Perjalanan Pulang Kampung

By madurejo

(2).   Berhujan-hujan Sore Di Chatelet

Sedikit penggalan-penggalan kata serta potongan-potongan kalimat bahasa Perancis ternyata masih saya ingat. Setidak-tidaknya kalau lupa, dengan melihat penggalan katanya sudah cukup untuk mengingatkannya kembali dan melafalkannya dengan benar. Termasuk bunyi-bunyi cadel dan bindheng (sengau), yang suka membuat anak-anak saya tertawa kalau saya ajari mengucapkan kata merci (terima kasih) misalnya, atau bonjour (selamat pagi atau kata sapaan).

Paham serba sedikit tentang bahasa Perancis ternyata cukup membantu dalam berkomunikasi dengan sopir taksi, pelayan restoran, penjaga toko, dsb. Di Perancis, tidak banyak orang yang dapat (atau mau?) berbahasa Inggris.

Saya jadi ingat sebuah artikel yang pernah ditulis di harian Kompas sekian belas tahun yll. Judulnya kalau tidak salah : “No anglais for England”, yang maksudnya bahkan orang Inggris pun yang notabene adalah tetangga Perancis, dituntut untuk bisa ngomong Perancis jika datang ke negeri Perancis. Sedemikian kuatnya semangat nasionalisme bangsa Perancis akan bahasa nasionalnya.

***

Setiba kami di Chatelet sore itu, 13 Juli 2001, hujan pun turun. Kami benar-benar sedang tidak beruntung sore itu. Karena hujan, maka acara jalan-jalan sore menjadi tidak leluasa. Toko-toko pun sudah banyak yang tutup karena meskipun cuaca masih cukup terang, tapi sebenarnya waktu sudah menunjukkan sekitar jam 20:00.

Sambil menunggu hujan reda, kami masuk ke sebuah restoran, atau sebenarnya lebih tepat kalau saya sebut warung makan di pinggir jalan. Lagi-lagi, tak seorangpun dari pelayan restoran yang dapat berbahasa Inggris. Akibatnya saya tidak bisa bertanya tentang daftar menu yang tertulis dengan nama-nama “aneh”. Terpaksa main tebak berbekal pada penggalan-penggalan kata yang saya ketahui.

Selesai makan, ternyata hujan belum juga reda. Karena istri dan anak-anak setuju, maka kami pun lalu berlari-lari kecil pindah dari satu teras toko atau restoran ke teras-teras berikutnya hingga menemukan tempat yang enak buat berteduh sambil melihat-lihat pertokoan. Banyak orang atau pejalan kaki yang juga melakukan hal yang sama dengan kami.

Sesekali jika hujan agak mereda, kami berkesempatan berjalan agak jauh. Ya, sekedar ingin melihat-lihat. Keluar masuk toko untuk tahu apa yang ada di dalamnya dan berapa harganya, sambil sesekali membandingkan harga-harganya dengan harga barang sejenis yang ada di Amerika.

Harga-harga umumnya ditulis dalam dua satuan mata uang, yaitu Franc dan Euro. Untuk mudahnya membayangkan harga dalam Franc atau Euro dengan US dollar, sebagai pedoman (meskipun tidak tepat sama) saya perkirakan 1 US$ adalah setara dengan 7 Francs atau 1 Euro. Seperti telah diketahui bahwa mulai tahun 2002, sebelas negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, salah satunya adalah Perancis, secara resmi mulai akan menerapkan satuan mata uang Euro, sehingga mata uang dari negara masing-masing tidak lagi berlaku. 

Kemudahan lain akibat dari adanya kesepakatan Eropa Bersatu ini adalah cukup diperlukannya hanya sebuah visa untuk mengunjungi kesemua negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa yang disebut dengan Schengen States. Artinya, dengan hanya memiliki visa Perancis misalnya, maka kita bebas untuk masuk ke negara Belgia, Belanda, Jerman serta negara-negara lainnya yang tergabung dalam Uni Eropa.

***

Hari semakin remang dan hujan belum juga reda, akhirnya sambil berlari-lari kecil dalam hujan dan pakaian agak basah kami menuju sudut jalan dimana terdapat tanda tempat pangkalan taksi. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dengan taksi kami kembali ke hotel.

Kali ini agak beruntung, ternyata pak sopir taksinya bisa berbahasa Inggris. Komunikasi pun jadi lebih enak dan terutama dari sopir taksi ini saya jadi tahu tentang apa agenda acara kota Paris dalam dua hari mendatang.

Kebetulan sekali, ternyata tanggal 14 Juli  adalah Bastille Day, yaitu hari besar di Perancis berkaitan dengan peringatan revolusi Perancis. Akan ada parade militer besar-besaran di pagi harinya dan pesta kembang api besar-besaran di malam harinya. Pada tanggal 13 Juli 2001 malam sebenarnya ada konser musik terbuka, namun tidak berlangsung meriah akibat hujan turun mengguyur kota Paris.-

Yusuf Iskandar

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan