(13). Tenggarong Di Waktu Sore
Sejarah panjang masa kejayaan kerajaan Mulawarman dan kerajaan Kutai Kartanegara adalah aset budaya yang terlalu sayang untuk dikesampingkan. Catatan sejarah dan peninggalannya itu sudah semestinya menjadi salah satu sumber daya yang masih sangat terbuka untuk digali potensinya.
Ketika Indonesia merdeka dan kemudian diberlakukan undang-undang daerah swapraja, keraton Kutai Kartanegara mulai seperti kehilangan rohnya. Kutai harus menjadi daerah swapraja, sementara Sultan AM Parikesit harus lengser keprabon dan menjadi rakyat biasa. Keraton Kutai tak ubahnya hanya sebuah bangunan kuno yang syukur-syukur tidak segera disulap menjadi mal atau hotel.
Beruntunglah, tanggal 25 Nopember 1971, atas keinginan masyarakat dan pemerintah, istana Tenggarong kemudian difungsikan sebagai museum, yang diberi nama Museum Negeri Mulawarman. Sejak itu keraton Kutai Kartanegara dan museum Mulawarman mulai terus berupaya mengembalikan pamornya sebagai salah satu obyek wisata unggulan di Indonesia, sebagaimana keraton Yogyakarta, Solo, Cirebon atau lainnya.
Tanggal 22 September 2001 adalah awal kebangkitan, hidupnya kembali kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Malahan pada tahun 2002 sempat menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara III. Bagi warga Kalimantan Timur, khususnya masyarakat Kutai, museum yang letaknya menghadap sungai Mahakam ini sudah lama menjadi kebanggaan. Bagaimanapun bekas kerajaan yang megah ini adalah simbol bahwa Kutai mempunyai sejarah panjang. Kendati tidak meninggalkan bekas-bekas bangunan candi seperti di pulau Jawa.
Tinggal bagaimana upaya melestarikan kekayaan peninggalan sejarah Kutai ini dan mengelolanya agar laku dijual sebagai objek wisata sejarah dan budaya yang menarik. Potensi kekayaan budayanya sungguh sangat besar dengan budaya Dayak sebagai pesona utamanya. Lokasinya yang relatif jauh dari pusat pemerintahan memang bisa menjadi kendala. Namun melihat bahwa potensi-potensi wisata di pulau-pulau lain pun ternyata bisa berkembang, bukan tidak mungkin Tenggarong dan Kutainya kelak akan berjaya pula. Lokasinya yang mudah dijangkau dari Balikapapan akan memberikan nilai lebih.
Mulailah Pemda Kutai Kartanegara beserta punggawanya menyingsingkan lengan baju. Visi dan misi dicanangkan melalui semboyan yang terkesan begitu gagah berani : “Gerbang Dayaku” (akronim dari Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai). Para pejabat Kutai tentu tidak asal mengepas-paskan semboyan itu. Tersirat sebuah misi untuk memberdayakan seluruh komponen (pemerintah, legislatif, masyarakat, dan investor) dalam proses pembangunan secara berkesinambungan. Begitu penjabarannya.
Kesungguhan dan semangat pemerintah daerah kabupaten Kukar (Kutai Kartanegara) dalam upayanya memajukan daerahnya memang layak ditiru. Program dan kegiatan pembangunan seperti sambung-menyambung dan terkonsep dengan rapi. Tapi jangan lupa, kabupaten ini memang tergolong kabupaten yang koaya raya dibandingkan kabupaten lain di Indonesia.
***
Di seberang selatan agak nengos (miring) ke barat sedikit dari kompleks keraton Kutai Kartanegara terdapat sebuah lokasi wisata yang tergolong modern, yaitu Pulau Kumala. Lokasinya berada di tengah sungai Mahakam. Pulau seluas kira-kira 86 hektar ini dilengkapi dengan wahana kereta gantung (cable car) dan Sky Tower setinggi 80 meteran. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi dari daratan Tenggarong menuju Pulau Kumala, wahana-wahana modern itu memberi keasyikan berbeda. Para pelancong dapat menikmati panorama kota Tenggarong dan bentang Pulau Kumala dengan sungai Mahakamnya dari ketinggian. Selain menggunakan kereta gantung, juga ada sarana transportasi air dengan perahu ketinting untuk menyeberang dan mendarat di Pulau Kumala.
Kabarnya, wahana wisata di pulau Kumala ini akan terus dikembangkan dan dilengkapi guna semakin menarik wisatawan untuk berkunjung, dan tentu saja membelanjakan uang sakunya. Melihat sepintas tentang obyek wisata Pulau Kumala ini, pikiran saya lantas melayang jauh ke Pulau Sentosa di Singapura, yang sempat saya kunjungi pada tahun 2002.
Agaknya ide tentang Pulau Kumala ini terinspirasi oleh pengembangan Pulau Sentosa. Saya pikir itu ide brilian. Jangankan kok cuma terinspirasi, meniru persis plek pun tidak ada salahnya. Baru akan nampak salahnya (plus terkadang rada menjengkelkan) adalah setelah nanti ketahuan bagaimana professionalisme pengelolaannya.
Pemda Kukar punya alasan kuat untuk melakukan studi banding (kalau perlu magang) ke Pulau Sentosa, tanpa khawatir didemo. Pulau Kumala memang tidak seluas Pulau Sentosa, tapi konsep “gerbang dayasing” (gerakan pengembangan dan pendayagunaan singapura) patut dipelajari. Kita memang harus jujur, terkadang kita dibuat kagum dan terperangah oleh negeri jiran yang sak uplik itu. Lha bagaimana tidak, wong Singapura itu negeri yang “tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya”. Sementara kita ini negeri yang “apa-apa punya tapi sepertinya tidak punya apa-apa”.
Memang rada aneh bin salabin, seperti sulapan….. Padahal kalau mau banyak-banyakan tukang sulap, jelas kita punya lebih banyak. Anak-anak muda kita juga jago beradu pikir, menangan kalau ikut olimpiade perorangan. Giliran olimpiade rombongan, bersebelas misalnya, keok terus. Barangkali kita memang belum pandai bekerja dalam tim. Padahal sebelum 61 tahun yang lalu tim kemerdekaan kita pernah berjaya mengusir penjajah.
Kembali ke pokok persoalan : Haqqun-yakil, di masa mendatang (ini bahasa diplomatis para pejabat untuk menyebut embuh kapan…..) Pulau Kumala pasti akan didatangi oleh para pelancong dari mana-mana, bukan hil yang mustahal kalau turis mancanegara pun bakal kepincut. Mudah-mudahan di masa mendatang (juga embuh kapan) saya sempat membawa keluarga untuk mengunjungi tempat ini.
***
Tenggarong dengan Pulau Kumalanya memang layak dipertimbangkan untuk dikunjungi jikalau ada kesempatan untuk piknik bersama keluarga. Sayang sekali sore itu kompleks keraton Kutai Kartanegara sudah tutup, kecuali kuburan raja-raja di sebelah baratnya (lha ngapain sore-sore masuk kuburan…..), sehingga saya hanya bisa berjalan-jalan berkeliling di kawasan luarnya saja.
Kawasan sekeliling keraton dan halaman museum, kawasan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Kumala, dan pemandangan pantai sungai Mahakam dengan latar depan pulau Kumala, cukuplah untuk media relaksasi pikiran, sambil jalan-jalan di kala sore. Kesan pertama dari luar memang begitu menarik, saya percaya dalamnya juga. Itulah kota Tenggarong “Berseri”.
Yogyakarta, 21 Agustus 2006
Yusuf Iskandar
Tag: dayak, gerbang dayaku, kutai kartanegara, mahakam, mulawarman, parikesit, pulau kumala, sky tower, tenggarong
19 Maret 2009 pukul 9:08:33 |
saya jg pernah baru2 ini ke Tenggarong. mampir di museumnya. memang sejarah dan budaya Indonesia luar biasa kaya!!
Pak,klo k banjar lagi, ajak2 ya…..
Lahir dsn tp blom pernah liat langsung Amuntai,hehehe…..
19 Maret 2009 pukul 9:09:53 |
Eh lupa, terima kasih atas tulisan2nya yg membuat sy bergairah untuk ke Kal-Sel…