(3). Salah Membaca Peta
Kemarin malam, 13 Juli 2001, saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil tentang perjalanan menyinggahi Paris dalam rangka perjalanan pulang ke kampung halaman. Sudah terlalu ngantuk untuk mencoba mengakses internet. Jadi, saya lanjutkan saja membuat catatan-catatan untuk entah kapan akan dapat berbagi ceritera kepada rekan-rekan saya.
Hari Sabtu pagi, 14 Juli 2001, menurut rencana kami akan berjalan-jalan menuju ke pusat kota Paris guna menyaksikan parade militer besar-besaran dalam rangka perayaan Bastille Day. Informasi awal ini saya terima dari pak sopir taksi malam sebelumnya.
Dari harian “Le Parisien” baru saya ketahui dengan lebih lengkap informasi tentang lokasi parade dan apa saja agendanya, termasuk jenis-jenis peralatan perang yang akan diperagakan. Di antaranya disebutkan bahwa parade militer akan diikuti oleh lebih 5.000 pasukan lengkap dengan peralatan dan kendaraan-kendaraan tempur. Di atas langit akan melintas lebih 100 pesawat tempur.
Tenntu saja saya tidak memahami ceritera selengkapnya dari berita koran itu, melainkan dengan mereka-reka berdasarkan beberapa kata kunci berbahasa Perancis yang kebetulan saya pahami artinya. Dari koran itu pula saya ketahui bahwa dalam beberapa hari ini Paris akan bercuaca mendung dengan sedikit peluang matahari akan memancarkan sinarnya.
Parade militer dijadwalkan dimulai jam 10:30 pagi. Akan tetapi rupanya hujan deras mengguyur Paris pagi itu, termasuk di lokasi parade di jalan Avenue des Champs Elysees sepanjang kira-kira 2,5 km yang membentang dari lapangan Place Charles de-Gaulle dimana terdapat tugu atau plengkung Arc de Triomphe hingga ke lapangan Place de la Concorde (anak laki-laki saya suka sekali menyebut nama yang terakhir ini dalam lafal Perancis sambil tertawa, kedengaran lucu katanya).
Di seputaran lapangan Place de la Concorde didirikan panggung kehormatan, dimana antara lain Presiden Perancis Jacques Chirac akan menyambut parade militer dari tribun utama. Masyarakat yang ingin turut menyaksikan parade militer biasanya berjajar di sepanjang jalan protocol Champs Elysees yang cukup lebar untuk ukuran kota Paris.
***
Karena hujan turun cukup deras maka kami mengurungkan niat untuk menuju ke arena parade militer, melainkan cukup dengan menyaksikannya melalui layar televisi di kamar hotel. Acara parade militer pun kelihatannya berlangsung tidak sepenuhnya seperti dijadwalkan semula karena sebagian peragaan mesin-mesin perang dibatalkan dari agenda, terutama atraksi pesawat-pesawat tempur. Ya dapat dipahami jika mengingat cuaca yang memang tidak mendukung untuk itu.
Baru sekitar tengah hari hujan agak mereda. Kami lalu memutuskan untuk segera keluar dari kamar hotel. Dengan taksi, yang lagi-lagi pak sopirnya tidak paham bahasa Inggris, kami berniat menuju ke jalan Champs Elysees. Namun dari penjelasan sopir taksi yang sesekali terselip penggalan-penggalan kata bahasa Inggris, saya menangkap bahwa jalan-jalan yang menuju ke sana ditutup untuk lalulintas umum. Akhirnya saya putuskan untuk beralih menuju ke pusat perbelanjaan Galeries Lafayette.
Galeries Lafayette dan sekitarnya adalah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Paris. Meskipun sebagian toko-tokonya tutup pada hari Sabtu ini, namun masih ada sebagian yang buka seperti biasa. Di situlah kami jalan-jalan sambil melihat-lihat berbagai barang bermerek yang selama ini nama bekennya hanya mungkin dijumpai di pusat perbelanjaan bergengsi di Jakarta.
Semakin siang cuaca berubah menjadi cerah, meskipun langit masih berawan namun tidak lagi hujan. Ini tentu menguntungkan bagi para pejalan kaki, setidak-tidaknya tidak terlalu berkeringat jika ingin jalan-jalan menyusuri kota Paris di saat sedang musim panas.
Menurut rencana, kami benar-benar ingin berjalan kaki menyusuri kota Paris. Dengan berbekal peta kota Paris, dari Galeries Lafayette yang berada di jalan Boulevard Haussmann kami akan menuju ke plengkung Arc de Triomphe di arah barat, melalui jalan Rue du Faubourg Saint Honore dan jalan Avenue des Champs Elysees.
Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menyusuri jalan-jalan kota Paris dengan cukup berbekal selembar peta. Di sepanjang jalan di lokasi-lokasi pemberhentian bis kota dan di jalan turun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah biasanya juga terpasang peta. Bukan pemandangan yang aneh kalau di setiap tempat-tempat itu selalu ada para pejalan kaki yang sedang mencocokkan peta yang dibawanya dengan lokasi dimana dia berada.
Hanya diperlukan kejelian saja untuk terhindar dari salah jalan atau kesasar, kalaupun itu terjadi juga maka tidak terlalu sulit untuk menemukan kembali arah jalan yang dimaksud. Akibat ketidak-jelian juga yang menyebabkan kami salah arah siang itu. Saat menyusuri jalan Boulevard Haussmann yang seharusnya menuju ke arah barat, saya salah membaca peta sehingga terlanjur berjalan cukup jauh ke arah timur.
Kesalahan ini terutama disebabkan oleh tidak-mudahnya saya mengingat nama-nama persimpangan jalan-jalan kecil berejaan Perancis dan kurang menguasai arah mata angin. Akhirnya terpaksa mengambil arah kembali menuju ke arah barat melalui jalan yang sama. Meskipun saya diprotes oleh istri dan anak-anak saya akibat tidak berhasil menjadi pemandu yang baik, tetapi kami jadi berkesempatan melihat banyak wajah kota Paris.-
Yusuf Iskandar