(15). Tragedi Pembantaian Masal Di Kota Minyak
Sejarah berdirinya kota Balikpapan tidak dapat dipisahkan dari industri perminyakan, yaitu sejak pengeboran minyak pertama kali dilakukan di teluk Balikpapan pada tanggal 10 Februari 1897, oleh perusahaan Mathilda sebagai realisasi dari pasal-pasal kerjasama antara J.H.Menten dengan Mr. Adams dari Firma Samuel & Co.
Sejak jaman Belanda hingga sekarang di bawah pengelolaan Pertamina, praktis industri perminyakan menjadi urat nadi perekonomian kota Balikpapan. Bukan saja oleh hasil minyak dan gas alamnya, melainkan juga sebagai pusat pengilangan minyak mentah yang bahan bakunya didatangkan dari daerah sekitarnya, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara, Pasir, dan Kutai Timur.
Kontribusi yang cukup besar telah diberikan oleh sektor indusri perminyakan bagi pembangunan negeri ini. Keberadaan perusahaan-perusahaan minyak swasta seperti Vico, Total, Unocal, dan banyak perusahaan lainnya turut memberikan andil yang besar bagi pengembangan dan pembangunan kota Balikpapan dan Kaltim pada umumnya. Maka tidak berlebihan kiranya jika kota Balikpapan juga dijuluki sebagai kota minyak.
Karena minyak pula, di jaman kolonial dulu kota Balikpapan dan kawasan penghasil minyak di sekitarnya sempat menjadi ajang perebutan antara penjajah Belanda dan Jepang. Kalau di tempat-tempat lain penjajah akan berebut rempah-rempah atau hasil tambang, sementara di wilayah Kalimantan Timur minyaklah sasarannya. Kisah pendudukan, peperangan dan penguasaan kawasan Balikpapan dan sekitarnya banyak tercatat dalam sejarah militer asing.
***
Namun ternyata kota Balikpapan menyimpan sejarah kelam yang nyaris tidak pernah tercatat dalam lembar sejarah Indonesia. Barangkali karena korbannya bukan orang Indonesia. Sejarah pembantaian oleh Jepang yang mengeksekusi 78 orang Belanda di tempat yang bernama Klandasan, tercatat sebagai salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Balikpapan. Sebuah kekejaman perang yang terkait dengan perebutan ladang minyak oleh Jepang dari tangan Belanda.
Ketika Jepang merebut kota Tarakan, tentara Jepang nggondoknya bukan kepalang melihat kenyataan bahwa ladang minyak di Tarakan sudah luluh-lantak dihancurkan oleh Belanda sebelum Jepang datang. Padahal berikutnya Jepang berencana merebut kota Balikpapan. Jangan-jangan ladang minyak Balikpapan juga akan dibumihanguskan oleh Belanda. Maka dua orang kapten Belanda yang tertangkap di Tarakan, yaitu Kapten G.L. Reinderhoff dan Captain A.H. Colijn dikirim ke Balikpapan pada tanggal 20 Januari 1942 dengan membawa surat ultimatum yang bunyinya membikin berdiri bulu romaku……
Bunyinya kira-kira begini : Jika Belanda berani merusak fasilitas ladang minyak Balikpapan dan sekitarnya, maka semua komandan, prajurit dan londo-londo yang terkait akan dilibas tanpa kecuali.
Eee…, lha kok tenan. Begitu menerima surat ancaman, komandan KNIL Letkol C. van den Hoogenband merasa ora sudi diancam-ancam. Sang komandan KNIL malah memerintahkan untuk membakar seluruh fasilitas ladang minyak Balikpapan. Maka ketika akhirnya pasukan Jepang dibawah komandan Mayjen Shizuo Sakaguchi benar-benar menyerang dan merebut Balikpapan, tiada ampun lagi semua bangsa walondo yang tertangkap lalu dikumpulkan dan ditahan semena-mena. Sebagian besar walondo lainnya sudah diungsikan keluar daerah oleh Letkol Hoogenband. Bahkan Kapten Reinderhoff dan Kapten Colijn malah disuruh ke Jawa, alih-alih kembali ke Tarakan untuk memenuhi janjinya melapor kepada Jepang yang menangkapnya.
Hingga akhirnya tibalah pada suatu pagi di tepian pantai, diperkirakan tanggal 24 Pebruari 1942. Jepang menggiring tangkapan Belandanya yang antara lain terdiri dari pegawai sipil, petugas medis, pendeta, pasien rumah sakit, inspektur polisi, tentara dan sekelompok tahanan perang lainnya, total jendral ada 78 orang. Mereka digiring dalam keadaan terikat di bawah kawalan ketat tentara Jepang. Sudah pasti dengan menodongkan senjatanya.
Satu demi satu lalu didor tanpa perlawanan. Prosesi pembantaian masal itupun selesai dalam dua jam. Begitu menurut penuturan seorang saksi mata yang juga orang Belanda yang sempat menyamar sebagai orang Indonesia.
Ketika Jepang datang menangkapi pasien rumah sakit, orang Belanda yang bernama J. Th. Van Amstel ini kabur ke kampung di sekitarnya. Kebetulan Belanda satu ini termasuk londo ireng, berkulit gelap dan lalu menyamar berpakaian layaknya orang Indonesia. Pada hari pembantaian, orang-orang kampung dikumpulkan dan dipaksa menyaksikan eksekusi masal itu, termasuk Van Amstel, hingga sempat menuliskan kesaksiannya.
Itulah sepenggal kisah kelabu tragedi pembantaian masal di Balikpapan yang kisahnya jarang disebut-sebut dalam sejarah Indonesia tentang pendudukan Jepang di Balikpapan. Perang memang selalu menyisakan kisah kekejaman dan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Hanya perang rebus atau sate perang , eh….. kerang maksudnya, yang banyak disuka orang…..
Yogyakarta, 23 Agustus 2006
Yusuf Iskandar
Tag: balikpapan, hoogenband, klandasan, knil, kota minyak, mathilda, pembantaian masal, shizuo sakaguchi, tarakan, van amstel
25 Desember 2008 pukul 12:54:00 |
thanks..atas infonya…pernah mendengar sih…dari kakek saya,..tapi nggak begitu jelas…. sukses