Hari Tanpa Tembakau Di Lorong Asap

By madurejo

Sehabis subuh, bersiap hendak terbang ke Bengkulu. Secangkir Coffee-Mix sudah siap di meja. Sambil menunggu taksi, sambil menyeruput kopi campur. Dan, tidak ketinggalan sebatang rokok putih, yang ternyata tinggal sebatang dalam bungkusnya yang berwarna merah-putih. 

Setelah membaca koran pagi, barulah saya ingat bahwa hari itu adalah tanggal 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau (World No Tobacco Day). Dunia memperingati hari itu dengan mengajak atau menganjurkan masyarakat perokok untuk tidak merokok. Sehari saja!. Sebagai tetenger (tanda) agar masyarakat dan khususnya perokok menyadari dampak negatif dan potensi bahaya dari aktifitas merokok. Kalau tembakaunya sebenarnya baik-baik saja, tapi merokoknya itu……

Lalu, niat ingsun (meski terlambat) untuk berpartisipasi memenuhi anjuran tidak merokok sehari saja. Apa untungnya atau apa manfaatnya? Tidak tahu! Pokoknya ikut merayakan. Terbersit sebuah semangat untuk membuktikan bahwa saya bisa. Tiga tahun yang lalu saya berhasil. Dua tahun yang lalu saya lupa. Setahun yang lalu saya sengaja tidak ambil bagian. Maka, tahun ini kembali ingin membuktikan bahwa saya (masih) bisa. 

Detik-detik yang sangat menantang biasanya terjadi ketika minum kopi di bandara, atau duduk tepekur menunggu pesawat, atau kemlakaren sehabis makan, atau ngobrol menjelang tidur. Sementara oknum perokok di sekitar klepas-klepus…

***

Ketika memasuki ruang tunggu terminal A bandara Cengkareng, menuju ke salah satu lorong dari tujuh galeri yang ada. Sebuah papan nama berdiri menghalangi jalan di tengah lorong, sehingga siapapun pasti membaca tulisan berwarna merah di papan putih itu. Bunyi tulisannya suangat jelas : “Dilarang Merokok” lengkap dengan terjemahannya “No Smoking”.

Namun apa daya….., tulisan itu diterjemahkan oleh oknum perokok sebagai dilarang merokok di atas papan nama itu. Artinya kalau merokok di seputarnya, boleh. Dan memang itu yang terjadi.

Alkisah, dari ujung lorong bak cuaca buruk sedang melanda ruang tunggu bandara. Itu karena asap rokok menyelaputi lorong menuju ruang tunggu. Rupanya para ahli hisap berkerumun di sepanjang salah satu sisi lorong di seputaran papan nama, sambil menduduki corongan pengatur udara (yang padahal bentuk corongan itu sebenarnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak enak untuk diduduki). Maka tak pelak lagi, asap pun menggumul di lorong.

Boro-boro tahu atau ingat hari itu adalah World No Tobacco Day. Wong tidak ada sosialisasi. Tidak ada publikasi. Tidak ada kampanye seperti pilkada, sedang pilkada saja suka mencuri start berkampanye. Tanggal 31 Mei pun berlalu tanpa kesan, tanpa greget.

Beberapa mbak dan ibu, berjalan cepat menerobos cuaca buruk di lorong sambil mengipas-ngipas hidungnya dengan telapak tangannya, padahal hidungnya sedang tidak kepanasan. Tidak ada yang menegur (atau mengingatkan) dan tidak ada yang perduli. Papan nama adalah satu kejadian dan merokok di sekitarnya adalah kejadian lain yang seolah-olah tidak ada hubungannya. Kedua kejadian berlangsung di lorong asap menuju ruang tunggu bandara terminal A.

Pengalaman berbeda terjadi dua minggu sebelumnya di lorong menuju ruang tunggu bandara Juanda yang masih terlihat baru. Ketika ada satu, dua atau tiga orang yang mencoba merokok sambil duduk di deretan kursi. Ada petugas yang dengan sopan mempersilakan kalau mau merokok sebaiknya di tempat yang telah disediakan. Toh, oknum perokok itu mau menurut juga. Kalaupun dari 10 oknum yang ditegur ada satu yang mbandel, kiranya itu masih sebuah prestasi. Secara akal waras, orang yang ditegur mestinya malu. Dengan perkataan lain, hanya orang yang tidak waras saja yang bisa ngeyel. Untung bukan saya…..

***

Alhasil, sehari itu, tanggal 31 Mei yang lalu, saya berhasil melewati uji nyali tidak merokok sehari (meskipun sempat kecolongan di awal pagi). Sungguh tidak ada untungnya dan manfaatnya sebenarnya. Wong tanggal 1 Juninya pak Sastro mulai merokok lagi……

Tapi ada sebuah hikmah, bahwa ternyata : saya bisa kalau saya mau! (Pada titik tertentu dalam episode hidup, ternyata hikmah ini menjadi modal berharga saya. Jauh lebih berharga ketimbang uang atau peluang).

Jadi bagi saya (bagi saya, lho…..), masalah stop merokok sebenarnya bukan soal telanjur kecanduan atau telanjur sulit, apalagi telanjur sayang……, melainkan karena belum mau. Buktinya? Stop 24 jam di tanggal 31 Mei bisa. Stop 14 jam sebulan penuh di Ramadhan juga bisa.

Kalau begitu, kenapa tidak stop total saja? Nah, justru menjawab pertanyaan ini yang saya belum bisa (atau belum mau?) …… 

Bengkulu, 1 Juni 2007
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan