Kisah Tentang Pak Wahib Dan Bu Inul

By madurejo

Pengantar :

Berikut ini adalah penggalan email (setelah saya revisi sedikit agar lebih sesuai untuk pembaca umum) yang pernah saya tulis untuk sebuah kelompok diskusi kecil di Tembagapura tentang tokoh Ahmad Wahib dengan bukunya “Pergolakan Pemikiran Islam” dan fenomena si ratu goyang ngebor Inul Daratista. Lalu meluncurlah catatan kecil “Kisah tentang Pak Wahib dan Bu Inul” ini. Sekedar untuk selingan saja.-
———–

(1)

Ing sawijining dino……. (pada suatu hari………)

Ahmad Wahib dengan pergolakan pemikirannya (sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau catatan pribadinya kelak menyebabkan dirinya bakal diomongin orang (yang sebagian di antaranya “memusuhi” pemikirannya), dan dikafir-kafirin. Biarlah, Pak Wahib ini pernah berjuang dengan dunianya dan pemikirannya, bukan untuk siapa-siapa.

Inul Daratista dengan pergolakan kreatifitasnya (juga, sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau bakal dikenal dan dibicarakan banyak kalangan (yang sebagian diantaranya “menyiriki” kreasinya), dan diharam-haramin. Biarlah, Bu Inul yang sedang berjuang memperoleh label “halal” dari MUI ini tenang menikmati produknya (entah labelnya nanti mau ditempel di mana).

Kini, Pak Wahib, Insya Allah, sudah tenang di alamnya — rest in peace. Dan, kita respek dengan pergolakan pemikiran Islamnya dan sikap amal sholehnya.

Pun, Bu Inul, sedang menikmati kreatifitasnya. Satu lagu konon dihargai Rp 6 juta (kini pasti lebih mahal lagi), complete with drilling style, FOB Jakarta. Kalau FOB Papua, barangkali jadi Rp 10 juta per lagu. Jadi kalau Bu Inul presentasi di kota Tembagapura, Kuala Kencana, Timika dan sekitarnya misalnya, masing-masing dengan 6 lagu, maka total purchasing cost-nya Rp 180 juta + bonus “saweran”. Lha iya, siapa yang tidak ngiri. Yang paling nyebelin ‘kan kalau ngiri-nya pakai embel-embel “nambahin gelar”, ”mengatas-namakan”, dsb.

Nuwun sewu, saya bukan anggota FBI (Fans Berat Inul), hanya tertarik mencermati, atas dua alasan :

Pertama, Inul adalah fenomena yang bisa terjadi setiap saat di depan mata kita, untuk tema apa saja (kebetulan saat ini bertema drilling style).

Kedua, Inul adalah representasi kaum marginal yang di-fait-accompli (diterpaksakan) oleh kemarginalannya, sehingga harus struggling to surrender di haribaan “Sang Raja yang mengatas-namakan” (Anda pasti tahu, siapa Sang Raja ini. Bisa dibayangkan betapa nelangsa dan makan hatinya untuk berada dalam suasana seperti ini).

Maka tentang inul-menginul ini, saya mendukung gerakan FPI (Front Pembela Inul), bukan Inul sebagai Inul Daratista yang gedrug-gedrug di acara Duet Maut SCTV, melainkan Inul sebagai representasi kaum marginal yang termarginalkan semarginal-marginalnya. Mudah-mudahan beribu-ribu Inul lainnya yang ada di depan kita ini tidak lupa bahwa doanya sangat dekat di sisi Tuhannya. Kalau tidak, “Kasihan, deh lu…..”.-

Tembagapura, 30 April 2003
Yusuf Iskandar

——-
*) Ahmad Wahib — Salah seorang pelaku Angkatan ‘66 yang kumpulan catatan hariannya dibukukan dengan judul “Pergolakan Pemikiran Islam”.

*****

(2)

Sejujurnya, saya sebenarnya juga merasa risih ketika enak-enak nonton TV bersama anak-anak dan istri kemudian muncul iklan produk “HORE”, dan lalu disuguhi bokong-nya Bu Ainur Rohimah meghal-meghol kayak menthok (itik manila). Saya bayangkan saat itu orang tua saya, mertua saya, tetangga saya, guru ngaji saya, para pejabat, Rhoma Irama dan termasuk alim ulama anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) beserta keluarganya, berada dalam suasana yang mirip-mirip yang saya alami. Karuan saja kalau kemudian mereka mencak-mencak : “Busyet…, Ini haram…!”.

Noval, anak saya yang kini kelas 3 SD, sambil tertawa bilang : “ngebornya kayak bey blade, ya Pak….”. Jangankan di luar sana, di rumah saya sudah jatuh korban. Sekali waktu Noval dimarahin ibunya, maka sambil cengengesan spontan dia membelakangi ibunya dan pantatnya di-meghal-meghol-kan menirukan ngebornya Inul. “Tuobat tenan….”, kata ibunya.

Jadi, Inul harus berhenti ngebor? Enteng saja Bu Inul yang penampilannya terkesan lugu, ndeso dan tidak neko-neko ini bilang : “Lha, saya sudah belajar 8 tahun untuk bisa ngebor kayak gini, kok sekarang disuruh berhenti”. Nah lu…!

Diam-diam, kaum ibu pun memuja Bu Inul, saking gemasnya dan kepinginnya bisa meniru lenturnya dan gemulainya liak-liuk tubuh Bu Inul ini. Para ibu berbusana muslimah pun berebut memeluk Bu Inul ketika ada kesempatan ketemu.

Dan…, “Kenapa harus Inul yang disalahkan?”, kira-kira demikian kilah para ibu. Di keramaian Jakarta, di pelosok Jawa Timur atau di Tembagapura, ada ratusan orang yang juga suka meliak-liukkan tubuhnya, tidak hanya Bu Inul.

Akhirnya, fatwapun dijatuhkan oleh IKADI, bahwa goyang ngebor Inul hukumnya haram. Agak “lega” sudah, setidak-tidaknya keputusan sudah dibuat (entah oleh siapa pun saja), dan kontroversi yang berkembang (untuk sementara) mereda.

Implikasinya adalah, barangsiapa mendukung, memfasilitasi, membantu, akan terselenggarakannya kegiatan dan tontonan ngebor-mengebor ala Inul, maka mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menjadi bagian dari perbuatan yang haram itu tadi. Demikian setidak-tidaknya yang hendak disampaikan oleh IKADI. Termasuk, penyelenggara acara TV, pemasang iklan, pendukung acara, penontonnya, dan pesawat TV-nya sendiri (berapa inch pun ukuran TV Anda).

Kini pertanyaannya : “Kenapa harus Inul?”. Pertanyaan yang cukup mengganggu, bagi orang yang tidak suka mikir yang lurus-lurus.

Ya, kenapa bukan para penari dan penyanyi latar yang beberapa tahun terakhir ini justru tampak lebih seronok dan erotis dan merangsang penampilannya?

Kenapa bukan Akbar Tanjung yang menyelewengkan dana Bulog yang diharamkan, sehingga semua pejabat Golkar yang mendukung keberadaannya kini juga akan termasuk orang-orang yang berbuat haram?

Kenapa bukan Tommy Suharto yang diharamkan, sehingga semua orang yang ada di sekitarnya adalah termasuk yang melakukan perbuatan haram?

Kenapa bukan para penguasa yang sepertinya membiarkan peredaran VCD porno merajalela?

Kenapa bukan mereka yang seakan menutup mata terhadap peredaran bebas minuman keras dan narkoba?

Atau, kenapa bukan mereka, ribuan “Inul-Inul” lainnya yang jauh lebih “Inul” daripada Inul.

Seorang rekan di milis ini berkomentar gusar : “…..padahal jaman sekarang ini susah lho, orang yang mampu meraih prestasi dan sukses dengan tanpa KKN, tanpa katabeletje, melainkan dengan usaha keras, merangkak dari bawah, seperti yang dilakukan Inul”.

Tahun depan, konon kalau jadi, rencananya Inul akan membiayai ibunya naik haji. Ibunya Inul saat ini tengah menerawang jauh, gamang memikirkan bagaimana dia harus melafalkan kalimat : “Kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah….”, beruang-ulang. Ya, “kepenuhi panggilan-Mu” dengan uang haram, karena dia ingat uang pemberian Inul kini berstempel haram (menurut fatwa IKADI).

Jadi, Kenapa harus Inul?

Pertanyaan yang barangkali iramanya sama : Kenapa harus Marsinah, Kenapa harus Pak De (”pembunuh” Dice), Kenapa harus Prabowo Subianto, Kenapa harus Ahmad Wahib? Kenapa harus Abu Bakar Ba’asyir? Mereka adalah bagian dari orang-orang yang terpaksa terpinggirkan menjadi korban “pranata salah mangsa” (sistem salah musim).

Sistemnya sendiri sudah ada sejak dulu. Juga tidak ada yang salah. Namun, pada “musim-musim” tertentu sistem bisa saja salah, disalah-salahkan atau dipersalahkan. Apalagi kalau “musim penghujan yang basah”, sistem bisa menjadi licin dan rentan untuk terpeleset atau dipelesetkan. Wallahua’lam…..

Wassalam,

Tembagapura, 13 Mei 2003
Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan