Bakpia Glagahsari

Jika tiba saatnya harus membeli oleh-oleh makanan khas Ngayogyokarto. Jangan lupakan bakpia. Siapa tidak kenal bakpia Yogya. Makanan atau nyamikan yang terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa lalu diisi adonan kacang hijau ini memang memiliki citarasa yang khas. Wis…..setuju enggak setuju, pokoknya uenak.

Selama ini orang banyak mengenal nama bakpia Pathuk, karena memang penjual dan produsen bakpia banyak bertebaran di sepanjang jalan Pathuk (sekarang bernama Jl. KS. Tubun), yang berada di kawasan kecamatan Ngampilan, Yogyakarta. Jika musim liburan tiba, maka dapat dipastikan jalan sepanjang kurang dari satu kilometer, dua lajur dua arah ini akan padat dan sumpek penuh dengan kendaraan para pembeli bakpia. Tidak sulit bagi pendatang dari luar Yogya untuk menemukan lokasi ini. Siapapun orang Yogya pasti tahu kalau ditanya dimana letaknya.

Tidak mengherankan kalau di kawasan Pathuk ini ada lebih 100 pedagang dan produsen bakpia. Ada yang sudah bermerek dan ada yang masih industri kecil-kecilan. Di antara yang sudah punya nama, selama ini dikenal ada bakpia Pathuk 25, 35, 38, 55, 67, 75, 99, dan entah nomor berapa lagi. Angka-angka itu umumnya menunjukkan angka nomor alamat rumah.

Entah bagaimana asal-muasalnya sehingga mereka tanpa kesepakatan menggunakan nomor alamat rumah sebagai merek dagangnya. Barangkali karena di jaman dulu mengambil praktisnya, sehingga begitu saja mengambil nomor rumah sebagai label produknya. Saking banyaknya nomor bakpia, sehingga calon pembeli sering malah bingung mau beli yang nomor berapa. Akhirnya ya pokoknya beli bakpia, berapapun nomornya, yang penting bukan pia-pia yang lain, lunpia, nopia, apalagi sepia….. 

Popularitas bakpia memang luar biasa. Dapat dipastikan setiap harinya ada belasan bahkan puluhan ribu bakpia bergelindingan di Yogya, apalagi di musim liburan. Harganya rata-rata berkisar Rp 10.000,- untuk setiap dos isi 20 butir, ada yang lebih mahal dan ada yang lebih murah. Cukup murah (dibanding kalau bikin sendiri, itupun belum tentu jadi bakpia, bisa-bisa malah jadi onde-onde…..).

Meskipun tampaknya usaha bakpia ini maju pesat, namun jangan dikira tanpa masalah non-teknis. Persaingan tidak sehat, bahkan saling manjatuhkan, diam-diam tumbuh di kalangan sesama pedagang atau produsen bakpia. Sangat disayangkan memang. Berbeda dengan para petani salak pondoh yang berhasil berhimpun dalam Kelompok Tani, di kalangan para pedagang atau produsen bakpia ini belum memiliki paguyuban yang mampu melindungi kepentingan bersama.

Semakin runyamnya persaingan ini, berdampak kepada semakin runyamnya jasa calo bakpia di seputaran Pathuk. Tidak saja mengganggu calon pembeli, terlebih meresahkan para pedagang bakpia karena akan mengurangi keuntungan pedagang. Bahkan seringkali permintaan imbalan oleh para calo kepada pedagang bakpia ini dilakukan setengah memaksa.

Oleh karena itu jangan kaget kalau Anda pergi membeli bakpia ke Pathuk, begitu turun dari mobil atau memarkir kendaraan, Anda akan dikerubuti para calo yang menawarkan jasanya mengantar ke pedagang bakpia tertentu.

Atau, jika Anda malas membeli langsung ke jalan Pathuk, bisa juga membelinya di sejumlah pusat jajan dan oleh-oleh yang menyebar di jalan Mataram, yaitu jalan yang paralel di sebelah timur jalan Malioboro. Di sini pun bisa dijumpai bakpia Pathuk dengan berbagai nomornya dan juga masih baru, bukan produk kemarin.

***

Nama bakpia yang sekarang identik dengan Yogya, sebenarnya bukan makanan produk asli Ngayogyokarto. Konon dulu-dulunya berasal dari Cina, yang nama aslinya Tou Luk Pia yang berarti pia atau kue kacang hijau. Entah lidah siapa yang pertama kali “kepeleset” menyebutnya menjadi bakpia. Pada tahun 1948, keluarga Goei Gee Oe (ini pasti pendatang dari Cina) mencoba-coba membuat bakpia sebagai industri rumahan. Lalu dijajakan eceran, dari rumah ke rumah, dalam wadah besek (wadah kotak berupa anyaman dari bambu), tanpa label.

Semakin tahun semakin banyak peminatnya, hingga sekitar tahun 1980 mulai muncul produsen-produsen baru yang membuat bakpia. Mulai muncul kemasan baru dalam dos atau kertas karton, dan mulai menggunakan label merek dagang berbeda. Anehnya, merek dagang yang digunakan pun mudah saja dengan mengambil nomor rumah para pembuatnya.

Demikian pesatnya perkembangan industri per-bakpia-an di Yogya, hingga pada awal tahun 1990-an bakpia mengalami booming dan sampai sekarang pun nampaknya masih menjadi komoditi unggulan oleh-oleh makanan khas Yogya.

Namun sudah sepuluh tahunan ini saya sendiri tidak pernah lagi membeli bakpia Pathuk, berapapun nomornya. Sejak sekitar tahun 1993, saya menemukan produsen bakpia lain yang setelah saya rasa-rasakan taste-nya jauh lebih enak dibanding bakpia Pathuk. Saya menemukannya di sebuah warung yang merangkap jualan bakpia di jalan Glagahsari, kecamatan Umbulharjo. Bedanya dibandingkan bakpia Pathuk, bakpia Glagahsari ini lebih renyah, lebih mumpur dan lebih kemripik (embuh, apa bahasa Indonesianya). Pokoknya beda dan lebih uenak…… Penilaian ini disetujui oleh beberapa kawan warga Yogya yang pernah mencobanya.

Waktu itu warung ini hanya menjual bakpia kecil-kecilan, bikin sendiri, dijual sendiri, kalau enggak laku juga dimakan sendiri barangkali. Wadahnya pun seadanya. Namun kini rupanya semakin berkembang, dan sudah punya judul sendiri, yaitu bakpia “Kurnia Sari”. Tepatnya, warung ini berada di Jl. Galagahsari No. 112. Jalan Glagahsari adalah jalan yang membentang utara – selatan yang menghubungkan antara Jl. Kusumanegara dengan terminal bis Umbulharjo. Kalau dari arah Jl. Kusumanegara, warung bakpia ini berada di sisi kanan jalan, sebelum kantor Kecamatan Umbulharjo yang berada di sisi kiri jalan.

Seiring dengan tuntutan selera lidah masyarakat, maka bakpia “Kurnia Sari” pun memproduksi bakpia tidak hanya yang biasanya berisi kacang hijau, melainkan ada juga isi kumbu hitam, coklat dan keju. Siapa tahu kelak akan ada bakpia rasa strawberry atau vanilla……

Jika ingin membeli bakpia untuk keperluan beberapa hari atau dibawa keluar kota, maka bakpia Glagahsari bisa jadi pilihan yang sesuai. Asal jangan dibungkus rapat ketika masih dalam keadaan panas, melainkan diangin-anginkan dulu. Setelah sampai di tempat tujuan, simpanlah di lemari es. Bakpia ini akan tahan hingga lebih seminggu tanpa ada perubahan rasa. Sudah seringkali saya coba untuk dibawa ke Papua, dan hingga lebih seminggu masih terasa enak, apalagi kalau malam-malam saya nggayemi sambil nulis cerita soal makan. Lebih nikmat lagi, kalau ada microwave, dihangatkan dulu barang 10-15 detik. Hmmm……

Nah, jika ingin mencoba bakpia dengan rasa sebagai ukurannya, bukan label Pathuk-nya? Monggo….., bakpia Glagahsari bisa dicoba sebagai pilihan. Dijamin tanpa diganggu calo dan tanpa kesulitan parkir, karena masih belum padat pembeli.

Yusuf Iskandar,
Tembagapura, 27 Juli 2004

About these ads

Tag: , , , , , , , ,

8 Tanggapan to “Bakpia Glagahsari”

  1. bakpia Says:

    emang betul lebih enak rasanya.. kacang ijonya lebih gurih, padat..cuma lebih mahal… 26 ribu satu kotak

  2. Zulfiqo Ilham Says:

    wah memang enak bakpia kurniasari itu
    walaupun harga agak mahal tapi kualitas nomor satu
    rasa memang tak pernah bohonh

  3. universitashidup Says:

    dan sekedar pengetahuan saja bahwa anak dari pembuat bakpia Alm. Goei Gee Oe sekarang adalah Bakpia 55 yg berlokasi didepan pasar Pathuk Yogya.

    • madurejo Says:

      Terima kasih untuk tambahan infonya. Senang sekali kalau suatu saat nanti sempat bertemu dengan anak dari “Bapak Bakpia” ini, sehingga lebih banyak kisah dapat digali. Sukses juga untuk Bakpia 55. Slm

  4. Andra Raditya Says:

    yap..bakpia kurnia sari adalah favorite keluarga sejak pertama kali mencoba..selama ini tidak terlalu suka bakpia, tapi setelah mencicipi bakpia kurnia jadi ketagihan…setiap ke jogja pasti nyari Bakpia kurnia sari..walo lebih mahal tapi lebih ueennaaakkkk…

  5. puspita Says:

    Bakpia 55 memang yg pertama ada, tapi jarang yg tahu kecuali turun temurun warga Jogja kota, sayangnya mereka tidak pandai publikasi. saya juga tahunya dari kakek saya yg sering wanti-wanti. yg paling khas adalah bakpia kumbu hitamnya, enak sekali, kulitnya lembut. kadang kalau tidak pesan cepat sekali habisnya.
    Saya melihat kebiasaan pembeli disana kalau beli untuk konsumsi sendiri, kalau untuk oleh-oleh mereka pilihkan bakpia merek lain, sayang-sayang katanya, mungkin ini juga yg bikin bakpia 55 ga bisa ngetop hihihi.
    Untungnya bakpia 55 udah dapat sertifikat halal juga, jadi ga ragu juga menyantapnya.

  6. astrie Says:

    saya baru merasakannya, ketika ada tmen kantor yang bawa. langsung browsing cari tempatnya dimana. benar” bakpia yang enak persis penjelasan bapak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: