Puasa-puasa begini…. Minggu pagi menjelang siang, bangun dari tidur (sengaja) agak ditunda-tunda (rasa ngantuk sehabis sahur itu memang nikmat sekali kalau bisa ditindaklanjuti dengan tidur, agak berbeda sensasi liyer-liyer-nya dibandingkan ngantuk saat malam hari). Tiba-tiba saya teringat almarhum Mbah Surip. Kata Mbah Surip : “Barangsiapa ingin awet muda dan hidup bahagia di dunia ini, kurangin tidur dan banyakin ngopi…”
Mendadak saya khawatir, jangan-jangan yang dikatakan Mbah Surip itu bukan guyonan melainkan sungguhan. Untuk bisa tahan ngurangin tidur alias melek lebih lama biasanya perlu dibantu dengan ngopi alias minum kopi. Anjuran gaya hidup versi Mbah Surip ini sepertinya pas benar untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini.
Jangan-jangan yang dimaksud Mbah Surip dengan ngurangin tidur adalah agar lebih banyak waktu melek di malam hari buat sholat malam dan baca kitab suci. Sebab kata Imam Ibnul Qayyim : “Sesungguhnya shalat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya”, maka minimal satu syarat agar tampak awet muda terpenuhi. Selain itu juga terpenuhinya salah satu syarat untuk hidup bahagia, sebab sebuah kajian mengatakan bahwa sholat malam itu mampu menghilangkan stress dan meningkatkan kekebalan tubuh pelakunya. Belum lagi kemuliaan yang dijanjikan oleh Rasulullah saw. dan terkabulnya setiap doa. Mbah Surip memang ruarrr biasa… eh, sholat malam maksudnya…
Tapi Mbah Surip benar. Akibat dari kurang tidur di malam hari, maka esoknya usai makan sahur, sholat subuh, tadarus baca Qur’an bagi yang sempat, lalu jadi ngantuk pingin tidur. Tidur sehabis subuh ini luar biasa nikmatnya, hingga terasa berat ketika beberapa menit kemudian harus bangun untuk memulai aktifitas. Akhirnya, bangun tidur…, lalu tidur lagi… Bangun lagi…, ya tidur lagi… ha..ha..ha..ha… (untungnya hari pertama dan kedua Ramadhan kali ini jatuh di hari Sabtu dan Minggu).
Berat nian berbisnis dengan Ramadhan. Tapi imbalan yang dijanjikan Tuhan memang tidak baen-baen… Kata Beliau : “Puasa ini untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. Bayangkan, Tuhan sendiri yang akan menyematkan brevet puasa dan segenap asesori yang menyertainya. Sempat disalami Pak Bupati saja bisa membuat baju yang dipakai tiba-tiba serasa sesak semua. Lha ini Allah swt. sendiri yang akan turun tangan mengalungkan medalinya. Subhanallah..., sungguh ini impian yang dirindukan oleh setiap hamba yang mengharapkan sebuah akhir yang indah dan sempurna, khusnul khotimah… Kalau saja, ya kalau saja setiap hamba mengetahui rahasia di balik ini…
***
Puasa-puasa begini… Minggu pagi menjelang siang, terlambat bangun, rada ngantuk, agak malas-malas memulai kegiatan (herannya menghidupkan laptop dan menulis dongeng kok enggak malas…), saya tersenyum sendiri mengingat Mbah Surip. Bukan lantaran keanehan dan kejenakaan orang seperti Mbah Surip. Melainkan saya tersenyum karena merasa telah menemukan rahasia yang sedang disembunyikan Tuhan (sebuah kesombongan kecil tidak dalam konteks takabur melainkan pencapaian dari perenungan diri).
Bukan sebuah kebetulan kalau Tuhan mencetak manusia aneh bin nyleneh model Mbah Surip ke muka bumi. Bukan sebuah kebetulan kalau Mbah Surip suka ngomong ceplas-ceplos dan haha-hihi enggak habis-habisnya. Itu karena Tuhan sedang mengingatkan orang-orang di luar Mbah Surip (termasuk keluarga, tetangga, teman, penggemar, pekerja infotainment yang kurang kerjaan, presiden SBY dan saya), agar memetik pelajaran dari hidup dan matinya Mbah Surip, kelakuan dan ucapannya, kelebihan dan kekurangannya.
Orang cenderung tertawa dengan nada dasar G (Guyon, maksudnya), ketika Mbah Surip bilang kurangin tidur dan banyakin ngopi. Tapi ketika kita sedang berbisnis dengan Ramadhan, ternyata anjuran Mbah Surip itulah yang dibutuhkan. Bahwa sebulan ini perlu mengurangi tidur malam guna memberi kesempatan lebih banyak untuk mengkaji kitab suci dan mendirikan sholat malam.
(Segera saya periksa persediaan kopi di dapur, rupanya saya masih punya simpanan kopi Amungme dari Timika dan kopi AAA dari Jambi, perpaduan keduanya sungguh nikmat benar… Saya baca di koran Kompas hari ini bahwa menurut penelitian, manfaat kafein untuk “menyegarkan” tubuh ternyata lebih optimal jika kopi diminum dalam “dosis” yang sedikit-namun-lebih-sering sepanjang hari. Kalau bulan puasa, ya diaturlah…).
Perkara esok paginya, bangun tidur…, tidur lagi… Bangun lagi…, tidur lagi… ha..ha..ha..ha… Itu diatur nanti saja sambil jalan…, atau diselesaikan sambil tidur lagi…
“Suwun, Mbah… Semoga kedamaian menyertai Sampeyan…”.
Yogyakarta, 23 Agustus 2009 (2 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar
Kaitkata: ibnul qayyim, khusnul khotimah, Mbah Surip, ramadhan, sholat malam, tadarus