk lagi yang berarti si telur tidak jadi/ setidaknya belum resisten dengan pengurangan takaran tersebut. Dan walaupun jalan untuk larutnya lebih luas daripada plastik yang ditusuk-tusuk dengan jarum, sampai 4 bulan pun, 5 mg bubuk Abate tersebut belum habis juga. Biasanya saya mengganti karena klip lama ada yang membuang atau klip lama menghitam oleh kotoran yang melekat padanya. Walaupun dapat dibersihkan lagi tetapi karena saya punya persediaan bubuk Abate cukup banyak dan juga kantong tersebut tidak dapat dibersihkan seperli sediakala setelah 3-4 bulan saya menggantinya dengan kantong berisi Abate baru. Dan satu lagi, ternyata Abate masih ampuh, terbukti dengan pengalaman saya tersebut dan sampai saat ini saya justru baru mendengar produk Sumilar tersebut. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: