(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
Kira-kira sudah lewat jam tujuh malam, ketika akhirnya tiba di kecamatan Loa Janan. Tadinya saya pikir sudah masuk Samarinda, soalnya kota kecil Loa Janan malam itu demikian padat dan lalulintas berjalan merambat. Rupanya kota Samarinda masih delapan kilometeran lagi. Praktis, kota Loa Janan dan Samarinda sepertinya sudah menjadi satu. Tak ubahnya Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga di seputarannya. Hingga akhirnya memasuki kota Samarinda, serasa tak beda dengan memasuki kota-kota di Jawa. Ibukota propinsi Kalimantan Timur malam itu terlihat padat dan sibuk.
Jembatan sungai Mahakam seakan menjadi pintu gerbang untuk masuk kota Samarinda. Kota Samarinda memang tumbuh dan bewrkembang di sebelah-menyebelah sungai Mahakam, dengan pusat kotanya berada di sisi utara sungai. Dengan kata lain, sungai Mahakam mengalir membelah kota Samarinda.
Ihwal jembatan yang berwarna kuning dengan lebar delapan meter dan dibangun tahun 1983 itu saat ini kondisinya dinilai sudah menghawatirkan. Beban yang harus ditanggung oleh jembatan yang membentang sepanjang ratusan meter itu sungguh berat. Setiap harinya ada ribuan kendaraan yang melintas di atasnya, dari jenis angkutan kota hingga bis dan trailer. Inilah jalan utama di wilayah Kalimantan Timur yang menghubungkan kota Balikpapan dengan kota-kota lainnya di sebelah utara, termasuk Samarinda, Bontang, Sangatta dan Kutai Timur.
Ya bagaimana tidak menghawatirkan kalau rangka jembatan ini sudah robek di beberapa tempat akibat sering disenggal-senggol oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Belum lagi di bawahnya setiap hari melintas hilir mudik ratusan kapal, perahu, kapal tunda dan ponton. Sebagian di antaranya suka main serempet besi dan kayu pelindung penyangga jembatan. Maka jangan lupa berdoa setiap kali hendak melintas di atas jembatan ini, semoga selamat sampai di seberang yang 480 meter jauhnya…..
Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Air sungai menyusut dan terus menyusut, sehingga menyebabkan beberapa bagian sungainya dangkal. Tampak endapan lumpur menebal di tepian sungainya. Akibatnya jalur lintas sungai menyempit, juga terkadang kapal tunda dan ponton pun seperti suk-sukan (berdesak-desakan).
***
Tidak kalah dengan kota-kota lain, kota Samarinda pun perlu memiliki semboyan atau motto kotanya. Menyadari letak geografisnya yang demikian, maka motto kota Samarinda lalu dipas-paskan, dan ketemulah Samarinda kota “Tepian”. “Tepian” adalah akronim dari Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman. Maka, pas sudah! Apakah memang kotanya seperti itu? Itu soal lain, yang pembahasannya pun bisa dipas-paskan pula. Tapi pasti, bahwa kota ini memang terletak di tepian sungai Mahakam.
Cikal bakal kota Samarinda ini dulu-dulunya adalah pendatang dari masyarakat Bugis Wajo dari kerajaan Gowa di Sulawesi yang pada tahun 1668 mengungsi menyeberang ke wilayah kerajaan Kutai karena musuhan dengan Belanda. Kini penduduk kota Samarinda yang jumlahnya lebih setengah juta jiwa itu semakin heterogen dengan datangnya berbagai kalangan masyarakat yang mengadu nasib ke kota ini.
Perkembngan kota ini nyaris tidak dapat dipisahkan dari aktifitas perdagangan. Mulanya memang perdagangan hasil pertanian dan perikanan. Kini sudah semakin sibuk dengan aktifitas perkayuan (baik yang resmi maupun ilegal) dan pertambangan batubara. Maka tidak mengherankan kalau gerak bisnis properti dengan pembukaan kawasan pemukiman baru juga semakin semarak.
Wajarlah kalau kemudian pemerintah setempat mencanangkan visinya untuk menjadikan kota Samarinda sebagai kota jasa, industri, perdagangan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan.
***
Karena kami belum mengenal kota ini, maka ketika memasuki kota Samarinda kami saling berkomunikasi melalui tilpun dengan teman-teman di Samarinda yang sudah berbaik hati mem-booking-kan hotel untuk kami. Niat semula sebenarnya hendak ketemuan dulu di rumah seorang teman di pinggiran kota sebelum menyeberang jembatan Mahakam, untuk selanjutnya nanti akan diantar menuju hotel. Namun apa daya, rupanya kami kelewat bersemangat hendak segera mencapai Samarinda hingga telanjur masuk kota.
Terpaksalah kemudian diputuskan untuk mencari tempat yang mudah bagi kami untuk ketemuan. Terpilih sebuah tempat di salah satu sudut di tepinya sungai Mahakam. Di sana banyak orang jual jagung bakar. Maka sambil beristirahat meregang otot, menggeliat, melepas lelah, sambil pesan kopi. Sialnya tidak ada kopi hitam, yang ada kopi instan three-in-one sachet-an. Ya sudah. Sekalian pesan jagung bakar buat pantes-pantes. Entah rasa apa. Saya sebut buat pantes-pantes karena dari kenampakannya sebenarnya sudah ketahuan bahwa rasanya bakal “biasa-biasa saja”. Tidak tampak tanda-tanda yang bisa membangkitkan selera. Tapi toh dipesan juga jagungnya, sekedar untuk pengisi waktu menunggu teman yang hendak menjemput.
Suasana di seputaran kedai remang-remang jagung bakar itu sebenarnya cukup indah di malam hari. Terletak di sebuah taman kota yang berada di antara jalan besar dengan sungai. Di sepanjang tepi sungai Mahakam ini memang terdapat ruang publik yang cukup leluasa bagi tempat rekreasi di dalam kota. Taman kota ini tepat berada di tepinya sungai Mahakam.
Namun, melihat nuansanya, naga-naganya kalau malam tempat ini sebenarnya bukan tempat yang “sehat”. Apalagi kalau niatnya adalah berjalan-jalan bersama keluarga. Saya akan menghindari tempat ini. Lain halnya kalau tujuannya ingin menyendiri menikmati suasana malam di tepi Mahakam mencari ilham atau wangsit, atau kunang-kunang…..
Akhirnya kami bertemu dengan teman yang hendak mengantarkan kami ke hotel. Acara malam itu dilanjutkan dengan reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman lainnya, di sebuah tempat yang berbiaya mahal untuk sekedar makan dan minum. Malam pertama di Samarinda kemudian kami lalui dengan ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, hingga malam pun semakin larut.
Yogyakarta, 17 Agustus 2006
Yusuf Iskandar
Tag: bugis wajo, gowa, kota tepian, kutai, loa janan, mahakam, samarinda