(1). Tiba Di Bandara Charles de-Gaulle Paris
Sekitar tengah hari Jum’at, 13 Juli 2001, kami sekeluarga tiba di bandar udara internasional Charles de-Gaulle, Paris. Perjalanan panjang sekitar 12 jam dari New Orleans setelah transit di Atlanta lalu menuju Paris dengan pesawat Air France dengan rute menyeberangi Samudra Atlantik baru saja kami jalani. Anak-anak terlihat kelelahan, ya maklum sebagai akibat dari perbedaan waktu maju 6 jam sejak kami meninggalkan New Orleans kemarin sorenya.
Ini adalah perjalanan pulang kembali ke kampung halaman yang telah kami tinggalkan sejak lebih dua tahun yll. Dengan kata lain maka perjalanan ini sebenarnya dalam rangka pindahan dari New Orleans ke Yogyakarta. Wong namanya pindahan, maka meskipun sebagian besar barang-barang sudah dikirim via jasa pengiriman, tetap saja masih tersisa banyak barang bawaan yang mesti benar-benar dibawa. Jadinya tak terhindarkan, akhirnya masih ada empat tas besar yang cukup berat yang harus menyertai perjalanan kami.
Padahal kami merencanakan perjalanan ini akan melewati rute Eropa sambil singgah beberapa hari jalan-jalan di Perancis dan Belanda. Keinginan semula sebenarnya tidak hanya Perancis dan Belanda, melainkan juga beberapa negara Eropa lainnya. Namun sayang, saya dibatasi oleh waktu karena ada beberapa agenda bisnis yang mesti dijalani. Belum lagi keterbatasan waktu untuk mengurus visa.
Ada yang sangat kami sesali. Rencananya selain mampir ke Eropa, kami juga berniat untuk mampir ke Arab Saudi guna menjalankan ibadah umroh. Namun diluar yang saya perhitungkan sebelumnya bahwa tahun ini Arab Saudi menerapkan aturan baru tentang permohonan visa umroh yang ternyata cukup rumit dan memakan waktu.
Tahun lalu pengurusan visa umroh ini bisa diselesaikan 1-2 hari langsung ke konsulat Arab Saudi, sebagaimana juga berlaku bagi pengurusan visa negara-negara lain. Tetapi dengan aturan yang baru ini (kata petugas agen perjalanan yang ditunjuk oleh pemerintah Saudi, dan “sialnya” hanya agen perjalanan itulah menurut aturan yang baru sebagai satu-satunya yang diberi ijin guna pengurusan visa Arab Saudi) perlu waktu 1-2 minggu.
Well, waktu keberangkatan sudah mendesak, itupun sudah saya undur-undur dengan harapan masih cukup waktu untuk mengurus visa, akhirnya tidak selesai juga. Dengan perasaan sangat menyesal akhirnya paspor dan segala macam dokumen permohnan visa saya tarik kembali karena mesti segera berangkat meninggalkan New Orleans. Kata para sesepuh : barangkali memang belum saatnya dipanggil oleh Allah untuk datang ke rumah-Nya.
***
Tiba di bandar udara Charles de-Gaulle, Jum’at tengah hari dalam cuaca kota Paris yang muram akibat langit tertutup awan serta turunnya hujan kecil. Keluar dari bandara kami beristirahat cukup lama di halaman depannya. Tidak mudah untuk memperoleh angkutan menuju hotel yang mampu mengangkut kami berempat plus empat buah tas besar dan berat.
Taksi biasa tentu terlalu kecil. Shuttle bus tidak melewati hotel yang kami tuju, pasti akan merepotkan kalau kemudian harus naik taksi lagi. Akhirnya ketemu dengan sarana angkutan shuttle van, itupun setelah setuju bahwa pembayarannya dalam uang US dollar. Saya memang tidak siap dengan uang Franc yang cukup. Mau menukar uang dulu, ternyata di depan loket tempat penukaran uang yang ada di dekat situ sudah penuh orang yang antri dan bergerak sangat lambat.
Kurang dari 30 menit perjalanan, kami sudah tiba di hotel yang memang sudah kami pesan sejak di USA. Berbenah sejenak di dalam kamar hotel, kami lalu memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Atas rekomendasi petugas hotel, untuk sore itu kami naik taksi menuju ke Chatelet. Chatelet adalah salah satu kompleks perbelanjaan di kota Paris.
***
Ketika berada di dalam taksi, serasa baru sadar bahwa saya sedang berada di negeri Perancis. Pasalnya, pak sopir taksi ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Anak laki-laki saya mengistilahkannya sebagai : “this is another country” dan karena itu bahasanya berbeda, yang maksudnya adalah bukan bahasa Inggris sebagaimana yang dia dengar selama lebih dua tahun ini.
Wah, agak repot juga. Dengan bekal pengetahuan bahasa Perancis yang sepotong-sepotong dan selembar peta sebagai peraga, plus “bahasa Tarzan” jika perlu, akhirnya dapat juga terbentuk sebuah komunikasi dengan pak sopir taksi. Sejak itu saya memutuskan bahwa setiap kali keluar dari hotel maka peta dan catatan alamat hotel tidak boleh lepas karena akan sangat membantu. Tidak cukup dengan menghafal, karena salah melafalkan ejaan bahasa Perancis dengan ejaan bahasa Inggris bisa saja menyebabkan miskomunikasi.
Sempat juga saya heran pada diri sendiri. Lebih 15 tahun yll, saat masih di pertengahan kuliah, saya pernah kursus bahasa Perancis di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) di Yogya. Kala itu, kalau saya ditanya kenapa ambil kursus bahasa Perancis dan bukan Inggris, atau kenapa bukan kursus-kursus yang lain, maka terus terang saya sendiri tidak tahu jawabannya.
Ya begitu saja, ingin kursus lalu daftar dan hadir seminggu dua kali. Meskipun di hati kecil saya ada terselip khayalan bahwa suatu saat nanti saya ingin pergi ke Perancis. Kapan dan untuk apa? Saya tidak tahu. Ya, sekedar khayalan masa muda yang (pada masa itu) bisa jadi akan ditertawakan orang kalau saya ceriterakan kepada orang lain.
Namun seperti yang sering saya selipkan dalam catatan-catatan saya yang lain, bahwa saya banyak menyimpan hal-hal yang tak terduga. Hal-hal yang semula sekedar khayalan atau impian kosong, kelak sekian belas atau puluh tahun kemudian ternyata menjadi kenyataan, tanpa sedikitpun pernah saya rencanakan.
Hanya ada satu ungkapan yang paling tepat untuk menyebut kejadian-kejadian semacam ini, yaitu bahwa Tuhan akan mencatat setiap niat baik mahluknya dan Tuhan pula akan membantu mewujudkannya dalam kesempatan dan kenyataan yang tak terduga.-
Yusuf Iskandar
Tag: air france, atlantik, bahasa tarzan, charles de-gaulle, chatelet, franc, paris, perancis, shuttle van, visa