Di Papua sendiri, buah matoa ini tidak dijumpai di semua wilayah. Ada daerah-daerah tertentu dimana buah matoa banyak dijumpai, sementara di daerah yang lain rada susah menemukannya. Buah matoa dari Jayapura lebih dikenal orang daripada yang berasal dari kota-kota lain di Papua. Katanya, rasanya lebih enak dan daging buahnya lebih tebal. Sedangkan buah matoa dari daerah lain, buahnya kurang bagus.
Cerita ini tidak jauh berbeda dengan tanaman matoa yang tumbuh di daerah Jawa. Adakalanya tanaman ini bisa berbuah, namun banyak juga yang tumbuh saja terus dan enggak muncul-muncul buahnya. Orang bilang tanahnya beda. Ya memang beda, wong yang satu tanah Papua yang lainnya tanah Jawa.
Kulit buah matoa ini tergolong tipis dan mudah terkelupas. Oleh karena itu, penanganannya memang rada susah, apalagi kalau masih ditangani, misalnya cara pengepakan (packing), yang masih tradisional. Sekali kulitnya terluka, biasanya menjadi tidak tahan lama, kecuali langsung disimpan di lemari es.
Sebelumnya saya mengira tanaman matoa ini berbuah sepanjang tahun. Rupanya ada seorang teman yang memberitahu, bahwa meskipun matoa berbunga sepanjang tahun, namun matoa ini ternyata termasuk tanaman yang berbuah musiman dan biasanya pada akhir tahun. Sama halnya ada musim buah rambutan, duku, durian dsb. Itu kalau di Papua. Entah kalau tanaman matoa yang tumbuh di tempat lain.
Seperti halnya tanaman matoa yang sudah lama ditanam di lingkungan PT Caltex Pacific Indonesia atau di Minas, Rumbai, di daratan Sumatera. Barangkali karena Pak Johand Dimalouw sebagai pelopor penanamnya adalah seorang yang asli berasal dari Papua maka tanaman matoa ini dipilih untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan di sana. Siapa tahu bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, sehingga kelak ada matoa Sumatera atau paling tidak matoa Rumbai.
***
Seorang rekan bercerita tentang buah matoa, begini penggalan ceritanya :
Matoa adalah jenis buah tropis yang berasal dari tanaman kehutanan yang umumnya tumbuh liar di hutan-hutan dataran rendah di daerah Papua dan Kalimantan. Kayu dari batang pohon matoa bernilai ekonomis tinggi, termasuk golongan kayu kelas 2, sehingga tidak jarang menjadi obyek illegal logging oleh orang-orang Jakarta.
Musim buah matoa terjadi sekali setahun, biasanya pada akhir tahun. Jadi kalau mau ambil cuti, pada bulan November saja ke Jayapura.
Buah matoa bentuknya lonjong, sedangkan bagian buah yang dimakan adalah daging buah berwarna putih seperti rambutan, letaknya menyelimuti biji berwarna coklat kehitaman, ditutup oleh lapisan kulit luar yang agak keras. Buah matoa rasanya manis dengan aroma seperti durian, kadangkala ada dijual di shopping center dengan harga yang lumayan mahal. Bagi yang belum pernah merasakan buah matoa maka cukup membayangkan saja, bahwa matoa adalah kelengkengnya orang Papua, sedangkan kelengkeng adalah matoanya orang Jawa……..
Rupanya bagi sebagian orang di Papua, buah matoa ini juga dapat membangkitkan kisah kenangan tersendiri. Seorang rekan bernostalgia dengan kisahnya, beginiĀ :
Jaman aku SD ketika Mendikbud-nya Daoed Joesoef, lagu matoa cukup terkenal pada tahun 1970-an di kalangan anak-anak di Papua (bahkan mungkin masih dinyanyikan di sekolah-sekolah hingga sekarang). Potongan syair lagu tsb. begini :
Buah matoa enak dimakan
Marilah kawan coba rasakan
Dimana terdapat buah matoa
Banyak terdapat di Irian Jaya
Pendeknya jika ada kesempatan, tidak ada ruginya sekali waktu mencoba mencicipi rasanya buah matoa Papua ini. Apalagi, kalau kebetulan sempat singgah di Jayapura.
(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau melafalkan kata buah matoa hendaknya yang jelas, salah-salah nanti kedengaran seperti sedang mengucapkan kata buah maitua, yaitu dialek Manado yang sering dipergunakan dalam bahasa pergaulan di Indonesia timur, yang berarti istri…..)
Tembagapura, 10 Juni 2003
Yusuf Iskandar
Tag: irian jaya, jayapura, maitua, manado, Matoa, papua, rumbai, sumatera
24 Maret 2008 pukul 15:36:16 |
Sekarang matoa nggak cuma di Irian Mas… Di Jawa juga udah ada yang nyoba menanam. Saya dulu pernah mencoba di halaman rumah saya, tapi tidak berhasil.
Saya termasuk penikmat tulisan Mas Yusuf Iskandar, semenjak masih di Mail List UPN.
Good Luck
25 Maret 2008 pukul 8:14:48 |
Benar mas Handoko, memang sekarang sudah banyak dicoba ditanam dimana-mana. Cuma sayang hasilnya (kalaupun berbuah) jarang yang bisa bagus dan banyak seperti yang di Papua.
Terima kasih & salam.
18 Agustus 2008 pukul 22:57:24 |
Mampir yaaa… terima kasih tulisan Matoa ini. Sungguh, saya mencoba buah Matoa juga baru tahun 2006, ketika tugas di Nabire, Papua. Itupun setelah diberitahu kawan-kawan. Buah yang asyik untuk dinikmati. Sore ini, 18 Agustus…saya ketemu di toko buah di Jakarta. Dan lucunya…tetangga di dekat rumah juga baru ketahuan punya pohon matoa yang sedang berbuah!
6 Oktober 2008 pukul 9:59:23 |
Matoa udah banyak di solo mas, wktu lebaran kemaren, saya mudik ke rumah istri saya, dihalaman rumahnya ada pohon matoa pas berbuah lagi, rasanya maknyuus manis sekali ngalahin kelengkeng manisnya, tapi ada ga ya yang membudidayakan.
9 Oktober 2008 pukul 13:52:49 |
Mas Azzam,
Wah, senang sekali kalau punya tanaman matoa dan bisa berbuah banyak. Sebab beberapa pengalaman yang saya dengar, matoa yang berhasil ditanam di Jawa kebanyakan rada-rada susah bisa berbuah.
7 Nopember 2008 pukul 12:14:41 |
saya penggemar tanaman. pohon matoa saya kenala dari seorang teman di bali. biji matoa pernah saya coba untuk dibibit, namun sayang dari puluhan bibit yang coba kembangkan, satu pun tak berhasil. mati kekeringan.
pembibitan matoa tidaklah gampang…
17 Nopember 2008 pukul 12:04:55 |
saya baru aja merasakan buah yg kata tmn saya adalah buah matoa. buahnya seperti kelengkeng dan ada aroma durian.enak bngt.
saya mncoba menanam bibitnya.tp dr 3 bibit yg saya tnm yg tumbuh cuma satu.skrg umrnya sdh 1 bln.tp bntuk pohonnya sprti palm. pa bnr tu matoa ya..???bingung jg…
18 Nopember 2008 pukul 10:09:28 |
Mas/mbak Elan,
Saya juga beberapa kali mencoba menanam bibit matoa di Jogja, dan beberapa kali pula meninggal dunia. Namun ada juga teman yang berhasil menanam, cuma katanya susah berbuah. Lain kesempatan saya ingin coba menanam lagi.
Mbak Sasha,
Buah yang Anda makan memang buah matoa, dan sekarang sering juga dijumpai di supermarket. Tapi kalau bentuk pohonnya sepertinya tidak seperti palm, melainkan mirip-mirip pohon rambutan atau kelengkeng.
23 Nopember 2008 pukul 14:46:30 |
salam,
saya beberapa minggu yang lalu dapat 5 biji buah matoa. Dan istri saya coba tanam di dalam pot biji, sekarang sudah tumbuh 3 pohon masing2 setinggi 15cm. Tapi yang belum tau apakah bisa tumbuh berkembang dan berbuah atau tidak.
23 Nopember 2008 pukul 20:50:01 |
Mas Sastra,
Coba dirawat baik-baik bibit matoa tsb. Bisa juga langsung dipindahkan ke lokasi yang diinginkan (atau dikirim ke Jogja… he..he.he..). Ada yang pernah coba menanam dan bisa tumbuh besar dan berbuah (meski ada juga yang nggak buah-buah…). Setelah tumbuh besar kelak kalau enggak buah-buah juga, coba dikupas kulit bagian pangkal akar yang muncul di permukaan. Kata “orang sana” bisa merangsang untuk berbuah – Salam.
27 Maret 2009 pukul 19:13:04 |
salam kenal. baca-baca dulu ya.
2 April 2009 pukul 22:48:20 |
Monggo, pak Syaiful. Salam kenal kembali. Terima kasih.-
12 Mei 2009 pukul 21:40:07 |
Thanks infonya, Mas. Saya pernah diberi 2 buah matoa, saya tanam bijinya, tp tdk berhasil. Pemilik pohon berjanji akan memberikan tanaman muda, tapi sampai sekarang saya belum mendapatkannya. Dia mempunyai pohon matoa yg sudah berbuah banyak di Bandung