Anak lelaki saya minta ibunya membelikan buah melon, tapi ibunya lupa. Kebetulan suatu siang saya berada di dekat kios buah pinggir jalan di Jogja, maka langsung saja saya membelikan sebutir melon, sebelum nanti lupa lagi. Kepada penjual buah saya utarakan maksud saya, kemudian saya minta dipilihkan yang bagus, sekalian dimasukkan ke tas kresek, saya tanya harganya, lalu saya bayar tunai begitu saja.
Kami (saya dan tukang buah) siang itu menjalankan bisnis kepercayaan. Saya tepis jauh-jauh pikiran bagaimana kalau ternyata saya dibohongi dengan dipilihkan buah melon yang jelek, toh buahnya tidak saya lihat lagi setelah dimasukkan ke dalam tas kresek warna hitam. Atau bagaimana kalau ternyata harganya dimahalkan atau kemahalan, sebab saya langsung membayarnya begitu saja dengan tanpa menawar sedikitpun atas harga yang disebutkannya.
Sampai di rumah saat sorenya, sebutir melon yang beratnya dua kilogram setengah lebih sedikit itu saya pamerkan ke istri. Tujuan saya tentu memberikan surprise karena kemarin dia lupa membelikan buah melon pesanan anak saya. Lalu istri saya bertanya : “Beli melon, berapa harganya?”.
“Sekilo enam ribu rupiah”, jawab saya.
“Ditawarkan berapa?”, tanya istri saya lagi.
“Ya, enam ribu rupiah”, jawab saya tanpa merasa ada yang salah. Ya, memang sebenarnya tidak ada yang salah kok…
“Mestinya masih bisa ditawar lebih murah”, komentar istri saya kemudian sambil memotong setengah buah melon itu lalu mengirisnya menjadi tipis-tipis menyerupai bulan sabit. Dialog saya dan istri kemudian terhenti sebentar karena kami berpikir dengan jalan pikiran masing-masing.
Sesaat kemudian, sambil leyeh-leyeh di depan televisi saya berkata dengan nada datar : “Kapan ya…. terakhir kali kita membeli buah tanpa menawar…. Lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau malah belum pernah sama sekali…..”.
***
Dasar ibu-ibu, merasa belum afdol kalau belanja kok tidak nawar, kecuali di pasar moderen sekalipun tahu harga yang dipasang sebenarnya lebih mahal. Bila perlu mati-matian bertahan di depan bakul pasar hanya perkara uang seribu-dua ribu rupiah. Tapi itu memang sangat manusiawi (mungkin lebih tepat disebut ibuwi). Terkadang bukan masalah rupiahnya, melainkan kepuasannya.
Sama seperti ketika sekali waktu tawar-menawar dengan tukang becak di Jogja. Sang penumpang berlagak sok tahu bahwa biasanya biayanya tidak segitu. Dan sang tukang becak tidak mau kalah dengan berlakon memelas agar tawaran ongkosnya disetujui. Akhirnya mereka sepakat dengan ongkosnya. Begitu tiba di tujuan, sang penumpang malah menggandakan ongkos becaknya, tinggal sang tukang becak munduk-munduk berterima kasih. Kalau memang begitu kenapa tadi mesti buang-buang waktu untuk bernegosiasi alot menawar ongkosnya? Ya itu tadi, improvisasi atas nama kepuasan. Kepuasan telah berhasil memenangi negosiasi (menang melawan tukang becak kok sombong….), kepuasan memberi lebih banyak tanpa diminta kepada tukang becak (seringkali antara berharap pujian dan ikhlas batasnya tipis sekali), dan kepuasan melakukan improvisasi dalam hidup.
Ya, apa yang saya lakukan siang itu adalah sekedar ingin berimprovisasi. Keinginan itu terbersit begitu saja tanpa saya rencanakan. Bukan saya tidak bisa melakukan tawar-menawar. Sekali waktu saya pun bisa ikut menawar kalau lagi membeli buah. Sekedar ingin membuktikan bahwa saya juga bisa nyinyir bernegosiasi untuk bertahan memperoleh penghematan seribu-dua ribu rupiah. Suatu jumlah rupiah yang sebenarnya persentasenya relatif sangat kecil dibanding jumlah pengeluaran bulanan keluarga. Tapi kok ya dilakukan juga dan malah hampir selalu dilakukan.
Artinya, kalau sekali waktu kita melakukan improvisasi kecil melakukan bisnis kepercayaan semodel cerita di atas, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang nyaris tidak terlihat, tidak berpengaruh, tidak ada artinya apa-apa dalam penggalan kehidupan kita. Tapi faktanya, susah nian melakukannya dengan sepenuh keikhlasan.
Yogyakarta, 25 April 2009
Yusuf Iskandar


Bagi penggemar kuliner menu udang, nama Mang Engking Jogja sepertinya sudah bukan nama asing lagi. Apalagi sekarang Mang Engking sudah buka cabang di Depok dan Surabaya. Mang Engking yang asli Ciamis dengan nama lengkap Engking Sodikin ini boleh dibilang pelopor dalam bisnis kuliner perudangan di Jogja. Tambak udangnya yang berlokasi di kecamatan Minggir, Sleman, adalah cikal bakal usahanya yang bernama
Setengah kilogram menu udang bakar madu lalu kami pesan. Ditambah dengan gurami goreng sambal cobek, tumis kangkung, lalapan sambal dadak, dan belakangan menyusul kepiting rebus. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga pesanan disajikan. Sebenarnya dalam hati saya agak surprise, kok cepat sekali….. (Sementara sebuah keluarga lain di sebelah saya yang lebih dahulu duduk di sana mulai menggerutu karena pesanannya belum juga keluar. Rupanya tadi sang pelayan salah mengantar pesanan mereka ke tamu yang lain, tapi bukan saya….. Nampaknya malam itu bukan purnama keberuntungan bagi keluarga itu).
Gurami goreng sambal cobek (tapi sambalnya disajikan di cawan kecil) berhasil kami ludeskan, kecuali duri dan kepalanya tentu saja. Sambalnya yang diracik dengan tambahan bawang merah sekulit-kulit keringnya dan sedikit rasa jahe, terasa pas benar. Saya sengaja memesan setengah kilogram kepiting (rajungan) rebus dengan maksud agar lebih merasakan taste dagingnya yang belum banyak terkontaminasi oleh rasukan bumbu-bumbu pelengkapnya. Rupanya anak-anak saya juga menyukainya. Kalau rasa tumis kangkungnya standar, biasa-biasa saja. Sedang lalapan dengan sambal dadaknya lebih berasa (berasa pedas maksudnya). Namanya juga sambal mentah yang mendadak dibikin dengan campuran irisan tomat. Cukup untuk membuat agak megap-megap disaksikan oleh sang purnama yang menghiasi angkasa Jogja. 

Pilihan menunya beragam. Menu unggulannya adalah sop sapi dan soto ayam kampung. Ada pilihan sop daging, sop babat, sop kikil atau sop komplitan yang berisi campuran daging, babat dan kikil sekaligus. Juga tersedia pilihan soto dan pecel lele. Menyesuaikan judul menu yang diunggulkan, akhirnya saya memesan sop komplit. Dengan harapkan sekali sendok, dua-tiga sop ternikmati. Alias pesan sekali tapi bisa mencicipi rasa daging, babat dan kikil sapinya sekaligus. Bukan mau ngirit, tapi sekedar menyesuaikan kemampuan tembolok.
Pemiliknya boleh berbangga dengan nilai lebih dari lokasinya. Setidak-tidaknya, para pegawai hotel Sheraton dan perkantoran di seputarannya adalah pelanggan setia sop sapi dan soto ayam Mas Gandhul yang masing-masing dibanderol Rp 10.000,- dan Rp 5.000,- per porsi lengkap dengan nasinya. Cukup untuk membuat perut merasa tenteram sambil terkadang keringatan (di kepala tentu saja, bukan di perut).
Keluar dari toko buku Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta, saya bergabung dengan seorang teman yang sebelumnya sudah menunggu di depan Mall. Teman saya ini baru pertama kali datang ke Yogyakarta dan minta ditemani untuk jalan-jalan malam di Malioboro sambil mencari-cari sebarang pesanan seorang temannya. Sebagai orang Jogja, saya sendiri sebenarnya sudah sangat lama tidak pernah menikmati jalan-jalan malam di kawasan Malioboro.

