Perjalanan Pulang Kampung

By madurejo

(6).   Mendaki Tangga Menara Eiffel

Hari itu, Minggu, 15 Juli 2001, adalah hari libur nasional di Perancis berkaitan dengan perayaan Bastille Day. Rencana semula hari ini akan meninggalkan Paris menuju ke Amsterdam. Namun rupanya tadi malam anak perempuan saya dan ibunya gremengan (berbicara sendiri pelan-pelan) yang intinya belum puas berada di kota Paris. Akhirnya disepakati untuk memperpanjang sehari tinggal di Paris. Hotel di Amsterdam yang sudah saya pesan sebelumnya pun segera saya konfirmasi sehubungan dengan perubahan rencana perjalanan.

Sekitar jam 11:00 siang kami meninggalkan hotel. Tujuan utama hari itu sebenarnya menuju ke menara Eiffel karena kedua anak saya merengek mengajak naik ke atas menara yang kemarin sore tidak dapat terlaksana karena akan ada pesta kembang api. Namun sebelum menuju ke menara Eiffel, kami ingin mampir ke Galeries Lafayette lebih dahulu.

Ketika naik taksi, sebenarnya pak sopir taksi sudah mengingatkan bahwa karena hari ini adalah hari libur nasional maka biasanya tidak ada pertokoan yang buka. Namun kami tetap saja memutuskan untuk menuju ke Galeries Lafayette. Dan memang benar, nyaris tidak ada toko yang buka kecuali beberapa restoran. Segera kami putuskan untuk menuju ke menara Eiffel yang tentu saja berjarak cukup jauh dengan jarak lurusnya sekitar 4 km.

Alternatif ditawarkan, menuju ke menara Eiffel dengan naik taksi atau kereta api bawah tanah atau berjalan kaki sambil melihat-lihat kota Paris dengan melalui rute yang agak berbeda dengan kemarin. Entah memperoleh inspirasi darimana, sehingga kami sepakat untuk kembali melakukan perjalanan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota Paris. Kali ini bukan ide saya, melainkan atas kesepakatan bersama anak-anak dan ibunya.

***

Di Paris sebenarnya cukup banyak sarana transportasi umum. Selain taksi maka menggunakan bis kota atau kereta api bawah tanah sebenarnya pilihan yang mudah dan hemat biaya dibandingkan dengan taksi. Jaringan kereta api bawah tanah kota Paris menjangkau hampir ke segenap penjuru sudut kota.

Informasi tentang kereta bawah tanah maupun bis kota pun sangat mudah diperoleh sejak dari airport hingga di setiap sudut-sudut jalan. Demikian pula peta rutenya. Hanya perlu sedikit kejelian saja untuk menghindari salah jurusan. Kalaupun hal itu terjadi, rasanya juga tidak akan sulit untuk menemukan kembali jalur yang benar. Demikian gambaran yang saya peroleh ketika membaca informasi yang ada.

Namun kami mempunyai ide berbeda, selalu ingin cepat sampai tujuan dan ingin lebih banyak melihat. Maka kami memilih menggunakan taksi untuk berangkat ke suatu tempat yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyinggahi tempat-tempat menarik di sepanjang dan seputaran jalan yang kami lalui dan selanjutnya kembali ke hotel dengan taksi. Konsekuensinya, kami harus menyediakan anggaran lebih buat naik taksi.

***

Dari Galeries Lafayette kami mencari jalan terobosan yang dapat lebih singkat menuju ke jalan Rue du Faubourg St. Honore. Kali ini sudah lebih familiar dengan beberapa jalan kecil di sekitar Boulevard Haussmann. Di jalan St.Honore ini istri saya berharap ada toko-toko yang buka. Ternyata sama saja, tidak satupun ada toko yang buka hari itu. Kemarin ketika melewati pertokoan di jalan ini tidak sempat berlama-lama masuk ke pertokoan sebab mengejar waktu agar tidak terlambat mengunjungi plengkung Arc de Triomphe Etoile dan menyaksikan pesta kembang api di menara Eiffel.

Melalui jalan-jalan terobosan kami lalu menuju ke jalan protocol Avenue des Champs Elysees. Di jalan terobosan yang saya lupa namanya ini kami ketemu dengan para pedagang kaki lima yang khusus menjual perangko dan benda-benda pos bekas. Bagi para filatelis, tempat ini pasti menjadi tujuan yang menyenangkan. Anak perempuan saya pun senang sekali berpindah dari satu pedagang ke pedagang lainnya melihat-lihat perangko-perangko kuno. Kami memang punya koleksi perangko bekas meskipun tidak pernah secara serius menekuni hobi filateli. 

Setelah yakin bahwa pertokoan di jalan St. Honore inipun ternyata pada tutup, akhirnya kembali mencari jalan pintas yang menuju ke menara Eiffel. Kali ini jarak berjalan kaki yang kami tempuh hanya sekitar 5 km untuk menuju ke menara Eiffel. Anak-anak pun menjadi sangat bersemangat karena ingin segera dapat naik ke atas menara. Terlebih anak perempuan saya yang sewaktu di New Orleans sempat memperoleh pelajaran bahasa Perancis sebagai “muatan lokal” dan di antara buku teksnya berceritera tentang Tour Eiffel (menara Eiffel).

Sekitar jam 16:00 kami tiba di kaki menara Eiffel. Ternyata masih sangat ramai pengunjung yang juga ingin naik ke menara sehingga membentuk sebuah antrian yang cukup panjang. Namun ada satu loket yang antriannya agak pendek, setelah saya dekati ternyata ini adalah loket bagi mereka yang berniat naik ke atas menara dengan cara berjalan mendaki melalui tangga. Sedangkan loket yang antriannya panjang adalah naik dengan menggunakan lift.   

Yang menarik, di depan setiap loket terpampang tulisan yang kira-kira maksudnya : “Awas Copet”. Lho, ada juga copet di sini rupanya, kata saya dalam hati.

Saya kemudian berunding dengan kedua anak saya, sementara ibunya memilih untuk menunggu saja di bawah. Jika naik lift biayanya 45.0 Fr (sekitar US$6.5) per orang dan untuk itu harus antri panjang untuk membeli tiket dan antri lagi untuk masuk lift. Jika naik tangga biayanya 20.0 Fr (sekitar US$ 3.0) per orang dan untuk itu perlu antri tapi tidak terlalu panjang dan dapat langsung mendaki. Akhirnya anak-anak saya memilih untuk mendaki lewat tangga. Sebelum keputusan diambil, sekali lagi saya tanyakan kepada kedua anak saya apakah memang sudah yakin mau mendaki tangga. Jawabnya kompak : “Ya!”.

***

Menara Eiffel pertama kali dibangun pada tahun 1889 oleh perancangnya yang bernama Gustave Eiffel yang adalah juga perancang konstruksi patung Liberty yang pernah kami kunjungi setahun yang lalu di New York. Konstruksinya terbuat dari material besi, baja dan kaca dengan tinggi totalnya 320 m dan terdapat tiga lantai yang dapat dikunjungi. Pada setiap lantainya terdapat bar dan restoran. Lantai pertama berada pada ketinggian 57 m, lantai kedua 115 m dan lantai ketiga 274 m. Hingga kini menara Eiffel tetap menjadi simbol kebanggaan bagi kota Paris. Sedikitnya 4 juta wisatawan naik ke atas menara ini setiap tahunnya.

Kamipun mulai mendaki. Cukup banyak juga pengunjung yang menaiki menara melalui tangga. Saya yakin mereka mempunyai alasan yang sama dengan kami, yaitu tidak sabar untuk antri lama kalau mendaki menggunakan lift. Atau karena mau hemat? Entahlah. Setelah mendaki dengan cukup ngos-ngosan mencapai lantai pertama, anak-anak saya malah mengajak mendaki lagi menuju ke lantai kedua yang berarti mesti naik tangga lagi 58 m. Selebihnya tidak diperkenankan lagi untuk mencapai lantai ketiga melalui tangga, melainkan harus menggunakan lift. Kalaupun boleh, ya siapa yang mau mendaki lewat tangga hingga menuju lantai ketiga.

Dari atas menara ini tampak pemandangan indah taman Champ de Mars di arah timur dan Palais de Challot di arah barat, serta kota Paris di segala penjuru arah. Anak-anak pun sangat puas bisa mendaki ke atas menara Eiffel dan lebih bangga lagi karena ternyata mereka mampu mendakinya melalui tangga.

Matahari masih belum tenggelam ketika akhirnya kami meninggalkan menara Eiffel untuk kembali menuju ke hotel.-

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan