Berikut ini catatan-catatan pendek perjalanan saya ke kota tambang Tembagapura, kabupaten Mimika, Papua, yang sempat saya posting di Facebook (saya tulis ulang dengan penyempurnaan penulisannya agar lebih enak dibaca).
Yusuf Iskandar
———-
Jamblang dan Sate Lilit
Kemarin malam saya diundang makan malam oleh seorang teman (mas Ridwan Wibiksana) dan disuguhi jamblang, masakan khas Cirebon (tumis cabe merah yang bijinya sebagian dibuang, diramu dengan irisan daging)…. hewes..hewes… kepedasan….
Malam ini diundang oleh seorang teman lainnya, yaitu keluarga Pak Ketut Karmawan (kalau tidak salah berasal dari Bali), disuguhi sate lilit (berbahan daging ayam), petai goreng lengkap dengan sambal terasi, bawal goreng dengan sambal tomat, tumis kacang panjang, dll. Wuih…, di saat malam-malam dingin di lokasi berketinggian lebih 2300 mdpl (meter di atas permukaan laut), tapi bisa juga kepala keringatan….
Tembagapura, 26 Mei 2009
—–
Alhamdulillah…..
Alhamdulillah….. pagi ini terasa sakit pada lutut dan paha setelah ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’ hari Minggu kemarin. Kaki terasa sakit untuk jalan, mlanjer, njarem, kemeng, loro kabeh, terasa sakit semua…. Sepertinya sudah agak lama saya tidak menikmati hal seperti ini. Trims, Tuhan….
Tembagapura, 25 Mei 2009
—–
Kakap Woku Belanga
Seorang teman yang agak pinter masak dan hobi memancing, malam ini mengundang saya makan malam. Menu yg ditawarkan : kakap woku belanga (kakapnya hasil mancing di laut), ayam goreng, ca sawi campur telur, minumnya teh tubruk. Ya, jelas saya langsung berangkat ke rumahnya to…. Sampai perut kemlakaren…., kekenyangan. Lalu ngobrol ngalor-ngidul sampai malam. Terima kasih, kawan…. (kawan saya itu namanya pak Herry Siswanto).
Tembagapura, 24 Mei 2009
—–
Ikut ‘Race To The Clouds’
Bisa juga saya mencapai garis finish, lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, di urutan ketiga (dari belakang… he..he.., peserta yang lain cukup butuh waktu 1,5 – 2 jam, saya selesai dalam 3 jam lebihnya banyak). Sangat menantang, start di lokasi berelevasi 1988 mdpl (meter di atas permukaan laut), lalu mendaki menuju lokasi berelevasi 2908 mdpl, dan turun lagi.
Bersyukur saya masih sempat ikut kegiatan “aneh” ini di lokasi yang tidak pernah saya sangka… Saya membayangkan seperti sedang perjalanan mendaki gunung. Meski belum cukup memacu adrenalin…
Tembagapura, 24 Mei 2009
—–
Mbah Wardi
Tadi siang ketemu teman lama yang ahli urut (pijat) sekaligus melakukan ‘scan’ penyakit. Sewaktu saya masih karyawan dulu, sering saya buktikan hasil ‘scan’-nya ternyata tepat dibanding angka hasil pengecekan laboratorium di Rumah Sakit yang saya lakukan esoknya, termasuk kadar asam urat, kolesterol, dsb. Edan…..
Setelah itu biasanya dia memberitahu resep jamu ramuan herbal atas penyakit yang diderita pasiennya. Ramuannya bisa dicari di halaman sekitar atau membeli di pasar. ‘Cilakaknya’, kok ya terbukti manjur…. Teman saya itu bernama Suwardi, teman-teman biasa memanggilnya Pak Wardi, tapi ada juga yang merasa lebih akrab memanggil Mbah Wardi….
Tembagapura, 23 Mei 2009
—–
Sepatu Baru
Akhirnya sepatu baruku bisa ditukar dengan yang lebih besar ukurannya. Waktu itu membelinya hanya titip teman di pasar Timika, harganya Rp 99.950,- tapi tidak ada kembaliannya. Hari Minggu besok mau dipakai ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, menempuh jarak lebih 13 km, mendaki 930 m, di elevasi 2000 – 3000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di tengah Papua. Mudah-mudahan bisa mencapai sasaran, dan yang penting bisa turun kembali….., biarpun paling buntut saat semua panitia sudah bubar….
Tembagapura, 23 Mei 2009
—–
Dinner Di Lupa Lelah Club
Malam ini diajak dinner oleh seorang teman (namanya pak Joko Basyuni) di Lupa Lelah Club (nama sebuah resto di kota tambang Tembagapura, Papua). Bagi pengunjung tempat ini harapannya tentu agar dengan makan-minum di klab ini segera akan lupa dengan segenap rasa lelah, capek, kesal, dan sebangsanya sehabis seharian sibuk dengan kerja di lapangan.
Ketika pulang? Ya lelah lagi……., mendingan nggeblak tidur ah….
Tembagapura, 21 Mei 2009
—–
Tsel Flash
Tsel Flash benar-benar kemayu dan menggemaskan. Pingin tak pithes…. (tapi nanti malah tidak bisa online…). Sudah ditinggal ke belakang kok ya masih saja lenggut-lenggut kayak sapi kekenyangan…
Tembagapura, 20 Mei 2009
—–
Menyusuri Pepohonan Cemara
Hawa segar pagi hari, berjalan agak mendaki menyusuri pepohonan cemara yang aroma daun-daunnya sangat khas. Sensasi bau-bauan yang sering dijumpai saat melintasi hutan pertama ketika mendaki gunung…..
Tembagapura, 20 Mei 2009
—–
Online Di Tembagapura
Akhirnya bisa juga ng-online di Tembagpura (menggunakan Tsel Flash yang jalannya menggemaskan…). Ini adalah kota tambang di tengah Papua, berada di ketinggian +/- 2000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di lembah pegunungan terjal, sering berkabut, hujan, dingin, mudah lapar, ingin kencing terus, paling enak kemulan sarung… terus enggak usah kerja….
Tembagapura, 19 Mei 2009
—–
Mendarat Di Timika
Jam 18:00 WIT pesawat Airfast yang saya tumpangi dari Surabaya mendarat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Malamnya menikmati karakah (kepiting) goreng mentega di Rumah Makan ‘212’ (tapi pasti tidak ada hubungan saudara dengan Wiro Sableng), di Jl. Belibis, Timika. Alhamdulillah, bisa kembali mengunjungi kota ini……
Timika, 16 Mei 2009