Mbah Poniman Dan Kaweruh-nya

By madurejo

Sebagaimana di daerah-daerah lain di Indonesia, perayaan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-58, 17 Agustus 2003, kemarin juga diselenggarakan di Tembagapura, sebuah kota kecil di daratan Papua tengah. Demikian pula upacara pengibaran Merah Putih dan detik-detik proklamasi.

Namun, Tembagapura yang letaknya berada di ketinggian sekitar 1990 meter di atas permukaan laut, tentu mempunyai karakteristik agak berbeda, yaitu soal cuaca. Kabut dan awan mendung menyelimuti Tembagapura hampir setiap hari dan sudah menjadi pemandangan biasa. Semua masyarakat Tembagapura mafhum bahwa setiap saat awan akan dengan cepat berubah menjadi hujan. Maka lalu ada kekhawatiran setiap menjelang dilaksanakannya upacara 17-an, yaitu bagaimana kalau saat upacara lalu tiba-tiba hujan deras mengguyur?

Rupanya panitia selalu sudah mengantisipasi. Konon, seorang pawang hujan selalu disiapkan untuk membantu menjinakkan hujan. Entah apa terminologi yang tepat untuk kerja sang pawang ini, menjinakkan, mencegah, menunda atau mengalihkan turunnya hujan. Intinya adalah agar hujan tidak turun saat upacara sedang berlangsung sehingga tidak mengganggu kekhusyukan pengibaran Sang Merah Putih dan detik-detik proklamasi.    

Selama ini saya kurang tertarik dengan soal pawang hujan ini. Namun tanggal 17 Agustus 2003 kemarin ini pikiran saya rada terusik untuk ingin tahu lebih jauh tentang apa benar ada seorang pawang yang disewa panitia untuk menjinakkan hujan.

Usai upacara pengibaran bendera, lalu saya cari yang namanya pawang hujan itu. Akhirnya saya jumpai seorang kakek sedang santai-santai di belakang luar arena upacara. Menilik busananya saya langsung dapat menebak, pasti ini orang Jawa. Berbusana lusuh khas kampung di Jawa yang berwarna serba hitam dan mengenakan blangkon.

Setelah berbasa basi sedikit, ala Jawa, lalu saya tanya apakah beliau yang jadi pawang hujan. Dengan merendah beliau menjawab bahwa beliau cuma sekedar diminta untuk membantu agar tidak hujan saat acara sedang berlangsung. Kerendah-hatian yang kalau menilik gaya bahasa yang digunakannya memang khas orang desa di Jawa.

***

Itulah sekilas sosok Mbah Poniman yang kini sudah menginjak usianya yang ke-72, berarti saat proklamasi dikumandangkan Mbah Poniman ini berusia 14 tahun. Mbah Poniman ini asli Surabaya, dan sudah lama tinggal di dataran rendah kota Timika, tepatnya di kawasan Satuan Pemukiman transmigrasi wilayah 1, sering disebut dengan SP-1.

Menurut keterangan Mbah Poniman, keahliannya untuk “bermain-main” dengan hujan ini sudah ditekuninya sejak 37 tahun yang lalu, tepatnya sejak beliau berusia 35 tahun. Menilik jam terbangnya, tentu beliau sudah kategori expert untuk keahliannya itu. Dan katanya, dari tiga orang anaknya tidak ada yang tertarik mewarisi ilmunya. “Inggih lare sameniko, Pak…” (Ya maklumlah anak jaman sekarang, Pak), komentarnya pendek.

Itu sebabnya, beliau saat ini sedang “mengkader” seorang warga Papua, bernama Alex. Pak Alex, yang asal Biak dan tentu saja berambut keriting, sering diajak menemani gurunya ini kalau kebetulan Mbah Poniman dapat orderan, seperti yang dilakukannya kemarin ini di Tembagapura. Pak Alek hanya senyam-senyum dan berkata : “Saya cuma membantu saja”.

Mbah Poniman sehari-hari bekerja sebagai petani. Tentang keahliannya itu, beliau keberatan kalau disebut punya ilmu, atau disebut pawang hujan. Beliau lebih suka kalau keahliannya itu disebut dengan memiliki kaweruh. Istilah bahasa Jawa halus yang sebenarnya juga berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Lagi-lagi, saya menangkap kerendah-hatian khas Jawa.

Lalu apa yang dilakukan oleh Mbah Poniman kalau sedang dapat orderan mengendalikan hujan? Beliau menuturkan, sudah sejak tiga hari yang lalu menjalani laku puasa dan tidak tidur sama sekali (dalam hati saya berkata, mestinya ikut saja kontes touch the car di Mall Taman Anggrek, Jakarta, pasti pulang membawa mobil baru).

Selain itu ada rapalan (ucapan doa atau mantera) lainnya, yang ditulis dalam tulisan pego (tulisan Arab gundul berbahasa Jawa). Malah rapalan itu sempat diperdengarkan di depan saya, yang tentu saja tidak mudah untuk saya ingat. Ketika saya tanyakan apa maksudnya? Mbah Poniman itu menjelaskan bahwa yang penting memohon kepada Gusti Allah agar mengabulkan permohonan atau hajatnya. Ya hajat apa saja, termasuk yang berkaitan dengan harta, jabatan, keluarga, kehidupan, dsb. 

Tidak itu saja, saya ditunjukkan sebuah sesaji komplit yang diletakkan di salah satu sudut lapangan upacara. Di sebelahnya ada sebuah tombak yang dipancangkan dengan bagian ujungnya menghunjam ke atas. Entah apa maksudnya, yang tentu bisa panjang ceriteranya kalau saya tanyakan hal itu. Nah, di luar arena upacara beliau membakar kemenyan. Maka pada pagi kemarin itu, siapapun peserta upacara tahu bahwa saat itu ada kemenyan sedang dibakar karena memang baunya cukup menyengat.

Faktanya kemarin pagi, hujan tidak turun saat upacara pengibaran bendera berlangsung. Padahal saat itu Tembagapura sedang diselimuti awan sangat tebal, menggantung diam tidak bergerak, seperti tinggal tunggu waktu pecahnya bisul yang sudah matang. Tidak seperti hari-hari biasanya awan atau kabut bergerak berarak dihembus angin gunung.

Mbah Poniman memberitahu saya : “Meniko mboten saged dangu-dangu, amargi menyanipun kantun sekedik” (ini tidak akan berlangsung lama, karena kemenyannya tinggal sedikit). Maksudnya bahwa karena persediaan kemenyannya hampir habis maka beliau tidak bisa menahan tidak turun hujan terlalu lama. Beliau sudah memberitahu panitia, kalau ingin lebih lama tidak hujan maka perlu dibelikan tambahan kemenyan. Rupanya persediaan kemenyannya sudah terkonsumsi cukup banyak pada malam sebelumnya dimana Tembagapura diguyur hujan deras cukup lama sejak sore hingga tengah malam 17 Agustus. Begitu katanya.

Dalam hati saya membatin, lebih baik demikian. Daripada, konon pada perayaan 17-an tahun lalu, Mbah Poniman ini “keasyikan” mbakar kemenyan, sehingga kebablasan, yang berakibat seminggu kemudian Tembagapura kering tanpa hujan dan debu berhamburan dimana-mana.

Faktanya kemarin sore, hujan turun mengguyur lapangan dan peserta upacara pada saat upacara penurunan bendera sedang berlangsung. Usai upacara, saat hari mulai senja, saya cari-cari Mbah Poniman. Rupanya sudah kabur. Tidak saya lihat lagi sesaji dan tombak yang terpancang seperti yang saya lihat pagi harinya. Hanya bekas arang dan abu kemenyan yang basah oleh siraman hujan. Dalam hati saya membatin, barangkali “Service Agreement” dalam orderan untuk Mbah Poniman memang hanya sampai kemenyan habis, tidak ada klausul tentang suplai tambahan kemenyan. Apakah memang karena kemenyan Mbah Poniman habis, sehingga kemarin sore hujan mengguyur peserta upacara penurunan bendera? Wallahu a’lam.

Ada cerita lain dari Mbah Poniman, bahwa di sekitar Tembagapura ini ada dayangnya atau dalam istilah Jawa sering disebut Yang mBahurekso atau mahluk halus penguasa teritorial Tembagapura. Barangkali ini cerita yang pas untuk acara kisah misteri di saluran televisi.

Pada malam 17-an kemarin Mbah Poniman bercengkerama dengan dayang Tembagapura. Sang dayang bernama Mapuri, bertubuh pendek, hitam, berpakaian putih, berambut keriting, tapi anehnya bisa berbahasa Jawa. Menurut cerita Mbah Poniman, rupanya Mapuri keukeuh (ngotot) tidak bersedia pindah ke pemukiman lain. Sehingga dalam upaya penjinakan hujan ini Mbah Poniman perlu berkolaborasi dengan penguasa dunia permahlukhalusan Tembagapura. Mapuri lebih suka tinggal di pojokan lapangan tempat dimana sesaji diletakkan oleh Mbah Poniman. (Barangkali sang dayang Mapuri ini dulunya hobi main sepak bola, maka dengan tetap tinggal di pojok lapangan dia jadi bisa lebih sering nonton permainan sepakbola).

Di akhir obrolan dengan Mbah Poniman kemarin, beliau menawari saya. Kalau saya mau menyempatkan mampir ke rumahnya, maka saya akan diajari kaweruh-nya untuk menjinakkan hujan itu.

***

Mbah Poniman dan kaweruh-nya dan dunianya, adalah realitas hidup yang tak terpungkiri. Adalah fenomena menarik yang di jaman modern dan jaman informasi ini ternyata masih mempunyai nilai yang dibutuhkan orang, sekalipun dari lintasan yang paling pinggir yang nyaris tak terjamah oleh kesibukan modernitas di lintasan yang lebih dalam.

Satu hal yang patut dicontoh, terlepas dari apakah orang lain akan setuju atau tidak setuju dengan yang dilakukan oleh Mbah Poniman, apakah kaweruh-nya itu benar atau tidak benar menurut agama Islam yang dipeluknya, adalah sikap hidupnya yang sangat rendah hati. Sekalipun beliau punya kaweruh yang luar biasa, bahkan katanya mampu membantu melakukan approach dengan Gusti Allah agar mengabulkan setiap hajat pemintanya. Toh Mbah Poniman tetap biasa-biasa saja, sederhana dan bersahaja, tetap menjadi seorang petani dan tidak pernah bercita-cita menjadi konglomerat. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 18 Agustus 2003
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan